Menjadi Saksi Kristus

Menjadi Saksi Kristus

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Luk 4:38-44

Rabu 2 September 2026

Di mana Allah hadir, ketenangan, keselamatan, dan keberkahan akan menyertai-Nya. Hal ini tampak jelas dalam warta hari ini. Jarak antara rumah ibadah dengan rumah Simon tidak terlalu jauh. Dalam injil ditegaskan kepada kita, setelah Yesus meninggalkan rumah ibadah Kapernaum mampir ke rumah Simon, dan mertuanya sedang sakit. Sesampai di rumah itu, Yesus berdiri di sisi perempuan itu, dan menghadik demamnya, dan sembuhlah perempuan itu. Sebagai tanggapan atas rahmat kesembuhan, perempuan itupun melayani rombongan Yesus. Melayani merupakan tanda terima kasihnya kepada Tuhan, karena telah melakukan karya besar di dalam dirinya dan patut disyukuri.  

Selain mertua Simon, Yesus juga menyembuhkan banyak orang sakit. Ia memberi berkat penyembuhan dengan meletakkan tanganNya atas mereka, bahkan setan-setan pun tahkluk dan keluar sambil berteriak: “Engkau adalah Anak Allah”. Kenyataan ini mengajarkan kepada kita, jika kita hanya mengetahui dan berseru kepada Tuhan, tindakan tersebut tidaklah luar biasa. Sebab setanpun melakukan hal itu. Dari kita dituntut percaya kepada-Nya, bukan sekedar mengetahi dan berseru-seru kepada-Nya.

Bila kita perhatikan, warta Injil hari ini dari satu sisi mengisahkan realitas hidup manusia, ada yang mengalami sakit penyakit, ada juga yang dikuasai setan atau kuasa jahat sehingga terjerumus dalam dosa. Di sisi yang lain, kehadiran Yesus mengalahkan segalanya, yang sakit disembuhkan, bahkan setan pun tunduk kepadaNya. Pada hari ini iman kita diteguhkan oleh kehadiran Yesus Tuhan yang menyembuhkan, yang mengalahkan kuasa setan. Tanggapan kita, manusia atas kesembuhan adalah mengakuiNya sebagai satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat. Wujud nyata pengakuan iman kita kepada Yesus adalah melayani Dia. Dengan kata lain, setelah kita diselamatkan, kita diundang untuk menjadi saksi Kristus, sebagaimana terungkap dalam nyanyian dalam Madah Bakti no 455 Jadilah saksi Kristus:

Sesudah dirimu dislamatkan, jadilah saksi Kristus.

Cahaya hatimu jadi terang, jadilah saksi Kristus.

Tujuan hidupmu jadi nyata, jadilah saksi Kristus.

Melompati Pagar Nyaman: Ketika Rahmat Allah Menembus Sekat Kita

Melompati Pagar Nyaman: Ketika Rahmat Allah Menembus Sekat Kita

​Seorang perajin kayu tua pernah diminta memperbaiki jendela gereja tua di desanya. Warga desa mengenal betul siapa dia, bagaimana ia bekerja setiap hari, dan dari keluarga mana ia berasal. Namun ketika perajin itu menyelesaikan ukiran kaca yang begitu indah hingga menyebarkan cahaya yang menakjubkan saat tertimpa sinar matahari, warga justru bersungut-sungut. Mereka bukannya kagum pada keindahan cahaya itu, melainkan sibuk memperdebatkan dari mana orang biasa seperti dia mendapat keahlian semacam itu. Kebiasaan melihat seseorang dari sudut pandang yang lama sering kali membutakan kita dari karya Allah yang baru.

​Peristiwa di rumah ibadat Nazaret (Lukas 4:16-30) menggambarkan tragedi keagamaan yang sangat mendalam. Yesus datang kembali ke kampung halaman-Nya, membuka gulungan Kitab Nabi Yesaya, dan memaklumkan bahwa Tahun Rahmat Tuhan telah genap pada hari itu. Pada awalnya, semua mata menatap-Nya dengan kagum. Namun, atmosfer berubah drastis ketika Yesus mulai menelanjangi mentalitas eksklusif mereka. Orang Nazaret menginginkan “keuntungan khusus” karena hubungan kekeluargaan dan kedaerahan. Mereka ingin Yesus melakukan mukjizat seperti di Kapernaum demi kepuasan dan kebanggaan kelompok mereka sendiri.

​Yesus menolak dijadikan “aset lokal”. Ia mengingatkan dua peristiwa Perjanjian Lama yang amat menohok bagi warga Nazaret: Nabi Elia yang diutus bukan kepada perempuan Israel, melainkan kepada janda di Sarfat (wilayah Sidon/kafir), serta Nabi Elisa yang menahbiskan kesembuhan bukan bagi penderita kusta di Israel, melainkan Naaman dari Siria. Pesan Yesus sangat tajam: kasih keselamatan Allah bersifat universal, radikal, dan tidak pernah dapat dimonopoli oleh satu kelompok, tradisi, atau identitas tertentu. Kemarahan warga Nazaret hingga berniat mencelakakan Yesus memperlihatkan betapa rapuhnya iman yang didasari oleh rasa memiliki yang keliru. Ketika kebenaran Allah mengusik kenyamanan dan egoisme kita, akankah kita bertobat, atau justru menolak-Nya?

​Tiga Poin Refleksi

  • Kepekaan terhadap Kehadiran-Nya: Apakah keterbiasaan kita dalam menjalan ritual keagamaan membuat hati kita tumpul untuk mengenali wujud kehadiran Tuhan dalam diri orang-orang biasa di sekitar kita?
  • Melepaskan Hak Milik atas Kasih Allah: Apakah kita masih sering merasa lebih layak menerima rahmat Tuhan dibanding orang lain yang berbeda pandangan, latar belakang, atau kelompok dengan kita?
  • Keberanian Melangkah di Tengah Penolakan: Saat niat baik atau kebenaran yang kita suarakan tidak diterima oleh lingkungan terdekat, maukah kita tetap tenang dan melangkah maju seperti Yesus yang lolos dari ancaman dan meneruskan misi-Nya?

​Doa

​Ya Tuhan, bukalah hati kami agar tidak picik dan tidak mengotakkan kasih-Mu demi kenyamanan kami sendiri. Berilah kami kerendahan hati untuk selalu mengenali suara-Mu dalam setiap peristiwa hidup. Amin.

RD Yusuf Dimas Caesario

Translate »