Minggu Biasa XXVIIA

Minggu Biasa XXVIIA


(Yes. 5:1-7; Flp. 4:6-9; Mat. 21:33-43)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita mendengar kisah tentang dua anak
yang diminta ayahnya bekerja di kebun anggur. Yang satu berkata “ya”, tetapi tidak pergi;
yang lain berkata “tidak”, tetapi akhirnya pergi. Hari ini Yesus kembali membawa kita ke
kebun anggur. Rupanya Tuhan memang sabar sekali dengan kita, minggu lalu kita diajak
masuk ke kebun anggur, minggu ini ternyata kita belum boleh pulang! Ada pekerjaan
yang harus diselesaikan: menghasilkan buah.
Kalau kita memperhatikan bacaan-bacaan hari ini, semuanya berbicara tentang
satu hal yang sangat sederhana tetapi sangat dalam, dimana Allah telah memberikan
begitu banyak kepada kita, dan Ia mengharapkan hidup kita menghasilkan buah.
Pertanyaannya bukan hanya, “apa yang sudah Tuhan berikan kepada saya?” tetapi juga,
“buah apa yang sedang saya berikan kembali kepada Tuhan?”
Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya menyanyikan sebuah nyanyian tentang kebun
anggur. Pemilik kebun itu melakukan segala sesuatu dengan penuh perhatian, memilih
tanah yang subur, mencangkulnya, membersihkannya dari batu, menanam pokok
anggur pilihan, membangun menara penjagaan, bahkan membuat tempat pemerasan
anggur. Semua dilakukan dengan penuh kasih dan harapan. Tetapi ketika tiba waktunya
untuk memetik buah, yang ditemukan justru buah anggur yang asam.
Gambaran itu sangat kuat. Allah telah melakukan begitu banyak bagi umat-Nya. Ia
memilih, memelihara, melindungi, membimbing, dan memberikan segala yang
diperlukan agar umat-Nya hidup baik. Namun Allah tidak hanya mencari kebun yang
indah; Ia mencari buah. Dengan kata lain, Tuhan tidak cukup melihat bahwa kita
memiliki iman di dalam hati. Ia ingin iman itu menghasilkan sesuatu dalam kehidupan.
Injil kemudian memperjelas gambaran tersebut. Kebun anggur itu disewakan
kepada para penggarap. Ketika waktunya tiba untuk menerima hasil kebun, sang pemilik
mengutus hamba-hambanya. Tetapi para penggarap menolak, menyiksa, bahkan
membunuh mereka. Sang pemilik masih mengutus hamba-hamba yang lain. Akhirnya
ia mengutus anaknya sendiri. Namun anak itu pun mereka bunuh karena mereka ingin
menguasai kebun itu.
Di sini kita melihat betapa sabarnya Allah. Ia tidak segera menghukum. Ia berkalikali datang, memberi kesempatan, mengingatkan, dan mengundang manusia untuk
bertobat. Tetapi manusia dapat begitu mudah berubah dari pengelola menjadi pemilik.
Kita menerima hidup sebagai anugerah, tetapi kadang-kadang kita bertingkah seolaholah hidup ini sepenuhnya milik kita. Kita menerima talenta, tetapi lupa kepada
Pemberinya. Kita menerima jabatan, tetapi menggunakannya untuk diri sendiri. Kita
menerima kepercayaan, tetapi justru menyalahgunakannya.
Karena itu, perumpamaan ini bukan hanya cerita tentang para pemimpin Israel pada
zaman Yesus. Perumpamaan ini adalah cermin bagi kita. Kebun anggur itu dapat berupa
keluarga kita, komunitas kita, pekerjaan kita, pelayanan kita, bahkan Gereja yang
dipercayakan kepada kita. Kita semua adalah penggarap. Tuhan adalah pemiliknya. Dan
pada waktunya, Tuhan akan bertanya, “apa yang telah engkau lakukan dengan apa yang
Kupercayakan kepadamu?”
Yesus kemudian berbicara tentang batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan
dan justru menjadi batu penjuru. Batu itu menunjuk kepada diri-Nya sendiri. Kristus
yang ditolak justru menjadi dasar keselamatan. Karena itu, kehidupan kita pun harus
dibangun di atas Kristus. Bukan di atas ego, gengsi, jabatan, kekayaan, popularitas, atau
keinginan untuk menguasai orang lain. Kalau Kristus menjadi batu penjuru, maka
seluruh bangunan hidup kita harus diarahkan kepada-Nya.
Di sinilah bacaan kedua dari Surat Paulus kepada jemaat di Filipi menjadi sangat
penting. Paulus memberikan jalan yang sangat konkret untuk menghasilkan buah yang
baik. Ia berkata, “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi
nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan
dengan ucapan syukur.” Jadi, buah yang Tuhan kehendaki tidak pertama-tama lahir dari
kecemasan, ambisi, atau keinginan untuk menguasai. Buah itu lahir dari hati yang
percaya kepada Allah.
Paulus kemudian mengajak kita memikirkan segala sesuatu yang benar, mulia, adil,
suci, manis, sedap didengar, yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Lalu ia menutup
dengan ajakan yang sangat praktis, “lakukanlah itu!” Jadi, Paulus tidak berhenti pada
pikiran yang baik. Kebenaran harus dipikirkan, dihayati, dan dilakukan. Inilah hubungan
yang kuat antara ketiga bacaan hari ini, dimana Yesaya berbicara tentang kebun yang
seharusnya menghasilkan buah; Yesus berbicara tentang penggarap yang dipanggil
untuk menghasilkan buah; Paulus menunjukkan bagaimana buah itu diwujudkan dalam
cara berpikir, berdoa, dan bertindak.
Saudara-saudariku, Tuhan tidak meminta kita menghasilkan buah yang spektakuler.
Ia meminta buah yang nyata. Di dalam keluarga, mungkin buah itu adalah kesediaan
mendengarkan. Dalam komunitas, buah itu adalah kemampuan bekerja sama. Dalam
pelayanan, buah itu adalah kesetiaan. Dalam pekerjaan, buah itu adalah kejujuran.
Dalam menghadapi konflik, buah itu adalah pengampunan. Dalam kehidupan iman,
buah itu adalah doa yang membawa kita semakin dekat kepada Allah dan semakin
peduli kepada sesama.
Dan ketika kita merasa hidup kita belum menghasilkan banyak buah, jangan berkecil
hati. Ingatlah pemilik kebun dalam bacaan hari ini, ia sabar. Allah masih memberi
kesempatan. Selama kita masih diberi waktu, selalu ada kesempatan untuk
memperbaiki hidup, meminta maaf, berdamai, memulai kembali, dan menjadi lebih
baik. Yang berbahaya bukan pernah menghasilkan buah yang sedikit; yang berbahaya
adalah merasa tidak perlu lagi berubah.
Mungkin kita juga perlu bertanya, jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk
menjaga “kebun” tetapi lupa kepada buahnya. Kita bisa sibuk dengan kegiatan Gereja,
rapat, program, pelayanan, bahkan banyak berbicara tentang Tuhan, tetapi apakah
orang yang hidup bersama kita sungguh merasakan kasih Tuhan melalui diri kita? Gereja
tidak hanya membutuhkan orang yang aktif, tetapi orang yang hidupnya menghasilkan
buah.
Karena itu, marilah kita kembali kepada Kristus, Sang Batu Penjuru. Dari Dia kita
belajar bahwa hidup bukan tentang memiliki, tetapi memberikan; bukan tentang
menguasai, tetapi melayani; bukan tentang mencari pujian, tetapi menghasilkan buah.
Dan seperti nasihat Paulus, ketika kecemasan datang, marilah kita membawanya
kepada Tuhan dalam doa, sambil tetap melakukan apa yang benar, baik, adil, dan penuh
kasih.
Saudara-saudariku terkasih, Tuhan telah memberikan kepada kita sebuah kebun
anggur, yakni kehidupan kita sendiri. Ia telah memberi waktu, kesehatan, keluarga,
sahabat, pendidikan, kesempatan, talenta, pekerjaan, komunitas, dan terutama iman.
Semua itu bukan milik kita secara mutlak. Kita adalah pengelolanya. Suatu hari nanti,
Tuhan akan datang dan bertanya, “buah apa yang telah engkau hasilkan?”
Semoga ketika saat itu tiba, Tuhan menemukan bukan anggur yang masam,
melainkan buah-buah kasih, iman, pengharapan, kesabaran, pengampunan, kejujuran,
pelayanan, dan kepedulian. Semoga hidup kita benar-benar dibangun di atas Kristus,
Sang Batu Penjuru. Dan semoga, seperti nasihat Santo Paulus, kita tidak hanya
memikirkan yang baik, tetapi sungguh-sungguh melakukannya. Dengan demikian, Injil
hari ini mengajak kita membawa pulang satu kalimat sederhana: Tuhan telah
mempercayakan kebun kepada kita; tugas kita bukan sekadar menjaganya tetap indah,
tetapi menghasilkan buah. Dan, Ssmoga hidup kita menjadi kebun yang menyenangkan
hati Tuhan dan buah-buahnya menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan memberkati kita
semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa XXVI

Sabtu Pekan Biasa XXVI

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
3 Oktober 2026
Ayb 42: 1-17 + Mzm 119 + Luk 10: 17-24
 
 
Lectio
Pada waktu itu setelah menjalankan tugas perutusanNya ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.”
 
Meditatio
Para murid bergembira, karena tugas pertusan yang diemban dapat berhasil dengan sukses. ‘Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu’, seru mereka. Mereka akhirnya dapat bertahan hidup di tengah-tengah kawanan singa yang mengaum-aum mencari mangsanya. Mereka, yang bagaikan seekor anak domba di tengah-tengah kawanan serigala dapat pulang dengan selamat. Mereka pun sempat menyembuhkan banyak orang dan mengusir kegelapan.
‘Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga’, tegas Yesus. Mereka hendaknya tidak hanya bangga karena mempunyai anugerah-anugerah yang telah diberikan sang Guru sendiri, tetapi hendaknya mereka bangga, karena nama mereka terdaftar di surga. Sebab bukankah mereka kaum berdosa juga menerima pelbagai anugerahNya? Bukankah Allah memberikan hujan bukan hanya kepada orang-orang yang baik?  Apakah maksudnya terdaftar di surga nama mereka? Terdaftar sebagai apa? Sebagai murid-muridNya? Sebagai saudara-saudaraNya? Sebagai pelaksana sabdaNya? Sebagai penerima pelbagai anugerahNya?
Apakah penegasan Yesus ini mengingatkan, agar mereka yang terdaftar di surga itu selalu siap mempertanggungjawabkan nama yang mereka miliki? Kiranya Yesus tetap meminta mereka, dan tentunya kita sekarang ini yang masih dalam perjalanan hidup untuk setia mempertahankan nama indah yang kita miliki.
 
Oratio
Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu, karena telah mengangkat kami menjadi saudara dan saudariMu sendiri. Semoga kami setia menjaga keluhuran nama kami dengan melakukan segala sabda dan kehendakMu. Amin.
 
Contemplatio
‘Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga’.

Translate »