Hari Raya Kenaikan Tuhan

Hari Raya Kenaikan Tuhan


(Kis. 1:1-11; Ef. 1:17-23; Mat. 28:16-20)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, hari ini kita merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan. Ia telah datang ke dunia dan telah melaksanakan tugas perutusan-Nya, yakni tugas menyelamatkan manusia. Setelah menunaikan segalanya, Ia kembali ke surga, tinggal bersama Bapa-Nya. Kenaikan-Nya ke surga adalah tanda, materai bahwa tugas-Nya di dunia ini telah selesai. Namun sebelum naik ke surga Ia secara resmi mengutus murid-murid-Nya, juga para pengganti mereka untuk meneruskan pewartaan karya penyelamatan Allah yang sudah Ia laksanakan di dunia. Yesus menyadari bahwa tugas para murid-Nya itu tidak ringan dan tidak mustahil akan berhadapan dengan banyak kesukaran. Karena itu, agar mereka tidak takut menghadapi kesulitan-kesulitan itu, Ia berjanji untuk selalu menyertai mereka dan menguatkan mereka, “Aku menyertai kami senantiasa sampai pada akhir jaman”. Inilah janji yang menghibur dan meneguhkan para murid termasuk kita semua yang ada di sini.
Saudara-saudariku terkasih, sebagai teman kita saat berziarah di dunia ini Yesus menyediakan sarana-sarana keselamatan yang dapat kita perolah, sarana yang mengantar kita kelak ke tempat yang Ia janjikan. Pertama, iman yang kita miliki. Iman yang membuat kita selalu sadar dan tahu apa artinya hidup dan kematian kita. Kita tahu dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi. Sarana kedua, Sakramen Pembaptisan. Sakramen ini telah menjadikan kita sebagai anak-anak Allah dan karena itu berhak mengalami persaudaraan dengan-Nya. Inilah jaminan keselamatan kita. Kita tidak mengembara tanpa arah, ada Tuhan yang penjadi penuntun kita. Belum cukup dengan jaminan ini, Ia masih memberi kita bekal dalam pengembaraan dan dalam menunaikan tugas perutusan kita sebagi rasul-rasul-Nya. Bekal itu pertama-tama
adalah Ekaristi Kudus. Di dalam Ekaristi Kudus kita bersatu dengan Kristus. Itulah satu bukti nyata bahwa Ia beserta kita.
Yesus berkata kepada kita, “pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarilah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku-perintahkan kepadamu”. Sekarang, bagaimana jawaban kita terhadap rahmat yang Ia tawarkan sekalgus mengandung sebuah perutusan itu? Tentu tidak ada jawaban lain selain bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya. Terima kasih karena Tuhan telah mengerjakan dan menyiapkan segala sesuatu bagi kita. Terima kasih karena apa yang Ia siapkan di hari mendatang yakni kebahagiaan kekal bagi kita. Syukur karena di depan kita terbentang satu masa depan yang menggembirakan.
Namun, saudara-saudariku terkasih, kalau kita jujur, ternyata kita merasa terlalu sibuk dengan tugas keseharian kita, seolah-olah tidak lagi punya waktu untuk mengucapkan kata: “Terima kasih Tuhan”. Padahal cinta-Nya terus mengalir dalam hidup kita. Karena itu mari kita menyadari begitu besar kasih Allah yang kita alami setiap hari, setelah itu barulah kita mampu mengucap syukur. Setiap apa yang kita kerjakan juga bisa menjadi ucapan syukur asalkan kita mengingat nama-Nya. Mengingat nama-Nya hendak mengatakan bahwa kita selalu berada pada jalan yang Ia tetapkan, dalam ajaran dan perintah-Nya.
Tentu saja, kita tidak lagi dituntut seperti halnya para misionaris jaman dulu di mana mereka pergi ke pelosok pedalaman, ke negara-negara yang belum mengenal Yesus, untuk membaptis mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus, tetapi kita bisa merasul di tengah keluarga kita, komunitas kita, lingkungan kita, paroki kita. Singkatnya, pada mereka yang kita jumpai setiap hari, kita bisa menjadi rasul ulung dengan menjadi saksi kasih-Nya yang nyata, dalam kata, dalam sikap, dalam teladan
kebaikan, pengampunan, kerendahan hati, keadilan, kejujuran dan seterusnya. Inilah perutusan kita sesungguhnya, sehingga orang yang melihat kita meskipun tidak dibaptis bisa meniru kita dalam berbuat kebaikan sehingga mereka pun sampai kepada Allah dan beroleh keselamatan. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Pemimpin kepada Kebenaran

Pemimpin kepada Kebenaran

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Yohanes 16:12-15

Rabu, 13 Mei 2026

Kita tentu mengenal dengan baik salah satu kalimat yang tercantum pada hymne guru, “Engkau sebagai pelita dalam kegelapan”. Yesus adalah guru bagi para rasul, Dia pelita bagi mereka. Dia berasal dari Bapa dan akan kembali kepada Bapa-Nya. Namun Dia tidak akan meninggalkan para rasul sebagi yatim piatu, sebaliknya Dia berjanji akan meminta kepada Bapa penolong yang lain, yakni Roh Kebenaran [Yoh 14:16-17]. Dalam warta hari ini Yesus menjelaskan kepada para murid apa yang akan dilakukan oleh Roh Kebenaran. Bila datang, Ia akan memimpin para murid ke dalam seluruh kebenaran, yang dimaksud tentu bukanlah kebenaran yang bersifat intelektual belaka, melainkan kebenaran yang berkaitan dengan misteri Allah yang dinyatakan melalui Yesus Kristus. Berkat bantuan Roh Kudus para murid akan dapat memahami kehendak Allah dan bagaimana harus bertindak dalam situasi riil yang harus mereka hadapi.

Sebagaimana Yesus tidak berbicara tentang dan dari diri-Nya sendiri, demikian pula Roh Kudus. Dia akan menyampaikan apa yang telah didengar-Nya dari Yesus. Sebagai manusia yang dibatasi rung dan waktu, Yesus telah mengajar orang-orang yang percaya kepada-Nya mengenai kebenaran tentang Bapa dan kehendak-Nya. Sesudah Ia naik ke surga, kembali kepada bapa-Nya, Roh Kuduslah yang akan menolong para murid untuk memahami ajaran yang telah disampaikan-Nya. Dengan demikian, kebenaran yang diajarkan Yesus itu tetap lestari, sekaligus selalu “up to date” sepanjang zaman. Kebenaran ini dialami oleh Paulus di Atena, di mana ia berbicara tentang “allah” orang Yunani yang tidak mereka kenal. Mereka membuat mezbah-mezbah penyembahan dengan tulisan: “kepada allah yang tidak dikenal” [Kis. 17:23]. Sementara Paulus memperkenalkan Allah yang benar, Allah pencipta Semesta, Pencipta langit, bumi dan segala isinya. Allah yang memberi hidup kepada semua orang.

Akan tetapi, perlu kita sadari bahwa tidak semua orang bisa langsung percaya dengan pewartaan yang berasal dari kekuatan Roh Kudus sekalipun. Semuanya membutuhkan waktu, memerlukan proses. Di Atena hanya beberapa orang saja yang menerima pewartaan Paulus: Dionisius, Damaris, dan beberapa orang lainnya. Allahpun tidak pernah membelenggu kebebasan manusia. Orang bebas untuk beriman pada Yesus atau menolak-Nya, mau selamat atau tidak. Karenanya, dengan bimbingan Roh Kudus, Roh Kebenaran tugas kita-lah untuk mewartakan, memperkenalkan Allah yang benar. Mari kita membuka diri kita akan karya Roh Kudus yang telah kita terima saat Pembaptisan, Penguatan.

Translate »