Kemuliaan dan Salib

Kemuliaan dan Salib

Pesta Yesus Menampakan Kemuliaan-Nya

6 Agustus 2020

Matius 17:1-9

Transfigurasi atau Yesus menampakkan kemuliaan-Nya di gunung secara mendasar terkait dengan Salib Yesus. Dalam versi Lukas, Yesus berbicara kepada Musa dan Elia tentang “eksodus” -nya. Ini mengingatkan kita akan bangsa Israel kuno yang keluar dari Mesir, berjalan melewati padang pasir, dan memasuki Tanah Perjanjian. Namun, akhir eksodus yang sebenarnya adalah kota Yerusalem, dan akhirnya Bait suci tempat Allah tinggal di antara umat-Nya. Sama seperti bangsa Israel kuno, eksodus Yesus harus berakhir di Yerusalem.

Momen mulia transfigurasi tidak dimaksudkan untuk bertahan lama. Yesus harus turun dan berjalan lagi menuju Yerusalem. Namun, para murid salah kaprah ketika Petrus menawarkan untuk memasang tenda dan tetap tinggal di gunung itu. Yesus mengingatkan mereka bahwa mereka harus turun. Para murid tidak dapat tinggal di sana, dan mereka harus melanjutkan perjalanan mereka bersama Yesus di Yerusalem.

Ada saat-saat dalam hidup kita bahwa kita percaya bahwa kita telah melihat dan mencapai kemuliaan Allah. Kita merasa sangat diberkati ketika kita berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus. Kita mengalami kedamaian selama retret dan meditasi kita. Kita terinspirasi setelah kita mendengarkan khotbah yang penuh semangat. Kita diberi energi kembali oleh lagu dan pujian. Hal-hal ini baik, tetapi mereka tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi akhir dari perjalanan. Kita harus turun bersama dengan Yesus, dan memikul salib kita sehari-hari. Yesus mengerti bahwa tidak ada kasih sejati tanpa penderitaan, tidak ada kemuliaan sejati tanpa rasa sakit, dan tidak ada keselamatan tanpa salib.

4 Maret 2020 lalu, rumah bagi orang tua dan orang cacat dijalankan oleh Misionaris Cinta Kasih di Aden, Yaman, diserang oleh para teroris. Empat suster terbunuh dalam serangan itu. Pekerjaan mereka untuk merawat orang tua di salah satu negara termiskin itu sendiri adalah tindakan heroik, tetapi kemuliaan sejati mereka terletak ketika mereka memberikan hidup mereka sepenuhnya bagi Tuhan dan orang-orang yang mereka cintai. Setiap pagi, para suster selalu berdoa bersama di komunitas, dan doa ini [dipercaya berasal dari St Ignatius dari Loyola] telah menginspirasi mereka melalui saat-saat terakhir kehidupan mereka:

“Tuhan, ajari aku untuk bermurah hati. Ajari aku untuk melayani-Mu sepantasnya; untuk memberi dan tidak menghitung imbalan, untuk berjuang dan tidak mengindahkan luka, bekerja keras dan tidak mencari istirahat, untuk bekerja dan tidak meminta imbalan, kecuali mengetahui bahwa aku melakukan kehendak suci-Mu. ”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Comments are closed.