Tanda

Senin pada Pekan Biasa ke-6

12 Februari 2018

Markus 8:1-13

 

Orang-orang Farisi mencari tanda dari Yesus. Tanda dari langit yang diminta ini tidak lain adalah pembuktian bahwa Yesus adalah sungguh seorang nabi yang diutus Allah. Dalam Perjanjian Lama, tanda-tanda dari Allah diberikan untuk membuktikan autentisitas seorang nabi. Saat Musa minta tanda pada Allah untuk membuktikan dirinya adalah nabi utusan Allah kepada bangsa Ibrani, Allah mengubah tongkat milik Musa menjadi ular (Kel 4:1-4). Saat Firaun berkeras hati dan menolak membebaskan bangsa Ibrani, Musa pun menurunkan sepuluh tuah kepada bangsa Mesir sebagai tanda keperkasaan Allah Ibrani terhadap dewa-dewa Mesir kuno. Saat nabi Yesaya mengatakan bahwa raja Hizkia akan sembuh dari sakitnya, sang Raja meminta tanda dari Allah. Sang nabi pun memberikan tanda yakni bayang-bayang yang bergerak mundur sepuluh tapak (2 Raja 20:1-11).

Yesus mengerti bahwa orang Farisi meminta tanda untuk membuktikan diri-Nya sungguh berasal dari Allah. Namun, Yesus menolak memberikan tanda yang diminta mereka. Kenapa Yesus menolak? Bukankah Dia bisa dengan mudah memberikan tanda yang mereka minta? Jika kita menyimak kisah-kisah sebelumnya, Yesus baru saja melipatgandakan roti dan memberi makan 4 ribu orang lebih. Selain itu Yesus telah menyembuhkan banyak orang dan mengusir roh jahat. Semua adalah tanda yang membuktikan bahwa Yesus adalah “yang berkuasa” (Mrk 1:7), tetapi orang-orang Farisi tetap berkeras hati dan tidak percaya. Yesus mengerti bahwa sebanyak apa pun tanda yang Ia akan berikan, orang-orang Farisi yang tidak memiliki iman tidak akan pernah percaya kepada-Nya. Oleh karena itu, Yesus tidak akan memberikan tanda kepada mereka.

Merenungkan pesan Injil pada hari ini, kita bisa bertanya: apakah kita memiliki iman untuk melihat tanda-tanda yang Yesus berikan dalam hidup kita? Apakah kita terus meminta tanda dan pembuktian kepada Tuhan? Apakah mata iman kita memberdayakan kita untuk melihat makna-makna kehidupan, bahkan dari peristiwa yang tidak menggembirakan sekalipun?

 

(Kita juga berdoa secara khusus untuk para korban penyerangan dan jemaat Gereja St. Lidwina, Sleman, dan agar kejadian seperti ini tidak terulang di masa yang akan datang)

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hit Counter by technology news