Theophilus

Theophilus

Third Sunday in Ordinary Time [C]

January 23, 2022

Luke 1:1-4; 4:14-21

One unique thing to Luke is that he addressed his Gospel [and his Acts of the Apostles] to the most excellent Theophilus. Who is this Theophilus? We are not entirely sure, and this name has been a subject of debates and discussions for centuries. However, there are several things we may extract from the Gospel’s texts.

The first thing is that he was honorably addressed as ‘the most excellent’ [in Greek, ‘kratiste’]. This is an honorific title for a high Roman government official or a high nobleman during those times. Thus, Theophilus was someone politically powerful and wealthy. But why did Luke have to mention this affluent man? Most probably, it is because Theophilus is the one who supported Luke in the effort of writing his Gospel and Acts. The production of writing in ancient times is an extremely costly undertaking. Unlike papers in our time, parchment [from the animal skins] and papyrus [imported from Egypt] were not cheap raw materials for writing. Quality ink was not easy to get as well. Sometimes, authors had to hire a professional scribe to write correctly on a papyrus. Luke also indicated that he researched reading earlier gospels [most probably Mark and Matthew] and interviewing the eyewitnesses [perhaps Blessed Virgin Mary]. These efforts could cost a fair amount of money as well. No wonder experts say that to produce one single copy of a gospel may cost more than 2,000 USD. Theophilus has been instrumental in the production of Luke’s Gospel.

The second information we have about him is that Theophilus was most probably a Christian or at least a Catechumen. Luke wrote the purpose of his Gospel is ‘so that you may know the truth concerning the things about which you have been instructed [Luk 1:4].’ The word ‘instructed’ in Greek is ‘katekeo,’ the root word of catechism and catechesis. Theophilus has received some sort of catechism or teaching concerning the Catholic faith, but he wanted to know more, especially the certainty of the foundation of his faith.

How did the Gospel of Luke impact Theophilus? We are never sure, but we are confident that the Gospel has influenced millions of people tremendously. One more interesting is that the name Theophilus means the friends of God [theos + philios]. This Gospel is not just addressed to the historical figure called Theophilus, but to all of us, who are friends and lovers of God. Thus, reading carefully and prayerfully this Gospel deepens our love and friendship with the Lord. Luke’s Gospel has been acclaimed as one of the most beautifully composed books. From the stories like the prodigal son and the lost sheep, we discover more about the unparalleled mercy of God to us. From Luke also, we got the heartwarming stories of Mary as the first and most faithful disciple.

We all are called to be a Theophilus. Someone who dares to spend our time, energy, and other resources to know the certainty of our faith. And from this certainty, we are invited into loving friendship with the Lord.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Panggilan untuk bermisi

Panggilan untuk bermisi

Bacaan Jumat, 21 Januari 2022

Seminggu ini saya menemani 6 frater yang bertugas pastoral di Tana Toraja, Sulawesi Utara. Salah satu frater betugas di sebuah paroki di daerah Mamuju, Sulawesi Barat. Dia bercerita kalau dari parokinya,  romo paroki harus menempuh perjalanan 12 jam menuju keuskupan di Makassar. Setiap minggunya, dia bersama beberapa umat mengunjungi stasi-stasi di pelosok dan daerah transmigrasi yang sulit dilalui karena harus melewati pegunungan dan jalan yang licin. Ada 20 stasi yang harus dikunjungi oleh imam dan petugas pastoral di sana. Mendengar kisah para frater ini, saya melihat adanya pelayanan misi yang luar biasa, heroisme untuk mewartakan Injil Kristus  di daerah-daerah yang jarang terjamah dan melewati medan yang menantang.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus tidak memanggil para murid dengan random, bukan tanpa maksud atau acak. Panggilan itu mengarahkan para murid menjadi kelompok orang yang punya tugas perutusan. Mereka inilah yang dikehendaki Yesus untuk turut dalam mewartakan Kerajaan Allah. Sebelum memanggil mereka, Yesus berdoa dan mencari kehendak Tuhan siapa saja yang akan terlibat dalam karya pewartaan itu (Luk 6: 12-13).

Dalam Perjanjian Lama, panggilan Allah pada bangsa Israel terlihat sangat istimewa. Kitab Ulangan 7: 7-8 menjelaskan hal itu:

“Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu–bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan.”

Karena kasih Allah semata saja, Dia memilih orang-orang yang dipilih dan ditentukan dalam perutusan. Panggilan pada para murid, juga bukan didasarkan pada talenta dan keistimewaan. Meraka. Ia memanggil bukan karena seseorang lebih istimewa dari orang lainnya. Namun, panggilan itu berdasar pada kasih Allah yang dilimpahkan pada orang yang terpilih.

Mereka yang bermisi membutuhkan spiritualitas yang mendalam saat menjalankan karya mereka. Perjalanan yang jauh dan menantang, misi yang sulit dan berat menuntut petugas pastoral untuk merasakan sungguh bahwa Tuhan mendampingi dan mengasihi mereka dalam perutusan. Semakin misi itu jauh dan berat, semakin dibutuhkan doa yang kuat.

Kita berdoa agar Tuhan mengirim semakin banyak pekerja di daerah-daerah misi untuk mewartakan Injil Allah. Ternyata masih banyak wilayah di dunia ini yang belum terjamah oleh warta Injil, dan itu membutuhkan kehadiran orang-orang yang dipanggil Allah untuk bermisi.

Melihat dengan Mata Allah

Melihat dengan Mata Allah

Selasa, 18 Januari 2022

Bacaan 1 Sam 16: 1-13; Mark 2: 23-28

Allah meminta Samuel untuk mengurapi salah satu anak Yesse di Betlehem untuk menjadi raja Israel pengganti Saul. Muncullah anak yang pertama, Abinadab yang berperawakan besar dan gagah. Samuel mengira, inilah orang pilihan Allah. Tapi Tuhan ternyata tidak memilihnya. Lalu Tuhan berkata, “jangan menilai lewat penampilan saja, sebab Allah melihat dalam hatinya!”

Saat kesepuluh anak Yesse bertemu Samuel, tak satupun dari mereka yang dipilih Allah. Ternyata Tuhan memilih anak yang paling bungsu yaitu Daud, yang sedang menggembalakan kambing domba di padang.

Sering kali kita menilai orang terbatas dengan penampilannya yang dari luar saja. Orang dinilai pribadinya karena pakaian yang dia kenakan, dari makanan yang dipesan, lewat merek sepatu dan tas yang dia pakai. Memang itu semua adalah ukuran yang mudah dilihat dan menimbulkan impresi tertentu. Orang terkagum-kagum karena mobil yang dikendari seseorang, dandanan yang mewah, dan makanan yang dipesan. Namun semua itu belum menunjukkan seutuhnya identitas seseorang.

Allah melihat seseorang dari hatinya. Artinya, Allah melihat seseorang dari apa yang dipikirkan, dijalankan, dan hayati dalam hidup sehari-hari. Penampilan dan apa yang tampak sering kali hanyalah penilaian luaran yang belum tentu mencerminkan apa yang tampak dari kedalaman hati orang. Semoga kita juga belajar menilai segala sesuatu dengan lebih mendalam, baik secara tampilan luaran maupun dari kedalaman hati seseorang.

CARA MENERIMA KASIH TUHAN

CARA MENERIMA KASIH TUHAN

Senin, 17 Januari 2022


Markus 2:18-22

Yesus mengajak para kepada para murid-Nya untuk memahami bahwa kebaikan dan kasih Tuhan perlu ditanggapi oleh masing-masing orang agar kasih dan kebaikan Tuhan tidak berlalu begitu saja. Bagaimana cara menggapi-Nya? Seperti halnya ketika seseorang mau menerima hal yang penting dan berharga maka diperlukan tempat yang layak untuk menyimpannya, demikian juga kasih Tuhan perlu disimpan dan ditumbuhkembangkan di dalam tempat yang paling istimewa yaitu hati yang bersih dan tulus. “Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”(Mrk 2:22).

Dengan demikian dengan hati yang tulus, bersih dan rendah hati maka seseorang akan bisa menerima kasih Allah secara berlimpah-limpah. Sebaliknya jika hati seseorang tidak siap karena masih dipenuhi oleh kepentingan-kepentingan duniawi maka sedikit saja yang akan ia terima dari Tuhan. “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya.”(Mrk 2:21). Oleh karena itu, sebelum menerima kasih Tuhan Yesus, seseorang perlu menyiapkan dan menyediakan hati yang baru dan bersih untuk Tuhan.

Rm Didik, CM