JALAN KEKUDUSAN

JALAN KEKUDUSAN

Jumat, 19 Februari 2021

Matius 9:14-15

            Setiap orang beriman dipanggil untuk mencapai kekudusan. Kekudusan adalah hidup seturut dengan kehendak Allah dalam hati, budi, dan tindakannya. Bukan lagi keinginan-keinginan manusia yang mengerakan seseorang, tetapi Roh Allah sendiri yang bergerak dan menuntun hidupnya.”Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”(Galatia 2:20). Ketika seseorang bersatu dengan Kristus dalam segala situasi, maka daya Ilahi dan kekudusan-Nya akan merasuk di dalam seluruh hidupnya, sehingga akan muncul buah-buah Roh yang berlimpah sebagai persembahan kepada Allah. “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”(Galatia 5:22-23).

            Dengan demikian kekudusan bukan berpusat pada keselamatan diri sendiri, sebaliknya kekudusan menghantar seseorang menjadi semakin berani meninggalkan diri sendiri untuk mengasihi, terbuka dan peduli kepada sesama dan menjaga keharmonisan dengan alam semesta.  Tidak pernah ada kekudusan jika orang hanya mementingkan diri sendiri, karena kekudusan bersumber dari Allah dan Dia adalah Kasih. Dengan demikian kekudusan adalah hakekat dari Kasih itu sendiri. Semakin seseorang berani berkorban karena kasih, maka  ia akan semakin ada dalam diri Allah. “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”(1 Yoh 4:16).

             Jalan untuk mencapai kekudusan adalah jalan pengosongan diri. Semakin seseorang merendahkan hati dan menjadi hamba, makin ia memberikan kesempatan dan ruang bagi Tuhan untuk tinggal di dalam hatinya, sehingga ia bisa berkata seperti Yohanes : “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”(Yoh 3:30). Pada saat pengosongan diri maka seseorang menyangkal diri dari segala kesombongan dan kejahatan. Proses itulah yang terjadi pada saat orang berpuasa. Berpuasa bukan sebatas melaksanaan kewajiban, namun suatu kebutuhan dan jalan mencapai pemurnian hati dan budi sehingga ia menjadi semakin rendah hati, jernih dalam berpikir, menjadi hamba dan terbuka menerima kehadiran Allah yang Maka Kudus. ”Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai miliki yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”(Filipi 3:5-7).

            Kristus adalah pusat dan sumber kekudusan itu sendiri. Dialah yang juga menjadi alasan mengapa seorang murid Kristus perpuasa dan bermatiraga, agar ia semakin bersatu dengan Yesus Kristus penyelamat. “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”(Filipi 9:15). Apa yang dirasakan, dipikirkan dan yang dilakukan Yesus adalah apa yang dirasakan, dipikirkan, dan yang dilakukan seorang yang murid Kristus. Dengan cara demikian, maka seseorang akan selalu berada dalam kekudusan.

Paroki St Montfort Serawai, ditulis oleh Rm. A. Didik Setiyawan, CM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *