Memaknai kelahiran Santa Maria
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Ignasius Joko Purnomo
Matius 1:1-16.18-23
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Ketika kita mendengar Injil hari ini, mungkin bagian pertama terasa agak membosankan. Kita mendengar begitu banyak nama: Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda, dan seterusnya. Nama demi nama disebutkan sampai akhirnya sampai kepada Yusuf, suami Maria, yang melahirkan Yesus, yang disebut Kristus. Mungkin kita bertanya: mengapa silsilah yang begitu panjang ini dimasukkan ke dalam Injil? Apa pentingnya bagi hidup iman kita? Justru di situlah terdapat sebuah pesan yang sangat indah: Allah bekerja melalui sejarah manusia.
Kelahiran Yesus tidak terjadi begitu saja, seolah-olah tiba-tiba Allah turun dari surga tanpa hubungan dengan perjalanan manusia. Kedatangan Yesus merupakan puncak dari perjalanan panjang sejarah keselamatan. Ada Abraham, ada Daud, ada masa kejayaan, tetapi juga ada masa kegagalan. Ada orang-orang besar, tetapi juga ada orang-orang biasa. Ada kesetiaan, tetapi juga ada kelemahan dan dosa. Namun, di tengah semua itu, satu hal tetap berjalan: rencana Allah. Ini menjadi kabar gembira bagi kita. Sebab kadang-kadang kita melihat hidup kita hanya sebagai kumpulan peristiwa yang terpisah-pisah. Ada masa ketika semuanya berjalan baik. Ada masa ketika kita berhasil. Tetapi ada juga masa kegagalan, kekecewaan, kehilangan, persoalan dalam keluarga, kesalahpahaman, bahkan mungkin pengalaman yang ingin kita lupakan. Lalu kita bertanya: Apakah Tuhan masih bekerja dalam hidup saya? Apakah hidup saya masih mempunyai arti dalam rencana Tuhan? Injil hari ini menjawab: Ya. Tuhan tetap bekerja. Silsilah Yesus mengingatkan kita bahwa Allah tidak hanya bekerja dalam peristiwa-peristiwa besar dan indah. Allah juga bekerja dalam perjalanan yang panjang, kadang berliku, kadang membingungkan, bahkan melalui manusia-manusia yang tidak sempurna.
Saudara-saudari, Allah tidak menunggu sejarah manusia menjadi sempurna terlebih dahulu sebelum Ia hadir. Justru Ia masuk ke dalam sejarah manusia yang nyata, dengan segala kekurangan dan kelemahannya. Dan puncaknya adalah kelahiran Yesus yang disebut Imanuel: Allah beserta kita. Ini berarti Allah tidak tinggal jauh dari kehidupan manusia. Ia masuk ke dalam sejarah kita. Ia hadir dalam keluarga kita, dalam pekerjaan kita, dalam komunitas kita, dalam sukacita maupun dalam persoalan yang sedang kita hadapi. Maka pertanyaan bagi kita bukanlah: Apakah Allah bekerja dalam hidup saya? Sebab Injil hari ini menegaskan: Allah selalu bekerja. Pertanyaannya adalah: Apakah saya mampu melihat dan percaya kepada karya Allah dalam perjalanan hidup saya? Mungkin hari ini kita belum memahami seluruh cerita hidup kita. Mungkin masih ada halaman-halaman hidup yang penuh tanda tanya. Tetapi kita diajak untuk tidak berhenti percaya. Sebab hidup kita bukan sekadar rangkaian peristiwa yang terjadi tanpa arah. Di tangan Allah, hidup kita adalah bagian dari sebuah perjalanan yang lebih besar. Seperti nama-nama dalam silsilah Yesus, mungkin nama kita tidak tercatat dalam Kitab Suci. Tetapi hidup kita tetap dikenal oleh Allah. Perjalanan kita, pergumulan kita, kegembiraan dan air mata kita, semuanya tidak luput dari perhatian-Nya. Karena itu, marilah kita menjalani hidup dengan penuh harapan. Jangan terlalu cepat mengatakan bahwa hidup kita gagal. Jangan merasa bahwa masa lalu telah menutup masa depan. Jangan mengira bahwa kelemahan kita membuat Allah tidak dapat berkarya. Sebab Injil hari ini mengajarkan kepada kita: Allah adalah Allah yang bekerja dalam sejarah manusia. Ia bekerja dalam perjalanan panjang, melalui manusia yang tidak sempurna, dan sering kali dengan cara yang tidak langsung kita pahami. Maka apa pun yang sedang kita alami hari ini, marilah kita tetap percaya: cerita hidup kita belum selesai. Allah masih menulis sejarah keselamatan dalam hidup kita. Dan selama kita tetap membuka hati, berjalan bersama-Nya, serta menyerahkan hidup kepada-Nya, kita boleh percaya bahwa pada akhirnya kita akan melihat: ternyata, sejak awal, Allah selalu hadir dan bekerja dalam perjalanan hidup kita. Semoga Tuhan memberkati kita semua.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Injil hari ini dimulai dengan silsilah Yesus yang cukup panjang. Matius menyebut nama demi nama, dari Abraham sampai Yusuf, suami Maria. Bagi kita, daftar nama itu mungkin terasa membosankan. Tetapi sebenarnya di dalamnya terkandung pesan iman yang sangat dalam: Allah bekerja melalui sejarah manusia.
Yesus tidak hadir ke dunia secara tiba-tiba. Kedatangan-Nya merupakan puncak dari perjalanan panjang sejarah keselamatan. Di dalam perjalanan itu ada manusia yang setia, tetapi juga ada yang jatuh dan mengalami kelemahan. Ada keberhasilan, tetapi juga ada kegagalan. Namun, di tengah semuanya itu, rencana Allah tetap berjalan.
Pesan ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Hidup kita pun merupakan sebuah perjalanan. Tidak semuanya berjalan seperti yang kita harapkan. Ada saat kita mengalami keberhasilan dan kebahagiaan, tetapi ada juga saat kita mengalami kegagalan, kekecewaan, persoalan, bahkan pengalaman yang sulit kita pahami. Dalam keadaan seperti itu, kita mungkin bertanya: “Tuhan, di mana Engkau? Mengapa saya harus mengalami semua ini?”
Injil hari ini mengajak kita percaya bahwa Allah tetap bekerja, bahkan ketika kita belum mampu melihat karya-Nya. Kita sering hanya melihat satu bagian kecil dari hidup kita. Allah melihat seluruh perjalanan. Apa yang sekarang kita anggap sebagai kegagalan, mungkin justru sedang dipakai Tuhan untuk membentuk kita. Pengalaman yang menyakitkan mungkin membuat kita menjadi lebih kuat dan lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Bahkan kesalahan masa lalu dapat menjadi jalan bagi pertobatan dan perubahan hidup. Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan bahwa hidup kita gagal hanya karena ada bagian yang tidak sesuai dengan harapan kita. Cerita hidup kita belum selesai.
Saudara-saudari yang terkasih, setelah silsilah itu, Matius menyampaikan sesuatu yang menjadi inti seluruh kisah ini. Yesus disebut Imanuel, yang berarti “Allah beserta kita.” Allah yang bekerja dalam sejarah manusia bukanlah Allah yang jauh. Ia masuk ke dalam kehidupan manusia. Ia hadir dalam keluarga kita, dalam pekerjaan kita, dalam kegembiraan kita, tetapi juga dalam pergumulan dan kesulitan kita. Allah beserta kita. Maka ketika hidup terasa berat, jangan berpikir bahwa Tuhan meninggalkan kita. Ketika doa belum terjawab, jangan mengira bahwa Tuhan tidak mendengarkan. Ketika jalan hidup terasa berliku, jangan kehilangan harapan. Boleh jadi kita belum memahami apa yang sedang Tuhan kerjakan. Tetapi iman mengajak kita percaya: Allah tetap bekerja. Ia bekerja melalui manusia dengan segala keterbatasannya. Maka kita pun tidak perlu merasa bahwa kelemahan dan masa lalu kita membuat kita tidak berguna bagi Tuhan. Yang Tuhan kehendaki adalah hati yang terbuka dan kesediaan untuk berjalan bersama-Nya. Allah sedang bekerja di dalam perjalanan hidup kita. Mungkin kita belum memahami seluruh rencana-Nya. Tetapi kita percaya bahwa hidup kita berada dalam tangan-Nya. Maka, apa pun yang sedang kita alami hari ini, marilah kita berkata: “Tuhan, saya tidak selalu mengerti jalan-Mu, tetapi saya percaya Engkau berjalan bersama saya.”
Sebab itulah kabar gembira Injil hari ini: Allah hadir dan bekerja di tengah sejarah manusia. Ia bekerja melalui manusia yang tidak sempurna, melalui perjalanan yang panjang, dan sering kali melalui jalan yang tidak kita mengerti.
Maka jangan kehilangan harapan.
Cerita hidup kita belum selesai. Allah masih menulis sejarah keselamatan dalam hidup kita.
Dan kita percaya: Imanuel—Allah beserta kita.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Lukas 6:6-11
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Hari ini kita mendengarkan kisah yang sangat akrab: Yesus menyembuhkan seorang pria yang mati tangan kanannya pada hari Sabat. Di dalam tradisi Yahudi kuno, tangan kanan adalah simbol kekuatan, produktivitas, mata pencaharian, dan kehormatan seorang pria. Ketika tangan kanan pria ini mati atau lumpuh, ia bukan hanya mengalami cacat fisik, melainkan kehilangan martabatnya. Ia tidak bisa lagi menafkahi keluarganya secara mandiri dan mungkin dianggap dikutuk oleh masyarakat sekitar.
Mari kita merenungkan peristiwa ini melalui sebuah logika sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari.
Bayangkan Anda memiliki sebuah ponsel smartphone. Ponsel ini layarnya retak parah, casing-nya hancur, dan baterainya sudah sangat bocor atau drop—hanya bisa menyala kalau dicolok ke kabel pengisi daya. Secara fungsi, ponsel ini sudah “lumpuh” dan kehilangan nilainya yang berharga.
Jika ponsel rusak ini dibawa ke hadapan dua tipe orang, reaksinya akan persis seperti kisah Injil hari ini:
Di dalam rumah ibadat itu, orang Farisi sibuk mencari kesalahan Yesus berdasarkan aturan hari Sabat. Mereka memegang hukum agama dengan kaku, tetapi hati mereka mati rasa terhadap penderitaan sesama. Mereka menggunakan logika tipe pertama: menilai dan membuang orang yang “rusak”.
Sebaliknya, Yesus menggunakan logika tipe kedua. Yesus tahu isi hati mereka, lalu Ia menantang mereka dengan pertanyaan menembus jiwa: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa atau membinasakannya?” Bagi Yesus, mengabaikan orang yang menderita dengan alasan “sedang ibadah atau menaati aturan” sebenarnya adalah sebuah kejahatan.
Yesus kemudian memandang pria itu dan berkata: “Ulurkanlah tanganmu!”
Perintah ini adalah undangan iman. Yesus meminta pria itu melawan rasa malu dan minder untuk menunjukkan bagian hidupnya yang paling rusak di depan umum. Ketika pria itu taat dan mengulurkan tangannya, mukjizat terjadi. Tangan itu sembuh seketika. Yesus tidak hanya menyembuhkan fisiknya, tetapi mengembalikan martabat, harga diri, dan masa depannya.
Sebagai umat Katolik, kita dipanggil untuk memiliki hati seperti Yesus. Kita diutus bukan untuk menjadi “hakim” yang sibuk mendata dosa dan kelemahan orang lain seperti orang Farisi. Kita diutus untuk menjadi saluran sakramen kasih Allah yang hidup—yang berani mengulurkan tangan untuk merangkul, menyembuhkan, dan memulihkan martabat sesama kita yang sedang runtuh.
Refleksi pribadi:
Doa
Tuhan Yesus Kristus, terima kasih atas Sabda-Mu hari ini.
Jamahlah hati kami agar kami memiliki iman yang berani untuk mengulurkan segala kelemahan hidup kami ke hadapan-Mu demi menerima pemulihan. Ubahlah pula hati kami yang kaku ini, agar tidak mudah menghakimi sesama, melainkan selalu siap mengulurkan tangan untuk menolong dan memulihkan martabat mereka yang sedang terpuruk.
Utuslah kami menjadi sakramen kasih-Mu yang hidup. Amin
RD. Yusuf Dimas Caesario
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm