Minggu Biasa XIIA

Minggu Biasa XIIA


(Yer. 20:10-13; Rom. 5:12-15; Ma.t 10:26-33)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, pernahkah kita berjalan sendirian pada malam hari di tempat yang gelap? Padahal jalan itu sebenarnya aman dan sudah sering kita lewati. Namun karena gelap, bayangan pohon terlihat seperti sosok yang menakutkan, suara angin terdengar seperti ancaman, dan langkah kaki sendiri terasa mencemaskan. Sering kali ketakutan bukan lahir dari kenyataan yang ada di depan kita, melainkan dari apa yang kita bayangkan dalam hati.
Demikian pula hidup kita. Banyak orang memikul ketakutan yang tidak terlihat oleh orang lain. Ada yang takut kehilangan pekerjaan, takut sakit, takut gagal mendidik anak, takut masa depan tidak seindah harapan, takut ditinggalkan orang yang dicintai, bahkan takut karena merasa dirinya tidak cukup baik dibandingkan orang lain. Ketakutan-ketakutan itu perlahan menguras kegembiraan hidup dan membuat hati menjadi sempit. Karena itu sabda Tuhan hari ini terasa begitu dekat dengan pengalaman kita. Di tengah berbagai kecemasan hidup, Tuhan berulang kali berkata, “Jangan takut.”
Dalam bacaan pertama, kita mendengar keluh kesah Nabi Yeremia. Ia mengalami penolakan, fitnah, bahkan ancaman dari orang-orang di sekitarnya. Yang menyakitkan, bukan hanya musuh yang memusuhinya, tetapi juga sahabat-sahabat yang menantikan kejatuhannya. Yeremia merasa sendirian. Ia takut, ia terluka, ia gentar. Namun di tengah semuanya itu, ia tidak lari dari Tuhan. Justru di saat paling gelap, ia semakin berpegang pada Tuhan. Karena itu di akhir bacaan, ratapannya berubah menjadi pujian, “Bernyanyilah bagi Tuhan, pujilah Tuhan!” Ketakutan tidak menghilang seketika, tetapi kehadiran Tuhan membuatnya mampu melewati ketakutan itu.
Pengalaman Yeremia menjadi gambaran dari apa yang dikatakan Yesus dalam Injil. Tiga kali Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Jangan takut.” Yesus tidak menjanjikan hidup yang bebas masalah. Ia tahu bahwa para murid akan menghadapi penolakan, ejekan, bahkan penganiayaan. Namun Yesus mengingatkan bahwa hidup mereka berada dalam tangan Bapa. Bahkan rambut di kepala mereka pun terhitung semuanya. Gambaran
ini sangat indah. Tuhan bukan hanya mengenal kita secara umum; Ia mengenal kita secara pribadi. Ia mengetahui air mata yang tidak kita ceritakan kepada siapa pun, pergumulan yang kita sembunyikan di balik senyum, dan doa-doa yang hanya kita bisikkan dalam keheningan malam.
Lalu apa dasar keyakinan kita untuk tidak takut? Di sinilah bacaan kedua memberikan jawabannya. Santo Paulus mengingatkan bahwa melalui Adam dosa masuk ke dalam dunia dan membawa penderitaan serta kematian. Namun melalui Yesus Kristus datanglah rahmat yang jauh lebih besar daripada dosa itu sendiri. Artinya, bagi orang beriman, kejahatan tidak pernah memiliki kata terakhir. Dosa bukanlah akhir cerita. Kegagalan bukanlah akhir perjalanan. Salib bukanlah tujuan terakhir. Dalam Kristus, kasih Allah selalu lebih besar daripada luka manusia. Karena itu, ketika kita merasa takut, kita tidak berjalan sendirian. Kita berjalan bersama Dia yang telah mengalahkan dosa dan maut.
Saudara-saudariku terkasih, mungkin hari-hari ini ada di antara kita yang sedang memikul beban tertentu. Ada yang cemas memikirkan kesehatan, ekonomi keluarga, masa depan anak-anak, atau persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Sabda Tuhan hari ini tidak mengatakan bahwa masalah itu akan langsung hilang. Namun Tuhan mengingatkan satu hal yang sangat penting, engkau tidak sendirian. Sebagaimana Tuhan menyertai Yeremia, sebagaimana Tuhan mendampingi para rasul, demikian pula Ia berjalan bersama kita. Ketika kita merasa tidak mampu, Tuhan berkata, “Aku ada di sini.” Ketika kita merasa sendirian, Tuhan berkata, “Engkau berharga di mata-Ku.” Dan ketika kita takut menghadapi hari esok, Tuhan berkata, “Jangan takut, sebab Aku menyertaimu.”
Maka dalam Ekaristi ini, marilah kita meletakkan segala kecemasan dan ketakutan kita di hadapan Tuhan. Semoga melalui Tubuh dan Darah Kristus yang kita sambut, hati kita diteguhkan untuk percaya bahwa kasih Allah selalu lebih besar daripada segala ketakutan kita. Sebab bersama Yesus, kita tidak selalu bebas dari badai kehidupan, tetapi yang pasti bersama Yesus kita tidak akan tenggelam oleh badai itu. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa XI

Sabtu Pekan Biasa XI

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
20 Juni 2026
Taw 24, 17-24 + Mzm 89 + Mat 6: 24-34

Lectio
Dalam suatu kesempatan bersabdalah Yesus kepada para muridNya: ‘’tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Meditatio
‘’Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain’, tegas Yesus kepada orang-orang yang mendengarkan pengajaranNya. Kemampuan insani yang amat terbatas akan memecah perhatian kita, bila mengabdi dua tuan. Karena itu, ‘kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon’. Setiap orang tidak bisa mengabdi Tuhan dan kekayaan; malah lebih baik kalau kita menyimpan harta yang kita miliki itu dalam surga, sebagaimana yang kita renungkan kemarin.
Mengabdi dua-tuan memang dikerjakan mengingat kekuatiran yang menyelimuti banyak orang. Iman kepercayaan kepada Tuhan yang tidak bersifat matematis membuat mereka mendua-hati dlam menghayati panggilannya. ‘Karena itu Aku berkata kepadamu: janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai’. Tuhan Allah akan atur. Yesus kemudian mempertajam persoalan dan membandingkannya dengan burung di udara, bunga bakung di ladang dan Salomo sendiri. ‘Janganlah kamu kuatir, Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu’, tegas Yesus.
Pernahkah kita mendua-hati sebagaimana dinyatakan Yesus? Kita diundang untuk benar-benar mempunyai iman kepercayaan yang teguh. Rasa kuatir dan gelisah memang seringkali tidak bisa kita hindari, kiranya kita tetap yakin juga bahwasannya iman akan mampu memindahkan gunung ke tengah lautan. Karena itu, ‘carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu’.

Oratio
Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu atas segala berkatMu yang engkau limpahkan bagi kami, walau tidak dapat disangkal kami seringkali kurang sabar dalam menghadapi segala sesuatu; malah mengkondisikan diri kami kuatir dan gelisah. Kami mohon, tambahkanlah iman kepercayaan kami kepadaMu. Amin.

Contemplatio
’Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain’

Translate »