Yesus dipermuliakan ketika bergantung di kayu salib
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Ignasius Joko Purnomo
Yohanes 17:1-11a
Ketika kita mendengar kata “kemuliaan,” sering kali yang langsung terbayang adalah keberhasilan, kekuasaan, pujian, jabatan tinggi, atau kemenangan besar. Memang dunia mengajarkan bahwa orang mulia adalah orang yang dihormati, kaya, terkenal, dan berpengaruh. Tetapi dalam Injil hari ini, Yesus justru menunjukkan sesuatu yang berbeda. Kemuliaan sejati ternyata tampak melalui kasih, pengorbanan, dan ketaatan kepada kehendak Allah.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur dalam hati: apakah hidupku juga memuliakan Tuhan? Kadang-kadang kita hidup terlalu sibuk mengejar kemuliaan diri sendiri. Kita ingin dihargai, dipuji, diakui. Bahkan dalam pelayanan Gereja pun, godaan itu bisa muncul. Kita kecewa ketika tidak diperhatikan. Kita tersinggung ketika usaha kita tidak dipuji. Kita mudah marah ketika pendapat kita tidak diterima. Padahal Yesus mengajarkan bahwa hidup seorang murid bukanlah tentang meninggikan diri sendiri, melainkan menghadirkan kasih Allah melalui hidup sehari-hari. Yesus juga mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah sering kali menuntut pengorbanan. Dan kita tahu bahwa pengorbanan itu tidak selalu nyaman. Ada kalanya kita harus mengalah demi damai. Ada saatnya kita harus menahan ego demi menjaga keluarga tetap utuh. Ada waktunya kita harus memikul salib kehidupan: sakit penyakit, persoalan ekonomi, konflik keluarga, atau kekecewaan. Namun Injil hari ini mengingatkan kita bahwa salib yang dijalani dengan kasih tidak pernah sia-sia. Dunia mungkin melihat pengorbanan sebagai kelemahan, tetapi Tuhan melihatnya sebagai kemuliaan.
Hari ini Yesus mengundang kita untuk mengubah cara pandang kita tentang kemuliaan. Jangan hanya mencari kemuliaan menurut ukuran dunia. Sebab pujian manusia cepat berlalu. Jabatan bisa hilang. Kekayaan bisa habis. Popularitas bisa pudar. Tetapi kasih yang dilakukan dengan tulus akan tinggal di hadapan Allah. Karena itu, marilah kita belajar dari Yesus: taat kepada kehendak Bapa, setia dalam tugas sehari-hari, rela berkorban demi kasih, dan hidup bukan untuk meninggikan diri sendiri, tetapi untuk memuliakan Tuhan. Mungkin hidup kita sederhana dan tidak dikenal banyak orang. Tetapi bila hidup kita dipenuhi kasih, kejujuran, kesetiaan, dan pengorbanan, maka di mata Tuhan hidup itu sungguh mulia.
Semoga Sabda Tuhan hari ini meneguhkan kita semua untuk mengikuti teladan Kristus: memuliakan Bapa melalui kasih dan ketaatan dalam hidup sehari-hari. Semoga Tuhan memberkati kita semua.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
(Renungan Injil Yohanes 16:29-33)
Para Saudara yang terkasih dalam Kristus Tuhan.
Bayangkan, seorang mahasiswa merasa dirinya sudah sangat siap menghadapi ujian akhir. Semua materi sudah dibaca, catatan lengkap, bahkan ia sempat berkata kepada temannya, “Tenang saja, kali ini pasti aman.”
Namun saat ujian dimulai, ternyata soal-soalnya berbeda dari yang ia bayangkan. Panik mulai datang. Beberapa jawaban yang sebelumnya terasa mudah mendadak hilang dari ingatan. Keluar dari ruang ujian, ia berkata pelan, “Ternyata saya belum sekuat yang saya kira.”
Kadang manusia memang baru mengenal dirinya dengan jujur ketika berada dalam tekanan.
Dalam Injil hari ini, para murid berkata kepada Yesus bahwa sekarang mereka percaya kepada-Nya. Mereka merasa sudah mengerti siapa Yesus. Mereka merasa iman mereka sudah kuat.
Tetapi Yesus justru mengatakan sesuatu yang mengejutkan: akan datang saatnya mereka tercerai-berai dan meninggalkan-Nya sendirian.
Kata-kata Yesus ini bukan untuk mempermalukan para murid, melainkan untuk menyadarkan mereka bahwa iman tidak diuji saat semuanya nyaman, tetapi justru saat ketakutan, tekanan, dan penderitaan datang.
Sering kali kita juga seperti para murid. Saat hidup tenang, kita merasa iman kita kuat. Kita merasa setia kepada Tuhan. Tetapi ketika masalah datang — sakit, konflik keluarga, ekonomi sulit, kekecewaan dalam pelayanan, atau doa yang terasa tidak dijawab — barulah terlihat seberapa dalam iman kita sebenarnya.
Menariknya, Yesus tidak marah kepada para murid meskipun tahu mereka akan meninggalkan-Nya. Yesus tetap mengasihi mereka. Bahkan sebelum semuanya terjadi, Yesus sudah menyiapkan penghiburan: “Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”
Artinya, kemenangan bukan berasal dari kekuatan para murid, tetapi dari Yesus sendiri.
Inilah kabar baik bagi kita. Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna baru mengasihi kita. Ia tahu kita kadang rapuh, takut, mudah jatuh, bahkan lari dari salib kehidupan. Tetapi Tuhan tetap berjalan bersama kita dan mengangkat kita kembali.
Iman sejati bukan tentang merasa paling kuat. Iman sejati adalah tetap kembali kepada Tuhan meskipun kita sadar diri lemah.
Poin Reflektif
Doa Penutup
Tuhan Yesus, sering kali kami merasa kuat padahal hati kami rapuh. Ajarlah kami untuk tidak mengandalkan diri sendiri, tetapi percaya kepada-Mu yang telah mengalahkan dunia. Teguhkan iman kami agar tetap setia berjalan bersama-Mu. Amin.
RD Yusuf Dimas Caesario
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm