Minggu Biasa XIX A
(1Raj. 19:9a.11-13a; Rom. 9:1-5; Mat. 14:22-33)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari berbagai macam badai. Ada badai yang datang dari luar diri kita, seperti persoalan keluarga, pekerjaan yang tidak kunjung selesai, masalah ekonomi, sakit penyakit, relasi yang retak, atau berbagai ketidakpastian tentang masa depan. Namun ada juga badai yang terjadi jauh lebih dalam, di dalam hati kita sendiri yakni rasa takut, kecewa, kesepian, kehilangan harapan, bahkan pergumulan iman. Ada saat-saat tertentu ketika kita merasa seolah-olah perahu kehidupan kita sedang dihantam gelombang dari segala arah. Kita sudah berusaha mendayung, tetapi angin terasa semakin kuat. Kita berdoa, tetapi seolah-olah Tuhan diam. Kita bertanya, “Tuhan, di manakah Engkau ketika saya sedang mengalami semua ini?” Pertanyaan seperti ini bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan orang beriman. Bahkan para murid Yesus sendiri pernah mengalaminya. Namun Sabda Tuhan hari ini memberikan satu penghiburan yang sangat kuat. Ketika hidup kita sedang diterpa badai, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia mungkin tidak selalu hadir dengan cara yang kita harapkan, tetapi Ia selalu hadir dengan cara-Nya sendiri.
Menarik bahwa sebelum para murid mengalami badai di tengah danau, Yesus sendiri terlebih dahulu naik ke gunung seorang diri untuk berdoa. Setelah mukjizat penggandaan roti, ketika orang banyak begitu antusias terhadap-Nya, Yesus justru memilih menyingkir dari keramaian. Ia tidak membiarkan diri-Nya terseret oleh popularitas, kekaguman orang, ataupun kesibukan pelayanan. Ia pergi ke tempat yang sunyi untuk berjumpa dengan Bapa. Di sana kita melihat bahwa kekuatan Yesus dalam menghadapi berbagai persoalan bukan pertama-tama berasal dari kemampuan manusiawi-Nya, melainkan dari relasi-Nya yang mendalam dengan Bapa. Ada sebuah pelajaran yang sangat penting bagi kita: orang yang terlalu sibuk dengan banyak hal tetapi kehilangan waktu untuk Tuhan pada akhirnya akan mudah kehilangan arah. Kita kadang mengatakan, “Saya tidak punya waktu untuk berdoa karena terlalu banyak pekerjaan.” Padahal mungkin justru karena kita tidak menyediakan waktu untuk Tuhan, banyak pekerjaan itu terasa semakin berat. Lima menit bersama Tuhan mungkin tidak langsung menyelesaikan semua persoalan kita, tetapi lima menit bersama Tuhan dapat membuat hati kita jauh lebih tenang dalam menghadapi persoalan.
Hal yang sama kita temukan dalam bacaan pertama. Nabi Elia sedang mengalami pergumulan yang berat. Ia datang ke gunung Horeb dan menantikan Tuhan. Lalu datanglah angin yang besar dan kuat, gempa bumi, dan api. Tetapi Tuhan ternyata tidak hadir dalam semua itu. Setelah semuanya berlalu, terdengarlah suara angin sepoi-sepoi basa. Dalam keheningan itulah Elia menyadari kehadiran Tuhan. Betapa indahnya pesan ini bagi kita. Kita sering mencari Tuhan hanya dalam hal-hal yang luar biasa: mukjizat, tanda-tanda besar, pengalaman rohani yang menggetarkan, atau jawaban doa yang langsung terlihat. Padahal sering kali Tuhan justru hadir dalam sesuatu yang sangat sederhana dan tenang, bisa dalam keheningan doa, dalam seseorang yang datang menghibur kita, dalam keluarga yang masih bertahan bersama, dalam kekuatan untuk bangun setiap pagi, bahkan dalam kemampuan untuk tetap berharap ketika semuanya terasa berat. Tuhan tidak selalu datang seperti badai; kadang Ia datang seperti angin sepoi-sepoi yang hampir tidak terdengar, tetapi mampu menenangkan hati yang gelisah.
Setelah berdoa, Yesus membiarkan para murid menyeberang dengan perahu. Ketika malam tiba, perahu mereka sudah berada jauh dari pantai dan diterpa gelombang karena angin sakal. Gambaran ini sangat mudah kita pahami sebagai gambaran kehidupan Gereja dan kehidupan kita masing-masing. Perahu adalah gambaran hidup kita. Kadang laut tenang dan perjalanan terasa menyenangkan. Tetapi ada kalanya angin berlawanan, gelombang semakin tinggi, dan kita merasa tidak mampu mengendalikan arah perahu. Para murid mungkin bertanya-tanya, “Di mana Yesus? Mengapa Ia membiarkan kami sendirian?” Bukankah kita pun sering bertanya demikian? Ketika keluarga kita mengalami persoalan, ketika doa belum mendapat jawaban, ketika penyakit datang, ketika pekerjaan tidak berjalan sesuai harapan, kita mungkin merasa Tuhan sedang jauh. Tetapi Injil hari ini justru menunjukkan bahwa ketiadaan Yesus dalam pandangan mata tidak berarti ketiadaan-Nya dalam kehidupan kita.
Menjelang pagi, Yesus datang kepada mereka dengan berjalan di atas air. Para murid ketakutan dan mengira bahwa yang datang itu hantu. Mereka bahkan berteriak karena takut. Tetapi Yesus segera berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Kalimat ini merupakan salah satu kalimat paling meneduhkan dalam seluruh Injil. Yesus tidak langsung menghentikan badai. Ia terlebih dahulu menenangkan hati para murid. Seolah-olah Yesus berkata kepada mereka, “Jangan takut terhadap apa yang sedang terjadi. Lihatlah Aku. Aku ada bersamamu.” Kadang kita meminta Tuhan mengubah keadaan, tetapi Tuhan justru terlebih dahulu mengubah hati kita agar mampu menghadapi keadaan itu. Kita meminta agar badai segera berhenti, tetapi Tuhan memberikan kekuatan agar kita mampu melewati badai tersebut. Kita meminta agar jalan di depan kita menjadi jelas, tetapi Tuhan berkata, “Percayalah kepada-Ku. Aku berjalan bersamamu.”
Petrus kemudian berkata, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Yesus menjawab singkat, “Datanglah!” Petrus pun turun dari perahu dan mulai berjalan menuju Yesus. Pada awalnya ia mampu. Selama matanya tertuju kepada Yesus, ia berani menghadapi gelombang dan angin. Tetapi ketika perhatiannya mulai beralih kepada kuatnya angin, ia menjadi takut dan mulai tenggelam. Bukankah ini juga sering menjadi pengalaman iman kita? Selama mata kita tertuju kepada Tuhan, kita masih mampu bertahan. Tetapi ketika perhatian kita terlalu terpusat pada persoalan, kita mulai tenggelam dalam kecemasan. Kita menghitung satu per satu masalah kita, membandingkan hidup kita dengan orang lain, memikirkan kemungkinan terburuk, lalu perlahan-lahan kehilangan kepercayaan kepada Tuhan.
Petrus tenggelam bukan semata-mata karena gelombang terlalu besar, tetapi karena pandangannya tidak lagi tertuju kepada Yesus.
Namun yang paling indah dari kisah Petrus bukanlah bahwa ia sempat tenggelam. Yang paling indah adalah bahwa ketika ia tenggelam, ia masih tahu kepada siapa harus berseru. Ia berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” Dan Injil mengatakan, “Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia.” Inilah wajah Allah yang kita imani. Tuhan tidak menunggu sampai kita menjadi sempurna baru Ia menolong kita. Ia tidak berkata, “Mengapa kamu kurang percaya? Rasakan sendiri akibatnya.” Tidak. Ketika Petrus jatuh, tangan Yesus segera terulur. Inilah kabar gembira yang sangat penting bagi kita, dimana kegagalan iman kita tidak pernah lebih besar daripada belas kasih Tuhan. Kita mungkin pernah jatuh, ragu, kecewa, bahkan jauh dari Tuhan. Tetapi selama kita masih mampu berseru, “Tuhan, tolonglah aku,” tangan-Nya tetap terulur kepada kita.
Bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma memberikan kedalaman yang luar biasa terhadap pengalaman iman ini. Paulus mengungkapkan kesedihan yang sangat besar karena bangsanya sendiri belum menerima Kristus. Hatinya terluka karena melihat orang-orang yang dikasihinya belum mengenal keselamatan yang datang melalui Kristus. Di sini kita menemukan bahwa iman bukan hanya soal keselamatan pribadi. Orang yang sungguh mengalami kasih Tuhan akan memiliki hati yang juga peduli terhadap keselamatan dan kehidupan orang lain. Paulus bahkan rela menanggung penderitaan demi mereka yang dikasihinya. Dengan demikian, pengalaman berjalan bersama Kristus di tengah badai tidak membuat kita menjadi pribadi yang hanya memikirkan diri sendiri. Sebaliknya, pengalaman itu justru membuat hati kita semakin peka terhadap orang lain yang sedang berjuang dalam badai kehidupannya.
Saudara-saudariku terkasih, mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang berada di dalam “perahu” yang sedang diguncang badai. Mungkin ada yang sedang menghadapi persoalan keluarga, pergumulan ekonomi, sakit penyakit, kesepian, kehilangan orang yang dicintai, atau persoalan yang tidak diketahui oleh siapa pun. Mungkin dari luar kita masih dapat tersenyum, tetapi di dalam hati kita sedang berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” Sabda Tuhan hari ini menjadi jawaban bagi kita, “Tenanglah! Ini Aku, jangan takut.” Jangan menyerah hanya karena badai belum berhenti. Jangan mengira Tuhan tidak hadir hanya karena kita belum melihat jalan keluar. Ingatlah Nabi Elia, Tuhan hadir dalam keheningan. Ingatlah para murid, Tuhan datang di tengah badai. Ingatlah Petrus, ketika ia mulai tenggelam, tangan Yesus segera terulur. Dan ingatlah Paulus, kasih kepada Tuhan memberinya kekuatan untuk tetap setia meskipun hatinya penuh pergumulan.
Karena itu, ketika hidup terasa berat, jangan berhenti berdoa. Ketika iman mulai goyah, jangan menjauh dari Tuhan. Ketika kita merasa tenggelam, jangan malu untuk berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Doa yang sederhana itu sudah cukup untuk membuka hati kita kepada pertolongan-Nya. Dan ketika Tuhan sudah mengulurkan tangan-Nya kepada kita, marilah kita juga menjadi tangan Tuhan bagi mereka yang sedang tenggelam. Ada orang di sekitar kita yang mungkin tidak membutuhkan nasihat panjang,
tetapi membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Ada yang tidak membutuhkan banyak uang, tetapi membutuhkan perhatian. Ada yang tidak membutuhkan kata-kata yang hebat, tetapi membutuhkan kehadiran. Seperti Tuhan mengulurkan tangan kepada Petrus, demikian pula kita dipanggil mengulurkan tangan kepada mereka yang sedang berada dalam badai kehidupan.
Akhirnya, marilah kita membawa satu keyakinan pulang dari perayaan Ekaristi hari ini, badai boleh datang, angin boleh bertiup, gelombang boleh mengguncang perahu kehidupan kita, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Mungkin kita tidak selalu memahami jalan-Nya. Mungkin kita tidak segera melihat pertolongan-Nya. Namun Ia tetap hadir. Ia hadir dalam keheningan seperti kepada Elia, Ia datang di tengah badai seperti kepada para murid, dan Ia mengulurkan tangan ketika kita mulai tenggelam seperti kepada Petrus. Karena itu, tetaplah percaya. Tetaplah berharap. Tetaplah berjalan. Dan ketika suatu saat kita merasa tidak sanggup lagi, jangan takut untuk berseru, “Tuhan, tolonglah aku!” Sebab tangan yang sama yang dahulu memegang Petrus masih terulur kepada kita sampai hari ini. Tuhan memberkati kita semua. Amin.