Kuasa dunia versus kuasa dan kesempurnaan Allah

Kuasa dunia versus kuasa dan kesempurnaan Allah

Luk 13:18-21

Hari ini ada pengalaman menarik. Angin kencang menerpa California selatan. Banyak pekerjaan yang terganggu. Perjalanan dan rencana-rencana yang harus dilakukan pun terhambat. Sekolah-sekolah yang sedang melangsungkan proses belajar-mengajar online harus dihentikan. Banyak rumah dan perkantoran tanpa listrik yang tentunya membuat banyak orang kecewa dan terganggu dengan banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Banyak pohon ditumbangkan oleh angin. Termasuk satu ranting besar pohon di depan rektori kami jatuh dan menghalangi para pejalan.

Sialnya, tenda yang biasa kami pakai untuk misa pun dihantam angin keras dan hampir-hampir diterbangkan bersama semua perabot misa. Hal ini memaksa misa pagi yang baru saja dimulai harus dihentikan. Tanpa banyak pikir, umat yang hadir langsung membantu kami membereskan semua yang perlu. Setelah itu mereka pun segera kembali ke rumah. Beberapa saat kemudian terdengar lagi berita bahwa bukan hanya angin kencang yang memporak-porandakan banyak rumah dan menumbangkan banyak pohon namun juga terjadi kebakaran di beberapa daerah sekitar yang memaksa banyak keluarga harus dievakuasi untuk mencari tempat perlindungan yang aman.

Apa yang bisa dikatakan di sini bahwa kekuatan alam yang muncul dalam bentuk angin kencang dan kebakaran, termasuk bencana alam lainnya seperti tanah longsor, banjir, tsunami, gempa bumi, merupakan fenomen-fenomen dunia dengan kekuatannya sendiri. Berbeda dengan bencana-bencana kemanusiaan lainnya seperti perang, pembunuhan, terorisme, bom bunuh diri dst, semua bencana alam tidak bisa dijinakkan atau dikontrol oleh manusia. Karena itu, berhadapan dengan fenomen-fenomen ini kita harus waspada, berusaha untuk sedapat mungkin menghindar dan mencari tempat aman jika ada bencana. Memang benar nasib manusia tidak bisa dipastikan sepenuhnya. Puji Tuhan karena kita masih diberi waktu dan kesempatan untuk menikmati hidup ini. Maka mari kita berjaga-berjaga, saling memperhatikan dan membantu satu sama lain. Tak lupa pula kita harus selalu mendekatkan diri dengan Tuhan, Pencipta segala sesuatu dan Pemberi hidup bagi kita manusia. Kita tahu bahwa manusia, berbeda dengan ciptaan lainnya, adalah satu-satunya makluk yang sadar akan dirinya, dengan kebebasan dan kehendak yang dianugerahkan Sang Pencipta. Ia sadar akan kekuatan-kekuatan dalam dirinya sendiri. Namun di saat yang sama, sadar akan kelemahan dan ketidaksempurnaanya di tengah misteri alam semesta yang begitu luas. Dalam Injil, Yesus mengingatkan agar kita pandai-pandai dalam membaca dan mengartikan tanda-tanda alam. Sebab di balik semua misteri hidup yang besar dan tak terselami ini, kita hanya bisa bertahan sejauh kekuatan manusiawi kita masih mengizinkan. Selebihnya kita banya bisa pasrah. Karena itu, seraya bersyukur atas semua anugerah yang kita dapat secara cuma-cuma dari Tuhan, kita juga diminta untuk selalu terbuka dan berbagi, terutama dengan mereka yang kekurangan, menderita dan tidak memiliki apa-apa. Banyak orang yang miskin. Banyak yang sakit. Tidak sedikit yang kehilangan harapan. Tidak memiliki arah hidup. Ada yang hidup sebatang kara. Menjadi homeless. Terutama di saat pandemi corona. Banyak orang dalam kesusahan dan merasa bersalah atas nasib yang mereka alami. Muncul beban penderitaan yang tidak bisa diselami dan terus melekat dalam diri. Semua ini menerpa manusia.

Apa yang bisa kita pelajari adalah bahwa penderitaan harus membuat kita merasa berbelas kasih dan bersolider satu sama lain. Penderitaan membuat kita belajar, berpikir lebih serius dan mendalam tentang makna dan tujuan hidup kita yang sesungguhnya, dengan bertolak dari kejadian-kejadian kecil, sederhana dan tak diperhitungkan. Seperti biji sesawi yang amat kecil, yang nampak tiada arti, namun bisa bertumbuh menjadi pohon yang besar dan burung hinggap pada dahan-dahannya. Penderitaan membuat kita masuk ke dalam relung hati kita yang paling dalam dan sadar bahwa hidup ini memang tidak sempurna. Namun di saat yang sama kita juga diingatkan bahwa kita bergantung satu sama lain. Bahwa di balik kekurangan dan penderitaan yang kita alami sekarang, kita tidak boleh berputus asa karena ada makna di balik setiap kejadian dalam hidup. Karena itu kita harus selalu menumbuhkan keyakinan bahwa Tuhan pasti setia dalam menjaga dan menyertai kita, percaya serta yakin bahwa hidup ini tidak akan sia-sia karena akan disempurnakan oleh Tuhan. Seperti ragi bagi adonan, “ada kuasa besar dan tersembunyi, bekerja dalam kesunyian, namun membawa dampak besar bagi banyak orang.” Bahwa di balik apa yang kelihatan, hingar-bingar dunia, ada sesuatu yang tidak kelihatan dan jauh lebih besar, misteri Ilahi dan kuasanya, yang menarik kita ke dalam kesempurnaannya, yang kendati belum kita alami sepenuhnya kini, namun pelan-pelan menampakkan diri sebagai tujuan utama hidup kita, yakni hidup dalam kuasa dan kesempurnaan Allah, dalam kendali dan kemuliaan Tuhan  sendiri.

Comments are closed.