Biarlah mereka mengatakan bahwa kita sudah tidak waras

Biarlah mereka mengatakan bahwa kita sudah tidak waras

HARI SABTU DALAM PEKAN BIASA II

January 23, 2021

Ibrani 9:2-3; 11-14

Markus 3:20-21

Saudara-saudariku terkasih,

    Topik renungan kita kali ini kedengarannya agak aneh. Koq membiarkan orang mengatai kita tidak waras. Tetapi memang hal itu ditulis dalam injil hari ini, Markus 3:21… “Waktu kaum keluargaNya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.” Anda pasti akan sangat marah kalau tanpa alasan yang kuat, kita dikatai: “anda sudah tidak waras lagi.” Yesus dikatakan sudah tidak waras lagi, dalam konteks Yesus diasosiasikan dengan setan atau Yesus didiagnose kerasukan Beelzebul,” karena “Yesus associated dengan Penghulu Setan mengusir setan.”

 Dalam kehidupan sehari-hari kadangkala kita diceritakan peristiwa-peristiwa yang aneh, yang tidak biasa dan tidak dapat diterima dengan akal sehat. Sebagai misal, ketika saya masih belajar di Seminary Tinggi Ledalero, ketika itu ada seorang dokter di Rumah Sakit Umum Maumere, namanya dokter Hillers. Dokter ini sangat terkenal sebagai ahli bedah yang hebat. Diceritakan bahwa sebelum dokter ini akan melakukan operasi, ia  harus minum tuak lebih dahulu (alkohol) baru dia  bisa melakukan operasi. Dan anda tahu, bahwa tuaknya Maumere dikenal sangat keras, dikenal “tuak bakar menyala.” Hal ini kalau diketahui oleh Ade Armando pasti beliau akan mengatakan: “kita harus menggunakan akal sehat, hanya dengan akal sehat pasien yang dioperasi akan selamat.” Ini hanya sekedar ilurstrasi lho…dalam hubungan dengan bacaan Injil hari ini tentang “ketidak warasnya Yesus” yang dicap oleh kaum Pharisi.

    Apakah kita juga akan mencap Yesus sebagai orang yang sudah tidak waras lagi? Yesus yang baru saja melakukan pelayananNya setelah memilih keduabelas rasulNya. PelayananNya dengan menyembuhkan banyak orang sampai mengusir setan sekalipun sudah mendapat tantangan dari orang banyak terutama dari kaum Pharisi. Mereka mempertanyakan credential Nya, kegiatanNya dan lain sebagainya.

Saudara-saudari terkasih,

    Judgement yang diberikan kepada Yesus sebagai “orang yang sudah tidak waras lagi” itu disatu pihak sangat menyakitkan hati kita para pengikut dan yang percaya kepdaNya; tetapi di lain pihak sikap dan pernyataan yang menantang itu mendorong orang untuk melihat hasil dari pelayanan Yesus. Bahwa setiap pebuatan baik sudah sangat pasti selalu mendapat tantangan, selalu ada konsekwensi menghadapi penilaian yang negatip. Sejak awal pelayananNya, Yesus sudah mendapat tantangan dari kaumNya sendiri. St. Paulus dalam suratnya kepada orang Ibrani dari bacaan pertama hari ini mengatakan: “… Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darahNya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal.”

    Sementara orang lain akan selalu bisa menilai hal-hal yang sama kepada kita seperti yang mereka katakan bahwa Yesus benar-benar sudah tidak waras lagi. Oleh karena itu bukan tidak mungkin bahwa kita akan mengalami penilaian atau judgment yang sama. Banyak hal yang seringkali tidak masuk akal, kalau kita melihat bagaimana para missionaris dulu meninggalkan segala-segalanya untuk pergi ke tanah misi, banyak pula kaum awam yang bekerja mati-matian untuk pewartaan kabar gembira. Saya ingat ketika saya masih kecil saya melihat para rasul awam ketika itu mereka disebut guru agama dengan pengetahuan teologi yang sangat minim tetapi memiliki kekayaan iman yang luar bisas berjalan dari kampung ke kampung untuk mengajar agama. Banyak orang yang mereka hantar untuk menjadi pengikut Kristus…Itulah para rasul awam. Sudah sangat pasti kitapun dapat membaca kisah para martyr dan orang kudus lainnya yang mengorbankan hidupnya untuk penyebaran iman kepada Kristus, atau mempertahankan kekudusan dan imannya kepada Kristus. Lalu apakah kita juga mampu dan mau ikut ambil bagian  dalam tugas pewartaan ini? Semoga!!!

Comments are closed.