Browsed by
Author: Romo Johanes Juliwan Maslim SCJ

Iman dan pengampunan

Iman dan pengampunan

Kamis Pekan Biasa XXIV, 17 September 2020

Bacaan: 1 Kor 15: 1-11; Luk 7: 36-50

“Iman dan pengampunan”

Sang Perempuan yang datang menjumpai Yesus tanpa kata namun melakukan perbuatan yang begitu berani, telah mengejutkan banyak orang. Ia meminyaki kaki Yesus dengan minyak yang mahal, menyeka dengan rambutnya dan menciumnya. Pikiran sang punya rumah, Simon, wah Yesus kok mau aja ya, padahal dia adalah pendosa. Jelas Yesus tahu siapa perempuan itu dan perempuan itu sendiri tahu siapa dirinya, oleh sebab itulah dia melakukannya kepada Yesus, karena ia pun tahu siapa Yesus. Tindakannya ini justru mau menunjukkan sikap seorang berdosa yang sadar akan kedosaan dan datang memohon belaskasih dan pengampunan. Baginya dirinya dan harta yang dimilikinya tidak ada artinya lagi, yang diperlukannya adalah pertobatan dan hidup baru. Walau tanpa kata, Yesus dapat melihat sikap rendah hati sang perempuan dan berani datang kepada Yesus sambil merendahkan dirinya. Itulah sikap seorang pendosa yang sadar dan mau bertobat.

Simon, sang tuan rumah, melihat kejadian itu dan mulai berpikir negatif tentang perempuan itu. Walaupun pikirannya itu tidak terungkap, namun Yesus bisa mengetahuinya, maka Yesus berbicara kepada Simon. Melalui pembicaraan itu, Yesus mau membuka mata Simon bahwa semua orang adalah pendosa dan memerlukan pertobatan, namun tidak semua orang menyadarinya. Ketika orang merasa dirinya benar dan mulai menghakimi orang lain serta menilai negatif sesamanya, maka ia tetaplah hidup dalam kedosaannya. Sebenarnya dengan melihat dan menilai orang lain, kita sedang melihat dan menilai diri kita sendiri, termasuk kedosaan kita dan kita membuat diri kita semakin berdosa. Maka ketika kita membiarkan diri terus dalam kedosaan dan tidak bertobat, pengampunan menjadi terhambat. Tentu Yesus memberikan pengampunan kepada siapapun yang membuka hatinya.

Iman sang Perempuan yang tampak dengan tindakannya itu mendatangkan rahmat pengampuan, yang diterimanya dari Yesus. Bagi Yesus tindakan ini sudah menunjukkan sikap hati dan pertobatannya. Maka dengan tegas Yesus mengatakan kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”. Apakah kita juga mau mengalami pengampuanan Tuhan dan keselamatan? Apakah kita siap bertindak seperti perempuan itu atau bersikap seperti Simon? Maka marilah dengan dengan rendah hati menghadap Yesus dengan sikap tobat yang mengalir dari iman kita kepadaNya.

Membuka hati bagi Tuhan

Membuka hati bagi Tuhan

Rabu Pekan Biasa XXIV, 16 September 2020  – Pw. St. Kornelius dan St. Siprianus Martir

Bacaan: 1 Kor 12: 31-13:13; Luk 7: 31-35

“Membuka hati bagi Tuhan”

Kedua orang martir yang kita rayakan pada hari ini, St. Kornelius dan St. Siprianus, adalah dua pribadi yang teguh bediri di atas iman akan Tuhan Yesus Kristus. Bagi mereka kasih kepada Tuhan ada di atas segalanya bahkan nyawa mereka pun mereka lepaskan demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan banyak jiwa manusia. Cinta dan pengorbanan itulah yang menjadi dasar seluruh perjuangan dan persembahan diri mereka kepada Tuhan melalui Gereja yang kudus. Sabda Yesus pada hari ini sungguh menjadi nyata di dalam hidup mereka, yakni ‘hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya’. Kedua martir ini menerima hikmat Allah, yakni kehadiran Allah di dalam diri mereka, sehingga mereka mengalami keselamatan dan kehidupan abadi yang dibawa oleh Tuhan Yesus Kristus bagi orang yang percaya kepadaNya.

Tuhan telah memberikan yang terbaik kepada kita semua, yakni keselamatanNya melalui PutreraNya, Yesus Kristus. Ia yang datang ke dunia dan hidup di tengah manusia serta mewartakan Kabar Gembira Kerajaan Allah. Namun demikian masih saja manusia menolaknya dan lebih memilih hidup menurut keinginan sendiri, yang justru berlawanan dengan jalan keselamatan yang Tuhan siapkan. Dalam Sejarah Keselamatan, Tuhan sudah menggunakan berbagai cara untuk menyelamatkan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, melalui para nabi Perjanjian Lama hingga Tuhan sendiri yang datang di dalam diri Yesus Kristus. Manusia lebih nyaman hidup dalam kegelapan, kesenangan pribadi, yang semua itu datang dari si jahat. Dengan sikap manusia ini, maka perlahan-lahan manusia sedang memasukkan dirinya ke dalam jurang kematian kekal.

Sekarang tiba saatnya kita harus merubah dan meluruskan arah perjalanan hidup kita. Keselamtan Tuhan sudah tersedia bagi kita bahkan kepada kita rahmat itu sudah dicurahkan, maka pintu Kerajaan Surga sudah dibuka untuk kita semua. Yang diperlukan dari kita sekarang adalah keterbukaan hati dan membiarkan rahmat itu masuk ke dalam hati kita. Dengan demikian kita juga masuk ke dalam Hati Tuhan yang terbuka bagi kita. Keberanian kita untuk meninggalkan kesenangan dan semua yang menyesatkan kita, itulah bentuk kematiran dan pengorbanan jaman ini. Dengan demikain kita akan mengalami keselamatan kekal yang sudah Tuhan sediakan. Jika kita sungguh mencintai Tuhan dan menghidupi cinta itu dalam kehidupan harian kita, maka kita pun akan siap berkorban bagi Tuhan dan sesama kita.

Sehati dan Sejiwa

Sehati dan Sejiwa

Selasa Pekan Biasa XXIV, 15 September 2020 – Pw. Santa Maria Berdukacita

Bacaan: Ibr 5: 7-9; Luk 2: 33-35

“Sehati dan Sejiwa”

Setelah kita merayakan Pesta Salib Suci, pada hari ini kita kenangkan Bunda Maria Berdukacita. Tentu saja peringatan ini sangat berkaitan dengan peristiwa hidup Yesus, Sang Putera Maria. Sejak jawaban ‘ya’, yang diberikan Maria kepada malaekat Gabriel, seluruh hidupnya dan perjalanan hidupnya selalu ditegaskan oleh jawabam ‘ya’ itu. Menerima panggilan Tuhan, berarti juga menerima semua konsekuensi yang akan terjadi walaupun belum diketahui. Itulah yang terjadi pada diri Bunda Maria, yang setia dan rendah hati dalam melakukan kehendak Tuhan di dalam dirinya. Bukan sesuatu yang ringan, namun Maria selalu menyatukan dirinya kepada Tuhan yang memanggilnya dengan sikap ‘aku ini hamba Tuhan’. Maka relasi personal dengan Tuhan itulah yang menguatkan dirinya, terutama dalam diri Yesus Kristus, Putera yang dikasihinya.

Dukacita Bunda Maria ini sangat berkaitan erat dengan perjalanan hidup Yesus, Putera yang sangat dicintainya. Tanpa banyak kata, Bunda Maria mengikuti perjalanan Yesus dan hatinya selalu ada bersama Yesus. Maka sejak Yesus dilahirkannya, satu per satu penderitaan itu dialaminya dengan rendah hati. Dukacita Bunda Maria ini secara khusus dikenangkan dalam 7 dukacita Bunda Maria. Dari kelahiran hingga peristiwa salib, Maria selau ada bersama Puteranya, terutama dalam perjalanan salib Yesus, Maria selalu disampingnya. Penderitaan Yesus inilah yang juga dialami oleh Maria dan bukan hanya dirasakan, Maria sungguh menderita dan berdukacita. Hati Maria telah menyatu dengan hati Yesus Putera yang telah dikandung dan dibesarkannya.

Simeon sudah mengatakan kepada Maria, ketika Yesus dibawa dan dipersembahkan di kenisah, bahwa sebilah pedang akan menembus jiwa Maria. Tentu Maria tidak mengerti banyak mengenai hal itu, namun ia mengalaminya. Pedang yang menembus jiwa tentu lebih sakit daripada menembus daging, yang bisa dengan cepat disembuhkan. Ketika penderitaan diterima Yesus, maka Maria pun mengalami penderitaan itu. Pendampingan dan kehadiran Maria di sisi Yesus merupakan bentuk cintanya yang mendalam dan ia telah memberikan yang terbaik kepada Yersus hingga akhir hidupNya di dunia ini. Sikap kesetiaan terhadap panggilan Tuhan dan selalu menyatukan hati kepada Tuhan Yesus, juga seharusnya menjadi sikap hidup kita semua. Maria hingga hari ini masih terus mendampingi perjalanan hidup kita bahkan ia ikut mengalami pula perjuangan dan terkadang penderitaan kita manusia. Apakah kita juga selalu menyadari kehadiran Bunda Maria di dalam kehidupan kita?

Tanda Keselamatan

Tanda Keselamatan

Senin Pekan Biasa XXIV, 14 September 2020 – Pesta Salib Suci

Bacaan: Bil. 21:4-9; Yoh. 3:13-17

“Tanda Keselamatan”

Percakapan Yesus dan Nicodemus yang kita dengarkan hari ini membuka hati dan pikirannya, juga membuka hati kita semua. Yesus memaparkan maksud kedatangan dan kehadiranNya di tengah dunia ini. Tidak mudah bagi Nicodemus untuk mengertinya walaupun dia seorang Farisi dan tahu tentang agama Yahudi. Namun demikian Nicodemua adalah pribadi yang rendah hati dan mau membuka hatinya untuk mendengarkan Yesus dan membuat dia makin mampu mengalami kehadiran Yesus di dalam hidupnya. Oleh sebab itulah diperlukan keterbukaan hati untuk dapat memahami kehadiran Tuhan di dalam hidup kita dan tidak cukup hanya dengan pengetahuan dan pengertian.

Pesta Salib Suci yang kita rayakan pada hari ini menyadarkan kita ada Pribadi Tuhan Yesus Kristus yang menjadi manusia, menderita hingga wafat di salib. Namun sekaligus pribadi yang sama, yang bangkit mulia dan hidup selamanya. Salib menjadi tanda penghinaan dan pengorbanan Tuhan Yesus, yang terjadi karena dosa manusia. Yesus turun dari Surga untuk menyelamatkan manusia berdosa, maka dengan memandang Salib Kritus, kita memandang dosa-dosa kita yang dipaku bersama Yesus yang tersalib. Yesus datang bukan untuk menghakimi apalagi menghukum, melainkan membebaskan dan menyelmatkan kita semua.

Yesus disalib hingga wafat, namun disambut oleh kemuliaan kebangkitan dan kenaikanNya ke surga. Maka dengan memandang salib Yesus, kita juga memandang keselamatan kita semua yang megalir dari pengorbanan Tuhan Yesus. Kemuliaan Yesus adalah kemenangannya atas dosa dan maut yang memberikan hidup kekal kepada kita semua yang percaya kepadaNya. Dengan merayakan Salib Suci, kita merayakan Tanda Keselamatan kita yang terjadi dalam diri Yesus Kristus. Maka pandanglah salib Suci Tuhan Yesus yang kita tempatkan di rumah, meja atau di mana pun, yang juga kita pakai. Sejenak renungkanlah kehadiran Tuhan yang menyelamatkan ini dan percayalah bahwa Ia sekarang pun hadir bagi keselamatan kita, setialah kepadaNya sebagaimana Ia selalu setia kepada kita.

Sumpah serapah

Sumpah serapah

Sabtu Pekan Biasa X, 13 Juni 2020

Bacaan: 1 Raj. 19:19-21; Matius 5:33-37

Sering kita dengarkan kata ‘sumpah’, atau malah juga mengucapkan sumpah, karena seolah sudah menjadi ungkapan biasa. Tuhan Yesus mengingatkan kita semua bahwa haruslah berhati-hati dalam bersumpah, karena manusia tidak punya jaminan apapun untuk menepati sumpahnya itu. Sangat berbahaya jika sumpah dijadikan cara untuk berjanji, karena sama saja kita mempermainkan sesama kita dan bahkan Tuhan sendiri. Dalam hal inilah Yesus sangat tegas dan mengembalikan manusia pada keadaan dirinya sendiri dan kemampuannya.

Dengan tegas Yesus mengatakan agar setiap orang harus bersikap tegas dalam sikap hidupnya. Oleh sebab itulah pilihan hanya mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’ dan bukan sikap tidak jelas dan ragu. Jawaban yang kita berikan menunjukkan kesadaran kita akan diri kita masing-masing. Dengan demikian kita siap melakukan yang jelas dapat kita lakukan, sekarang dan ke depannya. Jawaban ‘ya’ menunjukkan kesiap sediaan dalam bertindak dan tentu saja dalam mewujudkannya itu kita tetap memerlukan bantuan dan kekuatan dari Tuhan sendiri. Oleh sebab itulah dalam menjawab ‘ya’, sering juga kita sertai dengan ungkapan, ‘dengan bantuan Tuhan saya siap melakukannya’. Begitupun dengan tegas harus menjawab ‘tidak’, ketika memang tidak sesuai dengan kehedak Tuhan dan bertentangan dengan iman.

Kita diingatkan agar jangan pernah berkompromi atau berada dikeraguan karena godaan atau tawaran duniawi yang menyesatkan. Baiklah kita sadari sungguh bagaimana kita bersikap selama ini dalam menjalani kehidupan kita setiap hari. Apakah kita selalu berusaha mengikuti suara hati, yang sesuai dengan suara Tuhan atau lebih cenderung mendengarkan suara dunia, yang menjauhkan kita dari Tuhan. Bersikap tegas, berarti berani menjawab ‘tidak’ kepada setiap tawaran yang hanya membuat kesenangan, namun menjauhkan dari kebahagiaan ilahi. Ingatlah dengan bantuan Tuhan, kita akan mampu melakukan yang baik, karena Tuhan adalah jaminan hidup kita.