Cabut!

Cabut!

Selasa, 28 Juli 2020

Yeremia 14:17-22
Mazmur 79
Matius 13:36-43

Perumpamaan Yesus hari ini pasti mengejutkan bagi para pengikutnya pada masa itu dan juga kita semua sekarang. Kita tidak habis pikir kenapa si tuan tanah membiarkan ilalang yang menjengkelkan tumbuh bersama dengan gandum yang baik di ladangnya. Mengapa Tuhan membiarkan segala jenis kejahatan terjadi di dunia ini? Kenapa kita orang Katolik yang taat dikelilingi dengan orang-orang jahat yang tidak percaya Tuhan? Kenapa tidak kau cabut ilalang itu sekarang juga, Tuhan?

Pengarang dan filsuf dari Rusia yang pernah menjadi tahanan politik di masa Uni Soviet, almarhum Aleksandr Solzhenitzyn, menulis: “Garis yang membedakan kebaikan dan kejahatan memotong di tengah hati setiap orang.” Tidak ada seorangpun dari kita yang 100% tanpa dosa. Bahkan para santo dan santa pun, karena mereka juga manusia. Setiap dari kita adalah kombinasi antara gandum dan lalang.

Keadaan ini bukan alasan untuk membuat kita putus asa. Dalam perumpamaan ini, Yesus menegaskan bahwa gandum akan tetap tumbuh dan tidak akan dapat dikuasai oleh lalang. Pada akhirnya, iman dan usaha baik kitalah yang akan membawa kita masuk pada kerajaan Allah.

Santo Paulus, di dalam surat keduanya kepada jemaat di Korintus, juga berkeluh tentang kelemahannya, tentang “duri dalam dagingnya.” Tetapi dia dikuatkan oleh imannya: Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (2 Kor 12:9-10)

Comments are closed.