Sederhana dalam Kekayaan Rohani

Sederhana dalam Kekayaan Rohani

Markus Juhas Irawan

“Karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil”

Pejumpaan kita dengan Tuhan yang kita Imani, kerap kali menjadi sulit di saat kita selalu menanggapi kesempatan Perjumpaan itu dengan banyak pertanyaan yang kita miliki. Pertanyaan-pertanyaan iyu mungkin kita yakini sebagai buah dari pemikiran kita yang Kritis dan selalu ingin membuktikan apa yang benar dalam setiap hal yang dilihat. Selalu ada ketidak puasan dalam banyak pemikiran Kritis yang ada, karena di saat kita sudah menemukan jawaban dari satu pertanyaan, maka biasanya akan ada pertanyaan lain yang muncul dan menunggu untuk dijawab. Kebiasaan ini juga yang sadar atau tidak sadar kita gunakan dalam pola relasi kita dengan Allah, relasi yang dibangun kerap kali banyak diwarnai dengan pertanyaan yang malah membuat hati tidak terbuka untuk menerima Allah yang menyatakan dirinya. Hal lain yang membuat seseorang sulit untuk mengenali Allah adalah karena adanya kebiasaan untuk memberikan standar yang tinggi dalam angan-angan perjumpaan dengan Allah. Perjumpaan dengan Allah kerap kali diyakini harus ada dalam peristiwa yang besar dan luar biasa, padahal justru dari hal sederhanalah Allah mungkin mewujud dalam dirinya pada Manusia, disinilah diperlukan adanya sikap untuk menjadi “kecil”. Menjadi kecil berarti menjadi sederhana dengan kekayaan rohani yang mendalam, dimana kerap kali pemahaman dan keyakinan tentang Allah pada akhirnya mungkin hanya bisa sampai pada keyakinan dan iman tanpa harus banyak bertanya tentangnya.

Comments are closed.