Siapkah kita menjadi saluran berkat bagi sesama?
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Ignasius Joko Purnomo
Matius 9:32-38
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Mungkin kita semua pernah kita merasa seolah-olah hidup kita sedang terikat oleh sesuatu. Bukan terikat oleh tali atau rantai yang terlihat, tetapi oleh rasa takut, kekhawatiran, kemarahan, kekecewaan, atau bahkan kebiasaan buruk yang sulit kita lepaskan. Kita ingin berubah, tetapi merasa tidak mampu. Kita ingin hidup lebih baik, tetapi selalu jatuh pada kesalahan yang sama. Akhirnya, kita hidup tanpa sukacita dan tanpa damai. Pengalaman seperti ini ternyata bukan hanya milik kita. Sejak dahulu, manusia selalu bergumul dengan berbagai bentuk belenggu yang menghalangi mereka mengalami kebebasan sebagai anak-anak Allah.
Injil hari ini mengisahkan seorang bisu yang dirasuki setan dibawa kepada Yesus. Sekian lama dia terbelenggu olah kuasa setan. Setelah Yesus mengusir setan itu daripadanya, orang itu pun dapat berbicara kembali. Mukjizat ini bukan hanya sebuah kisah penyembuhan pada masa lalu, tetapi juga sebuah pewartaan bahwa Yesus adalah Sang Pembebas. Di mana Yesus hadir, di situ selalu ada kebebasan, harapan, dan kehidupan baru. Ketika kita bercermin pada kisah itu dan merenungkannya lebih dalam, sebenarnya kita dapat menemukan diri kita sendiri dalam sosok orang bisu itu. Memang mungkin kita tidak mengalami kerasukan seperti yang diceritakan dalam Injil, tetapi sering kali ada banyak hal yang membuat kita menjadi “bisu”. Kita menjadi bisu untuk mengatakan yang benar karena takut ditolak. Kita menjadi bisu untuk meminta maaf karena gengsi. Kita menjadi bisu untuk mengucapkan kata-kata kasih kepada anggota keluarga karena hati kita telah dipenuhi luka. Bahkan, ada yang menjadi bisu dalam doa. Sudah lama berdoa, tetapi hati terasa kering. Sudah lama ke gereja, tetapi tidak lagi mengalami sukacita iman. Banyak orang hidup dalam belenggu yang tidak tampak oleh mata. Ada yang dibelenggu oleh kemarahan yang tidak pernah selesai. Ada yang terikat pada rasa iri, dendam, kecanduan media sosial, perjudian, pornografi, minuman keras, atau kebiasaan-kebiasaan yang perlahan-lahan menguasai hidupnya. Belenggu-belenggu seperti ini sering kali lebih berat daripada rantai yang terlihat. Sebab, orang yang dibelenggu dari dalam kehilangan damai, kehilangan sukacita, bahkan kehilangan harapan.
Saudara-saudari,
Kabar gembira Injil hari ini adalah bahwa Yesus tidak pernah menjauh dari orang yang terbelenggu. Justru kepada mereka Yesus datang. Ia tidak menghukum orang bisu itu. Ia tidak menyalahkannya. Ia tidak bertanya mengapa hal itu terjadi. Yang dilakukan Yesus adalah membebaskannya. Inilah wajah Allah yang kita imani. Allah tidak datang pertama-tama untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan. Ia datang bukan untuk mempermalukan manusia, melainkan mengangkat martabat manusia yang terluka oleh dosa. Dan bagi Yesus, tidak ada belenggu yang terlalu kuat. Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi belas kasih-Nya. Tidak ada luka yang terlalu dalam sehingga tidak dapat disembuhkan oleh kasih-Nya. Yang sering menghalangi bukanlah kurangnya kuasa Tuhan, melainkan kurangnya keberanian kita untuk menyerahkan diri kepada-Nya. Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: belenggu apakah yang masih menguasai hidupku? Dosa apakah yang terus berulang? Ketakutan apa yang membuatku tidak berkembang? Kebiasaan buruk apa yang perlahan-lahan menjauhkan aku dari Tuhan dan sesama? Jangan takut membawa semuanya kepada Yesus. Datanglah kepada-Nya dalam doa. Datanglah kepada-Nya dalam Sakramen Tobat. Datanglah kepada-Nya dalam Ekaristi. Sebab di sanalah Kristus terus berkarya membebaskan umat-Nya hingga hari ini.
Saudara-saudari,
Menarik bawa ketika orang bisu itu dibebaskan, ia dapat berbicara kembali. Artinya, pembebasan selalu menghasilkan kesaksian. Orang yang telah mengalami kasih Tuhan tidak akan tinggal diam. Ia akan menggunakan mulutnya untuk memuji Tuhan, menghibur sesama, menyebarkan damai, dan membangun persaudaraan. Demikian pula kita. Setelah dibebaskan oleh Kristus, marilah kita memakai kata-kata kita bukan untuk melukai, menggosip, atau menghakimi, tetapi untuk memberkati, menguatkan, dan membawa harapan.
Semoga setiap kali kita berjumpa dengan Yesus, kita mengalami pembebasan yang sejati. Semoga hati yang dipenuhi ketakutan digantikan oleh iman. Hati yang terluka dipenuhi pengampunan. Hati yang putus asa dipenuhi harapan. Dan hidup kita semakin menjadi kesaksian bahwa Yesus sungguh datang untuk membebaskan setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Jusuf Dimas Caesario
Seorang bapak pernah nekat menerobos barisan penjagaan ketat Paspampres di sebuah acara kedatangan pejabat publik. Sambil memegang map berisi berkas, ia berlari sekencang-kencangnya, tidak peduli dengan teriakan peringatan petugas, bahkan sempat tersandung dan jatuh bangun. Ketika akhirnya berhasil mendekat dan menyerahkan surat permohonan bantuan pengobatan anaknya yang sakit keras, ia menangis lega. Saat ditanya mengapa senekat itu, ia hanya menjawab sederhana, “Bagi saya, tidak ada kata malu atau takut demi nyawa anak saya. Yang penting saya bisa sampai ke depan beliau.”
Cinta dan harapan yang mendalam sering kali melahirkan keberanian yang di luar akal sehat. Ketika semua pintu dunia terasa tertutup, iman membuat seseorang berani mendobrak pembatas demi sebuah kesembuhan.
Hari ini, Injil Matius 9:18-26 menyuguhkan dua kisah mukjizat yang dijalin oleh satu benang merah yang sangat kuat: iman yang nekat dan penuh kepasrahan. Kita bertemu dengan seorang kepala rumah ibadat yang berduka karena anaknya baru saja meninggal, dan seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan.
Secara logika dan hukum Taurat pada zaman itu, kedua orang ini berada dalam posisi yang mustahil. Sang kepala rumah ibadat meminta Yesus membangkitkan orang mati—sesuatu yang mustahil secara medis. Sementara si perempuan pendarahan, menurut hukum imamat, statusnya adalah “najis”. Ia dilarang berada di kerumunan, apalagi menyentuh jumbai jubah seorang Guru Agama. Jika ketahuan, ia bisa dikucilkan atau bahkan dilempari batu.
Namun, perhatikan apa yang mereka lakukan. Sang ayah tetap tersungkur di depan Yesus dengan keyakinan penuh, “Datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” Di sisi lain, sang perempuan nekat menembus kerumunan demi menyentuh ujung jubah-Nya, sambil berbisik dalam hati, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”
Dalam tradisi spiritualitas Katolik, kisah ini adalah sebuah pengajaran indah tentang esensi Sakramen dan rahmat Tuhan. Perempuan itu disembuhkan bukan karena jubah Yesus memiliki kekuatan magis, melainkan karena jubah itu menjadi sarana lahiriah dari imannya yang batiniah. Yesus menegaskan, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Sering kali dalam hidup, kita merasa “najis” karena dosa-dosa kita, atau merasa situasi kita sudah “mati” dan tidak ada harapan lagi. Kita merasa minder dan menarik diri dari Gereja atau doa. Lewat perikop ini, Yesus mengetuk hati kita. Beliau tidak menjauhi si perempuan najis, dan Beliau tidak menghiraukan cemoohan orang-orang di rumah kepala ibadat. Yesus selalu siap menjamah kerapuhan kita. Tugas kita adalah meniru keberanian kedua tokoh ini: datang ke hadapan-Nya melalui Sakramen Tobat dan Ekaristi, menembus pagar betis rasa takut serta keputusasaan kita, dan membiarkan kuasa-Nya bekerja.
Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah sumber kehidupan dan kesembuhan sejati. Sering kali iman kami goyah ketika menghadapi jalan buntu dan penderitaan yang tak kunjung usai. Seperti kepala rumah ibadat dan perempuan yang sakit pendarahan itu, anugerahkanlah kami keberanian dan iman yang teguh untuk selalu mencari-Mu. Jamahlah hati, jiwa, dan situasi hidup kami yang sedang sakit atau mati, agar oleh kuasa-Mu, kami dipulihkan dan dibangkitkan kembali. Amin.