Bertanggungjawab atas keselamatan sesama
RP Hugo Susdiyanto O.Carm
Rabu 12 Agustus 2026
Mat 18:15-20
Kesombongan adalah salah satu akar dosa pokok. Orang sombong cenderung mencari makna bagi diri sendiri. Kitab Suci menegaskan bahwa dosa manusia pertama adalah dosa kecongkakan, kesombongan (Sir 10:13-15, Rm 5:19, Tob 4:14). Sementara Katekismus Gereja Katolik menegaskan menegenai “dua jenis kesombongan: manusia menilai kemampuannya terlalu tinggi, dengan berharap bahwa ia dapat mencapai keselamatan tanpa bantuan dari atas; atau ia berharap terlalu berani bahwa ia dapat menerima pengampunan dari kemahakuasaan dan kerahiman Allah, tanpa transformasi, dan menjadi bahagia, tanpa jasa apa pun” [KGK 2092].
Dalam warta hari ini, Tuhan Yesus memberikan cara-cara memperbaiki keadaan hidup bersama. Kalau ada seorang saudara yang berdosa maka yang pertama-tama dilakukan adalah duduk bersama, empat mata dan saling berbicara satu sama lain. Inilah kiranya cara yang terbaik dan saat yang tepat untuk memberikan koreksi persaudaraan. Dengan cara tersebut diharapkan saudara yang berdosa mau bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Jika saudara yang berdosa itu tidak mendengar koreksi persaudaraan, maka mengikutsertakan satu atau dua orang lain untuk duduk bersama dan memberikan koreksi persaudaraan. Karena pendapat dua atau tiga orang bisa dianggap valid [Ul 19:1]. Kalau koreksi persaudaraan dengan beberapa orang juga tidak didengar maka perlu mencari waktu untuk duduk bersama sebagai satu komunitas persaudaraan. Alangkah menyedihkan jika tahap-tahap tersebut tidak diperhatikan.
Perlu kita sadari bahwa dalam kehidupan bersama, tugas kita adalah mengingatkan, bukan mengubah seseorang, sebagaimana telah difirmankan Tuhan melalui nabi Yeheskiel, “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu” [Yeh 3:18]. Berubah atau tidak itu sangat tergantung dari pribadi, tanggung jawab pribadi. Sebaliknya, “apabila engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu” [Yeh 3:19].
Dunia, masyarakat atau komunitas kita akan menjadi indah jikalau kita saling mendoakan, saling memberi koreksi persaudaraan jika ada yang berdosa atas dasar kasih. Mari kita bertanggungjawab atas kebaikan dan keselamatan sesama.