Browsed by
Author: Romo. Aloysius Didik Setiyawan CM

Tinggal di Philadelphia, AS mendampingi Komunitas Katolik Indonesia (KKI).
HIDUP DALAM KETULUSAN

HIDUP DALAM KETULUSAN

Rabu, 26 Agustus 2020

Matius 23;27-32
Tuhan Yesus menyatakan dengan keras tentang kemunafikan kepada para
ahli Taurat dan Farisi. Mereka dipandang sebagai orang yang berpendidikan dan
ketat dalam beragama. Bagi Tuhan Yesus, yang penting soal bagaimana cara hidup
seseorang; apakah ia memiliki ketulusan, kejujuran, dan kasih? Dibalik penampilan;
yang lembut, santun, dan bijaksana, apakah ia memiliki kejujuran? “Demikian
jugalah kamu, di sebelah tampak benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu
penuh kemunafikan dan kedurjanaan.”(Mat 23:28).
Mengapa Yesus menolak kemunafikan? Karena sikap tersebut melawan
kebenaran dan merusak relasi antar manusia, dan manusia dengan Tuhan. Orang
yang munafik pada dasarnya orang yang tidak jujur dengan diri sendiri, dengan
sesamanya dan dengan Tuhan. Dengan demikian sikap tersebut seseorang tidak
menyukai kebenaran dan akan memutarbalikan apa yang ada ; yang benar menjadi
salah dan yang salah menjadi benar. Sikap munafik menghalangi seseorang untuk
bertemu dengan Tuhan. Sebab dihadapan Tuhan yang Maha Tahu, semuanya
tampak jelas, sehingga seseorang tidak bisa menyembunyikan kejahatannya. “Dan
tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala
sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus
memberikan pertanggungan jawab.”(Ibrani 4:13).
Dengan menyadari akan kebaikan dan kasih Tuhan, seseorang akan sekuat
tenaga menjaga kemurnian, kekudusan dan ketulusannya. Kemunafikan bisa
dilawan dengan kejujuran. Ketika seseorang bersikap jujur maka tidak ada yang
menghalagi kebenaran yang ada. Untuk bisa melakukannya maka diperlukan
kepercayaan pada Allah yang Maha Tahu dan kepadanya Allah berkenan. “Ketulusan
dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.”(Mzm
25:21).
Ketika seseorang mampu mengalahkan kemunafikan dalam dirinya, maka ia
akan beroleh kedamaian dan sukacita. “Jiwaku bersukaria kalau bibirmu
mengatakan yang jujur.”(Amsal 23:16). Perjuangan seorang beriman adalah terus
menerus menyerupai Kristus. Perjuangan tersebut membutuhkan keberanian untuk
setia berusaha tulus hati dan jujur. Sebab dengan sikap tulus dan jujur seseorang
akan bisa menerima kebenaran dan dengan demikian ia bersatu dengan Allah.
Paroki St. Montfort Serawai, ditulis oleh Rm Aloysius Didik Setiyawan, CM

TERUS BERJUANG

TERUS BERJUANG


Matius 12:14-21
Setiap orang berjalan ditengah-tengah dunia yang keras. Oleh karena itu
setiap orang tidak ada pilihan lain kecuali berjuang. Jika orang tidak berusaha dan
berjuang, maka tidak akan mendapatkan apa-apa. Dalam hidup rohanipun juga
demikian, untuk bisa mencapai kesucian dan kesempurnaan hidup, setiap harus
berjuang untuk bisa setia mengikuti Kristus. “Saudara-saudaraku yang kekasih,
sementara bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang
keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu
dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman
yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.”(Yudas 1:3).
Sebagai manusia yang sedang berjuang, tidak ada satupun orang yang tidak
pernah jatuh. Setiap orang punya pengalaman jatuh, namun sebagai orang yang
mau berjuang, pengalaman jatuh dalam kelemahan bukan akhir dari segalagalanya. Yesus datang untuk memberi harapan bagi orang-orang berdosa. “Bukan
orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk
memanggil orang benar, melaikan orang berdosa.”(Mrk 2:17). Oleh karena itu
setiap orang diundang-Nya untuk datang, agar menerima Kembali harapan dan
semangat untuk hidup lebih baik. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan
berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”(Mat 11:28).
Dengan demikian, kehadiran Kristus bukan melemahkan tetapi menguatkan,
bukan untuk menghukum tetapi menyelamatkan, dan bukan mematikan tetapi
menghidupkan dan memberi harapan. “Buluh yang patah terkulai tidak akan
diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya,
sampai Ia menjadikan hukum itu menang.”(Mat 12:20). Oleh karena itu, ketika
seseorang percaya kepada Kristus dan tinggal di dalam kasih-Nya, ia tidak akan
pernah kekurangan harapan, damai dan kasih.
Yesus ingin setiap orang yang menyadari bahwa hidup bukan lagi menjadi
beban, karena Dia telah datang. Di dalam Dia, manusia mendapatkan harapan,
keselamatan dan kehidupan kekal. “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,
sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang
percaya kepada-Nya tidak binasa, melaikan beroleh hidup yang kekal.”(Yoh 3;16).

CARILAH KERAJAAN ALLAH

CARILAH KERAJAAN ALLAH

Jumat, 17 Juni 2020

Matius 12;1-8
Apa yang dikehendaki oleh Allah? Jawaban atas pertanyaan tersebut
sekaligus merupakan kahekat Allah dan juga tujuan hidup manusia. “Jika memang
kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan
persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.(Mat
12:8).Tidak sedikit orang berpandangan bahwa dengan aturan-aturan agama yang
ketat orang bisa bertemu dengan Tuhan. Aturan-aturan ketat belum tentu
membuat seseorang hidup baik, jika hatinya jauh dari Allah.
Tanda jika seseorang jauh dari Allah, dan bahkan ia tidak kenal siapa Allah
itu, yaitu jika ia jauh dari sikap dan tindakan ”KASIH”. Mengapa? Karena Allah
adalah kasih, maka jika orang tidak berbelas kasih, maka ia tidak mengenal Allah.
“saudara-saudaku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu
berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal
Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah
kasih.”(1 Yoh 4:7-8).
Kasih adalah Allah. Dia ditemukan dalam diri setiap pribadi manusia, karena
manusia berasal dari-Nya, dan akan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu jika orang
saling mengasihi, di sana Allah hadir dan ia hidup di dalam dan bersama dengan
Allah. “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah
adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam
Allah dan Allah di dalam dia.”(1 Yoh 4:16).
Karena Allah adalah kasih, maka jalan untuk sampai kepada-Nya adalah kasih
itu sendiri. Oleh karena itu Yesus sangat mendorong para murid-Nya agar mereka
berbelas kasih kepada sesamanya, dan mengasihi Allah dengan seluruh
kekuatannya. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama
dan yang pertma. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung
seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”(Mat 22:37-40).
Ketika kasih tinggal di dalam diri seseorang, Allah tinggal di dalam dirinya dan
buah dari sana adalah damai sejahtera dan keselamatan. Itulah yang perlu menjadi
fokus hidup setiap orang, agar Kerajaan Allah hadir dan semua orang hdup damai
dan dunia pun juga akan damai. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan
kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”(Mat 6:33).

BELAJAR UNTUK JUJUR

BELAJAR UNTUK JUJUR


Matius 11:28-30
Allah mengenal dan mengetahui bagimana kondisi dan pergulatan hidup
masing-masing orang. “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di
hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang
kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab. “(Ibrani 4:13). Allah
tahu juga apa yang menjadi persoalan hidup manusia, bahkan juga semua
kelemahan dan dosa-dosanya. Oleh karena itu, dihadapan Tuhan Allah, semua
orang tidak bisa menyembunyikan dirinya.
Karena Allah tahu semua yang ada dalam diri setiap orang, maka sikap yang
perlu dibangun adalah jujur dihadapan-Nya. Jika seseorang masih berusaha
menyembunyikan diri, hal tersebut tidak ada gunanya, karena Allah sudah tahu
semuanya. Kejujuran adalah tanda kerendahan hati seseorang. Ketika ada
kerendahan hati, maka seseorang akan dengan gembira menyambut undangan
Kristus untuk datang kepada-Nya. “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan
berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”(Mat 11:28).
Dengan demikian, semua orang bisa datang kepada-Nya, jika ia memiliki
kerendahan hati, dengan mau bersikap jujur kepada Tuhan. Tidak sedikit orang
yang kesulitan melakukannya. Apa yang menghalanginya? Seseorang sulit bersikap
jujur karena ingin selalu tampak baik dihadapan semua orang. Ia berpendapat
harga dirinya lebih penting dari nilai-nilai kebenaran; kejujuran dan kerendahan
hati. Akan tetapi sebelum seseorang bisa bersikap jujur dihadapan Tuhan, ia tidak
akan bisa menyambut-Nya. “Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab
aku menanti-nantikan Engkau.”(Mzm 25:21).
Seseorang bisa bersikap tulus, jujur dan rendah hati dari Kristus. “Pikullah
kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah
hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”(Mat 11:29). Perjalanan hidup
seseorang akan terasa ringan dan damai, ketika berjalan bersama dengan Kristus,
sekalipun harus menghadapi banyak kesulitan dan persoalan hidup. Orang yang
dekat dengan Tuhan, akan bisa lihat semua realita sebagai peristiwa iman, karena
Kristus membantunya untuk mengerti dan memberi makna disetiap hal yang ia
hadapi.”Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, Aku memimpin engkau di jalan
yang lurus. Bila engkau berjalan langkahmu tidak akan terhambat, bila engaku
berlari engkau tidak akan tersandung.”(Amsal 4:11-12).