Minggu Biasa XIVA

Minggu Biasa XIVA

(Za 9:9-10; Rom 8:9.11-13; Mat 11:25-30)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita merenungkan makna mengikuti Yesus. Untuk mengikuti-Nya kita harus sungguh-sungguh total, tanpa syarat, tanpa embel-embel lain, hanya pasrah dan setia memikul tugas dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan kepada kita. Pada minggu ini kita merenungkan makna menjadi yang lemah lembut dan rendah hati. Untuk memulai permenungan, kita mengawalinya dengan satu cerita kecil. Pada suatu hari Kaisar dari Cina berjalan. Ia bertemu dengan satu keluarga yang hidup dalam persekutuan yang erat, damai dan bahagia. Ia bertanya kepada Bapak dari keluarga tersebut: “Apa resep untuk satu hidup keluarga yang bahagia”. Si Bapak tadi menunjuk kepada si Kakek. Tapi si Kakek tidak menjawab melainkan meminta secarik kertas dan alat tulis. Sesudah menulis dia menyerahkannya kepada sang Kaisar sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam dan berkata, “Inilah resepnya”. Di atas kertas itu sang Kaisar membaca sebuah kalimat ini: “Hati yang lembut dan rendah!”.
Saudara-saudariku terkasih, lembut dan rendah hati itulah yang menjadi kunci kebahagiaan dalam keluarga dan komunitas kita. Dalam Injil hari ini kita mendengar Sabda Yesus: “Belajarlah daripada-Ku, sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati!” (ay.30). Bagi kita orang Kristen, Sabda Yesus ini penting untuk dilaksanakan. Yesus menekankan dua kebajikan ini: Lemah lembut dan rendah hati.
Kedua kebajikan ini mengungkapkan diri sebagai berikut: seorang yang rendah hati: tidak menonjolkan diri, tidak pernah mengucapkan suatu pujian terhadap dirinya, malahan kalau dipuji wajahnya menjadi merah, selalu mencari tempat duduk paling belakang atau yang terakhir dan selalu merasa diri sebagai orang yang tak layak dan berdosa. Sedangkan orang yang lemah lembut atau baik hati: selalu menghiasi wajahnya dengan senyum yang ramah, tidak kasar dan senantiasa menjaga sopan-santun dalam pembicaraan.
Namun, dipihak lain, kebajikan-kebajikan ini gampang dimanipulasikan untuk dijadikan kedok atau topeng untuk menyembunyikan sesuatu yang lebih buruk dari kenyataan sesungguhnya.
Misalkan:

  • Di balik senyum yang ramah ada sikap yang kasar dan sinis.
  • Seseorang yang selalu duduk di belakang, mungkin adalah seseorang yang suka dihormati.
  • Seseorang yang mengaku dirinya tak layak dan hina, tetapi bila hal itu dikatakan orang lain tentang dirinya, dia akan naik darah dan menjadi marah.
    Maka dasar dari sikap lembut dan rendah hati adalah sikap menerima diri dan tahu diri. Artinya: orang berani menerima sisi hidup yang gelap dan terang, bakat, kemampuan, dan kekurangannya, kelemahan dan kekuatannya. Orang membanggakan kehebatannya, tetapi tidak menutup mata terhadap kelemahan atau merasa hina karena kelemahannya. Kalau seseorang mampu menerima diri dan tahu diri, di situlah sebenarnya dia menciptakan pembaharuan untuk segala hidupnya.
    Sikap yang sama juga ditunjukkan terhadap sesama. Seseorang yang lemah lembut dan rendah hati bisa menerima orang lain apa adanya. Ia tidak segan-segan memuji dan menyanjung sesamanya. Ia juga tidak menolak kekurangan sesamanya. Sikap seperti inilah yang perlu kita pelajari dari Yesus. “Belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati”, demikian Yesus mengundang kita semua.
    Yesus berani mengundang kita untuk belajar pada-Nya karena Dia adalah Guru yang mengajar lewat sikap dan tingkah laku. Terhadap kedua belas rasul-Nya, Yesus membiarkan mereka datang masing-masing dengan kelemahan dan kebaikannya. Ada Petrus yang sombong tapi pengecut, Yohanes yang sangat hati-hati, Natanael yang berbicara terbuka tanpa basa-basi, dan Yudas yang tak dapat dipercaya dan mesti selalu diperhitungkan.
    Lihat juga perlakuan-Nya terhadap Zakheus. Ia tidak menuntut Zakheus untuk mengubah dirinya, sebagai prasyarat untuk kunjungan-Nya. Yesus tidak memerintahkan Zakheus untuk mengembalikan dulu semua yang ia peroleh. Yesus lebih dahulu
    mengunjungi dia di rumahnya, “Hari ini Aku harus menjadi tamu di rumahmu”. Kunjungan tersebut jelas merupakan tanda penerimaan Yesus terhadap Zakheus, si pemungut pajak itu. Justru karena penerimaan dan pengakuan Yesus seperti itu, Zakheus terharu dan berkata: “Tuhan, saya akan mengembalikan segala yang kuperoleh secara tak wajar”.
    Perlakuan Yesus yang kurang lebih sama dapat kita temukan juga pada diri wanita yang kedapatan berzinah dan yang akan dirajam. Yesus menerima wanita itu apa adanya, sesudah itu baru Yesus memberi nasihat agar wanita tersebut meninggalkan cara hidupnya.
    Coba lihat! Yesus berjumpa dengan manusia tanpa terlebih dahulu mengajukan prasyarat! Ia langsung menerima dan mengakui mereka tanpa praduga dan prasangka.
    Kalau begitu, belajarlah dari Yesus karena Ia lemah lembut dan rendah hati. Hanya dengan memiliki hati yang lembut dan rendah masing-masing kita bisa menerima diri dan saling menerima sesama sebagaimana dia adanya utuh dengan kebaikan maupun kekurangan, dengan segala sisi terang maupun sisi gelap kehidupannya. Hanya dengan hati seperti itu kita tidak mengawali hidup bersama dengan mengajukan prasyarat, tetapi dengan menerima dan mencintai sesama sebagaimana adanya. Dalam suasana hati yang lembut dan rendah setiap orang akan saling mengubah diri menuju persekutuan yang lebih serasi untuk saling membahagiakan. Mari kita saling memberi resep ini kepada sesama: lemah lembut dan rendah hati, niscaya hidup kita akan dipenuhi dengan kebahagiaan. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Translate »