Browsed by
Author: Romo. Aloysius Didik Setiyawan CM

Tinggal di Philadelphia, AS mendampingi Komunitas Katolik Indonesia (KKI).
Dari aku Menuju Engkau

Dari aku Menuju Engkau

Senin, 1 Maret 2021

Lukas 6:36-38

            Yesus memiliki harapan kepada semua orang, agar mereka semua menerima keselamatan. Bagaimana cara untuk menerima keselamatan-Nya. Caranya adalah percaya kepada-Nya, sebagai Anak Allah yang turun ke dunia sebagai penyelamat umat manusia. Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia”.(Mrk 9:7). Setelah menerima dan percaya kepada Yesus Kristus, maka Allah akan merajut hidup mereka yang percaya menjadi pribadi yang memiliki karakter sebagai anak Allah, yang menyerupai Allah Bapa yang baik dan murah hati. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”(Luk 6:36). Secara konkrit kemurahan hati Allah Bapa tampak jelas dalam diri Yesus Kristus, yang datang bukan sebagai “bos”, tetapi  sebagai pelayan, yang melayani umat manusia agar menerima pengampunan dosa dan keselamatan kekal. “Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. “(Mat 20:28).

            Sifat Allah Bapa yang murah hati akan dimiliki oleh mereka yang telah melewati proses pembaharuan diri oleh iman. Dalam pembaharuan diri terjadi perubahan orientasi hidup; dari “aku” ke “Engkau”. Artinya  dari sikap berpusat pada diri sendiri dengan segala keinginannya, berubah menjadi pribadi yang berpusat pada Kristus Yesus. Dengan demikian, ia akan menempatkan Tuhan Yesus sebagai pengendali hidupnya. Oleh karena itu dalam segala situasi, ia akan bersikap hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Yesus, yang mengutamakan belas kasih sebagai alat pengurukur dalam setiap tindakan. “Berilah dan kamu akan diberi : suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”(Luk 6:38). Dengan memakai belas kasih sebagai ukuran, maka seseorang telah mengenakan ukuran yang ada di dalam diri Kristus.

            Dengan cara hidup yang demikian, maka seseorang selalu bersikap baik terhadap sesamanya. Bahkan  dalam peristiwa pedih sakalipun, ia tidak akan berubah dalam kebaikan dan penghargaan kepada mereka yang lemah dan papa. Ia akan membalas kejahatan dengan kebaikan dan berdoa bagi mereka.”Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak  akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum, ampunilah dan kamu akan diampuni.”(Luk 6:37). Sifat-sifat yang buruk dengan sendirinya tidak akan mendapat tempat di dalam diri orang yang sudah dekat dengan Tuhan Yesus Kristus, sebab segala yang jahat akan menjauhkan dirinya dengan-Nya. Ia akan selalu haus untuk mengalirkan kedamaian, harapan dan kasih tulus kepada semua orang. Maka, tampaklah di sana cahaya Kristus yang akan terus memberikan harapan bagi setiap orang dan menjaga keharmonisan dengan alam semesta. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”(Mat 5:16).

            Disisi lain, masih banyak orang yang kesulitan keluar dari belenggu kesombongan, kebencian dan kemarahan. Tidak ada jalan lain, selain drngan jalan pengosongan diri, yaitu melepaskan semua itu  untuk memperoleh semua karunia belas kasih Allah yang menyembuhkan dan menghadirkan damai kembali. “Tiada damai bagi orang-orang fasik itu.”(Yesaya 57:21).  Apa yang hilang akan bersemi lagi, yaitu harapan, suka cita, dan keselamatan bagi mereka yang setia hidup di dalam Kristus, sebab Dia lewat pengorbanan di atas kayu salib telah mendamaikan semua di dalam diri-Nya. “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka.”( 2 Kor 5:19 ).

                                                                        Paroki St. Montfort Serawai, ditulis oleh Rm. A. Didik Setiyawan, CM

KESEMBUHAN ROHANI

KESEMBUHAN ROHANI

Sabtu, 20 Februari 2021

Lukas 5:27-32

            Dalam pandangan orang-orang Yahudi,  mereka kelompok pemungut cukai dianggap orang-orang yang berdosa dan dijauhi oleh masyarakat.  Namun berbeda dengan yang dilakukan oleh Yesus. Dia berpandangan bahwa justru mereka tidak dibuang namun diajak kembali untuk meninggalkan cara hidup yang lama menjadi orang yang baik lagi. “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”(Lukas 5:32). Di mata Tuhan Yesus, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menerima belas kasih-Nya. Oleh karena itu, mereka yang cara hidupnya jauh dari Tuhan Yesus, diajak kembali untuk menyadari hakekat mereka sebagai pribadi yang berharga, maka tidak pantas mereka diperbudak oleh kekuatan jahat.  Mereka ditarik kembali oleh Yesus agar terbebas dan disembuhkan dari akar segala penyakit jiwa, yaitu dosa.

            Dengan demikian kehadiran Yesus membawa pembebasan bagi mereka yang ditawan dan disandera oleh kuasa doa atau maut. Yesus datang untuk memberikan pengampunan dan belas kasih kepada mereka yang cemas, takut akan masa depan dan menderita karena kelekatan-kelekatan duniawi yang belenggu mereka. Yesus datang untuk memberikan harapan dan semangat hidup bagi mereka yang sedang putus asa karena beratnya beban yang mereka harus pikul. “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus-Ku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang yang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”(Luk 4:18-19).

            Apa yang dibutuhkan orang yang telah jatuh dalam dosa dan kelemahan, untuk bisa bangkit? Mereka membutuhkan pengampunan dan kesembuhan rohani, dan Tuhan Yesus hadir untuk hal itu : mengampuni dan menyembuhkan. Oleh karena itu, sesuatu yang membahagiakan ketika seseorang datang dan percaya kepada-Nya. Mereka tidak akan dikecewakan oleh Kristus, sebaliknya menemukan  hidupnya kembali yang penuh dengan sukacita dan harapan.”Dan Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita.”(2 Tesalonika 2:16).

            Betapa besar kasih Allah kepada manusia di dunia ini. Dia telah hadir dalam diri Yesus Kristus untuk menjangkau manusia yang ada di bumi ini. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”(Yoh 3:16). Yesus hadir menemani perjalanan setiap orang yang percaya, menuntun ke jalan yang benar, menguatkan saat seseorang terpuruk, mengampuni saat orang datang memohon belas kasih-Nya, membawa semua yang percaya ke tempat yang sudah Dia sediakan , kehidupan yang kekal. “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawaa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.”(Yoh 14:3).

            Mereka yang telah mengalami perjumpaan dan kesembuhan rohani oleh Kristus, akan menjadi orang yang selalu memberikan kesaksian bahwa Allah itu baik. Dengan pewartaannya, maka akan banyak orang yang tergerak untuk datang dan mengikuti-Nya. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalua Roh Kudus turun atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”(Kis 1:8).

                                                                  Paroki St. Montfort Serawai, ditulis oleh Rm. A. Didik Setiyawan, CM

JALAN KEKUDUSAN

JALAN KEKUDUSAN

Jumat, 19 Februari 2021

Matius 9:14-15

            Setiap orang beriman dipanggil untuk mencapai kekudusan. Kekudusan adalah hidup seturut dengan kehendak Allah dalam hati, budi, dan tindakannya. Bukan lagi keinginan-keinginan manusia yang mengerakan seseorang, tetapi Roh Allah sendiri yang bergerak dan menuntun hidupnya.”Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”(Galatia 2:20). Ketika seseorang bersatu dengan Kristus dalam segala situasi, maka daya Ilahi dan kekudusan-Nya akan merasuk di dalam seluruh hidupnya, sehingga akan muncul buah-buah Roh yang berlimpah sebagai persembahan kepada Allah. “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”(Galatia 5:22-23).

            Dengan demikian kekudusan bukan berpusat pada keselamatan diri sendiri, sebaliknya kekudusan menghantar seseorang menjadi semakin berani meninggalkan diri sendiri untuk mengasihi, terbuka dan peduli kepada sesama dan menjaga keharmonisan dengan alam semesta.  Tidak pernah ada kekudusan jika orang hanya mementingkan diri sendiri, karena kekudusan bersumber dari Allah dan Dia adalah Kasih. Dengan demikian kekudusan adalah hakekat dari Kasih itu sendiri. Semakin seseorang berani berkorban karena kasih, maka  ia akan semakin ada dalam diri Allah. “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”(1 Yoh 4:16).

             Jalan untuk mencapai kekudusan adalah jalan pengosongan diri. Semakin seseorang merendahkan hati dan menjadi hamba, makin ia memberikan kesempatan dan ruang bagi Tuhan untuk tinggal di dalam hatinya, sehingga ia bisa berkata seperti Yohanes : “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”(Yoh 3:30). Pada saat pengosongan diri maka seseorang menyangkal diri dari segala kesombongan dan kejahatan. Proses itulah yang terjadi pada saat orang berpuasa. Berpuasa bukan sebatas melaksanaan kewajiban, namun suatu kebutuhan dan jalan mencapai pemurnian hati dan budi sehingga ia menjadi semakin rendah hati, jernih dalam berpikir, menjadi hamba dan terbuka menerima kehadiran Allah yang Maka Kudus. ”Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai miliki yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”(Filipi 3:5-7).

            Kristus adalah pusat dan sumber kekudusan itu sendiri. Dialah yang juga menjadi alasan mengapa seorang murid Kristus perpuasa dan bermatiraga, agar ia semakin bersatu dengan Yesus Kristus penyelamat. “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”(Filipi 9:15). Apa yang dirasakan, dipikirkan dan yang dilakukan Yesus adalah apa yang dirasakan, dipikirkan, dan yang dilakukan seorang yang murid Kristus. Dengan cara demikian, maka seseorang akan selalu berada dalam kekudusan.

Paroki St Montfort Serawai, ditulis oleh Rm. A. Didik Setiyawan, CM

SETIA MEMANGGUL SALIB

SETIA MEMANGGUL SALIB

Kamis, 18 Februari 2021

Lukas 9:22-25

            Menjadi murid Kristus adalah panggilan hidup karena iman kepada-Nya sebagai jalan kebenaran dan hidup. “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.”(Yoh 14:6). Panggilan tersebut adalah anugerah yang mulia, karena sekalipun sebagai manusia yang memiliki banyak kelemahan, namun Tuhan berkenan untuk menjadikan mereka sebagai penjala manusia, untuk menyelamatkan jiwa-jiwa mereka.”Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”(Mrk 1:17). Oleh karena itu, hidup mereka bukan lagi untuk kepentingan duniawi, namun menjadi sarana dan alat (Sakramen) untuk menghadirkan belas kasih Allah dan keselamatan kepada manusia dan alam semesta.

            Sebagai orang-orang yang telah dipanggil dan dipilih oleh Allah, maka setiap murid Kristus mendapat bekal kekuatan dari Kristus. ”Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.”(Yoh 15:16).  Dengan demikian mereka tidak berjalan sendiri, karena Roh Kudus sendiri yang akan menuntun dan menyertai mereka. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”(Mat 28:20). Sabda Tuhan tersebut bisa dialami jika seseorang percaya atau memiliki iman pada Kristus, sang Mesias. Akhirnya panggilan tersebut membutuhkan jawaban pribadi dari setiap murid-murid Kristus atau dari mereka yang terpanggil untuk mengikuti-Nya. Jawaban tersebut menuntut suatu keberanian, yaitu menyangkal diri dan setia untuk memanggul salib Bersama Kristus. “Kata-Nya kepada mereka semua: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”(Luk 9:23).

            Memikul salib setiap hari, artinya dengan sukacita mempersembahkan kepada Allah, seluruh pengorbanan karena membela dan memperjuangankan nilai-nilai iman, pengharapan dan kasih di dalam hidup. Di dalam setiap pengorbanan tersebut, seseorang beriman, bersama Kristus melahirkan dan menumbuhkan harapan, damai dan keselamatan bagi semua orang.  Dengan demikian jalan salib Kristus adalah jalan untuk mencapai kebangkitan dan kemenangan atas kelemahan dan dosa-dosa manusia. Setiap orang yang mau bergabung dan berjuang Bersama-Nya maka ia akan memperoleh buah-buah dari kebangkitan tersebut. “Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”(Yoh 11:25).

            Buah dari pengorbanan salib Kristus adalah perdamaian manusia dengan Allah. Kristus telah berkorban supaya setiap orang memperoleh hidup kembali di dalam Kerajaan Sorga. “..dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.”(Kolose 1:20). Setiap orang di dunia merindukan Firdaus di mana semua orang bisa hidup damai dengan sesamanya, damai dengan alam semesta, dan dengan Allah penciptanya. Siapakah yang mau ikut ambil bagian dalam karya pendamaian dan keselamatan tersebut?  Tuhan Yesus mengetok setiap hati manusia, agar mereka mengikuti-Nya dan bersama-sama menghadirkan Kerajaan Allah: Kerajaan Damai. Ketika seseorang menerima undangan-Nya, maka ia akan dengan rela memanggul salibnya setiap hari dengan setia, sebab dengan cara itu, kedamaian dan keselamatan akan datang. “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”( 1 Kor 1:18).

MENGATASI KERAGUAN

MENGATASI KERAGUAN

Markus 8:14-21

Yesus terns mengajak para murid-Nya untuk menghayati iman mereka. Iman bukan berhenti pada pengetahuan dan pemahaman, namun harus sampai pada perubahan sikap hidup mereka. Tidak hanya cukup tahu, namun lebih dari itu, yaitu berani untuk mengosongkan diri dan percaya secara penuh pada penyelengaraan Ilahi. “Mengapa kamu memperbicangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu?” (Mrk 8: 17). Yesus heran mengapa para murid-Nya lamban untuk mengerti, apalagi untuk percaya kepada-Nya. Dengan demikian, jika seseorang mau sungguh-sungguh percaya dibutuhkan keberanian untuk menyerahkan semua pada kehendak dan keputusan Allah. Dalam iman, seseorang tidak ada lagi pertanyaan dan tidak ada kebimbangan, karena percaya semua akan terjadi yang terbaik seturut dengan kehendak-Nya. “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi miliki pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tuju.”(Ibrani 11:8).

Apakah yang membuat seseorang sulit percaya kepada Tuhan Yesus? Kesulitan bukan berasal dari luar diri manusia dan juga bukan karena sedikit atau banyaknya tanda dan bukti kebaikan Tuhan yang ia terima. Akan tetapi akar ketidakpercayaan ada di dalam pikiran seseorang. Tidak percaya berarti, seseorang lebih percaya pada pemikirannya sendiri dari pada apa yang dipikirkan dan yang dikehendaki oleh Allah. Ketika Abraham memutuskan berangkat ke tanah terjanji seperti yang diperintahakan Allah kepadanya, ia berhenti dari pencarian jawaban dengan pemikirannya sediri, lalu ia lepaskan itu dan berjalan dengan berpegang pada janji Allah. “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abraham berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.”(Kej 12:4).

Untuk bisa percaya maka seseorang perlu melepaskan dirinya dari gengaman pikiran yang ia ciptakan sendiri, agar hembusan Roh Kudus yang sejuk dan penuh kuasa bisa masuk di dalam hati dan pikirannya. Dengan cara demikan seseorang akan mengenakan Roh Kristus dalam di dalam hati, budi dan tindakanya. Hati dan budi akan menjadi teduh dan damai ketika Roh Kudus hadir dalam diri seseorang, sehingga dengan mantap ia bisa melangkah di jalan Tuhan. Ketika seseorang bersatu dengan Roh Kristus, maka segala yang dilakukan akan menghadirkan kebaikan, kebenaran dan keselamatan. Sebagai pengikut Kristus, maka apa yang menjadi kerinduan dan keinginannya adalah kerinduan dan keinginan Kristus sendiri. “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.”(Roma 13:14).