Browsed by
Author: Romo Antonius Galih Aryanto

Liquid Modernity

Liquid Modernity

Jumat, 4 Sept 2020

Luk 5: 33-39

Istilah diatas dipopulerkan oleh seorang filsuf bernama Zygmunt Bauman, seorang filsuf modern dari London Economic School. Liquid menunjuk pada sifat suatu materi yang cair, mudah bergerak, selalu berubah, dan bisa adaptasi pada setiap ruang. Ikatan atom dalam benda yang cair tidak kuat karena itu benda cair mudah berubah. Berbeda dengan benda padat yang tidak mudah berubah.

Liquid dekat dengan sifatnya yang ringan, mobile, dan tidak konsisten. Itulah ciri khas kehidupan manusia modern. Setiap hari kita dihadapkan pada banyak pilihan hidup. Orang memiliki opsi dan digoda untuk selalu memakai hal yang baru.

Ipad baru, formula baru, barang baru, mobil baru, dan sebagainya. Itulah hal-hal yang selalu berubah dan baru. Orang digoda untuk selalu memiliki semua yang berbau baru. Menjadi fleksible dan meninggalkan yang lama, karena yang lama itu kuno dan tidak baik.

Apakah sesuatu yang kuno dan tua itu selalu jelek? tidaklah begitu. Memang bacaan Injil hari ini omong soal, kain yang baru dan anggur yang baru. Yesus bersabda kalau anggur baru harus masuk dalam kantong yang baru, kalau masuk dalam kantong yang lama, maka kantongnya akan rusak. Namun yang pastil, anggur dan alkohol yang tua lebih nikmat dari pada yang baru! Sudah pasti itu!

Hidup manusia modern selalu memberi kebaharuan. Itulah tantangan kita! Kebaharuan sering menggerus kemendalaman. Hidup menjadi tidak mengakar dan tidak mendalam karena bergerak terlalu cepat. Orang tidak mau berhenti lama untuk merenung, memaknai peristiwa dan ingin cepat pergi dari pengalaman yang kurang enak.

Yesus mengajak Petrus untuk masuk dalam tempat yang dalam, “Duc in altum.” Masuklah dalam pengalaman yang esensial. Masuklah dalam dirimu yang terdalam. Namun sering kita menolak. Takut menelusuri lorong hati yang gelap dan tidak ingin dilihat.

Gregorius Agung

Gregorius Agung

Pope Saint Gregory the Great - Saints & Angels - Catholic Online
Santo Gregorius Agung, 3 Sept 2020

Gregorius tidak dikenal sebagai orang yang cukup kuat pemikiran refleksi dan ajaran teologinya. Ajaran dan pengaruh intelektualnya tidak sebesar Agustinus atau Athanasius. Dia lebih serupa seperti Ambrosius. Gregorius sebagai uskup agung Roma dikenal dari ajaran dan kebijaksaannya dalam menanggapi persoalan jemaat.

Kebesarannya dikenal dalam soal administrasi Gereja. Dia berasal dari keluarga aristrokat. Kehadirannya dalam Gereja ada dalam saat yang tepat dan kesempatan yang dibutuhkan orang kala itu.

Dia mengirim para imam dan misionaris sampai Inggris dan Yunani. Dia juga dikenal sebagai seorang tokoh Liturgi Gereja. Musik Gereja dikenal dengan namanya, Gregorian. Karya utama original dari Gregorius adalah pastoral care, pelayanan pada jemaat sampai pelosok.

Dia dikenal karena keinginannya untuk dekat dengan Allah, dan surga. Dia menyebut diri sebagai “servus servorum Dei”. Pelayan dari para pelayan Allah. Ia melayani jemaat penuh dengan kerendahan hati, dan keutamaan. Kepemimpinan Gereja diberi makna khusus dengan pelayanan pada sesama.

Tahun 590, Gregorius menjadi uskup dan Roma saat itu dilanda perang serta bencana hebat. Dia menulis surat pastoral sekitar 850 buah. Dari sana kita mengenal Gregorius sebagai seorang Paus yang tangguh dalam berpastoral, menyediakan makanan bagi jemaat di Roma di saat perang, serta kemampuannya bernegosiasi dengan musuh, kaum barbar. Dia juga menumbuhkan imam-imam yang mumpuni dan bersedia bekerja giat. Dia menuntut para imam untuk setia, menjalankan tugas pelayanan dengan baik serta menumbuhkan sikap disiplin pada para pelayan Gereja.

Semoga para pemimpin umat mampu menjadi pelayan yang menjangkau orang banyak, memahami persoalan dan bisa menjawab persoalan dunia dengan cerdas.

Kompetitif Vs Sinergi

Kompetitif Vs Sinergi

Rabu, 2 September 2020

1 Korintus 3:1-9

Sinergy Stock Vectors, Royalty Free Sinergy Illustrations | Depositphotos®

Sejak kecil, dunia ini mengajari kita untuk berkompetisi, bukan bersinergi. Bahkan orang tua terbiasa membujuk anak-anaknya agar bisa mengalahkan orang lain. Mereka merasa bangga kalau anaknya juara di kelas, dalam kompetisi olah raga, bahkan juara dalam hidup dan bisa mengalahkan orang lain. Rasanya tak bisa lepas kita dari dunia kompetisi, bahkan dalam kehidupan sehari-hari orang tetap merasa harus menang.

Umat Korintus rupanya suka berkompetisi juga. Dalam kehidupan beragama kompetisi juga tetap berlangsung. Ada pewarta bernama Apolos yang pandai berkotbah dan berfilsafat. Banyak orang Korintus Kristen tertarik padanya. Mereka menyatakan diri sebagai kelompok Apolos.

Ada pula kelompok lain yang lebih menyukai Paulus. Lalu mereka membentuk kelompok Paulus dan merendahkan lain. Selain dua kelompok itu, ada yang lebih membanggakan diri karena mereka ikut kelompoknya Petrus! Paulus mencela cara berfikir mereka yang membanggakan diri padahal lahiriah. “Kalian manusiwa duniawi dan hidup secara duniawi! Karena yang seorang berkata aku dari golongan Paulus, dan yang lain dari golongan Apolos!”

Paulus memberi alternatif cara berfikir lain, bahwa semua orang harus mampu bersinergi dalam hidup. Bersinergi adalah usaha untuk memadukan kemampuan semua orang sehingga kelompok bisa menghasilkan output yang optimal.

Dia berkata, “Aku yang menanam, Apolos yang menyiram dan Allah yang memberikan pertumbuhan.” Baik yang menyiram dan menanam adalah sama. Paulus ingin membuat umat agar bisa menjaga hidup bersama. TIdak berfikir kalah atau menang, lebih baik atau lebih buruk! Orang perlu menghargai kelebihan dan keutamaan orang lain, juga mencintai keutamaan dan kebaikan diri. Semua bisa dipakai untuk membangun komunitas menjadi lebih baik.

Mengatasi Kelemahan Diri

Mengatasi Kelemahan Diri

Bacaan 1  Kor 2: 1-5

Ada sebuah perubahan dalam setiap orang yang mengikuti Yesus. Para martir Gereja menjadi contoh bagaimana mereka menjadi orang yang mau mengurbankan hidup dan menjadikan diri mereka teladan dan kurban. Itulah salah satu cara mengatasi kelemahan diri.

Surat Paulus hari ini mengisahkan perubahan diri Paulus saat ia mewartakan injil di kota Korintus. Dia menyadari kalau orang-orang Korintus memuja kehormatan, kuasa, dan intelektual. Mereka menghormati orang cerdik pandai dan terpandang. Paulus tidak ingin terbawa dalam pengharapan mereka yang palsu.

Sejak awal surat, Ia menyatakan kalau datang ke Korintus tidak dengan kata-kata indah atau hikmat manusia. Paulus menghadirkan diri sebagai orang yang lemah, gentar dan takut datang ke kota Pelabuhan Korintus yang masyur. Ia ingin mengatasi kelemahan dirinya dalam pewartaan.

Paulus memilih hadir sebagai orang yang mengandalkan kekuatan Allah agar pewartaannya tidak tergantung pada kekuatan manusiawi, namun seluruhnya tergantung pada rahmat Allah.

Kebesaran hati Paulus untuk mengakui diri menjadi contoh bagaimana dia mengembangkan semangat ketergantungan pada Tuhan dalam karya. Ada dua sisi transformasi kehendak Paulus dalam bacaan hari ini. Pertama, ia berani mengambil resiko untuk melakukan pelayanan walau sadar akan kelemahan diri. Kedua, Paulus memiliki ketabahan, daya juang, serta kemampuan untuk mengatasi ketakutan. Ia yakin bahwa usahanya akan disertai dengan banyak tantangan dan derita. Pengalaman pewartaannya membawa dia pada penyerahan yang mendalam di tangan Allah sendiri.

Hal itu pula yang dikatakan santa Teresa Avila bahwa lebih besar dibutuhkan kehendak untuk bertahan dalam doa dari pada mati sebagai martir. Artinya, kehendak untuk setia, tahan menghadapi kebosanan, rasa malas merupakan bagian dari pelatihan diri untuk menggapai kesucian.  Hanya rahmat ALlah yang kita butuhkan untuk mengatasi kelemahan pribadi, serta kehendak kuat untuk berubah.