Sehati dan Sejiwa

Sehati dan Sejiwa

Selasa Pekan Biasa XXIV, 15 September 2020 – Pw. Santa Maria Berdukacita

Bacaan: Ibr 5: 7-9; Luk 2: 33-35

“Sehati dan Sejiwa”

Setelah kita merayakan Pesta Salib Suci, pada hari ini kita kenangkan Bunda Maria Berdukacita. Tentu saja peringatan ini sangat berkaitan dengan peristiwa hidup Yesus, Sang Putera Maria. Sejak jawaban ‘ya’, yang diberikan Maria kepada malaekat Gabriel, seluruh hidupnya dan perjalanan hidupnya selalu ditegaskan oleh jawabam ‘ya’ itu. Menerima panggilan Tuhan, berarti juga menerima semua konsekuensi yang akan terjadi walaupun belum diketahui. Itulah yang terjadi pada diri Bunda Maria, yang setia dan rendah hati dalam melakukan kehendak Tuhan di dalam dirinya. Bukan sesuatu yang ringan, namun Maria selalu menyatukan dirinya kepada Tuhan yang memanggilnya dengan sikap ‘aku ini hamba Tuhan’. Maka relasi personal dengan Tuhan itulah yang menguatkan dirinya, terutama dalam diri Yesus Kristus, Putera yang dikasihinya.

Dukacita Bunda Maria ini sangat berkaitan erat dengan perjalanan hidup Yesus, Putera yang sangat dicintainya. Tanpa banyak kata, Bunda Maria mengikuti perjalanan Yesus dan hatinya selalu ada bersama Yesus. Maka sejak Yesus dilahirkannya, satu per satu penderitaan itu dialaminya dengan rendah hati. Dukacita Bunda Maria ini secara khusus dikenangkan dalam 7 dukacita Bunda Maria. Dari kelahiran hingga peristiwa salib, Maria selau ada bersama Puteranya, terutama dalam perjalanan salib Yesus, Maria selalu disampingnya. Penderitaan Yesus inilah yang juga dialami oleh Maria dan bukan hanya dirasakan, Maria sungguh menderita dan berdukacita. Hati Maria telah menyatu dengan hati Yesus Putera yang telah dikandung dan dibesarkannya.

Simeon sudah mengatakan kepada Maria, ketika Yesus dibawa dan dipersembahkan di kenisah, bahwa sebilah pedang akan menembus jiwa Maria. Tentu Maria tidak mengerti banyak mengenai hal itu, namun ia mengalaminya. Pedang yang menembus jiwa tentu lebih sakit daripada menembus daging, yang bisa dengan cepat disembuhkan. Ketika penderitaan diterima Yesus, maka Maria pun mengalami penderitaan itu. Pendampingan dan kehadiran Maria di sisi Yesus merupakan bentuk cintanya yang mendalam dan ia telah memberikan yang terbaik kepada Yersus hingga akhir hidupNya di dunia ini. Sikap kesetiaan terhadap panggilan Tuhan dan selalu menyatukan hati kepada Tuhan Yesus, juga seharusnya menjadi sikap hidup kita semua. Maria hingga hari ini masih terus mendampingi perjalanan hidup kita bahkan ia ikut mengalami pula perjuangan dan terkadang penderitaan kita manusia. Apakah kita juga selalu menyadari kehadiran Bunda Maria di dalam kehidupan kita?

Comments are closed.