Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Posted by admin on February 7, 2026
Posted in Podcast | No Comments yet, please leave one
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Posted by admin on February 7, 2026
Posted in renungan | No Comments yet, please leave one
(Yes. 58:7-10; 1Kor.2:1-5; Mat. 5:13-16)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu, dalam Khotbah di Bukit, kita merenungkan Sabda Bahagia. Yesus mengajak kita untuk melihat hidup dengan cara pandang Allah: bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari kenyamanan, melainkan justru sering tumbuh di tengah keterbatasan, air mata, dan pergulatan hidup. Hari ini, Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dengan sebuah panggilan yang sangat konkret dan sekaligus menantang, “Kamu adalah garam dunia dan terang dunia.”
Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya menyampaikan sebuah janji yang indah dan menenteramkan hati, “Terangmu akan merekah seperti fajar.” Tetapi perhatikan, terang itu tidak muncul secara ajaib dari langit. Terang itu lahir ketika seseorang mau berbagi roti dengan yang lapar, membuka rumah bagi yang tak punya tempat, dan memperhatikan sesama yang menderita. Dengan kata lain, terang itu muncul dari tindakan kasih yang sederhana, dari kebaikan yang dilakukan dengan tulus, sering kali tanpa sorotan siapa pun.
Yesus dalam Injil memakai dua gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: garam dan terang. Garam tidak pernah tampil mencolok. Ia kecil, sederhana, bahkan nyaris tak terlihat. Namun tanpanya, masakan menjadi hambar. Terlalu banyak garam pun merusak rasa. Demikian pula terang. Sebatang lilin kecil di ruangan gelap mungkin tampak lemah, tetapi justru cahayanya itulah yang membuat kita bisa melangkah tanpa tersandung.
Menjadi garam dan terang berarti menghadirkan kebaikan yang meneguhkan, bukan yang menyakiti; menjadi kehadiran yang menenangkan, bukan menghakimi; menjadi cahaya yang menuntun, bukan sorotan yang menyilaukan. Terang Kristiani bukan untuk memamerkan diri, melainkan untuk membantu orang lain melihat harapan, terutama mereka yang sedang berada dalam kegelapan hidup: putus asa, lelah, kecewa, atau merasa gagal.
Namun, Saudara-saudari, panggilan ini tidaklah mudah. Bacaan kedua hari ini memperlihatkan pergulatan Rasul Paulus. Ia dengan jujur mengakui bahwa ketika mewartakan Injil, ia datang “dalam kelemahan dan dengan sangat gentar.” Pengalaman Paulus di Athena (pusat filsafat dan kecerdasan) adalah pengalaman pahit. Ia sudah berusaha sebaik mungkin, berbicara dengan logika dan argumentasi yang cemerlang, namun akhirnya ditertawakan dan ditinggalkan ketika ia mewartakan kebangkitan Kristus.
Pengalaman ini menyadarkan Paulus akan satu hal yang sangat mendalam: iman tidak lahir dari kepandaian manusia, bukan pula dari kata-kata indah dan meyakinkan, melainkan dari kuasa Allah sendiri. Karena itu, di Korintus, Paulus memilih untuk tidak mengandalkan kehebatan retorika, tetapi menyerahkan seluruh pewartaannya pada kekuatan Roh Kudus.
Di sinilah pesan Injil menjadi sangat nyata bagi kita. Menjadi garam dan terang bukan soal kemampuan luar biasa, bukan pula soal keberhasilan yang langsung terlihat. Seorang ibu yang dengan sabar mengajarkan doa kepada anaknya, meski anak itu belum mengerti sepenuhnya; seorang ayah yang tetap jujur meski dirugikan; seorang pelayan Gereja yang setia meski sering tidak dihargai, semua itu adalah bentuk garam dan terang yang bekerja secara diam-diam.
Kadang kita merasa gagal: kebaikan kita tidak dihargai, usaha kita seakan sia-sia, terang yang kita bawa terasa terlalu kecil. Tetapi Sabda Tuhan hari ini meneguhkan kita: Allah sendirilah yang memberi daya guna pada garam itu, Allah sendirilah yang membuat terang itu bercahaya pada waktunya. Tugas kita bukan memastikan hasil, melainkan setia menjadi alat di tangan-Nya.
Saudara-saudariku terkasih, jangan pernah lelah berbuat baik. Jangan pula putus asa ketika terang kita tampak redup. Seperti fajar yang perlahan mengusir malam, demikian pula kasih yang kecil dan setia akan membuka jalan bagi terang Allah. Mari kita terus berusaha menjadi garam yang memberi rasa dan terang yang memberi arah, apa pun situasi hidup kita. Sebab melalui hidup yang sederhana dan setia, kemuliaan Allah sungguh dapat dinyatakan. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Posted by admin on February 6, 2026
Posted in renungan | No Comments yet, please leave one
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
7 Februari 2026
1Raj 3: 4-11 + Mzm 119 + Mrk 6: 30-34
Lectio
Pada waktu kembali berkumpullah rasul-rasul itu dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
Meditatio
Yesus mengajak para muridNya beristirahat, karena mereka telah bekerja dengan penuh semangat. ‘Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!’, ajak Yesus. Mereka diajak beristirahat, karena begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Karya pelayanan para murid mendapatkan banyak perhatian. Kendati demikian, par murid harus berani beristirahat.
Mengapa mereka harus beristirahat? Bagaikan pisau harus diasah selalu, demikianlah mereka para murid, dan tentunya juga setiap orang yang aktif dalam karya, harus beristirahat. Orang harus berani beristirahat untuk mengumpulkan tenaga yang hilang. Beristirahat membuktikan keinginan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik lagi. Tentunya semakin indah lagi, kalau setiap orang berani beristirahat dan menarik nafas bersama dengan Tuhan Yesus sendiri. Dia yang mengajak beristirahat, tentunya Dia juga memberi waktu bagi kita.
Mungkin Yesus bersama para muridNya ini kurang praktis dalam menyingkirkan diri, karena memang ternyata banyak orang mampu mendahului mereka ke tempat yang mereka tuju. Maka ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak. Mereka telah datang mendahului. Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Belaskasih Allah tetap mengatas segala-galanya.
Dan kiranya haruslah kita usahakan mengambil waktu untuk beristirahat bersamaNya, artinya berdoa kepadaNya dan mendengarkan sabda dan kehendakNya. Dia Yesus pasti akan membantu kita. Bukankah Yesus sendiri yang menyatakan datanglah kepadaKu, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.
Oratio
Yesus Kristus, Engkau mengajak para murid untuk beristirahat setelah bekerja keras. Semoga kami pun berani beristirahat guna mengolah kemampuan kami, terlebih beristirahat bersamaMu, menarik nafas sehat bersamaMu selalu. Amin.
Contemplatio
‘Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!’.
Posted by admin on February 6, 2026
Posted in Podcast | No Comments yet, please leave one
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Posted by admin on February 6, 2026
Posted in renungan | No Comments yet, please leave one
Injil Markus 6:14-29
Rm Aji Pr
Kisah tragis kematian Yohanes Pembaptis dalam Markus 6:14-29 sering kali kita lihat sebagai akhir yang kelam bagi seorang pembawa pesan Tuhan. Namun, di balik narasi tentang pesta, tarian, dan kekejaman Herodes, terselip pelajaran berharga mengenai integritas dan cara kita menyampaikan kebenaran.
1. Kebenaran Tanpa Kompromi, Namun Berwibawa
Yohanes Pembaptis menegur Raja Herodes karena mengambil Herodias, istri saudaranya. Yohanes tidak sekadar menghujat atau memicu pemberontakan. Ia menyampaikan hukum Tuhan secara langsung: “Tidak boleh engkau mengambil isteri saudaramu!” (ayat 18).
Keanggunan atau “keeleganan” dalam menyampaikan kebenaran bukan berarti memperhalus dosa sehingga kehilangan maknanya. Sebaliknya, itu berarti memiliki otoritas moral yang tenang. Yohanes tidak takut, namun ia juga tidak bertindak sembrono. Ia berdiri di atas kebenaran objektif, bukan emosi pribadi.
2. Dampak Kebenaran yang “Elegan” bagi Pendengar
Menarik untuk dicatat reaksi Herodes terhadap teguran Yohanes:
”…ia segan akan Yohanes, karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang saleh dan suci… tiap-tiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya terombang-ambing, namun ia senang juga mendengarkan dia.” (ayat 20).
Inilah tanda bahwa kebenaran disampaikan dengan elegan. Meskipun isi tegurannya “pahit”, cara Yohanes hidup dan berbicara menciptakan respek. Herodes merasa terganggu sekaligus tertarik. Kebenaran yang elegan mampu menyentuh nurani yang paling keras sekalipun, membuat pendengarnya merenung bukannya langsung menutup diri.
3. Bahaya Manipulasi vs Kekuatan Integritas
Kontras dengan Yohanes, kita melihat Herodias yang menyimpan dendam dan menggunakan cara yang licik (manipulatif) untuk membungkam kebenaran. Pesta ulang tahun dan tarian Salome menjadi panggung bagi manipulasi.
Dunia mungkin melihat Yohanes kalah karena ia akhirnya dipenggal. Namun secara spiritual, Yohanes menang dengan tetap menjaga kehormatannya. Menyampaikan kebenaran secara elegan berarti siap menanggung risiko tanpa harus membalas dengan kebencian yang sama. Yohanes mati sebagai martir dengan integritas yang utuh, sementara Herodes hidup dalam ketakutan dan bayang-bayang penyesalan (ayat 14-16).
Refleksi untuk kita di era modern. Kita sering kali menyampaikan “kebenaran” di media sosial atau percakapan sehari-hari dengan nada menghakimi, kasar, atau sombong. Perikop Injil hari ini mengingatkan kita bahwa Kebenaran butuh Karakter: tanpa hidup yang saleh, kata-kata kita hanyalah bunyi yang bising. Elegan itu Tenang: kita tidak perlu berteriak untuk didengar; kebenaran memiliki frekuensinya sendiri. Fokus pada pemulihan, bukan Kejatuhan. Tujuan Yohanes menegur Herodes adalah agar raja itu berbalik kepada jalan Tuhan, bukan sekadar mempermalukannya. Semoga kita pun semakin mampu bersikap elegan dalam menyampaikan kebenaran tentang kebaikan dan belas kasih Tuhan. Amin.