Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

Integritas rohani

Posted by admin on February 17, 2026
Posted in renungan  | No Comments yet, please leave one

Rabu Abu 2026

Rm Hugo Susdiyanto O.Carm

Matius 6:1-6, 16-18

Beberapa tahun lalu kita sering mendengar frasa “pakta integritas”, pernyataan atau janji tertulis yang berisi komitmen individu (pejabat/pegawai) untuk melaksanakan tugas secara jujur, transparan, akuntabel, dan profesional sesuai peraturan perundang-undangan. Kata “integritas” berasal dari kata Latin “integer” yang berarti utuh atau menyeluruh. Integritas adalah konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan, yang tercermin melalui kesatuan utuh antara pikiran, perkataan, dan perbuatan [Jawa: ati, lathi, pakarti nyawiji].

Hari ini Yesus mengajarkan betapa pentingnya memiliki hati yang tulus hati dalam beribadah, terlebih yang menyangkut 3 hal: sedekah, berdoa, dan berpuasa. Tanpa dilandasi hati yang tulus, suci, orang bisa terjebak dalam semangat pameran dalam melaksanakan 3 hal tersebut. Sebaliknya jika dilandasi hati yang tulus fokus utama melakukan kehendak Tuhan, dan bukan mencari pujian manusia. Yesus menekankan agar perbuatan baik dilakukan secara tersembunyi, sehingga Bapa yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya.

Kata “sedekah” berasal dari kata Ibrani “tsedaqa” yang berarti keadilan, kebenaran, atau derma. Kata “tsedaqa” juga berarti membuat lurus, seimbang. Jika saya mempunyai Rp 50.000, sementara teman saya tidak punya apa-apa maka keadaannya tidak seimbang tidak lurus, njomplang. Jika saya memberika 15 ribu kepadanya keadaan berubah menuju seimbang. Jika saya memberikan kepadanya 25 ribu, keadaan menjadi lurus. Karenanya arti sejati dari sedekah, derma bukan hanya sekedar memberikan uang receh, melainkan membuat keadaan menjadi seimbang, lurus, adil, benar.

Apa itu doa, berdoa? Definisi doa yang paling sederhana adalah dari Santa Theresia dari Lisieux, “Bagiku, doa adalah ayunan hati; suatu pandangan sederhana ke surga, seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan”. Dengan kata lain, doa adalah jalinan relasi pribadi dengan Tuhan sendiri; doa tidak harus muluk-muluk, melainkan lahir dari kerendahan hati dan kepercayaan total pada belas kasih Allah. Doa merupakan sarana untuk menyatukan kegembiraan dan duka hidup kita dengan kasih Allah.

Puasa bukan tujuan melainkan sarana latihan rohani untuk mendekatkan diri pada Tuhan serta sesama. Karenanya puasa sangat dekat dengan pertobatan, sebagaimana ditegaskan nabi Yoel, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya” [Yoel 2:12-13].

Pesan Sabda

  1. Lawan dari integritas adalah munafik. Orang munafik adalah orang yang berpura-pura setia/percaya, namun hatinya tidak, serta sering mengingkari kata. Yesus membenci kemunafikan [sikap munafik]. Itulah sebabnya Ia mengingatkan para murid, “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga” [Mat 6:1].
  2. Dalam warta hari ini ada satu kata penting yang dijadikan refren, ditegaskan berulang-ulang, yakni kata “tersembunyi”. Karenanya pesan penting yang ingin disampaikan dalam pembukaan masa retret agung 40 hari ini adalah ajakan untuk mencari dan menemukan Dia Yang Tersembunyi, yakni Allah Bapa. Kehadiran-Nya itu nyata, namun tidak selalu terasa jelas. Bersedekah, berdoa, dan puasa adalah sarana untuk mendekat kepada-Nya dan menemukan-Nya.
  3. Kebiasaan menerima abu di kepala [dahi] sudah dikenal sejak abad ke-8, di mana imam menandai dahi dengan abu sambil berkata, “Ingatlah, hai manusia, kamu dari debu dan akan kembali menjadi debu” [Kej 3:19] atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” [Mrk 1:15]. Mungkin ada yang bertanya yang benar Abu atau debu? Keduanya memang berbeda! Akan tetapi yang penting bukan pertama-tama barangnya, melainkan lambang dan yang diperlambangkan. Intinya simboliknya: baik abu maupun debu itu barang yang remeh, tidak bernilai. Dalam Kej 2:7 kita manusia diciptakan, dibentuk dari debu tanah yang dihembusi nafas kehidupan Tuhan. Kalau nafas kehidupan kembali ke Tuhan, maka manusia kembali menjadi debu tanah. Karenanya debu dan abu  kiranya membantu kita untuk menyadari betapa lemahnya manusia; ia dekat pada dosa (Ayub 30:19, Kej 18:27). Karenanya jangan munafik, sebaliknya mari kita menjadi peribadi yang berintegritas. Berkah Dalem.

RENUNGAN: 17 FEBRUARI 2026

Posted by admin on February 17, 2026
Posted in renungan  | No Comments yet, please leave one

Rm Ignasius Joko Purnomo

Markus 8:14-21

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Beberapa waktu lalu, ada seorang ibu yang datang berkonsultasi dengan seorang pastor. Ia bercerita bahwa hidupnya penuh kecemasan. Ia takut masa depan anak-anaknya, takut tidak cukup uang, takut suaminya kehilangan pekerjaan. Pastor itu kemudian bertanya dengan lembut: “Ibu, apakah Tuhan pernah mengecewakan ibu?” Ibu itu terdiam sejenak, lalu menjawab: “Tidak, Romo. Justru saya sudah sering mengalami bahwa Tuhan selalu menolong pada waktunya.” Pastor itu tersenyum dan berkata: “Kalau begitu, mengapa sekarang ibu seolah-olah lupa pada Dia yang setia itu?”

Saudara-saudari, kisah sederhana ini sangat dekat dengan Injil hari ini. Para murid Yesus juga sedang “lupa.” Mereka lupa membawa roti, dan ketika Yesus  memperingatkan tentang “ragi orang Farisi dan ragi Herodes,” mereka malah berpikir bahwa Yesus menegur karena mereka tidak punya roti. Yesus lalu menegur mereka dengan tegas: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum juga kamu mengerti dan tidak paham? Masihkah hatimu degil?” Yesus menegur bukan karena soal roti, tetapi karena kurangnya kepekaan iman. Para murid telah melihat sendiri bagaimana Yesus menggandakan lima roti untuk lima ribu orang, dan tujuh roti untuk empat ribu orang. Tetapi ketika mereka dihadapkan pada situasi kekurangan, mereka langsung panik, seolah-olah mukjizat itu tidak pernah terjadi. Sering kali kita pun seperti itu, bukan? Kita sudah sering mengalami campur tangan Tuhan, diselamatkan dari kesulitan, diberi rezeki saat tak disangka, diberi kekuatan saat nyaris putus asa; tetapi ketika masalah baru muncul, kita mudah gelisah lagi, takut lagi, seolah-olah Tuhan tidak lagi hadir. Hati yang tidak peka membuat kita gagal melihat karya Allah. Kita sibuk menghitung kekurangan, bukan mengingat kasih-Nya. Kita lebih fokus pada “tidak ada roti,” bukan pada “Tuhan yang duduk di perahu.”

Saudara-saudari, Yesus mengingatkan para murid tentang mukjizat penggandaan roti  bukan sekadar agar mereka kagum, tetapi agar mereka ingat. Mengingat adalah cara iman untuk hidup kembali. Dalam setiap perayaan Ekaristi, Gereja juga mengajarkan hal yang sama: kita mengenang karya penyelamatan Kristus. Dan dalam mengenang, kita tidak sekadar memutar memori, melainkan menghadirkan kembali kasih Allah yang hidup di tengah kita. Sering kali sumber kecemasan kita adalah karena kita lupa. Lupa bahwa Tuhan telah setia. Lupa bahwa doa kita pernah dijawab. Lupa bahwa dalam masa sulit, ada kekuatan yang tiba-tiba muncul; itulah rahmat Tuhan. Maka Yesus berkata seolah kepada kita hari ini: “Apakah kamu belum juga mengerti?” Ia ingin agar kita mengingat dan percaya bahwa Allah yang dulu mencukupkan, sekarang pun bekerja dengan cara yang sama.

Saudara-saudari terkasih,

mata jasmani hanya melihat roti yang kurang, mata iman melihat Tuhan yang mampu mencukupkan segala sesuatu. Mata jasmani melihat masalah besar, mata iman melihat peluang bagi Allah untuk menunjukkan kasih dan kuasa-Nya. Iman mengubah cara kita memandang hidup. Bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi karena kita tahu siapa yang berjalan bersama kita. Yesus yang ada di perahu bersama para murid juga ada dalam “perahu” kehidupan kita di tengah badai, di tengah kekurangan, di tengah rasa takut. Kita sering sibuk menghitung berapa roti yang kita punya, tetapi lupa bahwa Roti Hidup itu sendiri ada bersama kita.

Saudara-saudari,
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk belajar mengingat dan melihat dengan iman. Setiap kali kita mengingat karya Tuhan, iman kita diperbarui. Setiap kali kita mengenang kesetiaan-Nya, hati kita menjadi damai. Dan setiap kali kita memandang dengan mata iman, kita menemukan kekuatan untuk melangkah dalam situasi apa pun. Mari kita mohon rahmat Tuhan, agar hati kita tidak menjadi keras oleh kekhawatiran dunia, tetapi menjadi lembut dan peka akan tanda-tanda kasih Allah. Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk selalu mengingat bahwa Tuhan yang telah setia di masa lalu, adalah Tuhan yang tetap bekerja hari ini dan selamanya.

Kita pahami segala kebaikanNya

Posted by admin on February 16, 2026
Posted in Podcast  | No Comments yet, please leave one

Rm Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

Rm Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

Translate »