Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

MENEMUKAN TUHAN DALAM SEGALA

MENEMUKAN TUHAN DALAM SEGALA

Rabu, 12 Mei 2021

Kis.17: 15, 22 – 18:1

Allah yang kita imani sebagai Pencipta yang terus berkarya, tidak tertangkap oleh indra rohani manusia akibat dosa. Kebangkitan Tuhan adalah ciptaan baru dalam Kristus. Di dalam Kristus yang bangkit, manusia kembali menemukan jati dirinya sebagai citraNya. Dalam Dia manusia kembali bisa mengalami Allah yang Pencipta dan terus berkarya ini.

Itulah pengalaman Paulus dalam bacaan pertama hari ini.

Paulus mengalami Allah yang membuat dia menjadi manusia baru. Pengalaman rohani ini tidak mengubah karakter Paulus yang militan, ambisius, total, tak kenal menyerah dan selalu tuntas dalam melakukan tanggungjawabnya. Pengalaman rohaninya mereorientasikan energi dan karakter ini: bukan lagi untuk dirinya dan duniawi tetapi untuk pewartaan Injil dan kemuliaan Allah. Maka dalam misinya Paulus tetap militan dan total. Dia dibebaskan dari berbagai nafsu dan kegelapan, bebas dari agenda pribadi, bebas dari kelekatan duniawi … Paulus mengalami hidup baru dengan horizon yang menghidupkan. Paulus mengalami  kesadaran diri yang baru, arah hidup yang baru, gambaran Allah yang baru dan misi yang baru di dalam Kristus. Di dalam Dia, Paulus menemukan kembali Allah yang terus berkarya. Dan kini Paulus mengalami dirinya diundang dan dilibatkan dalam pewartaan Injil lewat hidup dan karya pelayanannya.

Dalam penjelajahannya mewartakan Kristus yang bangkit, Paulus berjumpa dengan komunitas orang-orang Athena … Mereka ini bangsa yang religius: menyembah para dewa, termasuk dewa yang tak begitu mereka kenal. Inilah entry point dimana Paulus melakukan dialog iman dengan komunitas yang baik dan religius ini. Paulus pasti yakin betul bahwa dalam hati dan pikiran komunitas Athena ini Allah yang ia wartakan juga berkarya. Kemajemukan rumusan iman dan cara beragama tidak perlu mengurangi semangat Paulus untuk mewartakan Allah yang mahakuasa dengan cara dan bahasa sesuai konteksnya.

Mungkin Paulus terkaget-kaget menyadari bahwa ia bisa melakukans emuanya itu dengan baik. Itulah karya Roh Kudus yang diberi ruang dalam dirinya untuk berkarya.

Dialog dengan berbagai living faiths pada dasarnya untuk mencari dan menemukan Allah yang hidup dan berkarya dalam segala.

Mencari, mengalami dan merasakan Allah dalam segala bisa dilakukan dengan berbagai cara. Memperbaiki relasi kita dengan alam lingkungan dengan berbagai gerakan cinta lingkungan, menumbuhkan kerohanian ekologis … merupakan kerjasama dengan Tuhan yang terus berkarya di sana. Menghayati profesi kita dengan bekerja secara jujur dan optimal di tengah fenomena korupsi dan kepalsuan, merupakan ungkapan kita sebagai rekan kerja Allah. Membangun komunitas inklusif demi well being bersama, bisa menjadi bentuk lain bagaimana mengalami Allah dalam hidup.

HABITUS DISKRESI – Hidup dalam Roh

HABITUS DISKRESI – Hidup dalam Roh

Selasa, 11 Mei 2021

Yoh.16: 5 – 11

Secara sederhana, diskresi bisa dimengerti sebagai usaha mencari dan menemukan kehendak Tuhan dengan menggunakan semua daya manusia. Baik sadar maupun tidak, setiap manusia memiliki kecenderungan dan agenda yang sering tidak searah dengan kehendak Tuhan. Maka diskresi selalu dibarengi dengan usaha pemurnian diri. Atau dalam bahasa yang agak umum bisa dikatakan bahwa tidak akan ada diskresi tanpa penyangkalan diri yang mengandaikan pengenalan diri lenuh utuh dan jujur.

Sejak awal, Yesus sudah mempersiapkan para muridNya untuk menjadi pribadi yang mandiri dan setia pada ajaranNya. Yesus tidak pernah memanjakan mereka, karena Yesus sadar betul bahwa tanggungjawab mereka nantinya tidak mudah. Sejak awal Yesus hidup bersama mereka, agar mengenal betul siapa Dirinya. AjaranNya selalu menyapa jiwa dan bukan untuk dihafal dan diketahui semata. Yesus mengutus mereka untuk berkarya tanpa bekal apapun. Yesus menyuruh mereka berlayar menyeberani danau di malam hari dengan ombak besar. Itulah gaya Yesus membina para murid: training keras dan membiarkan mereka mengalami kerapuhan manusiawi mereka; meski Yesus selalu stand by untuk membantu. Itupun masih belum menghasilkan buah memadai. Mereka masih serba ragu dan bahkan takut. Ini terjadi karena Roh Kudus belum menjiwai mereka …

Kini saatnya mereka menerima Roh Kudus; tetapi Yesus mesti melepaskan ketergantungan mereka padaNya. Roh inilah yang akan membuka indra batin mereka untuk mengenali mana yang benar dan salah, mana dosa an yang kudus. Roh ini akan mengingatkan mereka akan semua ajaran dan kesaksian Yesus. Roh Kudus akan memampukan mereka mengenali kehendak Bapa, sebagaimana dilakukan Yesus selama hidupnya.

Dengan kata lain, Roh Kudus akan membuat mereka mampu berdiskresi: menggunakan seluruh kemampuan dirinya untuk memilah dan memilih dari sekian fakta dan informasi, untuk menentukan mana yang dikehendaki Bapa.

Di jaman sekarang, kita sangat membutuhkan rahmat diskresi ini. Kita hidup dalam tsunami informasi mengenai apapun. Kebanyakan orang hidup dalam kesibukan kronis. Kita hidup dalam pluralitas yang membuat kebenaran menjadi relatif. Kita hidup di dunia dimana seruan nilai Injil ibarat teriakan di padang gurun. Teknologi digital dengan internet dan medsosnya telah mengubah cara manusia untuk tetap eksis. Beberapa kalangan mulai memperlakukan Google seperti tuhan. Perlahan-lahan manusia mengalami lunturnya dimensi transendental dan spiritual dalam hidupnya.

Di tengah situasi itulah kita merindukan Roh Kudus. Atau lebih tepat dikatakan bahwa kita mesti lebih peka pada Roh yang sudah dianugerahkan dan kini hidup dalam diri kita. Roh Kudus akan mencerdaskan kerohanian kita guna mengenali kehendak Bapa bagi kita sekarang dan di sini.

MENJADI SAKSI INJIL DI JAMAN INI …

MENJADI SAKSI INJIL DI JAMAN INI …

Senin, 10 Mei 2021

Bac. Yoh.15: 26 – 16: 4a

Orang menjadi saksi Injil kalau hidup dan karyanya memancarkan nilai dan semangat Injil. Orang menjadi saksi Kristus kalau dirinya menghadirkan nilai-nilai yang dihayati dan diwartakan Tuhan. Di tengah perpecahan warga masyarakat dengan alasan apapun, orang ini tetap mampu menebar harapan persaudaraan lewat hidupnya. Ia memiliki stamina phisik dan batin untuk memancarkan sikap anti keekrasan di tengah kecenderungan kemarahan, kekerasan dan permusuhan. Orang ini secara mengagumkan memiliki enegi untuk hidup jujur dan berpikir positif di tengah kebiasaan korupsi, kepalsuan dan hoax. Dan seterusnya.

Itu semua terjadi karena inner power nya ialah kesatuannya dengan Kristus.

Pertanyaan yang bisa mengganggu ketenangan batin kita ialah: mengapa doa-doa yang sekian lama kita panjatkan, tidak mengubah kualitas hidup kita sebagaimana kita harapkan? Mengapa perayaan Ekaristi, devosi dan kegiatan rohani lainnya tidak melahirkan bobot dan kualitas hidup yang memadai? Mengapa penguasaan Kitab Suci yang mungkin menimbulkan decak kagum banyak orang, tidak diikuti dengan perubahan kualitas manusia sebagai murid Tuhan di dunia ramai ini? Dan masih ada pertanyaan lain …

Sulit membantah bahwa kita sering puas diri dengan banyaknya pengetahuan yang saleh dan suci mengenai Tuhan dan agama; meski kita tahu betul bahwa pengetahuan tidak serta merta mengubah diri manusia. Kita juga mudah berhenti pada berbagai kegiatan rohani yang indah dan bagus, tetapi sering steril terhadap keterlibatan sosial bagi mereka yang susah dan prihatin.

Bukan hanya kita orang Kristiani; di agama lainpun demikian. Banyak pemuka agama (dan kita semua) yang fasih menerangkan siapa Allah dan apa itu Kitab Suci. Masalahnya bukan Allah atau Kitab Suci, tetapi kita, anda dan saya. Tuhan solider pada kita sampai ditinggikan di salib, betul. Tapi kita bagaimana: apakah kasihNya kita terima? Karena kalau saya sungguh mengalami dikasihi oleh Tuhan, kasih itu akan memancar pada sesama …

Kita hanya akan bisa menjadi saksi Tuhan kalau kita mengalami kesatuan denganNya. Bukan karena kita memiliki informasi banyak tetapi karena mendarahdagingkan sabdaNya. Bukan hanay sibuk dengan kegiatan rohani yang baik dan indah itu, tetapi dengan membatinkan ajaranNya. 

Jujur saja, saya sering mengalami bahwa kesaksian itu luntur karena saya de facto sibuk dengan berbagai agenda pribadi saya. Bahkan untuk mencapai agenda itu, saya kadangkala memakai status hidup sebagai imam, menggunakan agama di hadapan umat dll. Jadi persoalan kesaksian lebih banyak terkait dengan olah diri sebagai muridNya: pendisiplinan diri, penyangkalan diri, pemurnian motivasi dans seterusnya. Maka bisa dimengerti bahwa menjadi saksi Injil akan bersahabat erat dengan misteri salib dalam hidup. Kita sering tak berdaya mengahdapi selera yang mengarah gaya hidup instant, hedonis dan narsis. Tetapi Roh Kudus akan menggunakan kerapuhan manusia untuk berkarya. Jangan biarkan kerinduan rohani ini pudar di tengah hidup yang cenderung superfisial.

To Love the Law

To Love the Law

6th Sunday of Easter [B]

May 9, 2021

John 15:9-17

Jesus gave His disciples the new commandment: to love one another as Jesus has loved them. The question may be raised: why another law? The Bible possesses a lot of laws and regulations. In the Old Testament alone, they are hundreds of regulations that are still effective for the Jews until now. The Church also has many laws concerning different aspects of Christian people from how to properly participate in the Eucharist to how to elect a pope. Aside from the Bible and the Church, we have many other laws to follow.

No wonder that often we see laws and regulations as burdens on our shoulder and restrictions to our freedom. For some, obedience to the law is sign of weakness, and breaking the rules is an achievement. However, if we investigate a bigger perspective and delve into the purpose of law, we shall discover that laws are not horrendous as it may seem. At least, there are three purposes of law.

Firstly, the law helps us to grow. The commandments may be restrictive, but they form and educate us. Just try to imagine that in a soccer game, there is no regulation on ‘hand ball’. Consequently, players will not only touch the ball, but keep it to themselves. It ceases to be a soccer game! With this simple and basic rule, players are ‘forced’ to use their feet to control the ball. This pushes players to train hard to master the skills, and hopefully turn to be world-class players. As children, we are trained to be punctual by following schedule, both in homes and schools. This simple rule does not mean to restrict our children, but to teach a disciple as well as to learn the value of time.

Secondly, the law saves us. The commandments may limit our movements, but they are for our safety. Just try to imagine that in a soccer game, a hard tackle is not a violation. Players will start punching and kicking one another, and it’s a matter of seconds before a riot begins. It ceases to be a soccer game! With this rule, players will be mindful of the harm they can cause, and yet, they can continue enjoying the game because no one is injured or hurt.

These two elements of law are also present in the commandment of love. The law of love forms us to be more loving persons. The real love is tough, even to love someone who are dear to us. It is hard to forgive, even our close friends. it is difficult to make daily sacrifices for our children and family members. It is not easy to be patient with people we serve in the community or the Church. Yet, if we choose to keep the commandment, we grow to be a more loving person. Love turns to be our second nature and we love spontaneously. If God is love, then we become God-like each day.

The law of love saves us. St. John of the Cross once said, “in the twilight of our lives, God will not judge us on our earthly possessions and human successes, but on how well we have loved.” Heaven is where the perfect love is, and to achieve that perfection, we need to build it gradually here on earth. The more we obey the commandment, the more loving we are, the more the heaven opens for us. Love saves us for the eternal bliss.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengerti Hukum Kasih

Mengerti Hukum Kasih

Minggu Paskah ke-6 [B]

9 Mei 2021

Yohanes 15: 9-17

Yesus memberi para murid-Nya perintah baru: untuk saling mengasihi seperti Yesus telah mengasihi mereka. Pertanyaan yang mungkin muncul: mengapa perlu ada hukum baru? Alkitab memiliki banyak hukum dan peraturan. Dalam Perjanjian Lama saja, ada ratusan peraturan yang masih berlaku untuk orang Yahudi sampai sekarang. Gereja juga memiliki banyak hukum tentang berbagai aspek dari kehidupan Kristiani mulai dari bagaimana berpartisipasi dengan benar dalam Ekaristi hingga bagaimana memilih seorang paus. Selain Alkitab dan Gereja, kita memiliki banyak hukum lain di dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.

Tidak heran jika seringkali kita melihat hukum dan peraturan sebagai beban di pundak kita dan pembatasan kebebasan kita. Bahkan bagi sebagian orang, ketaatan pada hukum adalah tanda kelemahan, dan melanggar aturan adalah prestasi. Namun, jika kita menyelidiki perspektif yang lebih besar dan tujuan hukum, kita akan menemukan bahwa hukum tidak mengekang seperti yang dirasakan. Setidaknya, ada dua tujuan hukum.

Pertama, hukum memiliki unsur edukatif. Perintah-perintah itu mungkin membatasi, tetapi itu membentuk dan mendidik kita. Coba bayangkan, dalam pertandingan sepak bola tidak ada aturan tentang ‘hand ball’. Akibatnya, pemain tidak hanya akan menyentuh bola seenaknya, tetapi juga menyimpannya mereka bawa pulang. Ini tidak lagi menjadi permainan sepak bola! Dengan aturan sederhana dan mendasar ini, pemain ‘dipaksa’ menggunakan kakinya untuk mengontrol bola. Hal ini mendorong pemain untuk berlatih keras untuk menguasai skill tersebut, dan harapannya tentu, bisa menjadi pemain kelas dunia. Sebagai anak-anak, kita dilatih untuk tepat waktu dengan mengikuti jadwal, baik di rumah maupun di sekolah. Aturan sederhana ini tidak berarti membatasi anak-anak kita, tetapi untuk mengajar seorang anak akan pentingnya nilai sebuah waktu.

Kedua, hukum menyelamatkan kita. Hukum mungkin membatasi pergerakan kita, tetapi hal ini ada untuk keamanan dan kenyamanan kita. Coba bayangkan bahwa dalam pertandingan sepak bola, tekel keras dan kontak fisik membahayakan bukanlah pelanggaran. Pemain akan saling mulai meninju, dan beberapa detik kemudian akan menjadi tauran. Ini tidak lagi menjadi permainan sepak bola! Dengan aturan ini, pemain akan memperhatikan cedera yang dapat mereka timbulkan, namun mereka dapat terus menikmati permainan karena tidak ada yang cedera atau terluka.

Kedua elemen hukum ini juga ada dalam perintah kasih. Hukum kasih membentuk kita menjadi orang yang lebih mengasihi. Kasih sejati itu sulit, bahkan untuk mengasihi orang-orang yang kita sayangi. Sulit untuk memaafkan, bahkan teman dekat kita. Tidak mudah untuk membuat pengorbanan setiap hari untuk anak-anak dan anggota keluarga kita. Tidak mudah bersabar dengan orang-orang yang kita layani di komunitas atau Gereja. Namun, jika kita memilih untuk mematuhi perintah, kita tumbuh menjadi orang yang lebih pengasih. Kasih berubah menjadi kebiasaan dan keutamaan kita dan kita mengasihi secara spontan. Jika Tuhan itu kasih, kita menjadi seperti Tuhan setiap hari.

Hukum kisah menyelamatkan kita. Santo Yohanes dari Salib pernah berkata, “di masa senja hidup kita, Tuhan tidak akan menghakimi kita atas harta benda duniawi dan keberhasilan manusia, tetapi pada seberapa baik kita telah mencintai.” Surga adalah tempat kasih yang sempurna, dan untuk mencapai kesempurnaan itu, kita perlu membangunnya secara bertahap di bumi ini. Semakin kita mematuhi perintah, semakin mengasihi, semakin surga terbuka bagi kita. Cinta kasih menyelamatkan kita untuk kebahagiaan abadi.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP