KETAATAN MENJADI PENGIKUT YESUS

KETAATAN MENJADI PENGIKUT YESUS

Ayb. 9:1-12,14-16;  Luk. 9:57-62

Hari ini Gereja memperingati tepat 1600 tahun meninggalnya Santo Hieronimus (347-420), Imam dan Pujangga Gereja. St. Hieronimus, karena pengetahuannya yang luas dan mendalam tentang Kitab Suci dan kecakapannya dalam bahasa Latin, Yunani dan Ibrani, ditugaskan oleh Paus Damasus untuk membuat terjemahan baru atas seluruh isi Alkitab dari bahasa Yunani dan Ibrani ke dalam bahasa Latin. Untuk menunaikan tugas suci itu, ia pindah ke Betlehem, tempat kelahiran Yesus. Ia tinggal di sana selama 30 tahun untuk bekerja, belajar dan bersemadi. Perjanjian Lama diterjemahkannya dari bahasa Ibrani dan Aramik ke dalam bahasa Latin, sedangkan Perjanjian Baru diterjemahkannya dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Latin. Hasil terjemahannya disebut Vulgata, yang berarti Populer, dan sampai kini masih dianggap sebagai terjemahan yang resmi dan sah oleh Gereja. la dinyatakan oleh Gereja sebagai Orang Kudus sekaligus sebagai seorang Pujangga Gereja yang besar.

Saudari-saudaraku yang dikasihi Tuhan, tanpa komitmen St. Haeronimus untuk mengikuti Yesus yang diwujudkan dengan ketekunan dan ketelitiannya, berpuluh-puluh tahun bekerja, belajar, bersemedi, mungkin kita tidak akan mempunyai terjemahan Kitab Suci seperti sekarang ini. Teladan dan semangat St. Haeronimus bisa menjadi inspirasi ketaatan bagi kita dalam mengikuti Yesus sebagaimana dimaksudkan dalam bacaan Injil hari ini. Injil mengisahkan tentang reaksi Yesus terhadap keputusan orang-orang yang bertekad mengikut-Nya, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Saya membayangkan semangat yang berapi-api dari orang yang mengatakannya. Tetapi ternyata respon Yesus diluar dugaan. Yesus bukannya menunjukkan rasa kagum dan senang, karena ada yang mau menjadi pengikutnya, tetapi sebaliknya Ia memberikan respon di luar dugaan, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Tekad dan ketaatan mengikut Yesus bukan hanya berarti kesediaan mengikut-Nya, tetapi juga harus merupakan kesiapsediaan menerima semua konsekuensi yang kadangkala tidak sesuai harapan. Yesus, di dalam Injil Matius, menekankan syarat penting dan mutlak untuk mengikuti Dia, yakni: menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Dia (bdk. Markus 8:34-38). Menyangkal diri artinya menjadikan Yesus sebagai pusat dalam hidup kita. Maka konsekuensinya, diri kita, rencana-rencana kita, keluarga atau kelompok kita bukan lagi menjadi prioritas yang utama dan pertama. Sebaliknya, kita diminta untuk bersedia melepaskan diri dari segala keterikatan baik bersifat materi maupun relasi, jabatan, status sosial, pada cara hidup dan masa lalu kita, dan kesediaan memberikan hidup, waktu, tenaga, juga pikiran bagi Tuhan.

“Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Sudah siapkah Anda mengikuti Tuhan dengan taat? Buatlah daftar langkah yang akan Anda jalani untuk menjadi pengikut Kristus yang benar dan taat. Tuhan memberkati!

One thought on “KETAATAN MENJADI PENGIKUT YESUS

  1. Romo, sungguh sulit bagi aku sebagai awam untuk melakukan yang Romo tulis
    “ kita diminta untuk bersedia melepaskan diri dari segala keterikatan baik bersifat materi maupun relasi, jabatan, status sosial, pada cara hidup dan masa lalu kita, dan kesediaan memberikan hidup, waktu, tenaga, juga pikiran bagi Tuhan”
    Mungkin para Romo & biarawati lebih bisa untuk hal diatas.
    Tetapi semenjak masa pandemi, aku punya begitu banyak waktu luang untuk mendengarkan sabda Tuhan melalui misa harian dan berbagai renungan katolik, yang dulu tidak pernah bisa aku lakukan. Terima kasih Tuhan Yesus atas hal positif yang Kau berikan padaku.

Comments are closed.

Comments are closed.