Marta, Marta

Marta, Marta

Rabu, 29 Juli 2020
Hari Raya Santa Marta

Yeremia 15:10, 16-21
Mazmur 59
Yohanes 11:19-27 atau Lukas 10:38-42

Ada dua pilihan untuk bacaan Injil hari ini. Dua-duanya tercantum di atas supaya kita bisa membandingkan antara keduanya.

Kisah Marta yang mungkin paling sering kita dengar adalah versi dari Lukas, di mana Marta yang sibuk melayani dibandingkan dengan saudaranya, Maria, yang duduk di kaki Yesus untuk mendengarkan ajarannya. Marta yang mengeluh kemudian disindir oleh Yesus yang mengatakan bahwa Maria telah memilih bagian yang lebih baik dengan duduk diam.

Kata Yunani “melayani” yang digunakan dalam Injil Lukas ini adalah diakonia. Kata ini mempunyai konotasi dengan pelayanan perayaan Ekaristi di rumah-rumah dalam gereja awal. Penggunan kata ini masih berlanjut sampai sekarang dengan adanya petugas daikon atau prodiakon dalam gereja. Dalam masa gereja awal kebanyakan orang yang melakukan pelayanan diakonia adalah perempuan karena ritual peringatan Perjamuan Tuhan masih dilakukan di rumah-rumah. Bisa jadi kisah Marta dan Maria dalam Injil Lukas ini digunakan untuk mencoba mengendalikan diakon-diakon perempuan yang dilihat terlalu aktif dalam liturgi gereja awal.

Keluarga saya penuh dengan perempuan yang aktif dan memegang peranan penting. Oma saya berasal dari Sumatra Utara dan mempunyai empat orang saudara perempuan. Dulu setiap kali ada anggota keluarga yang akan menikah, mereka inilah yang paling sibuk mempersiapkan pesta perkawinan (sebelum event coordinator menjadi trendy seperti sekarang). Kerja keras dan koordinasi panitia Ipo-ipo inilah yang membuat semua acara berjalan lancar dan semua perut kenyang dengan makanan enak.

Ada baiknya kita meninggalkan persepsi yang menempatkan perempuan dalam gereja hanya untuk berperan pasif, terutama dengan menggunakan kisah Marta dan Maria dalam Injil Lukas sebagai alasannya. Sebaliknya, dalam Injil Yohanes, kita melihat Marta yang dengan berani dan yakin mengakui imannya akan Kristus.

Dalam Penutup Konsili Vatikan II terdapat pesan khusus untuk para perempuan: “Saatnya akan datang, dan nyatanya sudah datang, di mana panggilan kaum wanita akan diakui kepenuhannya; saat di mana kaum wanita di dalam dunia ini memperoleh pengaruh, hasil dan kuasa yang tak pernah dicapainya hingga saat ini. Itulah sebabnya pada saat ini di mana bangsa manusia tengah mengalami transformasi yang begitu mendalam, kaum wanita, penuh dengan semangat Injil, dapat berbuat banyak untuk menolong manusia agar tidak jatuh”.

Semoga Santa Marta memberi inspirasi bagi para perempuan Katolik untuk berperan lebih aktif lagi di dalam gereja dan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *