SETIA SEBAGAI HAMBA

SETIA SEBAGAI HAMBA

Senin, 25 Januari 2021

Markus 16:15-18
Yesus memberikan panggilan dan kepercayaan kepada para murid-Nya
untuk mewartkan kebaikan Allah, sehingga pada akhirnya mereka yang menerima
perwartaan tersebut menjadi percaya dan dibaptis. “Pergilah ke seluruh dunia,
beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan
diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”(Mrk 16:16-17).
Panggilan yang dianugerahkan oleh Allah ini bukan hal yang kebetulan, namun Dia
telah merencanakannya dan menyiapkan mereka. Dengan segala kelebihan dan
kekurangannya, mereka diperbaharui hidupnya menjadi pelayan dan penjala
manusia. “Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan
Kujadikan penjala manusia.”(Mrk 1:17).
Oleh karena itu panggilan menjadi murid Kristus datang atas kehendak Allah.
Karena datang dari Allah maka panggilan tersebut adalah hal yang sangat mulia dan
berharga. Panggilan tersebut adalah iman ; menjadi murid Kristus. Persoalnya
apakah orang yang telah dipanggil dan yang telah dibaptis menyadari hal ini? Jika
seseorang menyadarinya maka ia akan menjaga, merawat dan mengembangkannya.
Mereka adalah orang yang setia, tahu bersyukur dan mengasihi Allah. Oleh karena
sikapnya maka Tuhan akan memberikan banyak kepercayaan kepadanya untuk
meluaskan Kerajaan Allah. “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik
dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, aku akan
memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan
turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”(Mrk 25:21). Sebaliknya jika seseorang belum
menyadarinya, maka ia akan acuh tak acuh dan tidak peduli dengan imannya. Orang
yang malas akan menerima buah dari apa yang dilakukannya. “ Karena setiap orang
yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa
yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari
padanya.”(Mat 25:29).
Apa yang menjadi harapan Kristus terhadap murid-murid-Nya? Agar mereka
setia mengikuti-Nya dengan cara hidup dengan penuh semangat mewartakan Injil
dalam masyarakat dunia. (Mrk 16:15). Harapan tersebut bisa terjadi, jika seseorang
memiliki kesadaran rohani dan kebiasaan untuk bersyukur dari hal-hal yang kecil,
dimana ia menemukan pendampingan dan penyertaan Allah. Kalau tingkat
kesadaraan iman rendah, bagaimana seseorang bisa setia dalam mengikuti Kristus?
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara
besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga
dalam perkara-perkara besar.”(Luk 16:10). Untuk meningkatkan kesadaran rohani
atau iman, maka diperlukan komitmen ; iya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku
menurut kehendak-Mu, seperti jawaban Bunda Maria. “Kata Maria: “Sesunggyhnya
aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”(Luk 1:38).
Paroki St Montfort Serawai, dilulis oleh Rm. A. Didik Setiyawan, CM

Comments are closed.