Santo Simon dan Yudas, doakanlah kami
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
RP Hugo Susdiyanto O.Carm
Lukas 6:12-19
Pesta St. Simon dan St. Yudas, Rasul
Hari ini, Gereja Katolik merayakan pesta Pesta St. Simon dan St. Yudas, Rasul. Kiranya yang dimaksudakan adalah Simon orang Zelot, aktivis bawah tanah yang melawan penjajahan Romawi, dan bukan Simon Petrus, serta Yudas Tadeus, yang dalam Kitab Suci dicatat dengan nama “Yudas anak Yakobus” [Luk 6:16; Kis 1:13], ada juga yang menyebutnya Saudara dari Yesus [Mat 13:55; Mark 6;3] dan jelas bukan Yudas Iskariot, yang mengkhianati gurunya.
Di atas langit ada langit, artinya sehebat, sepintar, atau sekaya apa pun seseorang, akan selalu ada orang lain yang lebih hebat, lebih pintar, atau lebih tinggi pencapaiannya. Karenanya dalam hidup dan kehidupan di bumi ini jangan pernah menyombongkan diri, terlebih mengabaikan daya ilahi. Kita bisa belajar dari hidup dan kehidupan Yesus. Ketika harus mengambil keputusan besar (memilih pemimpin atau murid yang akan meneruskan misi), Ia mendasarinya dengan relasi, kehadiran, dan komunikasi bersama Bapa-Nya dengan berdoa di atas bukit, bukan sekadar mengandalkan logika manusiawinya. Perlu kita sadari bahwa ilmu dan kemampuan manusia itu terbatas, sehingga perlu menyediakan ruang untuk terus belajar dan berkembang bersama Allah, yang tanpa batas.
Tampak kepada kita bahwa para rasul yang dipilih Yesus bukan dari kalangan elit atau orang pandai menurut ukuran dunia, melainkan orang-orang biasa dan sederhana, misalnya nelayan seperti Petrus dan Andreas, pemungut cukai, pribadi yang disamakan dengan pendosa seperti Matius, dan bahkan Yudas Iskariot, yang pada akhirnya mengkhianati-Nya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pemanggilan Tuhan melibatkan manusia apa adanya dengan segala kerapuhan kehendak bebas mereka. Kesebelas rasul bersama Matias setia menempuh jalan yang ditunjukkan Yesus, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” [Yoh 14:6]. Dengan kata lain, mereka berziarah bersama Allah. Kita yakin mereka selamat didunia dan di akhirat. Sementara Yudas Iskatiot berjalan sesuai dengan kehendaknya sendiri. Akibatnya dia tersesat dan gantung diri. Karenanya, dalam peziarahan hidup di dunia ini, mari kita berjalan, berziarah menuju tanag air surgawi bersama Allah. Ingat sabda-Nya, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Siapa yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” [Yoh 15:5].
Rm. Ignasius Joko Purnomo
Lukas 13:18-21
Dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Apa itu Kerajaan Allah? Kerajaan Allah adalah keadaan ketika Allah meraja dalam kehidupan manusia, ketika kasih, keadilan, pengampunan, dan damai sejahtera-Nya sungguh dihidupi. Kerajaan Allah bukan terutama soal kekuasaan atau kemegahan yang dapat dilihat orang, melainkan tentang bagaimana kehendak Allah menjadi nyata dalam kehidupan kita. Salah satu perumpamaan tentang Kerajaan Allah yang disampaikan Yesus adalah bahwa Kerajaan Allah itu seperti ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung sampai seluruh adonan mengembang. Ragi bekerja dari dalam. Kita tidak melihat bagaimana ragi bekerja, tetapi kita dapat melihat hasilnya ketika adonan mengembang. Demikian pula, kehadiran Kerajaan Allah tidak selalu ditandai oleh tindakan-tindakan besar yang menarik perhatian. Kerajaan Allah dapat hadir melalui tindakan sederhana yang dilakukan dengan tulus: seorang ibu yang dengan sabar merawat keluarganya, seorang ayah yang bekerja dengan jujur demi kebutuhan keluarganya, seorang anak yang menghormati orang tuanya, atau seseorang yang diam-diam membantu tetangganya yang sedang mengalami kesulitan. Mungkin tidak ada orang yang melihat perbuatan mereka. Mungkin juga tidak ada yang memberikan pujian. Namun, melalui tindakan-tindakan itu, kasih Allah sungguh bekerja dan membawa perubahan dalam kehidupan orang lain. Inilah yang dapat kita pelajari dari ragi: kita tidak harus menjadi pusat perhatian untuk membawa perubahan. Kita hanya perlu bersedia menjadi sarana bagi kasih Allah untuk bekerja melalui diri kita.
Saudara-saudari terkasih,
Persoalannya bukan apakah perbuatan baik kita diketahui atau tidak diketahui orang lain. Persoalan yang lebih mendasar adalah apa yang menggerakkan kita untuk berbuat baik. Kita bisa melakukan banyak kegiatan sosial, memberikan sumbangan, membantu orang miskin, bahkan aktif dalam pelayanan Gereja. Semua itu merupakan hal yang baik. Namun, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah semua itu sungguh lahir dari kasih, atau diam-diam kita mengharapkan pengakuan dan penghargaan? Kadang-kadang, ketika perbuatan baik kita tidak dihargai, kita merasa kecewa. Ketika bantuan kita tidak disebutkan, kita merasa tidak diperhatikan. Ketika orang lain mendapat pujian atas pelayanan yang kita lakukan, kita merasa tersinggung. Bahkan, mungkin kita berpikir, “Kalau tidak ada yang menghargai, untuk apa saya melakukannya?” Pengalaman seperti ini dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk memeriksa kembali ketulusan hati kita. Jangan sampai kita lebih sibuk memikirkan bagaimana orang melihat diri kita daripada memikirkan bagaimana orang yang kita bantu sungguh mengalami kasih. Yesus mengajak kita belajar dari ragi. Ragi tidak bekerja untuk mendapatkan pujian. Ragi tidak membutuhkan perhatian. Ia menjalankan fungsinya, dan hasil kerjanya dapat dirasakan oleh seluruh adonan. Demikian pula, kita dipanggil melakukan kebaikan bukan demi popularitas, melainkan karena kita telah mengalami kasih Allah dan ingin membagikannya kepada sesama. Bukan berarti kita harus menyembunyikan semua perbuatan baik. Ada kalanya kesaksian kita justru dapat menggerakkan orang lain untuk peduli dan berbagi. Namun, hendaknya kita tetap menjaga kemurnian motivasi. Jangan sampai orang yang membutuhkan pertolongan hanya menjadi sarana bagi kita untuk membangun citra diri yang baik. Sebab, orang yang menderita membutuhkan pertolongan yang nyata, bukan sekadar menjadi objek untuk menunjukkan bahwa kita adalah orang yang baik.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Semoga kita mampu menjadi seperti ragi: bekerja dengan rendah hati, melayani dengan tulus, dan membawa perubahan melalui tindakan-tindakan kecil yang setia. Dengan demikian, Kerajaan Allah semakin bertumbuh dan menjadi nyata di tengah keluarga, Gereja, dan masyarakat kita. Semoga Tuhan memberkati kita semua.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm