RENUNGAN: 28 JULI 2026

RENUNGAN: 28 JULI 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo O.Carm

Matius 113:36-43

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Setiap hari kita melihat adanya ketidakadilan, kebencian, kejahatan dan masih banyak hal yang tidak baik lainnya. Mungkin kita bertanya dalam hati: “Mengapa Allah membiarkan orang-orang baik dan orang-orang jahat hidup berdampingan? Mengapa ketidakadilan, kebencian, dan kejahatan masih begitu nyata di dunia? Bahkan, di dalam Gereja sendiri mengapa kita masih menemukan kelemahan dan dosa?  Melalui Injil hari ini, Yesus memberikan jawaban. Ia menjelaskan perumpamaan tentang gandum dan lalang. Benih yang baik adalah anak-anak Kerajaan Allah, sedangkan lalang adalah anak-anak si jahat. Keduanya dibiarkan tumbuh bersama sampai musim panen, saat Allah sendiri akan memisahkan keduanya.

Dari Injil ini, ada tiga pesan yang kiranya dapat kita renungkan.

Pertama, marilah kita bertanya: saya ini gandum atau lalang? Mungkin kita langsung menjawab, “Tentu saya gandum.” Namun Yesus tidak mengajak kita menilai orang lain, melainkan memeriksa diri sendiri. Menjadi gandum berarti setiap hari berusaha hidup menurut kehendak Tuhan: jujur ketika ada kesempatan untuk berbohong, mengampuni ketika hati ingin membalas, tetap setia ketika iman diuji, dan mengasihi ketika lebih mudah untuk membenci. Gandum tidak dikenal dari penampilannya, tetapi dari buah yang dihasilkannya. Demikian pula seorang murid Kristus. Identitas kita bukan pertama-tama ditentukan oleh seberapa sering kita datang ke gereja, melainkan apakah hidup kita menghasilkan buah kasih, kerendahan hati, kejujuran, dan kepedulian kepada sesama.

Kedua, kesabaran Allah adalah kesempatan untuk bertobat. Mengapa Tuhan tidak langsung mencabut lalang? Karena Ia sabar. Kesabaran Allah bukan berarti Ia membiarkan kejahatan menang. Kesabaran-Nya adalah kesempatan agar manusia berubah. Kalau Tuhan memperlakukan kita hanya berdasarkan kesalahan-kesalahan kita, mungkin tidak ada satu pun dari kita yang layak berdiri di hadapan-Nya. Tetapi syukur kepada Allah, Dia tidak pernah berhenti memberi kesempatan. Setiap hari yang kita jalani adalah tanda bahwa Tuhan masih membuka pintu pertobatan. Karena itu, Injil hari ini bukan pertama-tama berbicara tentang hukuman bagi orang lain, melainkan tentang undangan bagi kita sendiri: Gunakanlah waktu yang masih Tuhan berikan untuk kembali kepada-Nya.

Ketiga, jangan mengambil alih tugas Allah sebagai hakim. Kita sering kali lebih mudah melihat lalang dalam diri orang lain daripada dalam diri sendiri. Kita cepat memberi cap: “Dia orang yang tidak baik. Dia pasti tidak akan berubah.” Padahal Yesus berkata bahwa pemisahan antara gandum dan lalang adalah tugas para malaikat pada akhir zaman, bukan tugas kita sekarang. Tugas kita adalah menaburkan kebaikan, mendoakan sesama, memberi teladan, dan tetap berharap bahwa rahmat Tuhan mampu mengubah hati siapa pun. Banyak santo dan santa dahulu adalah pendosa besar, tetapi karena rahmat Allah mereka mengalami pertobatan yang luar biasa. Maka jangan pernah menutup pintu harapan bagi siapa pun.

Saudara-saudari,

Injil hari ini juga mengingatkan kita bahwa akan ada musim panen. Akan ada saat ketika setiap orang mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Tuhan. Penghakiman terakhir bukanlah ancaman yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti kita, melainkan panggilan agar kita hidup dengan arah yang jelas: menuju kekudusan. Betapa indah janji Yesus pada akhir Injil: “Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka.” Inilah tujuan hidup kita. Kita dipanggil bukan sekadar menjadi orang yang baik menurut ukuran dunia, tetapi menjadi orang kudus yang memancarkan terang Kristus.

Mari kita mohon rahmat Tuhan, agar kita dapat menjadi “gandum” yang baik. Menaburkan kasih ketika orang lain menebarkan kebencian, membawa damai ketika ada pertengkaran, berkata jujur ketika kebohongan terasa lebih menguntungkan, dan tetap setia kepada Kristus di mana pun kita berada. Semoga ketika musim panen itu tiba, Tuhan berkenan menyambut kita ke dalam Kerajaan-Nya, sehingga bersama semua orang benar kita boleh “bercahaya seperti matahari” dalam kemuliaan Bapa.

Rahasia di Balik Kelezatan Semangkuk Bakso

Rahasia di Balik Kelezatan Semangkuk Bakso

Rm Yusuf Dimas Caesario


Siapa yang tidak suka bakso? Bagi kebanyakan orang, semangkuk bakso hangat dengan kuah yang gurih adalah kenikmatan yang tiada duanya. Namun, pernahkah kita merenungkan apa yang membuat kuah bakso itu begitu memikat lidah? Jawabannya bukan pada potongan daging yang besar atau hiasan mangkuknya, melainkan pada sejumput garam dan ulekan bawang putih yang sudah larut tak berbekas di dalam kuah.
Garam dan bumbu itu kehilangan wujudnya; mereka hancur, tidak terlihat, dan tidak pernah dipuji secara langsung saat orang menikmati bakso yang enak. Namun, justru karena mereka rela “hilang” dan melebur, seluruh mangkuk bakso itu menjadi punya rasa. Jika garam tetap bersukacah mempertahankan bentuk kristalnya di dasar mangkuk, ia justru akan membuat orang terpekik asin.


Isi Renungan
Dalam Injil Matius 13:31-35, Yesus membawa para murid-Nya ke ruang perenungan yang sangat mendalam melalui perumpamaan biji sesawi dan ragi.
Logika Kerajaan Surga yang ditawarkan Yesus di sini adalah logika tentang “kehilangan diri demi sebuah dampak”. Biji sesawi harus rela terkubur di dalam gelapnya tanah, hancur, dan kehilangan identitas aslinya sebagai biji agar bisa pecah dan menumbuhkan kehidupan baru yang menjadi tempat bernaung burung-burung. Begitu pula ragi; ia dimasukkan ke dalam tiga sukat tepung—jumlah yang sangat besar—lalu diaduk hingga ia benar-benar lenyap secara visual. Namun, justru saat ragi itu tidak lagi kelihatan, kekuatannya mendobrak dan mengembangkan seluruh adonan dari dalam.
Dalam tradisi mistik Katolik, perikop ini mengupas tuntas tentang esensi kerendahan hati (humilitas). Dunia modern mengajari kita untuk selalu tampil di depan, menunjukkan eksistensi, dan “menjual diri” agar diakui. Kita sering kali membawa mentalitas ini ke dalam kehidupan rohani; kita ingin kebaikan kita dicatat, pelayanan kita dipuji, dan kehadiran kita diperhitungkan.
Namun, Yesus menunjukkan bahwa kekuatan Gereja dan iman Katolik sejati terletak pada daya transformatif yang bekerja dalam sunyi. Seperti ragi yang larut atau bumbu yang melebur dalam kuah hangat, kita dipanggil untuk menjadi agen perubahan yang tidak haus panggung. Ketika kita dengan tulus memaafkan orang yang menyakiti kita tanpa perlu membuat pengumuman, ketika kita menyelesaikan tanggung jawab administrasi atau pekerjaan harian kita dengan jujur tanpa mengharapkan sanjungan, di situlah kita sedang menjadi ragi Allah. Kita meleburkan ego kita agar Kristus yang semakin besar, dan sesama dapat mengecap “kelezatan” kasih Allah melalui hidup kita.


3 Poin Refleksi

  1. Apakah dalam pelayanan, pekerjaan, atau kehidupan berkeluarga, saya masih sering merasa sakit hati dan kecewa jika kebaikan serta pengorbanan saya tidak dilihat atau tidak dipuji oleh orang lain?
  2. Biji sesawi harus pecah di dalam tanah agar bisa menjadi pohon yang meneduhkan. Hal egois apa dalam diri saya (gengsi, kemarahan, atau kesombongan) yang harus “dipecahkan” terlebih dahulu agar saya bisa menjadi berkat bagi sesama?
  3. Ketika lingkungan sekitar saya sedang dipenuhi oleh aura negatif (gosip, kemalasan, atau egoisme), apakah saya berani masuk sebagai “ragi” yang membawa pengaruh baik, atau saya justru ikut larut dalam arus negatif tersebut?

Doa Singkat


Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah mengosongkan diri-Mu dan mengambil rupa seorang hamba demi keselamatan kami. Ampunilah kami yang sering kali terlalu sibuk mengejar panggung dunia dan pujian semu. Karuniakanlah kami hati yang rendah, yang rela menjadi seperti ragi dan biji sesawi yang siap melebur dalam sunyi. Semoga hidup kami yang sederhana ini, oleh rahmat-Mu, dapat mengkhamirkan lingkungan di sekitar kami dengan semangat kasih, kebenaran, dan damai sejahtera-Mu. Amin.

Translate »