SIAP MELAYANI DALAM SEGALA SITUASI

SIAP MELAYANI DALAM SEGALA SITUASI

Selasa, 26 Januari 2021

Lukas 10:1-9
Menjadi murid Kristus adalah suatu panggilan yang tak ternilai harganya.
“Bukan kamu yang memilih kamu, tetapi Akulah yang memilih kamu, supaya kamu
pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta
kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”(Yoh 15:16). Karena Tuhan
menghendakinya, maka seseorang dipanggil dan dipilih untuk menjadi murid-Nya.
Apa artinya menjadi murid Kristus? Menjadi murid berarti dipanggil untuk
menyerupai guru mereka, untuk melayani mereka yang menderita dan memberikan
diri menjadi alat-alat-Nya dalam menghadirkan Kerajaan Allah. “Sama seperti Anak
Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk
memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”(Mat 20:28).
Dengan demikian menjadi murid Kristus berarti dipanggil untuk menjadi
pribadi untuk orang lain, untuk pelayanan dan untuk kemuliaan Allah. Ia tidak lagi
berpusat pada dirinya sendiri, namun ia menjadi sarana keselamatan Allah untuk
sesamanya. Disinilah letak betapa mulia panggilan menjadi murid Kristus, karena ia
tidak mencari keuntungan diri sendiri, melainkan selalu siap melayani ditengahtengah segala situasi, bahkan di dalam situasi sulit pun, seorang murid Kristus akan
selalu siap. “Pergilah , sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke
tengah-tengah serigala.”(Luk 10:3). Dalam pelayanan seorang murid Kristus akan
terjadi juga pengalaman seperti yang dialami oleh Guru mereka; banyak orang
menerima harapan dan semangat hidup, namun ada sebagian orang menolak dan
mencoba menghalang-halangi langkahnya.
Mereka yang siap menjadi murid Kristus tidak akan bergerak sendiri, ia ada
bersama dalam satu team dengan tujuan yang satu, yaitu Kerajaan Allah. Oleh
karena itu mereka tidak pernah bekerja dan melayani sendirian, namun mereka
bergerak bersama. “Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid
yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan
tempat yang hendak dikunjungi-Nya.”(Luk 10:10). Yesus ada ditengah-tengah
mereka untuk memberikan semangat dalam pelayanan. Kesadaran bahwa Yesus ada
bersama, membuat masing-masing murid Kristus yakin dan setia melaksanakan
tugasnya, sekalipun ada banyak tantangan. “Ajarlah mereka melakukan segala
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu
senantiasa sampai kepada akhir zaman.”(Mat 28:20)
Paroki St Montfort Serawai, ditulis oleh Rm. A. Didik Setiyawan, CM

SETIA SEBAGAI HAMBA

SETIA SEBAGAI HAMBA

Senin, 25 Januari 2021

Markus 16:15-18
Yesus memberikan panggilan dan kepercayaan kepada para murid-Nya
untuk mewartkan kebaikan Allah, sehingga pada akhirnya mereka yang menerima
perwartaan tersebut menjadi percaya dan dibaptis. “Pergilah ke seluruh dunia,
beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan
diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”(Mrk 16:16-17).
Panggilan yang dianugerahkan oleh Allah ini bukan hal yang kebetulan, namun Dia
telah merencanakannya dan menyiapkan mereka. Dengan segala kelebihan dan
kekurangannya, mereka diperbaharui hidupnya menjadi pelayan dan penjala
manusia. “Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan
Kujadikan penjala manusia.”(Mrk 1:17).
Oleh karena itu panggilan menjadi murid Kristus datang atas kehendak Allah.
Karena datang dari Allah maka panggilan tersebut adalah hal yang sangat mulia dan
berharga. Panggilan tersebut adalah iman ; menjadi murid Kristus. Persoalnya
apakah orang yang telah dipanggil dan yang telah dibaptis menyadari hal ini? Jika
seseorang menyadarinya maka ia akan menjaga, merawat dan mengembangkannya.
Mereka adalah orang yang setia, tahu bersyukur dan mengasihi Allah. Oleh karena
sikapnya maka Tuhan akan memberikan banyak kepercayaan kepadanya untuk
meluaskan Kerajaan Allah. “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik
dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, aku akan
memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan
turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”(Mrk 25:21). Sebaliknya jika seseorang belum
menyadarinya, maka ia akan acuh tak acuh dan tidak peduli dengan imannya. Orang
yang malas akan menerima buah dari apa yang dilakukannya. “ Karena setiap orang
yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa
yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari
padanya.”(Mat 25:29).
Apa yang menjadi harapan Kristus terhadap murid-murid-Nya? Agar mereka
setia mengikuti-Nya dengan cara hidup dengan penuh semangat mewartakan Injil
dalam masyarakat dunia. (Mrk 16:15). Harapan tersebut bisa terjadi, jika seseorang
memiliki kesadaran rohani dan kebiasaan untuk bersyukur dari hal-hal yang kecil,
dimana ia menemukan pendampingan dan penyertaan Allah. Kalau tingkat
kesadaraan iman rendah, bagaimana seseorang bisa setia dalam mengikuti Kristus?
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara
besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga
dalam perkara-perkara besar.”(Luk 16:10). Untuk meningkatkan kesadaran rohani
atau iman, maka diperlukan komitmen ; iya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku
menurut kehendak-Mu, seperti jawaban Bunda Maria. “Kata Maria: “Sesunggyhnya
aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”(Luk 1:38).
Paroki St Montfort Serawai, dilulis oleh Rm. A. Didik Setiyawan, CM

We are Fishers of Men

We are Fishers of Men

3rd Sunday in Ordinary Time [B]

January 24, 2021

Mark 1:14-20

We once again listen to the story of the calling of the first disciples: Simon and Andrew, as well as James and John, the sons of Zebedee. Jesus called them, and He would make them ‘the fishers of men.’ Yet, from countless possibilities of professions and occupations, why did they have to be ‘the fishers of men’? Why not merely Jesus’ promotion team? Why not Jesus’ soldiers?

The answer is not far from who the first disciples were. They were fishermen of Galilee. Yet, this time, they were no longer catching fish but gathering people for Christ. While they left almost everything behind and followed Jesus, they brought their lives, characters, experiences, and skills with them. They remained fishermen, but this time Jesus transformed the object of their catch: men and women.

The second reason why they were called ‘fishers of men’ is even more profound. It speaks of the fulfillment of the Old Testament’s prophesy. The great prophet Jeremiah who lived around 500 years before Christ, once said, “For I will bring them back to their land that I gave to their ancestors. I am now sending for many fishermen, says the Lord, and they shall catch them… [Jer 16:15-16].” The historical context of this prophecy is critical. After Salomon’s reign, the kingdom of Israel was divided into two smaller kingdoms. The northern kingdom was the coalition of 10 tribes, and the southern kingdom was the tribe, Judah and Benjamin. In 721 SM, the northern kingdom was destroyed by the Assyrian empire, and the ten tribes were deported to foreign lands. Then in 587 SM, the southern kingdom was demolished by the Babylonian empire, and the inhabitants were brought to the Babylonian lands. Jeremiah prophesied that God would bring back the scattered Israelites by sending ‘fishermen.’

By calling His first disciples as ‘fishers of men,’ Jesus was fulfilling Jeremiah’s prophecy. Jesus was gathering back the lost tribes of Israelites to Himself as the new Israel. This is why Jesus called and chose twelve apostles. The twelve apostles shall serve as the leaders of the new twelve tribes of Israel.

The identity and mission as ‘fishers of men’ are primarily for the apostles, yet every baptized Christians are sharing in this identity. We are fishers of men and women for Christ. Some of us may be called to get a quantity gain, like a priest who baptized thousands of people. Some of us may be invited to have a quantity yield, like parents who raise and educate their children as mature and responsible Catholics. Some of us stand in between these two kinds of catches, like zealous catechists, courageous lay missionaries, faithful religious sisters who take care of schools or orphanages, or indefatigable community leaders.

Surely to be a fisherman is not a stress-free job. Sometimes, we are facing storms and dangers. Sometimes, we are getting nothing after our best effort. Occasionally, we get in a disagreement with our fellow fishermen. However, the Gospel reminds us that we are not fishermen because we are good, but because Jesus calls us and makes us His fishermen. We draw our purpose and strength from Jesus because we are participating in Jesus’ mission to gather people to Himself. We are working together with apostles to fulfill God’s promise of the New Israel. We are the fishers of men.

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita adalah Penjala Manusia

Kita adalah Penjala Manusia

Minggu ke-3 di Masa Biasa [B]

24 Januari 2021

Markus 1: 14-20

Kita mendengarkan kisah panggilan murid-murid pertama: Simon dan Andreas, juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus. Yesus memanggil mereka dan Dia akan menjadikan mereka ‘penjala manusia’. Namun, dari berbagai profesi dan pekerjaan yang tak terhitung jumlahnya, mengapa mereka harus menjadi ‘penjala manusia’? Mengapa tidak jadi tim promosi Yesus? Mengapa bukan tentara Yesus?

Jawabannya tidak jauh dari siapa murid pertama itu. Mereka adalah para nelayan di Galilea. Namun, kali ini, mereka tidak lagi menangkap ikan, tetapi mengumpulkan orang bagi Kristus. Meskipun mereka meninggalkan hampir semuanya dan mengikuti Yesus, pada dasarnya mereka membawa serta kehidupan, karakter, pengalaman, dan keterampilan mereka. Mereka tetap menjadi nelayan, tetapi kali ini Yesus mengubah objek yang mereka tangkap: manusia.

Alasan kedua mengapa mereka disebut ‘penjala manusia’ bahkan lebih bermakna. Hal ini berbicara tentang pemenuhan sebuah nubuat di Perjanjian Lama. Nabi besar Yeremia yang hidup sekitar 500 tahun sebelum Kristus, pernah berkata, “Sebab Aku akan membawa mereka pulangke tanahyang telah Kuberikan kepada nenek moyangmereka. Sesungguhnya, Aku mau menyuruh banyak penangkap ikan, demikianlah firman TUHAN, yang akan menangkap mereka… [Yer 16: 15-16].” Untuk mengerti maksud nubuat ini, kita perlu melihat konteks historisnya. Setelah pemerintahan raja Salomon, kerajaan Israel terbagi menjadi dua kerajaan yang lebih kecil. Kerajaan utara yang merupakan gabungan 10 suku, dan kerajaan selatan yaitu suku Yehuda dan Benyamin. Pada 721 SM, kerajaan utara dihancurkan oleh kekaisaran Asyur, dan sepuluh suku itu dideportasi ke negeri asing. Kemudian pada tahun 587 SM, kerajaan bagian selatan dihancurkan oleh kerajaan Babel, dan penduduknya dibawa ke tanah Babel. Yeremia bernubuat bahwa Tuhan akan mengembalikan bangsa Israel yang tercerai-berai dengan mengirim ‘penangkap ikan’.

Dengan menyebut murid-murid-Nya yang pertama sebagai ‘penjala manusia’, Yesus sedang memenuhi nubuat Yeremia. Yesus sedang mengumpulkan kembali suku-suku Israel yang hilang di dalam diri-Nya sebagai Israel baru. Inilah mengapa Yesus memanggil dan memilih dua belas rasul. Kedua belas rasul akan menjadi pemimpin dari dua belas suku baru Israel.

Identitas dan misi sebagai ‘penjala manusia’ ini tidak hanya bagi para rasul, namun setiap orang yang telah dibaptis berbagi dalam identitas ini. Kita adalah penjala manusia bagi Kristus. Beberapa dari kita mungkin dipanggil untuk mendapatkan tangkapan yang berlimpah, seperti seorang imam yang membaptis ribuan orang. Beberapa dari kita mungkin dipanggil untuk memiliki hasil yang berkualitas, seperti orang tua yang membesarkan dan mendidik anak-anak mereka sebagai orang Katolik yang dewasa dan bertanggung jawab. Beberapa dari kita berdiri di antara dua jenis tangkapan ini, seperti katekis yang berdedikasi, misionaris awam yang berani, suster yang setia mengurus sekolah atau panti asuhan, atau pemimpin komunitas yang tak kenal lelah.

Pastinya menjadi nelayan bukanlah pekerjaan yang bebas stres. Terkadang, kita menghadapi badai dan bahaya. Terkadang, kita tidak mendapatkan apa-apa setelah usaha terbaik kita. Terkadang, kita berselisih paham dengan sesama pekerja. Namun, Injil mengingatkan kita bahwa kita bukan penjala manusia karena kita layak dan sempurna, tetapi karena Yesus memanggil kita dan menjadikan kita penjala manusia-Nya. Kita mengambil tujuan dan kekuatan kita dari Yesus karena kita berpartisipasi dalam misi Yesus untuk menyatukan seluruh umat manusia di dalam-Nya. Kita bekerja dengan para rasul untuk memenuhi janji Tuhan tentang Israel Baru. Kita adalah penjala manusia.

 Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Biarlah mereka mengatakan bahwa kita sudah tidak waras

Biarlah mereka mengatakan bahwa kita sudah tidak waras

HARI SABTU DALAM PEKAN BIASA II

January 23, 2021

Ibrani 9:2-3; 11-14

Markus 3:20-21

Saudara-saudariku terkasih,

    Topik renungan kita kali ini kedengarannya agak aneh. Koq membiarkan orang mengatai kita tidak waras. Tetapi memang hal itu ditulis dalam injil hari ini, Markus 3:21… “Waktu kaum keluargaNya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.” Anda pasti akan sangat marah kalau tanpa alasan yang kuat, kita dikatai: “anda sudah tidak waras lagi.” Yesus dikatakan sudah tidak waras lagi, dalam konteks Yesus diasosiasikan dengan setan atau Yesus didiagnose kerasukan Beelzebul,” karena “Yesus associated dengan Penghulu Setan mengusir setan.”

 Dalam kehidupan sehari-hari kadangkala kita diceritakan peristiwa-peristiwa yang aneh, yang tidak biasa dan tidak dapat diterima dengan akal sehat. Sebagai misal, ketika saya masih belajar di Seminary Tinggi Ledalero, ketika itu ada seorang dokter di Rumah Sakit Umum Maumere, namanya dokter Hillers. Dokter ini sangat terkenal sebagai ahli bedah yang hebat. Diceritakan bahwa sebelum dokter ini akan melakukan operasi, ia  harus minum tuak lebih dahulu (alkohol) baru dia  bisa melakukan operasi. Dan anda tahu, bahwa tuaknya Maumere dikenal sangat keras, dikenal “tuak bakar menyala.” Hal ini kalau diketahui oleh Ade Armando pasti beliau akan mengatakan: “kita harus menggunakan akal sehat, hanya dengan akal sehat pasien yang dioperasi akan selamat.” Ini hanya sekedar ilurstrasi lho…dalam hubungan dengan bacaan Injil hari ini tentang “ketidak warasnya Yesus” yang dicap oleh kaum Pharisi.

    Apakah kita juga akan mencap Yesus sebagai orang yang sudah tidak waras lagi? Yesus yang baru saja melakukan pelayananNya setelah memilih keduabelas rasulNya. PelayananNya dengan menyembuhkan banyak orang sampai mengusir setan sekalipun sudah mendapat tantangan dari orang banyak terutama dari kaum Pharisi. Mereka mempertanyakan credential Nya, kegiatanNya dan lain sebagainya.

Saudara-saudari terkasih,

    Judgement yang diberikan kepada Yesus sebagai “orang yang sudah tidak waras lagi” itu disatu pihak sangat menyakitkan hati kita para pengikut dan yang percaya kepdaNya; tetapi di lain pihak sikap dan pernyataan yang menantang itu mendorong orang untuk melihat hasil dari pelayanan Yesus. Bahwa setiap pebuatan baik sudah sangat pasti selalu mendapat tantangan, selalu ada konsekwensi menghadapi penilaian yang negatip. Sejak awal pelayananNya, Yesus sudah mendapat tantangan dari kaumNya sendiri. St. Paulus dalam suratnya kepada orang Ibrani dari bacaan pertama hari ini mengatakan: “… Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darahNya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal.”

    Sementara orang lain akan selalu bisa menilai hal-hal yang sama kepada kita seperti yang mereka katakan bahwa Yesus benar-benar sudah tidak waras lagi. Oleh karena itu bukan tidak mungkin bahwa kita akan mengalami penilaian atau judgment yang sama. Banyak hal yang seringkali tidak masuk akal, kalau kita melihat bagaimana para missionaris dulu meninggalkan segala-segalanya untuk pergi ke tanah misi, banyak pula kaum awam yang bekerja mati-matian untuk pewartaan kabar gembira. Saya ingat ketika saya masih kecil saya melihat para rasul awam ketika itu mereka disebut guru agama dengan pengetahuan teologi yang sangat minim tetapi memiliki kekayaan iman yang luar bisas berjalan dari kampung ke kampung untuk mengajar agama. Banyak orang yang mereka hantar untuk menjadi pengikut Kristus…Itulah para rasul awam. Sudah sangat pasti kitapun dapat membaca kisah para martyr dan orang kudus lainnya yang mengorbankan hidupnya untuk penyebaran iman kepada Kristus, atau mempertahankan kekudusan dan imannya kepada Kristus. Lalu apakah kita juga mampu dan mau ikut ambil bagian  dalam tugas pewartaan ini? Semoga!!!