RELASI DENGAN ALLAH, DASAR HIDUP KITA!

RELASI DENGAN ALLAH, DASAR HIDUP KITA!

Ayb. 1:6-22; Luk. 9:46-50

“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”  Demikian seruan Ayub yang kita dengar dari bacaan pertama hari ini. Seruan tersebut merupakan refleksi Ayub, sebagai orang percaya, atas pergumulan hidupnya. Perkataan Ayub tersebut menyatakan kesadarannya akan segala keberadaan yang menjadi miliknya yang adalah pemberian Tuhan. Tuhanlah yang memberi segala yang dia miliki, baik itu harta kekayaan maupun keturunannya. Lebih lanjut, refleksi ini menunjukkan bagaimana Ayub belajar menerima dan menanggapi penderitaannya dengan sikap iman. Dengan sikap iman itu, Ayub hanya mengarahkan hati dan pikiran kepada kedaulatan dan kehendak Allah.

Saudari-saudaraku yang dikasihi Allah, manusia dalam hidupnya: di mana pun, kapan pun dan dengan siapa pun dia hidup tidak pernah luput dari penderitaan. Penderitaan merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Itu sebabnya sikap Ayub ini dapat menjadi salah satu inspirasi bagi orang percaya dari kalangan dan zaman mana pun. Tidak ada seorang pun yang terluput dari penderitaan. Maka, penderitaan harus dimaknai dan diterima sebagai bagian integral dari kehidupan manusia tanpa kecuali. Kesadaran itu timbul dari diri Ayub, sebagai dampak dari pengenalannya akan Allah.

Dalam bacaan Injil hari ini, dikisahkan bahwa timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Fakta bahwa perikop ini terjadi segera setelah Yesus meramalkan sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya untuk kedua kalinya, menunjukkan bahwa para murid belum memahami makna ramalan Yesus. Para murid belum memiliki pengenalan yang mendalam terhadap hidup, visi dan misi kedatangan Yesus ke dunia ini. 

Saudari-saudaraku yang dikasihi Allah, bacaan-bacaan hari ini mengajak kepada kita untuk memiliki pengenalan dan kesatuan akan Allah setiap hari. Dari proses pengenalan akan Tuhan tersebut kita akan menemukan perspektif ilahi yang berasal dari hubungan pribadi kita dengan Tuhan serta mengarahkan pandangan iman kita untuk bisa memahami permasalahan yang dialami secara positif. Ayub memilih bersikap positif dengan berserah diri kepada Tuhan di dalam membentuk dirinya. Iman itulah yang menjadi sumber kekuatan Ayub dalam menghadapi penderitaannya. 

Demikian halnya dengan para murid dalam Injil dan kita saat sekarang ini. Dua ribu tahun setelah Yesus, kita nampaknya belum memahami arti dari apa yang diperlukan untuk menjadi anggota kerajaan Surga yang Yesus wartakan. Kita terus mengasosiasikan kebesaran dengan memiliki sesuatu atau memiliki otoritas untuk mendominasi. Tetapi, Yesus mengajarkan bahwa otoritas bagi siapa pun yang menjadi anggota Kerajaan Surga hanya dapat diterjemahkan sebagai pelayanan.

Selamat melayani, semoga Allah semakin dimuliakan!

One thought on “RELASI DENGAN ALLAH, DASAR HIDUP KITA!

  1. Aku ingin memiliki iman seperti Ayub.
    Yang terjadi Jika aku menghadapi masalah, aku sering bertanya kepada Tuhan dalam doa “mengapa ini terjadi padaku ya Tuhan?” dan lalu aku menjadi sedih. Kuatkanlah imanku ya Tuhan.

Comments are closed.

Comments are closed.