Kemuliaan Sejati

Kemuliaan Sejati

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Markus 10:32-45

Rabu, 27 Mei 2026

Angka 3 dalam Kitab Suci melambangkanKesempurnaan ilahi, keutuhan, dan kesempurnaan. Dalam warta hari ini, untuk ketiga kalinya, Yesus secara khusus memberitahu para murid tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya di Yerusalem. Penginjil menggambarkan dengan sangat bagus perbedaan sikap Yesus dengan para murid-Nya. Yesus berjalan di depan dengan penuh keberanian untuk menyongsong penderitaan dan kematian-Nya, sementara para murid mengikutinya dengan perasaan cemas dan takut. Ini menunjukkan kesiapan Yesus yang taat mutlak kepada Bapa.

Perbedaan sikap Yesus dengan para murid-Nya semakin tampak jelas dalam diri Yakobus dan Yohanes. Mereka meminta posisi terhormat (duduk di kiri dan kanan Yesus) dalam kemuliaan-Nya. Permintaan tersebut menunjukkan bahwa mereka masih memiliki pola pikir duniawi tentang Kerajaan Allah. Yesus tidak marah dengan permintaan tersebut. Sebaliknya Dia menggunakan hal tersebut untuk mengajar para murid-Nya dengan sebuah pernyataan dan pertanyaan, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?” (Mark 10:38). “Cawan” adalah simbol penderitaan, sedangkan “baptisan” adalah simbol kematian. Sungguh luar biasa! Sebab kedua bersaudara itu menjawab, “kami siap”. Akan tetapi para murid lain marah kepada kedua bersaudara itu. Yesus kembali menggunakan kemarahan mereka sebagai bahan ajar, “i dunia, pemimpin berkuasa dan minta dilayani. Namun dalam Kerajaan Allah sebaliknya, siapa yang ingin menjadi besar atau terkemuka harus menjadi pelayan dan hamba bagi semua orang. Yesus bukan hanya mengajarkan, melainkan juga melaksanakan apa yang Ia ajarkan,  “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mark 10:45). 

Apa yang diajarkan dan dilakukan Yesus ini merupakan rangkuman seluruh Injil. Yesus menebus manusia dari dosa dengan menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib. Pesan yang ingin disampaikan Yesus kepada kita bahwa pelayanan yang sejati harus berpusat pada pengorbanan tanpa pamrih. Itulah kemualiaan sejati. Semoga kita dapat melakukannya.

Hari Raya Pentakosta A

Hari Raya Pentakosta A

(Kis. 2:1-11; 1Kor. 12:3b-7.12-13; Yoh. 20:19-23)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudari terkasih, hari ini Gereja bersukacita merayakan Hari Raya Pentakosta, hari dicurahkannya Roh Kudus atas para rasul dan atas seluruh Gereja. Pentakosta bukan sekadar kenangan akan suatu peristiwa di masa lampau, melainkan perayaan tentang Allah yang terus bekerja sampai hari ini. Roh Kudus yang dahulu turun atas para rasul, kini juga turun ke dalam hati kita. Roh yang sama masih berkarya, masih meniupkan kehidupan, masih menyalakan api iman, dan masih mengubah manusia yang lemah menjadi saksi-saksi Kristus yang berani.
Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul menggambarkan suasana yang sangat dahsyat. Para murid berkumpul dalam ketakutan dan kebingungan. Mereka kehilangan pegangan setelah Yesus wafat dan naik ke surga. Hati mereka masih dipenuhi kecemasan. Namun tiba-tiba terdengarlah bunyi seperti tiupan angin keras dan tampaklah lidah-lidah api hinggap di atas mereka. Seketika itu juga semuanya berubah. Orang-orang yang tadinya takut keluar dari persembunyian, kini berdiri dengan penuh keberanian mewartakan Kristus. Inilah karya Roh Kudus: Roh Kudus tidak membiarkan manusia tinggal dalam ketakutan, tetapi mengubahnya menjadi pribadi yang penuh semangat dan keberanian.
Saudara-saudariku terkasih, dunia hari ini sebenarnya juga penuh dengan “ruang tertutup.” Banyak orang hidup dengan hati yang terkunci. Ada yang terkunci oleh rasa kecewa, luka batin, rasa takut gagal, ketidakpastian ekonomi, konflik keluarga, bahkan ketakutan menghadapi masa depan. Banyak orang berjalan dengan wajah tersenyum, tetapi batinnya lelah dan kosong. Dalam keadaan seperti itulah Roh Kudus datang. Ia masuk menembus pintu-pintu yang tertutup rapat. Ia datang bukan untuk menghukum, tetapi untuk menghidupkan kembali hati yang mulai padam.
Injil hari ini sangat indah. Ketika para murid mengunci pintu karena takut kepada orang-orang Yahudi, Yesus datang berdiri di tengah mereka dan berkata, “Damai
sejahtera bagi kamu.” Lalu Ia menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus.” Perhatikanlah, Yesus tidak pertama-tama memberi ceramah panjang. Ia memberi damai dan Roh Kudus. Sebab tanpa Roh Kudus, manusia mudah dikuasai ketakutan, egoisme, dan keputusasaan. Tetapi ketika Roh Kudus hadir, hati menjadi hidup kembali. Orang yang tadinya lemah menjadi kuat. Orang yang tadinya putus asa menjadi penuh harapan. Orang yang tadinya dingin menjadi berkobar oleh cinta Tuhan.
Roh Kudus itu seperti api. Api selalu memiliki dua sifat: menerangi dan membakar. Roh Kudus menerangi pikiran kita agar mampu membedakan yang benar dan yang salah. Tetapi Roh Kudus juga membakar hati kita agar jangan menjadi orang kristiani yang suam-suam kuku. Gereja tidak membutuhkan umat yang hanya datang Misa tetapi hatinya dingin. Gereja membutuhkan umat yang menyala! Roh Kudus ingin membangkitkan semangat iman yang hidup, iman yang berani bersaksi, iman yang mampu menggerakkan dunia dengan kasih.
Kadang-kadang kita terlalu nyaman menjadi orang Katolik yang pasif. Datang ke gereja, pulang, lalu hidup biasa tanpa semangat pewartaan. Padahal Pentakosta mengundang setiap orang beriman untuk menjadi rasul. Roh Kudus tidak turun hanya untuk para imam, biarawan-biarawati, atau aktivis Gereja saja. Roh Kudus dicurahkan kepada semua orang. Kepada para ayah dan ibu agar keluarganya menjadi rumah doa. Kepada kaum muda agar berani menjadi terang di tengah dunia digital yang sering gelap oleh kebencian dan kepalsuan. Kepada anak-anak agar bertumbuh dalam iman yang hidup. Kepada semua umat agar menjadi saksi Kristus di tempat kerja, di sekolah, di pasar, dan di tengah masyarakat.
Bacaan kedua dari Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus mengingatkan bahwa Roh Kudus memberikan banyak karunia yang berbeda-beda, tetapi semuanya berasal dari Roh yang sama. Ada yang pandai mengajar, ada yang mampu melayani dengan setia, ada yang menjadi penghibur, ada yang memiliki kemampuan memimpin, ada yang sederhana tetapi penuh kasih. Semua karunia itu bukan untuk kesombongan pribadi, melainkan untuk membangun Gereja. Roh Kudus tidak menciptakan
persaingan, tetapi persekutuan. Ia mempersatukan perbedaan menjadi kekuatan yang indah.
Karena itu Pentakosta juga mengajak kita untuk meninggalkan semangat perpecahan. Jangan sampai hati kita dipenuhi iri hati, kebencian, gosip, atau permusuhan. Roh Kudus adalah Roh persatuan. Di mana Roh Kudus bekerja, di situ ada pengampunan, damai, dan kasih persaudaraan. Dunia saat ini terlalu lelah dengan kemarahan dan kebencian. Maka orang Kristiani harus menjadi pembawa kesejukan. Kehadiran kita harus membawa damai, bukan keributan; membawa harapan, bukan putus asa.
Saudara-saudariku terkasih, hari ini marilah kita membuka hati selebar-lebarnya bagi Roh Kudus. Jangan biarkan api Roh Kudus padam dalam hidup kita. Barangkali selama ini iman kita mulai dingin. Doa mulai hambar. Pelayanan mulai berat. Harapan mulai melemah. Hari ini Roh Kudus datang untuk membangkitkan kembali semangat itu. Tuhan ingin menyalakan kembali hati kita. Tuhan ingin membentuk kita menjadi Gereja yang hidup, Gereja yang bergerak, Gereja yang berani bersaksi.
Maka marilah pada Hari Raya Pentakosta ini kita berdoa dengan penuh iman, “Datanglah ya Roh Kudus! Hembuskanlah nafas kehidupan-Mu ke dalam hati kami. Bakarlah hati kami dengan api cinta-Mu. Bangkitkanlah keberanian dalam diri kami untuk menjadi saksi Kristus yang hidup.” Dan ketika Roh Kudus sungguh berkarya dalam diri kita, maka dunia akan melihat bahwa Gereja bukan sekadar bangunan, tetapi umat yang hidup, umat yang menyala oleh kasih Allah. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Translate »