HIDUP YANG BERBUAH …

HIDUP YANG BERBUAH …

Sabtu, 24 Oktober 2020

Lukas 13: 1-9

Dalam Yesaya 5: 1-2, ada kisah indah sekaligus ironis dan tragis mengenai pohon anggur. Bibitnya termasuk unggul, tanahnya subur, dikelola secara profesional, bahkan setiap hari mungkin disapa dan diajak berbicara layaknya sahabat. Tetapi ketika musim buah tiba, anggur itu menghasilkan buah anggur kecut, masam dan mungkin bentuknya pun tidak menarik. Kok bisa? Jelas bukan kesalahan pengelola dan proses pengelolaannya …

Dalam Injil hari ini, perumpamaan serupa muncul sebagai tanggapan Yesus atas banyak orang yang merasa sok bersih dan sok suci. Ini kisah pohon ara yang tidak berbuah, meski sudah dikelola dengan sangat baik …

Secara sederhana, pohon anggur dan ara itu bisa dimengerti sebagai simbol diri dan hidup saya dan anda ….

Dulu memang pernah ada ajaran bahwa penderitaan: sakit, kemiskinan, kegagalan, bencana alam … sebagai hukuman dari Allah bagi manusia pendosa. Sekarang, ajaran itu sudah ditinggalkan, meski tidak sedikit yang masih mempercayainya. Sejak awal Allah menciptakan segalanya baik adanya. Dan ketika ciptaan itu rusak karena kuasa dosa dan kegelapan (lewat manusia), Tuhan memulihkannya kembali lewat tubuh dan darah PuteraNya.

Di sisi lain hidup serba kecukupan secara materi,  kuasa, kesehatan,  … merupakan tanda berkat Tuhan. Ini tak seluruhnya betul. Kalau semua yang kita anggap berkat itu berhenti pada dirinya sendiri, tidak ada yang mengalir pada sesama (apapun bentuknya),  maka berkat itu dengan cepat malah berubah menjadi racun yang mematikan baik dirinya maupun orang lain. Atau berbagai hal yang baik itu justru membuat hati kita terbagi antara mengabdi mammon dan Allah. Mengabdi dua tuan memang bisa membuat hidup ini mandul dan tidak berbuah …

Mengapa Doa-doa yang banyak kita lakukan itu, perayaan Ekaristi yang bertahun-tahun kita rayakan, retret dan rekoleksi, ziarah …dst. tidak mengubah kualitas hidup kita secara memadai? Mengapa setelah sekian lama hidup sebagai orang Katolik dengan segala warisan rohaninya, hidup kita terasa kurang menghasilkan buah sebagaimana diharapkan?

Ketika pertanyaan itu saya renungkan dalam retret pribadi, saya kesulitan menjawab. Seolah ada tabir yang membuat indra batin dan rohani saya mendadak tumpul dan ada godaan untuk membenarkan diri …

Sibuk dengan kegiatan rohani tanpa menterjemahkannya dalam konteks hidup kita (sekecil apapun), selalu ada bahaya menjadikan kegiatan rohani menjadi opium kesalehan. Kegiatan rohani yang indah dan selalu kita rindukan tetapi hanya berhenti pada kepuasan diri, tentu akan memandulkan hidup kita sebagai muridNya. Kerohanian kita mesti kita hayati sebagai kerohanian inkarnatoris: incarnated spirituality. Relasi kita dengan Tuhan kita ungkapkan dalam cara kita bekerja, cara kita bergaul cara kita berpikir … Kerohanian itu terekspresi dalam cara kita mengatasi kesepian, konflik, menyikapi hoax, sikap kita pada orang yang lagi susah dst. Kalau ini yang kita lakukan, hidup kita akan berbuah …

Comments are closed.