Doa Seorang Ibu

Doa Seorang Ibu

Selasa, 11 Januari 2022

1 Samuel 1:9-20
1 Samuel 2
Markus 1:21-28

Dalam Kitab Samuel hari ini kita membaca kisah Hana yang datang ke Bait Allah untuk mencurahkan isi hatinya yang penuh kesedihan. Hana tidak sendirian dan ceritanya tidak unik. Berapa banyak perempuan yang mengalami kesulitan mengandung dan berdoa tanpa henti supaya diberikan anak oleh Tuhan. Berapa banyak perempuan datang ke tempat beribadah yang mengalami keguguran atau anaknya meninggal atau mengalami masalah kesehatan yang serius. Berapa ibu yang mencurahkan kesedihannya di gereja karena cemas akan nasib anaknya yang memilih jalan yang tidak benar atau tidak lagi peduli kepada orang tuanya.

Terkadang, ketika mereka sudah sangat terbawa dengan emosi, kita tidak tahu harus berbuat apa. Dalam bacaan hari ini, Eli, seorang imam di Bait Allah, malahan menganggap Hana mabuk atau sudah gila dan menyuruhnya keluar.

Bagaimanakah kita memperlakukan perempuan dalam gereja? Dalam masyarakat? Apakah kita lebih mudah mengabaikan mereka, mengganggap mereka terlalu histeris atau berlebihan? Dapatkah kita mengalami pertobatan seperti Eli, membuka mata hati dan telinga kita untuk mendengarkan kisah hidup mereka? Tidak mudah untuk duduk dan mendengarkan pengalaman yang menyakitkan. Tetapi inilah panggilan kita sebagai pengikut Yesus, untuk melanjutkan misinya seperti yang kita dengar dari Kitab Yesaya hari minggu lalu: Hiburkanlah umat Tuhan dan tenangkanlah hati mereka.

Kita pun juga bersyukur atas para perempuan dan ibu seperti Hana yang pantang menyerah untuk menyuarakan isi hati mereka yang paling dalam. Ketika dihardik Eli, bisa saja Hana langsung keluar meninggalkan Bait Allah. Tetapi dengan berani dia menjawab Eli dan mencurahkan isi hatinya. Hanya dengan jalan inilah hati Eli melunak dan dia membantu berdoa untuk Hana.

Paus Santo Yohanes Paulus II dalam surat apostoliknya di Tahun Maria 1988 menulis bahwa kekuatan seorang perempuan berasal dari kesadaran bahwa Tuhan telah mempercayakan manusia kepada peremmpuan secara khusus, seperti halnya seorang ibu. Hana merasakannya dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sesuatu yang tidak bisa dimengerti oleh Elkana suaminya. Hal inilah yang mendorongnya untuk pergi berdoa di Bait Allah, untuk menjawab hardikan Eli. Para perempuan seperti inilah, lanjut Santo Yohanes Paulus, yang menjadi pegangan dan sumber dari kekuatan spiritual bagi semua orang yang merasakan daya kekuatan batiniah mereka. Keluarga, masyarakat, dan bangsa-bangsa berhutang budi pada para perempuan ini.

Comments are closed.