Browsed by
Author: admin

HATI YANG TERLUKA NAMUN TERBUKA (Mat 11:25-30)

HATI YANG TERLUKA NAMUN TERBUKA (Mat 11:25-30)

Jumat, 19 Juni 2020

Oleh: P. Stef. Buyung Florianus, O.Carm.

Yesus adalah bukti kasih sang Bapa. Bapa telah mengaruniakan-Nya kepada kita. Dan Yesus telah menunjukkan kasih Allah itu dalam hidup dan pelayanan-Nya. Hati-Nya selalu tergerak oleh belaskasihan kepada mereka yang menderita. Dia selalu memiliki hati untuk para pendosa. Dia selalu mempunyai hati untuk orang-orang sakit. Secara khusus, dalam Injil hari ini Yesus mengundang mereka semua yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya. Dia sendiri akan memberikan kelegaan.

Siapakah orang yang letih lesu itu? Itulah orang yang dikuasai oleh hawa nafsu duniawi. Orang yang demikian sungguh diperbudak oleh keinginannya sendiri. Tindak kekerasan, berupa perampokan, perampasan, pemerkosaan menjadi bagian yang tidak terhindarkan.  Dia sungguh tidak mempunyai hati, dan menjadi letih lesu. Dan dengan kekuatannya sendiri, ia tidak mampu mengatasinya. Hanya dalam Yesus, belenggu itu akan dilepaskan. Itulah sebabnya, Yesus mengundangnya untuk datang, dan percaya penuh akan kuasa kasih-Nya. Bila hal itu terjadi, dia akan mendapatkan damai sejahtera.  Lalu siapakah orang yang berbeban berat itu? Itulah orang yang sombong, congkak hatinya. Sebetulnya, ia tidak memikiki kemampuan dan tak berdaya, tetapi merasa diri hebat. Dia merasa tidak membutuhkan Tuhan. Tapi apa daya, dengan kekuatannya sendiri ia tidak menemukan kebahagiaan.  Itulah sebabnya, dia harus datang kepada Yesus dan mengandalkan bukan lagi kekuatannya sendiri melainkan kuat kuasa Tuhan sendiri. Bila hal itu terjadi, sukacita hidup akan ia dapatkan.

Hari ini adalah Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus. Salah satu aspek yang pantas kita renungkan adalah hati Yesus ini adalah hati yang terluka namun terbuka. Terluka akibat kedurhakaan kita, antara lain  kelekatan pada hawa nafsu duniawi dan kesombongan. Namun terbuka karena bersedia untuk menolong kita keluar dari belenggu tersebut. Yesus mau supaya kita mengalami damai sejahtera. Dia yang terluka namun menyembuhkan. Selanjutnya, kita juga diundang untuk memiliki sikap hati yang sama. Tidak jarang kita juga terluka karena kesalahan sesama. Namun kita sering tertutup, tidak mau mengampuni. Hasil akhir,  kita tidak pernah merasakan damai. Marilah kita berdoa semoga Yesus menjadikan hati kita seperti hati-Nya. Hati Yesus Yang Mahakudus, doakanlah kami. Amin.  

KASIH SANG BAPA (Mat 6:7-15)

KASIH SANG BAPA (Mat 6:7-15)

Kamis,  18 Juni 2020

Oleh: P. Stef. Buyung Florianus, O.Carm.

Hari ini Yesus memberikan pengajaran tentang doa. Bagi Yesus, Bapa kita di surga itu sungguh mencintai kita. Dia tahu apa yang kita butuhkan. Bahkan sebelum kita meminta kepada-Nya. Dengan demikian, dalam doa kita mengalami Allah yang menguatkan, menyembuhkan dan menyelamatkan kita. Itulah sebabnya, bukan banyaknya kata-kata, bukan pula berapa lama kita berdoa, tetapi hati yang penuh penyerahan diri kepada KASIH SANG BAPA. Kita semestinya berdoa dalam keyakinan iman yang mendalam. Dalam doa, kita bukan pertama-tama menyampaikan keadaan atau situasi hidup kita, tetapi lebih mengungkapkan kepercayaan kita kepada-Nya.

Yesus lalu mengajarkan kepada kita doa “Bapa Kami” sebagai sebuah contoh. Doa ini bisa dibagi dalam dua bagian. Dalam Bagian Pertama, kita mengarahkan hati kita kepada Allah. Kita berdoa mohon nama-Nya selalu dimuliakan, dan mengharapkan kedatangan Kerajaan-Nya. Kita memohon semoga Dia diakui sebagai Yang Mahakudus oleh segenap ciptaan. Lalu kita  mengharapkan kepenuhan kerajaan-Nya disampaikan kepada semua ciptaan. Dan kita berdoa semoga kesempurnaan kehendak-Nya yang terlaksana di surga juga diperluas sampai ke bumi.

Kemudian bagian kedua mencakup permohonan kesejahteraan jasmani dan rohani dalam masa sulit sebelum terwujudnya Kerajaan Allah. Kita memohon supaya Allah menganugerahkan roti yang kita butuhkan pada hari ini. Lalu pengampunan yang kita terima dari Allah hendaknya menjadi alasan bagi kita untuk mengampuni sesama. Dan dalam waktu pencobaan yang menyertai datangnya Kerajaan Allah, kita jangan sampai jatuh menjadi mangsa kejahatan.

Setelah mengajarkan doa Bapa Kami, Yesus menegaskan kembali undangan untuk saling mengampuni. Ternyata syarat penting untuk mendapatkan KASIH SANG BAPA, khususnya pengampunan atas dosa-dosa kita adalah kesediaan kita untuk saling mengampuni. Namun harus kita akui dengan jujur bahwa inti pesan doa Bapa Kami belum sepenuhnya kita hayati dalam perjuangan hidup kita.

Marilah kita berdoa semoga Tuhan mencurahkan rahmat-Nya untuk memampukan kita saling mengampuni. Dengan cara itulah, kita boleh mengalami KASIH SANG BAPA dan ambil bagian dalam pembangunan kerajaan Allah, kerajaan damai sejahtera. Semoga demikian. Tuhan memberkati. Amin.

DEMI KEMULIAAN TUHAN (Mat 6:1-6.16-18)

DEMI KEMULIAAN TUHAN (Mat 6:1-6.16-18)

Rabu, 17 Juni 2020

Oleh: P. Stef. Buyung Florianus, O.Carm.

Demi Kemuliaan Tuhan, itulah yang harus menjadi motivasi kita untuk menghayati hidup keagamaan. Demi kehormatan Allah, itulah yang harus menjadi pendorong kita untuk melaksanakan praktek kesalehan. Yesus hari ini meminta kita  untuk meninggalkan motivasi yang tidak murni. Praktek kesalehan yang kita lakukan bukan untuk dilihat orang. Hidup keagamaan yang kita laksanakan bukan untuk dipuji oleh manusia. Semuanya kita laksanakan hanya untuk demi kemuliaan Tuhan, demi kehormatan Allah. Bila itu yang menjadi motivasi kita, dengan sendirinya kita mendapatkan anugerah keselalamatan. Kita akan memperoleh upah dari Bapa di surga.

Yesus menyebutkan secara khusus tiga praktek kesalehan. Pertama: amal kasih. Kita tidak perlu mencanangkannya bila beramal. Karena pujian dari pihak manusia hanya dilakukan oleh orang-orang munafik. Dalam beramal, kita harus melakukannya secara diam-diam dan tersembunyi. Bapa di surga sendirilah yang akan membalasnya. Kedua: doa. Dalam berdoa, kita harus melakukannya secara tersembunyi, bukan untuk dilihat dan dipuji orang. Kita diminta untuk masuk kamar, tutup pintu dan berdoa kepada Bapa yang ada di tempat tersembunyi. Sekali lagi, Bapa di surga sendirilah yang akan membalasnya.  Akhirnya ketiga: puasa. Puasa yang kita lakukan bukan untuk dipamerkan. Justru sebaliknya, kendati lagi berpuasa kita diminta untuk berbuat seolah-olah tidak sedang melakukan puasa dengan mencuci muka dan meminyaki kepala. Dengan cara demikian, hanya Bapa sendirilah yang tahu bahwa kita sedang berpuasa. Dengan sendirinya, Bapa jugalah yang akan membalasnya kepada kita.  

Dalam menghayati hidup keagamaan dan praktek kesalehan, orang sering kali memiliki motto atau semboyan tertentu. Semboyan itulah yang menyemangati hidup mereka. Motto itulah yang memberikan spirit dalam pelayanan mereka. Sebagai contoh, tarekat Religius biasa memiliki mottonya masing-masing.  Semua yang mereka lakukan hanya demi kemuliaan Tuhan. Misalnya, Ordo Karmel memiliki semboyan: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi Allah bala tentara” (Zelo Zelatus Sum Pro Domino Deo Exercituum). Serikat Yesus (SJ) mempunyai motto: “Demi Kemuliaan Tuhan Yang Lebih Besar” (Ad Maiorem Dei Gloriam). Dan masih banyak komunitas religius, bahkan tokoh-tokoh tertentu memiliki semboyan atau mottonya tersendiri.  

Bagaimana dengan kita? Kita diminta untuk memiliki roh yang sama. Kita melakukan segala praktek kesalehan demi kemuliaan Tuhan. Kita menghayati hidup keagamaan demi kehormatan Allah. Bila itu yang menjadi intensinya, kita akan mendapatkan upah yang besar dari Bapa di surga. Semoga demikian.

KASIH SEJATI (Mat 5:43-48)

KASIH SEJATI (Mat 5:43-48)

Selasa, 16 Juni 2020

Oleh: P. Stef. Buyung Florianus, OCarm.

Yesus mengundang kita semua untuk mencintai, bukan hanya sesama tetapi juga bahkan musuh. Sebuah permintaan yang tidak gampang. Secara manusiawi nampak mustahil. Tetapi itulah kasih yang sejati. Itulah juga mesti kita lakukan untuk menjadi anak-anak Bapa di surga. Itulah juga mesti kita hayati sehingga boleh menjadi murid Yesus yang bermutu.

Ternyata Yesus tidak hanya meminta kita untuk melakukannya. Dia sendiri menjadi teladan bagi kita. Dia datang ke dunia justru untuk kita para pendosa. Dalam pelayanan-Nya, Dia justru mau mencari dan menemukan orang yang hilang karena dosa. Dia wafat di salib pun untuk menebus umat manusia. Saat tergantung di kayu salib, Yesus justru mendoakan orang-orang yang telah menyalibkan-Nya. Lebih lanjut, Yesus menunjuk Bapa di surga sebagai model bagi kita.  Kasih sang Bapa tidak membeda-bedakan. Ia menerbitkan matahari-Nya bagi orang yang jahat dan juga bagi orang yang baik. Ia juga menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Sungguh luar biasa kasih Tuhan.

Tidak sedikit orang berjuang untuk menghayati kasih sejati yang diminta oleh Yesus ini. Antara lain Beato Aloysius Rabata. Ia adalah seorang imam Karmel. Ia lahir di Erice, dekat Trapani (Sicilia) menjelang abad ke-15. Dalam masa hidupnya sebagai seorang Karmelit, ia melakukan upaya pembaharuan hidup religius, khususnya di Biara Randazzo. Ia meninggal di biara tersebut setelah mendapat cedera berat pada kepalanya akibat penganiayaan seorang penjahat. Penjahat itu diampuninya dan sama sekali tidak mau memberitahukan namanya.

Atau juga St. Yohanes Paulus II. Dia  lahir di Wadowice, Polandia, 18 Mei 1920 dan meninggal di Roma, 2 April 2005 pada umur 84 tahun. Ia menjadi Paus sejak 16 Oktober 1978 hingga kematiannya. Dia ditembak oleh Mehmet Ali Agca pada tanggal 13 Mei 1981. Setelah penembakan tersebut, Yohanes Paulus meminta kepada orang-orang agar “…berdoa bagi saudara saya, yang sudah saya maafkan setulus-tulusnya.” Pada tanggal 27 Desember 1983, Paus Yohanes Paulus mengunjungi penembaknya di Penjara.  Setelah kunjungan tersebut, Paus kemudian berkata, “Apa yang kami bicarakan merupakan rahasia antara dia dan saya. Ketika berbicara dengannya saya anggap ia adalah seorang saudara yang sudah saya ampuni dan saya percayai sepenuhnya.”

Bagaimana dengan kita? Kita juga diundang untuk menghayati semangat cinta yang sama. Kita sadar bahwa mencintai sesama itu biasa, tetapi mencintai musuh itu luar biasa, sebuah keutamaan. Kita berdoa memohon bantuan rahmat Tuhan agar kita mau mencintai, bahkan musuh sekalipun. Karena tanpa bantuan rahmat Tuhan,  kita tidak mampu menghayatinya baik.