Browsed by
Author: Rm Antonius Gigih CM

Iman berbuah dalam tindakan

Iman berbuah dalam tindakan

Sabtu, 12 September 2020

Iman berbuah dalam tindakan (Luk 6:43-49)

            Suatu hasil yang bermutu dan baik memerlukan suatu proses yang lama dan tenaga yang besar. Sebagai contoh, seorang atlet atau olahragawan yang berprestasi pastilah telah membiasakan diri dengan suatu latihan berulang-ulang dan disiplin diri, kontrol diri. Proses latihan yang tekun akan berbuah manis dalam meraih suatu prestasi. Simbol-simbol yang ditemukan dalam bacaan Injil hari ini berbicara mengenai kaitan kualitas buah dan kualitas pohonnya. Kita ketahui pohon ara menjadi pohon yang terkenal di kalangan penduduk Palestina. Pohon itu menyimbolkan kesuburan, damai dan kemakmuran. Sebagai contoh juga pohon anggur yang memproduksi anggur menjadi simbol sukacita dan kegembiraan. Dengan demikian dapat dikatakan pohon yang tidak menghasilkan buah akan kehilangan arti sebagai sebuah pohon. Hal itulah menjadi contoh yang digunakan Yesus dalam mengajar para murid mengenai hidup iman. Buah yang baik merupakan hasil dari pertumbuhan suatu pohon yang subur. Seperti halnya seorang pribadi akan “memproduksi” kualitas pribadi yang baik tergantung dari apa yang “ditaburkan” dalam hati. Perbuatan atau kebiasaan baik yang dilakukan berulang-ulang akan membangun seorang pribadi yang berkarakter unggul. Tidak mungkin sebuah pohon ditanam dan akan berbuah dalam waktu semalam.  Pertumbuhannya membutuhkan suatu proses dan waktu yang cukup lama.

            Oleh karena itu hidup membutuhkan keaslian bukan kepalsuan. Nabi Yesaya mengingatkan kita akan bahaya kepalsuan : “Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan…” (Yes 5:20). Sebagai seorang kristiani, kedalaman hidup membutuhkan suatu perjuangan yang tidak gampang dan harus melalui jalan terjal bahkan Salib. Bagaimana kita menghindari kepalsuan hidup itu? Jalannya adalah dengan hidup yang benar di hadapan Allah dan sesama. Allah menguatkan kita dengan rahmat Roh Kudus yang akan menghasilkan buah-buahnya, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal 5:22). Roh Kudus melatih kita untuk disiplin dalam hidup seperti yang dikatakan dalam Ibrani 5:14, “Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat”

“Tuhan Yesus, berikanlah kepada kami kebijaksanaan dan kekuatan untuk hidup menurut SabdaMu. Semoga kami menjadi pelaksana SabdaMu dan bukan hanya pendengar saja”

Kesaksian hidup menjadi cara untuk mengajar dan berkotbah

Kesaksian hidup menjadi cara untuk mengajar dan berkotbah

Jumat, 11 September 2020

Kesaksian hidup menjadi cara untuk mengajar dan berkotbah (Luk 6:39-42)

            Memberikan satu kesaksian hidup lebih bermakna daripada memberikan  seratus kali pengajaran dan kotbah. Ungkapan tersebut sekiranya menggambarkan bagaimana kekuatan suatu kesaksian hidup sangatlah penting dalam hidup bersama. Dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita akan dua perumpamaan : bagaimana mungkin orang buta menuntun orang buta dan adanya godaan untuk melihat dosa orang lain daripada dosa diri sendiri. Dalam diri manusia ada godaan mengutamakan penampilan luar daripada keaslian diri. Orang pun mudah menilai orang lain sekedar penampilan luar daripada kesejatian hidup dirinya.

            Perumpamaan orang buta membimbing orang buta, ingin menegaskan bahwa tidaklah mungkin hal itu terjadi. Orang hanya bisa mengajarkan suatu kebaikan dan keutamaan apabila ia telah mempraktekkannya. Langkah pertama yang harus kita ambil adalah menyembuhkan kebutaan diri kita terlebih dahulu : dosa-dosa, kelemahan-kelemahan dan kekerasan hati kita. Setelah itu barulah kita dapat menuntun atau membimbing orang lain. Untuk itulah kita meminta rahmat Allah agar Yesus sendiri menyembuhkan kebutaan hati kita. Yesus adalah Penyembuh dan Gembala yang mempunyai kuasa menyembuhkan, mengampuni dan membangun kembali tubuh, jiwa dan roh kita. Yesus datang ke dunia untuk menyembuhkan, memulihkan kita dan membebaskan kita dari perbudakan dosa, ketakutan, kekawatiran. Kita pun diutus menjadi pewarta kesembuhan bagi orang lain, bukanlah pertama-tama kesembuhan fisik tetapi pemulihan dalam hidup persaudaraan. Kita diutus menjadi pewarta pendamaian, pengampunan dan pembawa damai. Dengan demikian kita tidak mudah menghakimi kesalahan orang lain. Yesus mengingatkan kita dengan teguran, “Mengapa engkau melihat selumbar dalam matamu saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak kauketahui?” Koreksi diri dan pertobatan terus menerus menjadi cara memulihkan kebutaan diri kita.

“Allah Bapa yang berbelas-kasih, anugerahkanlah kepada kami kerendahan hati untuk mengakui kerapuhan dan dosa-dosa kami. Tolonglah kami untuk memberikan koreksi penuh persaudaraan, bersimpati dan berempati dengan mereka yang menderita dan terus menerus membangun persaudaraan yang sejati”

Ajaran cinta kasih yang radikal

Ajaran cinta kasih yang radikal

Kamis, 10 September 2020

Ajaran cinta kasih yang radikal (Luk 6:27-38)

            Radikalisme tak jarang dimaknai sesuatu yang negatif karena mengarah kepada fanatisme terhadap suatu ajaran tertentu. Radikal (berasal dari kata radix yang berarti akar) juga berarti suatu sikap yang mengakar dan menjadi pribadi berkarakter tangguh dan kuat. Dalam arti inilah cinta kasih yang diajarkan oleh Yesus bersifat radikal. Dikatakan suatu ajaran yang radikal karena para murid Kristus membuang jauh tindakan balas dendam terhadap orang yang memusuhi dan sebaliknya melakukan kebaikan bagi orang yang membenci diri kita.

            Bacaan Injil hari ini mengajarkan kepada kita mengenai mencintai musuh. Sebanyak dua kali Yesus mengajarkan tentang mencintai musuh : berbuatlah baik kepada orang yang mengutuk kalian dan berdoalah bagi orang yang mencaci kalian. Bagaimana hal itu mungkin untuk dilakukan? Bagaimana kita bisa mencinta orang yang bersalah kepada kita? Mencintai musuh bukanlah hanya usaha manusia tetapi hanya mungkin karena rahmat Allah. Yesus mengajarkan bagaimana kita memperlakukan setiap orang, bahkan orang yang membenci kita dengan penuh cinta, kemurahan hati dan belas kasih. Allah memberikan berkatNya bagi semua orang tanpa pengecualian. Cinta dan belas kasihNya merangkul semua orang, baik orang berdosa maupun yang saleh hidupnya. Biasanya naluri kita, melakukan kebaikan kepada mereka yang telah melakukan kebaikan bagi kita. Suatu hal yang mudah dan seolah sudah semestinya kita melakukan kebaikan bagi orang yang pernah berbuat baik kepada kita, namun bagaimana sulitnya ketika kita melakukan suatu kebaikan kepada orang yang besalah kepada kita serta melakukan kebaikan tanpa pamrih.

             Memberi dan mengampuni (give-forgive) seolah menjadi hal yang penting dalam doa, seperti yang dikatakan St. Agustinus. Dengan mengampuni orang lain, kita akan diampuni. Dengan memberi, kita akan menerima. Menurut St. Agustinus memberi dan mengampuni sebagai dua sayap dalam berdoa. Bagaimana hal tersebut dapat kita praktekkan dalam hidup (mengampuni dan memberi)? Bersama Allah, kedua hal tersebut dapat kita lakukan  karena Roh Kudus membantu kita. Kasih Allah dan belas kasihNya mengalahkan kejahatan dan dosa.

“Tuhan Yesus Kristus, cintaMu sungguh memberikan pengampunan. Penuhilah kami dengan Roh KudusMu dan membuat hati kami mampu mencintai dengan hati yang tulus dan memberi dengan kemurahan hati”

Sabda bahagia

Sabda bahagia

Rabu, 09 September 2020

Sabda bahagia (Luk 6:20-26)

            Sungguh suatu kebenaran, bahwa ketahanan dan keutamaan seseorang diuji dalam situasi yang sulit dan berat. Dalam situasi pandemi seperti sekarang ini, dikatakan sebagai suatu ujian untuk memurnikan iman, harapan dan kasih. Ketika kita menghadapi ketidak-beruntungan, pengalaman duka, kehilangan seseorang yang kita cintai, bagaimana kita menanggapi pengalaman tersebut? Kita tahu tidak seorang pun dapat terbebas dari suatu cobaan dalam hidup : penderitaan, pengalaman sakit, duka dan kematian. Ketika Yesus memulai mengajar murid-muridNya, Ia memberikan ajaran mengenai Sabda Bahagia (jalan kebahagiaan) yang mampu memaknai arti suatu penderitaan. Jalan kebahagiaan yang diajarkan Yesus menuntut suatu pertobatan hati, pikiran dan tindakan.

            Ada beberapa hal dapat kita renungkan mengenai Sabda Bahagia tersebut. Pertama, kebahagiaan yang sejati hanya dapat dipenuhi dalam diri Allah sendiri. Bagaimana mungkin menemukan kebahagiaan dalam kemiskinan, duka cita, kesengsaraan, penindasan, ketidakadilan? Hal itu mungkin hanya melalui jalan pengosongan diri, mengenakan kemiskinan Kristus. Tangan terbuka menjadi lambang kesiapsediaan untuk menerima rahmat Allah dan memberikan diri, untuk menerima dan melaksanakan kehendak Allah.

            Kedua, Sabda Bahagia yang diajarkan oleh Yesus bukanlah suatu harapan dan penghiburan yang dangkal tetapi menjadi suatu jalan hidup yang penuh sukacita dan kegembiraan yang bersumber dari Allah sendiri.

            Ketiga,  Sabda Bahagia ini mengajar hati kita untuk bersukacita yang berasal dari Allah. Sabda Bahagia ini menjadi jalan menuju kekudusan, jalan menuju kebenaran, jalan menuju kerendahan hati, kelembutan hati. Yesus menawarkan suatu jalan iman yang memungkinkan diri kita berserah diri, lepas bebas dan penuh sukacita dalam mengikuti Yesus di kehidupan kita sehari-hari.

“Tuhan Yesus, tambahlah kelaparan dan kehausan diri kami akan cintaMu dan tunjukkanlah jalanMu yang menuntun kami menuju kebahagian dan kedamaian yang abadi. Semoga kami mencintai dan mengimaniMu melebihi segala sesuatu dan semoga kami mampu menemukan sukacita dalam melaksanakan kehendakMu”

Kelahiran Santa Perawan Maria

Kelahiran Santa Perawan Maria

Selasa, 08 September 2020

Kelahiran Santa Perawan Maria (Mat 1:18-23)

            Kelahiran Bunda Maria menjadi suatu pesta bagi Gereja Katolik karena peran Bunda Maria sebagai Bunda Yesus, Sang Penebus. Kelahirannya menjadi suatu persiapan bagi karya penebusan. Mengapa kelahiran Bunda Maria dirayakan dalam liturgi Gereja? Karena peran Bunda Maria, sebagai Ibu Tuhan telah menempatkannya dalam karya keselamatan yang dibawa oleh Kristus. Kesiap-sediaan Bunda Maria menjadi teladan bagi umat beriman dalam menghayati iman. Keberanian dan kerendahan hatinya menjadi pintu untuk karya penebusan umat manusia.

            Apa makna silsilah Yesus Kristus yang dikisahkan dalam Injil Matius seperti yang kita dengarkan hari ini? Dalam silsilah tersebut ada tiga periode sejarah berdasarkan tokoh-tokoh yang disebutkan. Periode pertama disebutkan dari tokoh Abraham, bapa segala bangsa dan berakhir sampai raja Daud, raja yang diurapi Allah. Periode kedua adalah kisah masa permbuangan bangsa Israel di Babilon. Dalam periode ini dikisahkan suatu bencana dan keterpurukan bangsa Israel karena ketidaksetiaan mereka kepada Allah. Pada periode ketiga menjadi sejarah keselamatan yang berpuncak pada kehadiran Yesus Kristus di dunia, sebagai Raja yang diurapi, Mesias, keturuanan dari bapa Abraham dan raja Daud. Yesus membawa keselamatan bagi umat manusia. Yesus adalah Penyelamat Dunia. Dalam Yesus, kita diselamatkan dan menjadi anak Allah yang dikasihi. Dengan melihat silsilah Yesus ini, dari generasi ke generasi yang menyimbolkan kemanusiaan kita yang terluka karena dosa, Allah tetap berkehendak melibatkan peran serta manusia dalam karya penyelamatan. Kehadiran Bunda Maria dan Santo Yosef, tunangan Maria, menjadi bukti bahwa Allah berkenan bahwa Yesus, Sang Mesias lahir dari Keluarga Kudus Nazaret.

“Tuhan Yesus, Engkau datang untuk menyelamatkan kami melalui peran serta umat manusia. Semoga kami selalu bersyukur atas rahmat penebusanMu bagi hidup kami di dunia ini”