Gereja dan Injil

Minggu ke-3 Paskah [B]
14 April 2024
Kisah Para Rasul 3:13-15, 17-19

Bacaan pertama menceritakan pewartaan pertama Santo Petrus pada hari Pentekosta. Setelah Roh Kudus turun ke atas para murid, mereka mulai berbicara tentang karya-karya besar Tuhan dalam berbagai bahasa. Beberapa orang yang menyaksikan peristiwa itu mengira bahwa mereka sedang mabuk. Namun, Santo Petrus, sebagai pemimpin para rasul, menyanggah tuduhan ini dan menggunakan kesempatan itu untuk pemberitaan Injil (lihat Kisah Para Rasul 2). Inilah Injil pertama yang diberitakan oleh Gereja. Apakah Injil ini? Apa isinya? Apa dampaknya bagi kita sekarang?

Injil (εὐαγγέλιον, euangelion) pada mulanya merujuk kepada pemberitahuan kekaisaran tentang berita besar yang mempengaruhi nasib banyak orang di kekaisaran Romawi, seperti naiknya kaisar yang baru atau kemenangan besar dalam peperangan. Yesus menggunakan istilah ini ketika Ia memberitakan ‘Injil Allah’ (lihat Mar 1:14). Kemudian, dibimbing oleh Roh Kudus, Gereja, melalui para pemimpinnya, terutama Petrus, menggunakan kosakata yang sama dalam khotbahnya.

Injil yang diberitakan oleh Gereja perdana berfokus pada Yesus dan apa yang dilakukan oleh Allah Israel kepada-Nya. Petrus mengatakan bahwa karena ketidaktahuan, beberapa pemimpin Yahudi menyerahkan Yesus kepada penguasa Romawi untuk disalibkan. Dengan melakukan hal itu, Sang Pencipta kehidupan disangkal dan dihukum mati. Namun, Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Melalui peristiwa yang luar biasa ini, Allah telah menggenapi apa yang telah Dia nubuatkan melalui para nabi. Kesimpulan dari Injil adalah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai penggenapan dari rencana Allah (lihat juga 1 Kor. 15:1-6).

Namun, kabar baik tidak berhenti sampai di situ. Meskipun orang-orang Yahudi, Romawi, dan kita semua, melalui dosa-dosa kita, memiliki andil dalam kematian Kristus, itu tidak berarti bahwa kita semua akan dihukum selamanya. Bahkan, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia telah membawa rahmat keselamatan. Namun sekali lagi, untuk membuat rahmat ini efektif dalam hidup kita, kita harus membuka diri dan menerimanya. Bagaimana caranya? Santo Petrus mengatakan, “Bertobatlah dan berpalinglah! (Kis 3:19)”

‘Saya bertobat’ dalam bahasa Yunani adalah ‘μετανοέω’ (metanoeo), dan kata ini menunjukkan sebuah perubahan (meta) pola pikir (nous). Sementara ‘Saya berpaling’ dalam bahasa Yunani adalah ‘ἐπιστρέφω’ (epistrepho), dan kata kerja ini menunjukkan gerakan fisik untuk mengubah haluan. Oleh karena itu, dua kata tersebut menunjuk baik pada pembaruan internal dan juga manifestasi eksternal dari pertobatan. Percaya kepada Injil tidak cukup hanya dengan mengatakan dalam hati, “Saya menerima Yesus Kristus di dalam hati” atau “Saya percaya kepada kebangkitan-Nya”, tetapi kita terus hidup dalam dosa. Di sisi lain, jika kita melakukan banyak amal dan menghadiri banyak doa tetapi tidak mentakhtakan Yesus di dalam hati kita, itu hanyalah pamer atau bahkan narsis.

Inilah Injil yang diberitakan oleh Gereja, dan karena kita adalah bagian dari Gereja, kita juga bertanggung jawab untuk mewartakan dan menghidupi Injil. Kita memberitakan Injil kepada keluarga, teman, sesama, dan tentu saja kepada semua orang. Namun, Injil tidak pernah menjadi sebuah beban, melainkan sebuah bukti kasih. Jika kita mengasihi saudara-saudari kita, maka kita menginginkan yang terbaik bagi mereka, yaitu keselamatan mereka. Dengan demikian, memberitakan Injil adalah penting untuk menawarkan kepada mereka karunia keselamatan ini.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Posted in renungan | Tagged , | Leave a comment

Kekudusan dan Kerahiman

Minggu ke-2 Paskah – Kerahiman Ilahi [B]
7 April 2024
Yohanes 20:19-31

Hari Minggu kedua Paskah juga dikenal sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Meskipun perayaan ini relatif baru (Paus Yohanes Paulus II menetapkan perayaan ini pada tanggal 30 April 2000), kebenaran tentang kerahiman (belas kasih) ilahi adalah bagian penting dari karakteristik Allah yang diwahyukan dalam Alkitab. Bagaimana kita memahami kerahiman ilahi?

Kerahiman dalam bahasa Ibrani berkaitan dengan kata ‘rahamim’, yang berakar dari kata ‘Rahim’ yang berarti ‘kandungan’. Dengan demikian, ‘rahamim’ menyiratkan perasaan dan sikap alamiah seorang ibu terhadap anak-anaknya. Ibu yang baik tetap menerima dan mencintai anak-anaknya, terlepas dari sikap keras kepala dan rasa sakit yang mereka berikan kepada sang ibu. Beberapa ibu bahkan tidak akan ragu untuk mengorbankan diri mereka sendiri demi kehidupan anak-anak mereka.

Perspektif lain untuk memahami belas kasih adalah hubungannya yang tak terpisahkan dengan keadilan. Definisi sederhana keadilan adalah ‘memberikan seseorang apa yang menjadi haknya’, sedangkan kerahiman adalah memberikan sesuatu yang bukan haknya (secara positif). Ayah yang baik umumnya mencontohkan hal ini. Seorang bapa adalah figur keadilan dalam keluarga. Ia menerapkan disiplin kepada anak-anaknya, dan terkadang memberikan hukuman jika anak-anaknya tidak berperilaku baik. Namun, seorang ayah yang baik tahu bahwa keadilan yang ia tegakkan juga merupakan sebuah tindakan kerahiman. Selain karena disiplin yang diterapkan bapa cenderung lebih lembut, pendidikan yang tegas sebenarnya merupakan bentuk kerahiman yang membentuk karakter anak-anaknya. Kegagalan dalam menegakkan keadilan dapat berakibat pada karakter buruk anak-anaknya, dan kepribadian yang buruk tidak akan baik untuk masa depan anak. Dengan demikian, keadilan dalam perspektif yang lebih luas adalah kerahiman.

Mendalami belas kasih ilahi dalam Alkitab, kita juga menemukan hubungan yang erat antara belas kasih dan kekudusan. Di Sinai, Allah memerintahkan bangsa Israel yang baru saja dibentuk untuk menjadi kudus sebagaimana Allah itu kudus (lihat Im. 11:44-45; 19:2; 20:26). Bagaimana menjadi kudus seperti Allah? Di Sinai, Allah memberikan hukum-hukum-Nya untuk Israel. Hukum-hukum ini membentuk Israel sebagai bangsa Allah, dan dengan menaati hukum-hukum ini, mereka memisahkan diri mereka dari bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, untuk menjadi kudus, terpisah dari yang lain dan untuk Tuhan, bangsa Israel harus menaati hukum-hukum yang diberikan Tuhan.

Namun, dalam Injil Lukas, Yesus mengajarkan, “Hendaklah kamu berbelaskasihan seperti Bapamu berbelaskasihan (Luk 6:36).” Yesus dengan sengaja menerjemahkan kekudusan menjadi belas kasihan. Dalam Lukas 6, Yesus mengajarkan sabda bahagia dan membuat hukum baru seperti yang dilakukan Tuhan di Sinai. Namun, hukum-hukum Yesus bukan untuk membuat para murid-Nya ‘terpisah secara eksklusif’ dari orang lain, melainkan untuk menyentuh orang lain dengan tindakan belas kasih. Kekudusan tentu saja adalah pemisahan diri dari dosa dan untuk Tuhan, tetapi menjadi kudus juga berarti berbelas kasih. Kekudusan adalah memungkinkan sesama untuk mengalami belas kasihan ilahi melalui kita. Dan ketika sesama kita tersentuh oleh belas kasihan, mereka dapat menjadi lebih dekat dengan Allah.

Bagaimana kita mengalami kerahiman ilahi dalam hidup kita? Bagaimana kita mengungkapkan belas kasih kepada orang lain? Apakah kita melakukan keadilan sebagai dasar belas kasih kita? Apakah tindakan belas kasihan kita membawa kita lebih dekat kepada Allah?

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Posted in renungan | Tagged , | Leave a comment

Makam Kosong 

Malam Paskah – Minggu Paskah [B]

31 Maret 2024 

Markus 16:1-7 

Yesus adalah segalanya atau tidak sama sekali. Mengapa? Karena Dia membuat klaim yang luar biasa bahwa Dia adalah Allah. C.S. Lewis, seorang pujangga dari Inggris, menanggapi klaim ini dengan tiga kemungkinan jawaban, ‘Orang Gila, Pembohong, atau Tuhan’. Entah Yesus adalah orang gila yang percaya bahwa Dia adalah Tuhan, atau Yesus adalah orang jahat yang ingin menipuc dunia demi keuntungannya, atau Dia adalah sungguh Tuhan karena apa yang diklaimnya adalah benar. Jika klaim Yesus benar, maka Dia layak mendapatkan semua penyembahan, cinta dan pemujaan kita. Namun, jika klaim Yesus itu salah, maka Dia bukan siapa-siapa yang kebetulan adalah orang gila atau pembohong. Lalu, apa bukti dari klaim-Nya? 

Jawabannya adalah kebangkitan Yesus dari kematian. Namun, apa bukti dari kebangkitan Yesus? Ya, kubur yang kosong! Ya, ini adalah bukti pertama yang kita miliki. Jika kita membaca keempat Injil, kita akan menemukan kisah kebangkitan dengan sedikit variasi, tetapi semuanya setuju dengan kenyataan tentang kubur yang kosong. Jika saya adalah Yesus, saya akan memilih cara kebangkitan yang lebih dramatis dan terlihat. Saya bahkan akan menampakkan diri kepada Pilatus dan para imam kepala untuk membuktikan kebangkitan. Namun, Yesus memilih untuk menunjukkan kubur yang kosong dan kemudian menampakkan diri kepada para wanita. Tetapi, mengapa wanita-wanita ini? Perempuan-perempuan ini adalah perempuan-perempuan yang sama yang berdiri di dekat salib Yesus, dan mereka kembali pagi-pagi sekali untuk meminyaki tubuh Yesus untuk memberikan penguburan yang layak bagi Yesus. Para perempuan ini menunjukkan kesetiaan dan kasih mereka kepada Yesus.

Bukti-bukti kebangkitan Yesus telah dibahas secara ekstensif oleh banyak ahli, dan saya tidak memiliki cukup waktu untuk membahasnya di sini. Yesus tidak menampakkan diri kepada Pilatus atau Hanas dan Kayafas karena mereka telah memutuskan untuk menolak Yesus sebagai orang gila atau pembohong. Dengan demikian, kebangkitan Yesus tidak ada gunanya. Mereka bahkan menyebarkan kebohongan bahwa jenazahNya dicuri. Seorang ahli pernah berkata, “Bagi orang yang tidak percaya, sebanyak apapun bukti tidak akan pernah cukup.” Namun, kita ada di sini, sama seperti para wanita yang mengunjungi kubur di pagi hari. Kita berada di sini karena kita percaya kepada Yesus, dan kita mengasihi-Nya. 

Pilihan Yesus untuk memilih kubur yang kosong, daripada memamerkan kemegahan kebangkitan-Nya, mengundang kita untuk masuk ke dalam kubur yang kosong itu dan mengambil keputusan untuk diri kita sendiri. Paus Fransiskus pernah berkata bahwa Yesus tidak perlu memindahkan batu untuk keluar dari kubur, tetapi agar kita bisa masuk ke dalam kubur. Apakah kita masih mengasihi Yesus bahkan ketika kita hanya melihat kekosongan? Apakah kita masih setia meskipun kita tidak menemukan Tuhan? Ya, kita percaya kepada Yesus, dan kita mengasihi Dia. Namun, iman, pengharapan dan kasih bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang bertumbuh. Allah mengizinkan kita untuk mengalami salib dan bahkan kubur yang kosong karena melalui peristiwa-peristiwa ini, kita dapat bertumbuh dalam iman dan kasih. Kita tidak boleh lupa bahwa ketika kita memikul salib, kita dapat menjadi seperti Simon dari Kirene, yang memikul salib Yesus. Kita tidak boleh lupa bahwa Yesus hanya beberapa langkah lagi dari kubur yang kosong, menunggu untuk memberkati kita.

Perayaan Paskah bukan hanya sebuah ritual tahunan, tetapi sebuah undangan bagi kita untuk memasuki misteri makam kosong, dan memperbaharui dan memperdalam iman dan cinta kita kepada Tuhan. Bagaimanapun juga, Yesus adalah segalanya bagi kita. Selamat Paskah!

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Posted in renungan | Tagged , | Comments Off on Makam Kosong 

Menjadi Manusia Sejati

Minggu Palma Sengsara Tuhan [B]
24 Maret 2024
Markus 14:1 – 15:47

Momen yang menentukan bagi Yesus sebelum salib-Nya adalah sakratul maut di taman Getsemani. Tahun ini, kita bersyukur dapat mendengar versi Injil Markus karena Markus tidak ragu mengungkapkan kondisi batin Yesus pada saat yang genting ini. Bagi sebagian orang, hal ini memalukan karena Yesus mengungkapkan kesedihan-Nya yang mendalam, dan dengan demikian, Yesus terlihat terlalu manusiawi dan lemah. Namun, kita percaya bahwa ini adalah Firman Tuhan, dan dengan demikian, kita dapat belajar sesuatu yang berharga dari saat-saat genting Yesus ini.

Yesus menyadari apa yang akan terjadi pada-Nya. Dia akan segera menghadapi pengkhianatan dari murid-Nya, penangkapan, pengadilan yang tidak adil, penghujatan dari para pembenci-Nya, penyiksaan yang mengerikan, dan kematian yang sangat menyakitkan. Yesus yang tidak hanya sepenuhnya ilahi tetapi juga sepenuhnya manusiawi, mengalami beban penuh emosi manusiawi. Markus memberikan kita beberapa detail penting. Yesus ‘sangat takut dan gentar’ dan kemudian mengungkapkan apa yang Yesus rasakan, “Jiwaku sangat sedih seperti mau mati.”

St. Irenaeus pernah berkata, “Kemuliaan Allah adalah manusia yang sungguh-sungguh hidup.” Di sini, Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi manusia yang sesungguhnya dan dengan demikian menjadi kemuliaan Allah. Yesus mengajarkan kita untuk menghindari dua hal ekstrem yang berbahaya dalam menangani emosi. Ekstrim yang pertama adalah mengabaikan atau menekan emosi. Yesus tidak berpura-pura menjadi ‘orang yang kuat.’ Dia tidak berkata, ‘Saya tidak apa-apa’, atau ‘semuanya akan baik-baik saja’. Yesus mengartikulasikan emosi-emosi yang Dia rasakan, dan dengan demikian, Dia merangkul emosi dan kemanusian-Nya. Ekstrim kedua adalah tidak dikuasai oleh emosi. Ketika emosi itu sangat kuat, emosi dengan mudah menelan kita dan, dengan demikian, mengendalikan kita. Meskipun menyadari perasaan-Nya, Yesus tidak memberikan kendali pada perasaan itu. Dia tetap berdiri teguh.

Yesus kemudian memberikan dua cara agar tidak termakan oleh emosi yang meluap ini. Yang pertama adalah memiliki sahabat-sahabat yang baik. Yesus mengundang tiga murid terdekat-Nya ke taman, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Dia mengungkapkan kesedihan-Nya yang mendalam dan meminta mereka untuk menemani-Nya di saat-saat genting ini. Sayangnya, mereka tertidur, tetapi ketiganya ada di sana untuk menemani Yesus dalam masa sulit ini. Cara kedua adalah dengan doa. Dalam kesedihan, Yesus berbicara kepada Bapa-Nya. Di sini, kita mendengarkan isi doa Yesus yang sangat langka.

Yesus berkata, “Ya, Bapa, bagi-Mu segala sesuatu mungkin. Ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki (Mrk. 14:36).” Doa ini singkat tetapi luar biasa dalam. Bisa dikatakan bahwa doa ini adalah bentuk singkat dari doa ‘Bapa Kami’. Di sini, Yesus mengungkapkan dan mempersembahkan hasrat-Nya agar Dia terhindar dari penderitaan dan kematian yang kejam. Namun, Ia juga menyadari bahwa misi-Nya adalah untuk melaksanakan kehendak Bapa. Inilah kehendak Allah agar Yesus akan mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban kasih bagi dunia. Dalam doa ini, Yesus menegaskan kembali misi-Nya dan tidak membiarkan emosi mengaburkan visi-Nya.

Getsemani adalah momen berharga dimana Yesus mengajarkan kita untuk memenuhi kehendak Tuhan meskipun menghadapi kesulitan dan, pada saat yang sama, menjadi manusia yang sesungguhnya. Bukanlah kehendak Allah untuk menghancurkan kemanusiaan kita melainkan untuk menyempurnakannya, dan Yesus adalah teladan kita sebagai manusia yang sempurna.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Posted in renungan | Tagged , | Comments Off on Menjadi Manusia Sejati

Perjanjian Baru

Minggu ke-5 Masa Prapaskah [B]
17 Maret 2024
Yeremia 31:31-34

Dalam Alkitab, kata perjanjian memiliki arti khusus (dalam bahasa Ibrani בְּרִית (Berit), dalam bahasa Yunani διαθήκη (diatheke), dan bahasa inggris covenant). Ini adalah sebuah ikatan yang dibuat antara individu, keluarga, suku atau bangsa. Perjanjian ini biasanya digunakan untuk mengikat raja yang lebih berkuasa dan raja-raja yang tunduk padanya. Raja tertinggi berkewajiban untuk memberikan perlindungan saat dibutuhkan, sementara raja bawahan harus setia dan membayar upeti. Pada tingkat individu, perjanjian membentuk ikatan kekeluargaan. Mereka menjadi saudara, dan dengan demikian, mereka harus saling melindungi dan membantu. Atau, ketika perjanjian itu melibatkan pria dan wanita, mereka menjadi suami dan istri, sebuah keluarga baru.

Meskipun perjanjian adalah sebuah realitas yang kompleks dan bahkan masih diperdebatkan oleh para ahli, satu hal yang pasti: perjanjian adalah sebuah kesepakatan tentang ‘pertukaran orang’ dan bukan ‘pertukaran barang’. Sebuah perubahan radikal dari identitas terjadi pada mereka yang masuk ke dalam perjanjian.

Istilah perjanjian adalah kunci untuk memahami Alkitab karena Allah mengambil inisiatif untuk mengikatkan diri-Nya dengan Israel melalui perjanjian. Ada beberapa momen di mana Tuhan membentuk perjanjian dengan Israel, tetapi yang paling terkenal adalah perjanjian di Gunung Sinai melalui perantaraan Musa. Tuhan berfirman, “Jadi, sekarang, jika kamu mendengarkan suara-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi milik kepunyaan-Ku sendiri di antara segala bangsa, sebab seluruh bumi ini adalah kepunyaan-Ku, dan kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus (Kel. 19:5-6).”

Perjanjian tersebut menjadikan Israel sebagai sebuah bangsa di bawah kepemimpinan Allah. Dengan demikian, orang Israel, sebagai warga dari bangsa Allah, harus taat dan setia kepada satu Allah saja, yaitu Tuhan, dan mengikuti hukum-hukum-Nya. Namun, perjanjian tersebut tidak hanya membentuk hubungan raja-rakyat tetapi juga keluarga. Sering kali, orang Israel disebut sebagai ‘anak-anak Allah’ (lihat Kel. 4:22 dan Ul. 14:1). Dan yang lebih menarik lagi adalah bahwa hubungan pernikahan juga terjalin melalui perjanjian ini. Nabi Hosea menggambarkan hubungan antara Tuhan dan bangsa Israel sebagai suami dan istri.

Nabi Yeremia menubuatkan bahwa akan ada perjanjian yang baru (Yer. 31:31, bacaan pertama). Hal ini digenapi di dalam Yesus Kristus. Pada perjamuan terakhir, Yesus berkata, “Cawan yang ditumpahkan bagi kamu ini adalah perjanjian baru dalam darah-Ku (Luk 22:20).” Salah satu tujuan utama Yesus mengorbankan diri-Nya di kayu salib adalah untuk mengesahkan perjanjian yang baru ini. Karena darah ilahi Kristus mengesahkannya, maka perjanjian tersebut bersifat kekal dan tak terhapuskan.

Yesus menawarkan kepada kita sebuah perjanjian meskipun kita tidak layak. Melalui iman dan baptisan, kita masuk ke dalam perjanjian, dan identitas kita diubahkan secara radikal. Tuhan adalah Allah kita, dan kita menjadi umat Kerajaan Allah. Namun, karena perjanjian yang sama, kita juga adalah anak-anak-Nya, dan kita memiliki hak untuk memanggil Tuhan sebagai ‘Bapa kami’. Selain itu, sebuah pernikahan telah terjalin. Gereja adalah mempelai Kristus, dan Kristus sangat mengasihi mempelai-Nya sampai memberikan hidup-Nya untuk kita. Sebagai umat perjanjian yang baru, yang terus-menerus diperbarui di dalam Ekaristi, apakah kita sudah bersikap sebagai putra-putri yang taat dan mengasihi Bapa kita? Apakah kita bertindak sebagai Gereja, sang mempelai, yang setia dan penuh kasih kepada Kristus, mempelai laki-laki kita?

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Posted in renungan | Tagged , | Comments Off on Perjanjian Baru