Kitalah yang harus berbuat baik terlebih dahulu
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Ignasius Joko Purnomo
Matius 7:6.12-14
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Pada umumnya, manusia lebih menyukai jalan yang mudah. Kita senang jika segala sesuatu berjalan lancar, tanpa hambatan, tanpa pengorbanan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mencari pilihan yang paling nyaman, paling cepat, dan paling menguntungkan. Namun dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda. Dia berkata: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu; karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya. Tetapi sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Sabda Tuhan ini mengajak kita merenungkan dua hal penting: pertama, keberanian memilih pintu yang sesak; dan kedua, kesadaran bahwa keselamatan adalah pilihan yang harus diperbarui setiap hari.
Memilih Pintu yang Sesak.
Mengapa demikian? Karena mengikuti Kristus tidak selalu sejalan dengan keinginan dunia, keinginan-keinginan manusia. Jalan Kristus adalah jalan kasih, pengampunan, kejujuran, kerendahan hati, dan pengorbanan. Nilai-nilai ini sering kali bertentangan dengan semangat dunia yang mengutamakan keuntungan diri sendiri, popularitas, dan kenyamanan. Memilih pintu yang sesak berarti berani melakukan yang benar meskipun tidak populer. Berani berkata jujur meskipun bisa merugikan diri sendiri. Berani mengampuni meskipun hati masih terluka. Berani setia pada panggilan hidup dan janji yang telah diucapkan meskipun banyak tantangan. Melewati pintu yang sesat itu berarti: ketika seorang suami atau istri yang tetap setia ketika rumah tangga sedang mengalami masalah; ketika orang muda yang menolak godaan korupsi, ketidakjujuran, atau pergaulan yang merusak juga sedang memilih jalan yang sempit’ ketika seorang umat yang tetap meluangkan waktu untuk berdoa dan mengikuti Ekaristi di tengah kesibukan hidup juga sedang melangkah melalui pintu yang sesak. Pintu itu sesak bukan karena Tuhan ingin mempersulit hidup kita. Pintu itu sesak karena untuk masuk ke dalamnya kita harus meninggalkan banyak beban: kesombongan, egoisme, kebencian, iri hati, dan dosa-dosa yang melekat dalam diri kita. Seperti seorang peziarah yang harus melepaskan barang-barang yang tidak perlu agar dapat berjalan ringan, demikian pula kita harus melepaskan apa yang menghalangi langkah kita menuju Tuhan.
Keselamatan Adalah Pilihan Setiap Hari
Saudara-saudari, sering kali kita berpikir bahwa menjadi orang beriman cukup dengan satu keputusan besar dalam hidup. Padahal Yesus mengajarkan bahwa mengikuti-Nya adalah keputusan yang harus diperbarui setiap hari. Setiap pagi sebenarnya kita sedang berdiri di depan dua jalan. Jalan yang lebar dan jalan yang sempit. Jalan yang lebar menawarkan kenyamanan sesaat. Jalan yang sempit menawarkan kehidupan sejati. Pilihan itu hadir dalam hal-hal sederhana. Ketika muncul kesempatan untuk berbohong demi keuntungan pribadi, kita memilih antara dua jalan. Ketika ada konflik dalam keluarga, kita memilih antara mempertahankan ego atau membangun perdamaian. Ketika melihat sesama yang membutuhkan pertolongan, kita memilih antara sikap acuh tak acuh atau kasih yang nyata. Setiap keputusan kecil sesungguhnya membentuk arah hidup kita.
Sering kali kita menganggap dosa besar sebagai ancaman utama bagi keselamatan. Memang benar. Tetapi yang juga perlu diwaspadai adalah kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlahan menjauhkan kita dari Tuhan: menunda doa, mengabaikan Sabda Tuhan, membiarkan kebencian tinggal dalam hati, atau menjadi tidak peduli terhadap sesama. Karena itu keselamatan bukan hanya tujuan di akhir hidup, melainkan perjalanan yang kita jalani hari demi hari bersama Tuhan. Kabar baiknya adalah bahwa kita tidak berjalan sendirian. Kristus sendiri berjalan bersama kita. Ia tidak hanya menunjukkan jalan yang sempit, tetapi terlebih dahulu telah melewatinya. Yesus memilih jalan salib. Melalui salib, Ia membuka pintu kehidupan bagi seluruh umat manusia. Maka ketika kita merasa berat menjalani hidup sebagai murid Kristus, kita dapat memandang kepada Yesus. Ia memahami perjuangan kita.
Saudara-saudari terkasih,
Mari kita mohon rahmat Tuhan, agar kita memiliki keberanian untuk memilih yang benar, kesetiaan untuk tetap berjalan di jalan-Nya, dan harapan untuk terus melangkah menuju kehidupan yang telah dijanjikan-Nya.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Yusuf Dimas Caesario
Seorang pria baru saja pindah ke rumah baru. Setiap pagi saat minum kopi, ia selalu melihat ke luar jendela dan menggerutu melihat jemuran baju tetangganya. “Duh, tetangga baru itu kalau mencuci baju tidak pernah bersih ya? Kelihatan kusam dan banyak noda abu-abu,” bisiknya jengkel kepada istrinya.
Karena gemas, besoknya si pria mengambil kain lap dan pembersih kaca, lalu membersihkan bagian luar jendela rumahnya sendiri yang ternyata sudah berbulan-bulan berdebu tebal. Begitu selesai mengelap dan duduk kembali, ia terkejut melihat ke luar. Jemuran tetangganya ternyata putih bersih berkilauan. Sambil tersenyum kecut, ia baru sadar: yang kotor dari kemarin bukan baju tetangganya, melainkan jendelanya sendiri.
Isi Renungan
Dalam Injil Matius 7:1-5, Yesus memberikan sebuah teguran yang sangat menohok tentang kecenderungan manusiawi kita: “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”
Secara logika, bagaimana mungkin seseorang bisa melihat serpihan kayu kecil (selumbar) di mata orang lain jika matanya sendiri sedang terganjal sebatang balok kayu besar? Yesus menggunakan hiperbola ini untuk menelanjangi kemunafikan yang sering membungkus kehidupan rohani kita. Kita kerap kali bertindak sebagai “hakim” yang memegang palu sidang, siap mengetuk vonis atas kesalahan sesama, sementara kita lupa bahwa lensa pandangan kita sendiri—yaitu hati kita—sedang tertutup oleh debu dosa dan ego kita sendiri.
Dalam tradisi Gereja Katolik, teks ini mengajak kita pada praktik pemeriksaan batin (examinatio conscientiae). Menghakimi orang lain sering kali menjadi cara instan bagi ego kita untuk merasa “lebih suci” atau “lebih benar” tanpa harus bersusah payah memperbaiki diri sendiri. Saat kita sibuk menyoroti noda pada hidup orang lain, kita sebenarnya sedang melarikan diri dari cermin kebenaran Allah yang ingin menyingkapkan kerapuhan kita sendiri.
Tuhan tidak melarang kita untuk saling mengingatkan dalam kasih (correctio fraterna), namun koreksi itu hanya akan berbuah jika diawali dengan pertobatan pribadi. Bersihkan dulu “jendela” hati kita melalui kerendahan hati dan Sakramen Tobat. Dengan begitu, saat kita memandang sesama, kita tidak lagi melihat mereka melalui prasangka atau kemarahan, melainkan melalui tatapan penuh belas kasih seperti yang Yesus ajarkan kepada kita.
3 Poin Refleksi
Doa Singkat
Tuhan Yesus Kristus yang Maharahim, ampunilah kami yang sering kali lebih cepat menjadi hakim bagi sesama daripada menjadi saksi kasih-Mu. Sadarkanlah kami akan “balok” di mata kami sendiri, agar kami senantiasa rindu untuk bertobat dan membenahi diri sebelum menghakimi orang lain. Karuniakanlah kepada kami kerendahan hati dan mata yang penuh belas kasih, supaya kami mampu memandang sesama sebagaimana Engkau memandang kami. Amin.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm