Hukum Mati

Hukum Mati

Sabtu, 1 Agustus 2020
Hari Raya Santo Alfonsus Liguori

Yeremia 26:11-16, 24
Mazmur 69
Matius 14:1-12

Hari ini kita mendengar kisah dua nabi yang dijatuhi hukuman mati. Yeremia selamat karena Ahikam, seorang pejabat kerajaan yang berpengaruh, melindunginya. Tapi malang nasib Yohanes Pembaptis, yang dibunuh oleh Herodes karena kebencian istrinya, Herodias.

Hukuman mati masih banyak dilakukan di berbagai negara. Amnesti Internasional mencatat ada 657 eksekusi yang diketahui di 20 negara di tahun 2019. Jumlah ini tidak termasuk Tiongkok, di mana jumlah hukuman mati selalu dirahasiakan. Amerika Serikat, setelah 17 tahun moratorium, awal bulan lalu kembali melakukan eksekusi hukuman mati.

Biasanya orang yang dihukum mati melakukan tindak kejahatan yang sangat kejam atau dengan korban yang banyak. Tidak heran kebanyakan orang tidak ambil pusing dengan kematian mereka. Tepatlah hukum lama agama Yahudi: mata ganti mata, gigi ganti gigi (Imamat 24:20). Karena kita begitu jijik dengan kekejaman mereka, maka kita anggap pantas kalau mereka mati dengan kejam juga.

Gereja Katolik telah lama memandang negatif hukuman mati karena bertentangan dengan martabat manusia. Pada saat yang sama, Gereja memperbolehkan hukuman mati dalam kasus yang langka di mana tidak ada hukuman lain yang dapat melindungi masyarakat. Paus Santo Yohanes Paulus II, dalam ensiklikal Evangelium Vitae menyatakan: “Namun dewasa ini sebagai hasil perbaikan terus-menerus dalam penataan sistem pidana, kasus demikian amat jarang, kalau tidak praktis tidak ada.”

Tahun 2017, Paus Fransiskus menyatakan secara lebih tegas bahwa hukuman mati “tidak dapat diterima [Latin: non posse admitti, Inggris: inadmissible] karena itu merupakan serangan atas ketidakberdayaan dan martabat seseorang.” Setahun kemudian ajaran ini resmi dimasukkan dalam Katekismus Gereja Katolik (paragraph 2267). Sayangnya, setelah dua tahun berlalu, saya kesulitan menemukan Katekismus Bahasa Indonesia di internet yang sudah memasukkan revisi ini.

Menentang hukuman mati adalah juga salah satu upaya perjuangan pro-life bersama-sama dengan menentang aborsi. Marilah kita bersama-sama terus berjuang bersama Gereja menentang segala hal yang merendahkan martabat hidup manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *