Setia dan Bijaksana

Setia dan Bijaksana

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Lukas 12:39-48

Rabu 21 Oktober 2026

              Dalam hidup dan kehidupan ini kita banyak mengucapkan janji atau sumpah; janji baptis, perkawinan, imamat, kaul, sumpah jabatan dan sebagainya.  Janji atau sumpah menuntut kesetiaan.

Sebab janji atau sumpah berarti menghadirkan Tuhan Allah sebagai saksi. Karenanya siapapun yang yang berjanji atau bersumpah harus berusaha menepati dalam hidup dan kehidupan ini, agar dapat mempertangungjawabkan di hadapan Tuhan Allah saat dipanggil menghadap-Nya. Kapan waktunya bagi kita untuk menghadap-Nya? Tidak ada seorangpun yang tahu akan hal itu.

Pertanyaan yang harus kita ajukan bukan kapan waktunya akan tiba, melainkan apa yang harus kita lakukan? Dalam warta Injil hari ini, Tuhan Yesus mengingatakan kepada kita agar selalu siap sedia menantikan saat kedatangan Tuhan. Perkataan Yesus ini sungguh serius, sehingga harus kita tanggapi dengan serius juga. Perlu terus kita sadari, dari satu sisi, kita diberikan banyak kesempatan dan banyak waktu oleh Tuhan sampai saat ini. Kita masih diberi-Nya kehidupan, kita masih diperkenankan untuk melangkah. Langkah kali kita hendaknya mencerminkan kesetiaan dan kebajikan. Namun di sisi lain, bagaimanapun juga kesempatan itu ada batasnya.

Kita tidak perlu takut dan cemas, yang penting kita seperti penjaga rumah yang setia dan bijaksana. Kita melakukan semua hal yang harus kita lakukan dengan setia, tulus, dan ikhlas, bukan dalam rangka mencari muka. Ketika sang tuan rumah datang – yaitu Yesus sendiri – kita didapati-Nya sedang mengerjakan apa yang memang seharusnya kita kerjakan. “Manusia melihat yang ada di depan matanya, tetapi Allah melihat hati” [1 Sam  16:7]. Tidak ada seorangpun lolos dari pandangan-Nya. Yesus akan menyambut hamba yang setia dan bijaksana dengan penuh sukacita. Mari kita tanggapi kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita dengan sukacita. Janganlah kita menyia-nyiakan waktu dan kepercayaan dari-Nya. Perbuatan baik sekecil apa pun itu, berharga di mata-Nya.

RENUNGAN: 20 OKTOBER 2026

RENUNGAN: 20 OKTOBER 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Lukas 12:35-38

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu pernah menantikan seseorang yang kita kasihi. Ketika orang itu hendak datang, kita mempersiapkan diri, merapikan rumah, dan berusaha agar semuanya siap. Kita tidak ingin ketika orang itu tiba, kita justru belum siap menyambutnya. Sikap seperti inilah yang ingin diajarkan Yesus kepada kita dalam Injil hari ini. Yesus bersabda: “Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala.” Ia mengajak para murid-Nya untuk selalu berjaga-jaga dan siap menyambut kedatangan Tuhan.

Berjaga-jaga berarti:

Pertama, berjaga-jaga berarti menjaga agar pelita iman kita tetap menyala.

Yesus menggunakan gambaran pelita yang tetap menyala. Pada zaman Yesus, pelita merupakan sumber penerangan dalam kegelapan malam. Jika pelita padam, orang akan kesulitan melihat jalan dan melakukan pekerjaannya. Demikian pula dengan iman kita. Iman adalah pelita yang menerangi perjalanan hidup kita. Ketika menghadapi kesulitan, iman membantu kita untuk tidak kehilangan harapan. Ketika mengalami kegagalan, iman menolong kita untuk bangkit kembali. Ketika berhadapan dengan persoalan yang sulit, iman mengingatkan kita bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian, sebab Tuhan menyertai kita.

Namun, kita perlu jujur mengakui bahwa pelita iman kita terkadang mulai redup. Kesibukan sehari-hari dapat membuat kita tidak lagi mempunyai waktu untuk berdoa. Persoalan hidup dapat membuat kita kecewa kepada Tuhan. Keinginan untuk memperoleh keberhasilan, kekayaan, dan kenyamanan dapat membuat kita lebih sibuk mengejar kepentingan duniawi daripada membangun hubungan dengan Allah.

Kedua, berjaga-jaga berarti setia melakukan kebaikan setiap hari.

Dalam Injil, Yesus berbicara tentang para hamba yang menantikan tuannya pulang dari pesta perkawinan. Mereka tidak mengetahui dengan pasti kapan tuannya akan tiba. Meskipun demikian, mereka tetap harus siap menyambutnya. Kita pun tidak mengetahui kapan Tuhan akan memanggil kita untuk menghadap-Nya. Karena itu, kita tidak boleh menunda-nunda pertobatan dan perbuatan baik. Kadang-kadang kita berpikir bahwa suatu hari nanti kita akan menjadi lebih baik. Nanti, kalau pekerjaan sudah selesai, kita akan mempunyai lebih banyak waktu untuk Tuhan. Nanti, kalau hati sudah tenang, kita akan berdamai dengan orang yang menyakiti kita. Nanti, kalau keadaan sudah lebih baik, kita akan lebih peduli kepada orang yang membutuhkan. Tetapi, apakah kita sungguh mengetahui bahwa kesempatan itu pasti masih ada? Injil hari ini mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk mengasihi Tuhan dan sesama adalah kesempatan yang kita miliki sekarang. Jika hari ini kita dapat mengampuni, jangan menunggu sampai hati kita semakin keras. Jika hari ini kita dapat membantu seseorang, jangan menunggu sampai orang itu tidak lagi membutuhkan bantuan. Jika hari ini kita dapat memperbaiki kesalahan, jangan menunggu sampai semuanya terlambat.

Ketiga, berjaga-jaga berarti menyadari bahwa hidup kita adalah kesempatan untuk mempersiapkan diri bertemu dengan Tuhan. Yesus mengingatkan bahwa tuan dapat datang pada tengah malam atau menjelang pagi. Waktu kedatangannya tidak diketahui oleh para hamba. Demikian pula, kita tidak mengetahui kapan hidup kita di dunia ini akan berakhir. Kesadaran ini bukan untuk menakut-nakuti kita. Sebaliknya, kesadaran ini mengajak kita untuk menghargai kehidupan yang dianugerahkan Allah. Sering kali kita begitu sibuk merencanakan masa depan, mengumpulkan harta, mengejar jabatan, atau membangun keberhasilan. Semua itu tidak selalu salah. Kita memang perlu bekerja, merencanakan masa depan, dan memenuhi tanggung jawab hidup. Namun, jangan sampai kita begitu sibuk mempersiapkan kehidupan duniawi sehingga lupa mempersiapkan diri untuk kehidupan kekal.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk memeriksa kembali kehidupan kita. Apakah pelita iman kita masih menyala? Apakah kita masih setia melakukan kebaikan? Apakah kita menggunakan waktu yang diberikan Tuhan untuk bertumbuh dalam kasih? Kita tidak mengetahui kapan Tuhan akan datang. Tetapi, kita dapat menentukan bagaimana kita menjalani hari ini. Marilah kita memulai dari hal-hal sederhana: menyediakan waktu untuk berdoa, mengikuti Ekaristi dengan penuh iman, mengampuni orang yang bersalah kepada kita, membantu mereka yang membutuhkan, dan melaksanakan tanggung jawab kita dengan jujur. Semoga ketika Tuhan datang dan memanggil kita, Ia mendapati kita bukan sebagai orang yang hanya sibuk mengejar kepentingan duniawi, melainkan sebagai murid-murid yang tetap setia, dengan iman yang menyala dan kasih yang nyata. Sebab, yang terpenting bukanlah mengetahui kapan Tuhan datang, melainkan memastikan bahwa setiap hari kita hidup dalam kesiapan untuk menyambut-Nya.

Translate »