Kusta!

Kusta!

Kusta, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti “penyakit menahun yang menyerang kulit dan saraf, yang secara perlahan-lahan menyebabkan kerusakan pada anggota tubuh.” Orang yang mengalami kusta akan kehilangan daya untuk merasa sakit dan seringkali kehilangan bagian-bagian tubuhnya yang rusak. Kehilangan rasa sakit itu bagian dari matinya saraf sehingga tubuh yang rusak akibat terserang bakteri kusta tidak lagi merasakan apa-apa lagi. Satu hal lagi, penyakit kusta itu menular.

Dalam alam pikir Israel, orang yang menderita penyakit fisik juga mempunyai kemungkinan terkena penyakit spiritual. Maka Yesus yang mengenal cara pandang orang-orangnya juga meminta orang kusta yang Ia sembuhkan untuk menghadap kepada imam dan mempersembahkan pentahirannya sebagaimana yang ada dalam hukum Musa. Kusta itu melambangkan penyakit jiwa selain menunjukkan penyakit badani. Kusta itu bukan hanya soal kesehatan tubuh tetapi juga soal dosa.

Dosa itu dalam arti tertentu adalah kusta. Ia mematikan saraf-saraf jiwa yang penting untuk merasakan kehadiran dan kuasa Tuhan dalam hidup kita. Dosa yang dilakukan berulang-ulang akan membuat kita tidak lagi merasakan rasa sakit karena melawan kehendak Tuhan karena hati nurani kita semakin dipinggirkan dalam kuasa dosa. Dosa juga menular karena setiap dosa yang terjadi mempunyai efek kepada siapa atau apapun yang dikenainya, dan efeknya bertahan lama bila tidak ada kasih dan pengampunan ilahi hidup dalam yang terkena dosa. Sebagai contoh, orangtua yang memukul anaknya secara konstan akan meninggalkan luka batin yang

dalam yang akan dibawa oleh sang anak bertahun-tahun. Sang anak bisa melihat tindakan orangtuanya sebagai sesuatu yang “normal” untuk dilakukan di dalam keluarga, dan melakukannya kepada anak-anaknya di kemudian hari. Dosa adalah kusta yang membuat kita tak lagi peka terhadap sapaan dan teguran Tuhan dalam hidup kita.

Orang kusta yang berdosa, dalam cerita Injil hari ini, dibebaskan oleh Yesus yang berbelas kasih. Kasih Tuhan membebaskan kita dari ‘kusta’ kita. Yang perlu kita lakukan adalah mengakui bahwa kita adalah orang ‘kusta’ dan meminta Tuhan untuk menyembuhkan kita dengan belas kasihNya. Injil hari ini mengajak kita untuk melepaskan diri dari kusta kita dengan kasih Allah.

Apa yang menjadi “kusta”-ku dalam hidup ini yang membuat aku tidak lagi peka terhadap kasih Allah? Rahmat apa yang harus kuminta kepada Yesus untuk menyembuhkan “kusta”-ku?***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hit Counter by technology news