Building Heavenly Purse

Building Heavenly Purse

19th Sunday in Ordinary Time [C]

August 7, 2022

Luke 12:32-48

Jesus teaches us how to build the heavenly purse and to gain eternal treasure, and it is by giving up our earthly wealth in almsgiving. There is a real connection between worldly possessions and heavenly treasure. Yet, the relation is not linear. The more generous we are with , the bigger our heavenly treasure chest, and the bigger eternal treasure we receive. The principle is simple, but the practice is often extremely tough. There are several reasons for this.

The first reason is the ‘possessive mentality’. We say, “wealth is hard earned, and why should I share it to others.” It is true that many of us work hard and often sacrifice a lot in the process. Because we earn them, we should be the one who keep and spend them. To let someone else to easily have our money or possessions just does not feel right. While it is true that we have the right to spend our hard-earned wealth the way we want it, this right is not absolute. We need to remember that eventually everything we have here including our lives and possessions are God’s gifts. Since our wealth is a gift we receive, we shall pass it forward also as gift to those who need it.

The second reason, related to the first one, is giving our possessions to others is hurting us. As we earn money and acquire things for ourselves, we begin to believe that these are mine, we possess these things. Yet, in reality, our possessions ‘possess’ us. We become attached to them, and to let them go turns to be difficult and hurting us. Our wealth gives us comfort, security and pleasures, and all that give us pleasure is potentially addictive. When we are addicted to our wealth, the harder it is to share. Yet, to overcome the addiction, the more we need to let go. Thus, the pain of giving is natural consequence of healing from greed.

The third reason is that we tend to be suspicious of others. We have this mindset that people are poor or are asking our help because they are lazy, or these persons are just going to scam us. While the idea contains certain degree of veracity, the reality is more complex. For one reason or another, some people just stumble upon terrible situations, and they need it our help. Some people were born in miserable conditions, and nothing they do can alleviate their misery. Some people just do know how to help themselves. While it is true that they are people who do not deserve our charity, but it does not mean all people who are in need are fake. Here, we need to be prudent rather than to stop helping all together.

Jesus concludes His teaching beautifully, “For where your treasure is, there your heart will be also [Luk 12:34].” If our treasure, our ambition, our goal of life is earthly possessions, our hearts, our souls, and our lives will stay on earth. When the earth passes, we will pass also with it. Yet, if our treasure, our priority, our end of life is heavenly gifts, our hearts and our souls will move also to eternal life.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pleorexia

Pleorexia

18th Sunday of Ordinary Time [C]
July 31, 2022
Luke 12:13-21

Jesus is reminding us about the danger of greed. The word greed in New Testament Greek is πλεονεξία [pleorexia]. The root word is ‘pleora’ and it means ‘full’ or ‘abundant’. Certainly, there is no problem with fullness or abundance. Yet, the word ‘pleorexia’ also includes the ending ‘-xia’, and this ending signifies a problem. Like the word ‘anorexia’ that indicates eating disorder to the point of starving oneself, so ‘pleorexia’ is also a serious disorder. It is sickness in relation to abundance. Unfortunately, unlike anorexia that is recognized as illness that must be treated and healed, greed is considered a normal behaviour and sometimes, celebrated.

In our materialistic world, we are brainwashed that the purpose of life is to have more, to achieve more, and to conquer more. The more you have, the more successful you are as a modern man. Afterall, to possess a lot of money and belongings make our lives easier and pleasurable. Our societies and economics are designed to favour those who have more and can spend more. When we have money to spend, we may enjoy VIP treatments in many places from an exclusive nativity ward to an high-end burial place. To have more also means prestige and popularity. We are wearing branded yet excessively expensive cloths, and using latest gadgets. All these are to show that we are prestigious ones. As we can see, the way of the societies operate makes us believe that greed is normal and in fact, desirable treat.

Jesus reminds His disciples that one’s life is not about possessions, and He reveals the true nature of greed: it is disorder. From the parable of the foolish rich man, Jesus uncovers the disease that many of us are afflicted from. The desire to have possessions as well as be blessed with abundance are not evil in itself because as long as we live in this world, we need this earthly goods. The problem comes when we desire them excessively or seek them as the end of our lives. Why do we desire them excessively? It goes back to our own fallen ego. Like our first parents who desired to possess the forbidden fruits for themselves, we also seek earthly goods for our benefits and pleasures.

Any disorder or illness needs to be treated and healed. The first step is to recognize that we are plagued by this greed. Like any illness, if we do not see greed as problem, we simply see it as normal and refuse to treat it. The second level is to pray to God for healing. The root of greed is our fallen nature, thus, we need God’s grace to heal our wounded souls. Third step is to make a habit to thank the Lord for all the earthly blessings we receive. We recognize that all things come from God and go back to Him. When God bless us with this earthly goods, we remember that these are means for our salvation and His glory.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

KERINDUAN AKAN TUHAN

KERINDUAN AKAN TUHAN

Jumat, 29 Juli 2022



Yohanes 11:19-27

Yesus berkunjung ke keluarga Marta dan Maria untuk meneguhkan harapan mereka. Marta menyambut Yesus dengan penuh antusias dan harapan. “Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah.”(Yoh 11:20). Maria memilih berada di dalam rumah dan siap menunggu kehadiran Yesus dan mendengarkan Sabda-Nya. Kedua-duanya memiliki kerinduan dan pengharapan yang besar pada Yesus karena iman mereka, sekalipun masing dari mereka memiliki cara yang berbeda dalam menyambut kedatangan Yesus di rumah mereka; Marta aktif sedangkan Maria dengan tenang menyediakan waktunya untuk mendengarkan Sabda-Nya.  “Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” (Yoh 11:27).

Hal yang penting adalah dengan keunikan masing-masing mereka menyatakan iman dan kerinduan untuk menerima Tuhan di dalam rumah mereka. Oleh karena itu, Yesus berkenan memberkati mereka semua dan membangkitkan kembali Lazarus saudara mereka dari kematian. “Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!” Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.”(Yoh 11:43-44).

Dengan demikian, apa yang mendatangkan berkat-berkat dari Allah adalah kerinduan oleh karena iman. Di dalam kerinduan tersebut terungkap isi hati seseorang yang sungguh membutuhkan pertolongan dari Tuhan Yesus. Pada saat itulah Rahmat Allah bekerja sebab, seseorang tidak lagi mengandalkan kekuatan dirinya tatapi mengandalkan kekuatan, kemurahan dan belas kasihan Allah. Jika seseorang tidak rindu akan Tuhan, ia juga tidak memiliki iman yang cukup untuk mengharapkan pertolongan dan kehadiran-Nya.

Didik, CM 

KERAJAAN ALLAH HADIR

KERAJAAN ALLAH HADIR

Rabu, 27 Juli 2022



Matius 13:44-46

Yesus menujukkan kepada para murid-Nya nilai yang tidak terhingga agungnya dari apa yang dianugerahkan bagi orang yang percaya kepada-Nya, yaitu Kerajaan Allah. “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.”(Mat 13:44). Ketika seseorang telah menyadari dengan imannya akan kebaikan dan kasih Tuhan Yesus maka ia akan merasakan kedamaian di dalam hidupnya, yang tidak akan bisa digantikan dengan yang lain dan tidak akan bisa ia peroleh dari tempat yang lain.  Oleh karena itu, ia akan mampu mempertaruhkan segala-galanya demi imannya kepada Kristus, yang mampu menyelamatkan jiwanya. “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,”(Filipi 3:8)

Oleh karena itu, semua orang yang telah percaya kepada Kristis perlu menyadari kembali harta surgawi dari Allah yang telah mereka terima saat pembaptisan. Sebab jika hal tidak disadari dengan iman maka Kerajaan Allah yang penuh damai tidak akan bisa dirasakan dan kehadiran Kristus yang menyelamatkan juga tidak akan bisa dilihat. Dengan demikian untuk bisa melihat dan merasakan harapan, suka cita Kerajaan Allah diperlukan iman yang teguh. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”(Ibrani 11:1).

Untuk mendapatkan iman yang kokoh maka dibutuhkan kerendahan hati, agar benih iman atau benih Kerajaan Allah bisa tumbuh subur di dalam hatinya, sehingga imannya bisa berbuah di dalam harapan, damai dan kebaikan. “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”(Mat 13:23).

Didik, CM 

MENDENGAR DAN MELIHAT

MENDENGAR DAN MELIHAT

Selasa, 26 Juli 2022



Matius 13:16-17

Yesus menyampaikan hal yang meneguhkan panggilan para murid-Nya dengan mengajak menyadari betapa berbahagianya mereka karena bisa mengalami kebersamaan dengan Tuhan. Yesus mengarahkan mereka untuk menerimanya bukan sebatas pengalaman jasmani, namun sebagai peristiwa rohani atau iman, yang bersifat kekal dan yang mampu menyelamatkan jiwa mereka. “Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.”(Mat 13:16).

Dengan demikian, yang selalu menjadi sumber damai dan kebahagian adalah relasi penuh iman antara Tuhan dan manusia. Relasi yang dimaksudkan adalah keterhubungan secara terus-menerus pribadi manusia dengan Yesus sebagai nafas hidupnya, yang dengan iman tersebut mampu merasakan penyertaan dan kasih Tuhan. “Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”(Mat 13:17).

Oleh karena itu yang penting adalah menyadari, meresapkan dan mengendapkan pengalaman di dalam hati semua kebaikan Tuhan yang dialami melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi. Kerena banyak peristiwa-peristiwa yang telah menjadi tanda kehadiran Kristus yang terlewati begitu saja tanpa bekas yang disebabkan karena tidak disadari dengan imannya. Dengan demikian seseorang akan bisa melihat dan mendengar bukan hanya dengan mata dan telinganya tetapi juga dengan hatinya yang penuh dengan iman.

Oleh karena itu, berbahagia sekali jika setiap orang bisa meraskan di dalam hatinya kasih dan kebaikan Tuhan melalui imannya. Jika seseorang percaya akan kehadiran Kristus, ia akan bisa melihat dan merasakan penyertaan-Nya setiap hari.
“Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”(Yoh 20:29)

Didik, CM