HR SP MARIA DIANGKAT KE SURGA
(Why: 11:19a;12:1.3-6a.10ab;1Kor. 15:20-26; Luk 1:39-56)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, hari ini kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Gereja mengajak kita bergembira karena dalam diri Maria kita melihat sebuah janji Allah yang telah menjadi nyata yakni kehidupan manusia tidak berakhir dalam kematian, penderitaan, dan kehancuran, tetapi diarahkan menuju kemuliaan bersama Allah. Maria yang sepanjang hidupnya setia kepada Allah kini mengambil bagian dalam kemuliaan Putranya. Karena itu, perayaan hari ini bukan hanya berbicara tentang apa yang terjadi pada Maria, tetapi juga tentang harapan yang menanti kita semua. Maria adalah gambaran Gereja dan gambaran setiap orang beriman yang berjalan dalam kesetiaan menuju rumah Bapa. Apa yang telah Allah kerjakan dalam diri Maria menjadi tanda bahwa kesetiaan kepada-Nya tidak pernah sia-sia.
Bacaan pertama dari Kitab Wahyu memperlihatkan kepada kita suatu gambaran yang sangat indah, di mana seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dua belas bintang di atas kepalanya. Perempuan itu menghadapi naga yang besar dan mengerikan.
Gambaran ini berbicara tentang pergulatan antara kebaikan dan kejahatan, antara kehidupan dan kematian, antara Allah dan segala kekuatan yang melawan-Nya. Dalam tradisi Gereja, gambaran perempuan ini juga dipahami dalam kaitannya dengan Maria sekaligus Gereja. Maria tidak pernah hidup tanpa perjuangan. Ia bukan seorang perempuan yang dibebaskan dari kesulitan hanya karena dipilih Allah. Sebaliknya, justru karena kesetiaannya kepada Allah, ia harus melewati banyak jalan yang tidak mudah. Namun pada akhirnya, kejahatan tidak memperoleh kemenangan. Allah-lah yang menang. Gambaran itu menemukan penjelasan yang sangat nyata dalam Injil hari ini. Setelah menerima kabar dari malaikat bahwa ia akan menjadi ibu Sang Juruselamat, Maria tidak tinggal diam menikmati kebahagiaan panggilannya. Ia segera berangkat menuju pegunungan untuk mengunjungi Elisabet. Di sinilah kita melihat sesuatu yang sangat indah, Maria yang sedang mengandung Yesus justru pergi membawa Yesus kepada orang lain. Ia tidak menjadikan rahmat yang diterimanya sebagai milik pribadi. Ia menjadikan rahmat itu sebagai berkat bagi orang lain. Ketika Maria memberi salam, anak dalam kandungan Elisabet melonjak kegirangan dan Elisabet pun dipenuhi Roh Kudus. Kehadiran Maria menjadi kehadiran yang membawa sukacita karena di dalam dirinya hadir Kristus.
Di sinilah kita dapat memahami mengapa Maria disebut berbahagia. Kebahagiaan Maria bukan terutama karena hidupnya bebas dari masalah. Justru kita tahu bahwa sejak menerima panggilan Allah, hidup Maria penuh dengan 1 ketidakpastian. Ia harus menghadapi situasi yang secara manusiawi tidak mudah dipahami. Ia harus berhadapan dengan kemungkinan penolakan, kesalahpahaman, bahkan penderitaan. Namun di tengah semuanya itu Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Maria tidak mengetahui seluruh jalan yang akan ditempuhnya. Ia hanya mengetahui bahwa Allah memanggilnya dan ia memilih untuk percaya. Iman tidak selalu berarti mengetahui seluruh jawaban; iman berarti berani berjalan bersama Allah meskipun kita belum mengetahui seluruh jalan yang ada di depan kita.
Karena itulah setelah Elisabet menyapanya, Maria tidak berkata, “Lihat, akhirnya saya berhasil!” Maria justru menyanyikan Magnificat, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.” Maria tidak memusatkan perhatian kepada dirinya sendiri, tetapi kepada Allah yang berkarya dalam hidupnya. Ia sadar bahwa segala sesuatu yang terjadi bukan karena kehebatannya, melainkan karena Allah telah memperhatikan kerendahan hati hamba-Nya. Inilah salah satu alasan mengapa Maria menjadi teladan iman yang begitu indah. Semakin besar rahmat yang diterimanya, semakin besar pula kerendahan hatinya.
Saudara-saudariku terkasih, bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus membawa kita lebih dalam lagi kepada makna Hari Raya ini. Paulus berkata bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Artinya, kebangkitan Kristus bukanlah sebuah peristiwa yang hanya menyangkut Yesus sendiri. Kebangkitan-Nya adalah awal dari kebangkitan kita. Kristus adalah yang sulung; kita semua dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan-Nya. Karena itu, pengangkatan Maria ke surga harus kita lihat dalam terang kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Maria yang sejak awal menyerahkan seluruh hidupnya kepada Allah kini menjadi tanda pengharapan bagi Gereja, bahwa mereka yang setia kepada Kristus akan mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya.
Dengan demikian, Hari Raya Maria Diangkat ke Surga bukanlah sekadar perayaan devosi kepada Maria. Hari raya ini justru mengarahkan mata kita kepada Kristus yang telah mengalahkan maut. Maria menjadi tanda bahwa karya keselamatan Allah sungguh menghasilkan buah. Apa yang terjadi pada Maria mengingatkan kita bahwa tujuan akhir hidup kita bukanlah sekadar menjadi tua, memiliki banyak harta, mencapai jabatan, memperoleh kesuksesan, atau mengumpulkan sebanyak mungkin kenyamanan di dunia. Semua itu boleh kita usahakan, tetapi semuanya bukan tujuan terakhir. Tujuan terakhir hidup kita adalah persatuan dengan Allah. Karena itu, betapapun indahnya dunia ini, hati kita tidak boleh kehilangan arah menuju kehidupan kekal.
Saudara-saudariku terkasih, kalau kita memperhatikan kehidupan Maria, ada satu hal yang sangat kuat, Maria tidak hanya menerima rahmat, tetapi juga menjalani tanggung jawab dari rahmat itu. Ia menerima panggilan, lalu melayani. Ia menerima Yesus, lalu membawa Yesus kepada orang lain. Ia menerima sukacita, tetapi juga bersedia berjalan bersama Putranya sampai kaki salib. Ia tidak melarikan diri ketika 2 hidup menjadi sulit. Kesetiaan Maria tidak hanya tampak ketika segala sesuatu berjalan baik, tetapi justru menjadi semakin nyata ketika ia harus berdiri di bawah salib dan melihat Putranya menderita. Di sanalah kita melihat bahwa iman sejati bukanlah iman yang hanya kuat ketika hidup menyenangkan. Iman sejati adalah iman yang tetap bertahan ketika kita tidak memahami mengapa Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi dalam hidup kita.
Karena itu, perayaan hari ini juga menjadi penghiburan bagi kita yang sedang mengalami berbagai pergumulan. Mungkin ada di antara kita yang sedang sakit, sedang menghadapi persoalan keluarga, sedang mengalami kesulitan ekonomi, merasa kecewa karena harapan belum terwujud, atau bahkan sedang kehilangan orang yang kita cintai. Jangan merasa bahwa air mata dan penderitaan kita tidak memiliki arti di hadapan Tuhan. Maria sendiri berjalan melalui jalan yang penuh air mata. Tetapi jalan itu tidak berakhir di bawah salib. Jalan itu berakhir dalam kemuliaan. Demikian pula hidup kita. Kita mungkin sedang berada dalam suatu tahap yang berat, tetapi jangan mengira bahwa itulah akhir dari semuanya. Bersama Kristus selalu ada harapan.
Ada sebuah ilustrasi sederhana. Ketika kita melihat sebuah perjalanan yang panjang melalui jendela kendaraan, kita mungkin hanya melihat jalan yang sedang kita lalui: tanjakan, tikungan, hujan, bahkan jalan yang rusak. Tetapi pengemudi mengetahui bahwa jalan itu sedang membawa kita menuju tujuan. Demikian juga kehidupan kita. Kita sering hanya melihat bagian hidup yang sedang kita jalani hari ini. Kita tidak mengetahui seluruh jalan di depan kita. Tetapi Allah mengetahui tujuan akhirnya. Maria mengajarkan kepada kita untuk percaya kepada Sang Pengemudi kehidupan. Kita mungkin tidak memahami setiap tikungan yang harus kita lewati, tetapi kita percaya bahwa tangan Allah tidak pernah kehilangan kendali.
Karena itu, saudara-saudariku, marilah kita belajar dari Maria untuk menjadi pribadi yang semakin dewasa dalam iman. Jangan hanya meminta Tuhan mengubah keadaan kita; mintalah juga agar Tuhan mengubah hati kita menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, lebih mampu mengampuni, lebih peka terhadap penderitaan orang lain, dan lebih setia menjalankan tanggung jawab kita. Maria tidak menyimpan rahmat Allah untuk dirinya sendiri. Setelah menerima Yesus, ia segera pergi membawa sukacita kepada Elisabet. Maka pertanyaan sederhana bagi kita hari ini adalah: setelah menerima Kristus dalam Ekaristi, apakah kehadiran kita juga membawa sukacita dan pengharapan bagi orang-orang di sekitar kita? Apakah keluarga kita menjadi lebih damai karena kehadiran kita? Apakah orang yang sedang mengalami kesulitan merasa dikuatkan ketika bertemu dengan kita? Apakah kehadiran kita membuat orang lain semakin dekat kepada Tuhan?
Inilah yang juga menjadi aplikasi nyata dari bacaan kedua. Karena Kristus telah bangkit dan kita percaya akan kebangkitan, maka kita tidak boleh hidup tanpa harapan. Kita dipanggil untuk hidup sebagai orang-orang yang percaya bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian, pengampunan lebih kuat daripada dendam, kehidupan lebih kuat daripada kematian, dan Kristus lebih kuat daripada segala kekuatan yang 3 melawan-Nya. Keyakinan akan kebangkitan seharusnya membuat kita berani menjalani kehidupan sekarang dengan penuh iman. Kita bekerja dengan sungguhsungguh, mengasihi dengan tulus, melayani dengan rendah hati, mengampuni dengan hati yang lapang, dan tetap berbuat baik meskipun kadang kebaikan kita tidak dihargai. Sebab kita tahu, tidak ada satu pun kesetiaan dan kebaikan yang sia-sia di hadapan Allah.
Saudara-saudariku terkasih, Maria diangkat ke surga bukan karena hidupnya tanpa penderitaan, tetapi karena ia setia sampai akhir dalam kasih kepada Allah. Karena itu, jangan takut ketika hidup kita tidak selalu mudah. Jangan kecewa ketika doa kita belum segera mendapatkan jawaban. Jangan berhenti berbuat baik hanya karena kebaikan kita tidak selalu dihargai. Jangan kehilangan harapan hanya karena kita sedang berada dalam masa yang gelap. Pandanglah Maria. Ia telah berjalan lebih dahulu di jalan iman itu. Dari Nazaret menuju Betlehem, dari Betlehem menuju Mesir, dari kehidupan sederhana di Nazaret menuju pelayanan Yesus, dari kebahagiaan mengikuti Putranya menuju kesedihan di Kalvari, dan akhirnya menuju kemuliaan. Jalan kesetiaan memang tidak selalu mudah, tetapi jalan itu tidak pernah sia-sia.
Hari ini Maria berkata kepada kita melalui hidupnya, percayalah kepada Allah, meskipun engkau belum memahami semuanya; tetaplah setia, meskipun jalanmu berat; tetaplah mengasihi, meskipun engkau pernah terluka; dan tetaplah berharap, sebab hidupmu berada dalam tangan Allah. Semoga seperti Maria, kita pun semakin mampu berkata dalam setiap keadaan hidup, “Jadilah padaku menurut kehendakMu.” Dan semoga suatu hari nanti, setelah menyelesaikan perjalanan iman kita di dunia ini, kita pun boleh mengambil bagian dalam kemuliaan yang telah disediakan Allah bagi semua orang yang setia kepada-Nya. Maria yang telah sampai pada tujuan menjadi tanda bagi kita bahwa tujuan itu sungguh ada. Karena itu, marilah kita berjalan dengan iman, bertumbuh dalam kasih, dan jangan pernah kehilangan harapan. Tuhan memberkati kita semua. Amin. 4