Dengan beriman kita malah diminta mengutamakan Tuhan
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Yusuf Dimas Caesario
Ada sebuah cerita tentang sepasang suami istri yang baru saja merenovasi rumah mereka. Sang suami ingin ruang keluarga dicat warna biru langit agar terasa tenang, sedangkan sang istri bersikeras memilih warna hijau daun demi suasana segar. Karena tidak ada yang mau mengalah, suasana rumah menjadi tegang selama berhari-hari. Akhirnya, sang tukang cat memberikan solusi tak terduga: ia mengecat dinding tersebut dengan warna abu-abu polos. Rumah memang menjadi “damai” dan tidak ada lagi pertengkaran, tetapi suasananya menjadi dingin, kaku, dan suram. Kedua belah pihak sama-sama tidak bahagia.
Terkadang, demi menjaga apa yang kita sebut sebagai “kedamaian”, kita memilih untuk berkompromi secara keliru. Kita memilih mendiamkan masalah, menyembunyikan kebenaran, atau mengorbankan prinsip penting hanya agar suasana di permukaan terlihat tenang dan aman-aman saja.
Teks Injil Matius 10:34 – 11:1 mungkin menjadi salah satu sabda Yesus yang paling mengejutkan dan sulit dicerna jika dibaca sekilas. Yesus berkata, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Beliau bahkan melanjutkan dengan menggambarkan pertentangan yang akan terjadi di dalam keluarga sendiri.
Bagaimana mungkin Yesus, yang kita imani sebagai Raja Damai, justru membawa pedang dan pemisahan?
Secara teologis dan logis, “pedang” yang dimaksud Yesus bukanlah senjata untuk saling membunuh, melainkan sebuah simbol pemisahan yang tegas. Pedang itu memotong dan memisahkan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang merupakan komitmen sejati dan mana yang sekadar kepatuhan formalitas. Kedamaian yang dibawa Yesus bukanlah kedamaian semu yang lahir dari kompromi dengan dosa atau kenyamanan duniawi. Kedamaian Yesus adalah kedamaian yang berakar pada kebenaran Allah, dan kebenaran itu sering kali menuntut sebuah pilihan yang radikal.
Dalam tradisi Katolik, teks ini menggarisbawahi prinsip kemuridan (discipleship). Yesus menantang prioritas hati kita: “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Tuhan tidak sedang menyuruh kita membenci keluarga kita; perintah kelima dalam Dekalog justru mewajibkan kita menghormati orang tua. Namun, Yesus menegaskan bahwa kasih kepada Allah harus menjadi fondasi utama. Ketika nilai-nilai iman kita bertabrakan dengan arus dunia—bahkan ketika arus itu datang dari orang-orang terdekat yang kita kasihi—kita dituntut untuk berani mengambil sikap, memikul salib kita, dan mengikut Dia. Mengikuti Yesus berarti siap menghadapi konsekuensi ditolak atau tidak dipahami, demi mempertahankan kesetiaan kita pada kebenaran-Nya.
Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah kebenaran dan jalan hidup kami. Berikanlah kami keberanian yang radikal untuk senantiasa memilih Engkau di atas segala kenyamanan dan kompromi duniawi. Jamahlah hati kami agar kami tidak takut memikul salib dan menghadapi penolakan demi mempertahankan iman kami. Jagalah keluarga dan komunitas kami, agar kedamaian yang tercipta di antara kami bukanlah kedamaian semu, melainkan kedamaian sejati yang bersumber dari kasih dan kesetiaan kami kepada-Mu. Amin.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
(Yes. 55:10-11; Rom. 8;18-23; Mat. 13:1-23)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, pernahkah kita memperhatikan seorang petani ketika mulai menabur benih? Ia berjalan perlahan sambil menghamburkan benih ke segala arah. Dari kejauhan mungkin tampak seolah-olah ia sedang membuang-buang benih. Mengapa tidak memilih tanah yang baik saja? Mengapa tetap menabur di tempat yang berbatu, di pinggir jalan, atau di semak-semak? Namun seorang petani tahu bahwa menabur selalu membutuhkan harapan. Ia tidak pernah memulai pekerjaannya dengan pesimisme. Ia percaya bahwa di antara sekian banyak benih yang ditebar, pasti ada yang menemukan tanah yang subur dan menghasilkan panen yang berlimpah. Begitulah Allah memperlakukan kita.
Dalam Injil hari ini, Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai penabur yang tidak pernah lelah menaburkan Sabda. Menariknya, Sang Penabur tidak memilih-milih tempat. Ia tetap menabur, bahkan di tanah yang tampaknya tidak menjanjikan. Hal itu menunjukkan betapa besar kasih Allah. Ia tidak pernah berhenti berharap kepada manusia. Bahkan ketika manusia sering menolak-Nya, Allah tetap datang, tetap berbicara, tetap mengetuk pintu hati setiap orang.
Bacaan pertama dari Kitab Nabi Yesaya semakin memperjelas makna itu. Tuhan berfirman, “Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke sana sebelum mengairi bumi, demikian pula firman yang keluar dari mulut-Ku; firman itu tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia.”
Betapa indah gambaran ini. Hujan tidak pernah memilih sawah milik siapa yang akan dibasahi. Ia turun kepada semua. Demikian pula Sabda Allah. Ia selalu hadir, selalu memberi kehidupan, selalu membawa rahmat. Persoalannya bukan pada hujannya, melainkan pada tanah yang menerimanya. Tanah yang gembur akan menyerap air dan menghasilkan kehidupan, sedangkan tanah yang keras akan membiarkan air mengalir begitu saja. Bukankah demikian pula hidup kita? Setiap hari Tuhan menaburkan Sabda-Nya melalui Kitab Suci, homili, nasihat orang tua, teladan orang-orang kudus, bahkan melalui peristiwa-peristiwa kecil yang kita alami. Namun tidak semua Sabda itu berbuah. Kadang Sabda hanya singgah di telinga, tanpa pernah turun ke hati.
Yesus kemudian menjelaskan empat macam tanah. Tanah di pinggir jalan melambangkan hati yang tertutup sehingga Sabda segera dirampas. Tanah berbatu melambangkan orang yang mudah bersemangat, tetapi cepat menyerah ketika menghadapi kesulitan. Semak berduri melambangkan hati yang dipenuhi kekhawatiran, ambisi, dan kenikmatan dunia sehingga Sabda perlahan-lahan tercekik. Sedangkan tanah yang baik adalah hati yang mendengarkan, menghayati, dan setia melaksanakan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Saudara-saudariku terkasih, sering kali kita berpikir bahwa masalah hidup berasal dari luar diri kita. Padahal Yesus mengajak kita melihat lebih dalam. Persoalan
utamanya bukanlah benihnya, sebab benih itu selalu baik. Bukan pula Penaburnya, sebab Allah tidak pernah salah menabur. Yang perlu terus diperbarui justru hati kita sebagai tanah tempat Sabda itu bertumbuh.
Lalu bagaimana kita menggemburkan tanah hati itu? Di sinilah bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma memberi jawaban yang sangat menghibur. Paulus mengatakan bahwa seluruh ciptaan sedang mengeluh dan menantikan saat pembebasan. Dunia ini belum sempurna. Hidup kita pun belum sempurna. Ada penderitaan, air mata, kegagalan, penyakit, konflik, dan berbagai salib kehidupan. Namun Paulus mengingatkan bahwa semua penderitaan itu tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Artinya, tanah hati yang subur bukanlah hati yang tidak pernah terluka, melainkan hati yang tetap berharap kepada Tuhan di tengah penderitaan. Justru sering kali air mata pertobatan menjadi hujan yang melembutkan hati yang selama ini mengeras. Kesulitan hidup dapat menjadi cangkul yang menggemburkan tanah jiwa kita agar semakin siap menerima Sabda Tuhan.
Saudara-saudariku terkasih, barangkali hari ini kita merasa diri lebih mirip tanah berbatu daripada tanah yang subur. Mungkin hati kita sedang dipenuhi kekhawatiran. Mungkin kita sedang kecewa kepada seseorang. Mungkin kita sedang lelah berdoa atau mulai kehilangan semangat mengikuti Tuhan. Jangan berkecil hati. Allah tidak pernah berhenti menabur. Ia tidak menyerah hanya karena tanah kita belum siap. Setiap hari Ia datang kembali membawa benih yang baru. Setiap hari Ia memberi kesempatan baru. Setiap hari Ia percaya bahwa hati kita masih bisa diolah menjadi tanah yang subur.
Marilah kita bertanya kepada diri sendiri, tanah macam apakah hati saya hari ini? Apakah Sabda Tuhan hanya saya dengarkan, atau sungguh saya hidupi? Apakah Firman itu hanya berhenti di gereja, atau ikut pulang ke rumah, ke tempat kerja, ke ruang kuliah, ke komunitas, dan mengubah cara saya berbicara, mengampuni, melayani, serta mengasihi?
Semoga Ekaristi yang kita rayakan hari ini semakin menggemburkan hati kita. Semoga Sabda yang kita dengarkan tidak berlalu begitu saja, tetapi berakar, bertumbuh, dan menghasilkan buah yang melimpah: buah kasih, pengampunan, kesetiaan, kerendahan hati, dan pengharapan. Dengan demikian, seperti hujan yang tidak pernah turun sia-sia, Sabda Tuhan pun tidak kembali dengan sia-sia dari dalam hidup kita. Sebaliknya, Sabda itu akan menjadi berkat bagi keluarga kita, Gereja, masyarakat, dan akhirnya menghantar kita kepada panen yang sejati, yaitu keselamatan kekal bersama Kristus. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm