Hari Biasa pekan IV Prapaskah

Hari Biasa pekan IV Prapaskah

Yohanes 5: 1-16

Selasa, 24 Maret 2020

1. Membangun solidaritas. Injil hari ini menggambarkan Yesus yang menyembuhkan orang lumpuh yang telah menunggu 38 tahun agar seseorang membantunya sampai ke air kolam sehingga dapat disembuhkan! Tiga puluh delapan tahun! Rupanya ia menjadi bagian dari orang-orang yang  tertarik pada harapan tak menentu akan “Kolam Betesda” yang menjanjikan bahwa “sewaktu-waktu akan turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya.” Hanya satu orang yang sembuh, itu pun yang terdahulu. Kesembuhan dianggap sebagai lotere yang diperebutkan. Banyak orang yang karena keterbatasannya hanya tinggal di dalam pengharapan, seperti yang dialami oleh orang yang lumpuh itu. Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” Orang lumpuh ini dihadapkan dengan absennya solidaritas. Ia berkata:  “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” Apa yang Yesus lakukan? Dia yang melampaui hukum hari Sabat menyembuhkan orang lumpuh itu: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Ia membangun solidaritas dengan orang yang sakit lumpuh itu. Tetapi Ia tidak membangun solidaritas yang berbau tahyul itu. Ia tidak meminta orang itu pergi ke kolam Betesda. Hidup-Nya sendiri selalu menjadi simbol solidaritas di tengah kenestapaan manusia.

Solidaritas adalah rasa kesatuan kepentingan, perasaan sehati dan sepenangunggan demi kepentingan orang lain dan bersama.  Solidaritas itu tidak mudah. Beberapa orang, seperti dialami oleh orang yang lumpuh selama 38 tahun itu, masih saja hidup dalam pengabaian total, tanpa kesadaran bahwa solidaritas adalah pilihan yang menyelamatkan. Di sisi lain, kita bersyukur karena banyak dari antara kita yang sadar akan perlunya solidaritas di era Covid-19 ini. Solidaritas akan membuat banyak orang yang sedang sakit dan mengalami kelumpuhan dalam berbagai sisi kehidupan ini bangun dan berjalan kembali: “Bangunlah dan berjalanlah.” Hari-hari ini kita diingatkan akan panggilan kita sebagai Homo homini socius: Manusia adalah sahabat bagi manusia lain.

2. Mengangkat tilam. Orang yang lumpuh selama tiga puluh delapan tahun itu hanya berbaring di atas tilamnya. Dan pada saat menyembuhkan dia, Yesus berkata: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” Tilam adalah tempat ia berbaring tidak berdaya. Tilam adalah simbol masa lalu yang penuh ketidakbedayaan. Ia tidak meminta meninggalkan tilam itu, tetapi mengangkatnya. Masa lalu mesti diangkat dan bukan ditinggalkan. Jika ditinggalkan, orang akan kembali mencarinya. Dengan meminta orang itu mengangkat  tilamnya, Yesus berharap orang itu menjalani hidup baru dan berani berjalan menatap ke depan, serta tidak kembali ke masa lalu yang pernah membuat hidupnya. Hidup mesti ditandai dengan kerelaan untuk bangun dan berjalan ke depan.

Banyak orang yang mengalami kesembuhan, penghiburan dan peneguhan setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus. Namun ketika aneka persoalan kembali melumpuhkan hidup kita dan membuat hidup ini terasa membosankan, kita kadangkala membiarkan masa lalu (baca: tilam) kita kembali lagi, dan  menemukan diri kita kembali ke tempat semula. Kita harus mengangkat dan menyingkirkan “kanker tilam” yang menggerogoti hidup kita, dan bukan sekedar  meninggalkan atau membiarkan tetap ada. Hari-hari ini ketika kita berhadapan dengan aneka kebosanan karena “berada di dalam rumah”, kita diajak tetap semangat menjalaninya (baca: bangun dan berjalanlah) karena dengan cara ini kita akan melewati krisis yang melumpuhkan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hit Counter by technology news