Yesus mendoakan kita para muridNya
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
(Kis.1:12-14; 1Ptr.4:13-16; Yoh. 17:1-11a)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, beberapa hari yang lalu Gereja merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan. Dalam peristiwa itu, Yesus tidak meninggalkan murid-murid-Nya sebagai anak-anak yatim, tetapi memberikan janji yang begitu meneguhkan. Ia akan tetap menyertai para murid-Nya sampai akhir zaman. Namun penyertaan itu tidak membuat para murid menjadi pasif. Sebaliknya, mereka diutus untuk menjadi saksi, menjadi tanda kehadiran Allah di tengah dunia. Karena itulah pada Minggu Paskah ketujuh ini, di tengah Novena Pentakosta dan bertepatan dengan Hari Komunikasi Sosial Sedunia, Sabda Tuhan mengajak kita merenungkan kembali bagaimana menjadi murid Kristus yang mampu menghadirkan kasih Allah melalui hidup, kata-kata, dan relasi yang kita bangun dengan sesama.
Dalam Injil hari ini, kita mendengar doa Yesus kepada Bapa-Nya. Ini bukan sekadar doa biasa, melainkan doa hati seorang Guru bagi murid-murid yang dikasihi-Nya. Yesus tahu bahwa perjalanan para murid tidak akan mudah. Mereka akan menghadapi penolakan, kesalahpahaman, bahkan penderitaan. Karena itu Yesus berdoa bagi mereka. Betapa menghibur kenyataan ini, sebelum kita berjuang bagi Tuhan, Tuhan terlebih dahulu berdoa bagi kita. Sebelum kita berbicara tentang Dia, Dia terlebih dahulu menyebut nama kita di hadapan Bapa. Di sinilah sumber kekuatan seorang murid Kristus yakni kita tidak pernah berjalan sendirian.
Bacaan pertama menggambarkan para rasul yang berkumpul bersama Bunda Maria dalam doa, menantikan pencurahan Roh Kudus. Mereka tidak langsung berlari ke sana kemari, tidak sibuk menciptakan strategi, tetapi terlebih dahulu tinggal dalam keheningan, dalam kebersamaan, dan dalam doa. Mereka belajar bahwa sebelum mewartakan Injil kepada dunia, hati mereka sendiri harus terlebih dahulu dipenuhi oleh kehadiran Allah. Sikap inilah yang sangat relevan dengan pesan Paus Leo XIV yang mengingatkan bahwa di tengah dunia digital, manusia jangan kehilangan wajah dan suaranya. Jangan sampai manusia terlalu sibuk berbicara, tetapi lupa mendengarkan. Jangan sampai manusia begitu cepat memberi komentar, tetapi tidak lagi punya waktu untuk merenung, berdoa, dan sungguh hadir bagi sesama.
Hari ini teknologi membuat komunikasi terasa begitu mudah. Dalam hitungan detik pesan sampai, berita menyebar, dan informasi datang tanpa batas. Bahkan kecerdasan buatan dapat membantu manusia menyelesaikan banyak pekerjaan. Namun Paus Leo XIV mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada manusianya. Apakah teknologi membantu kita semakin manusiawi, atau justru membuat kita kehilangan kehangatan relasi? Sebab komunikasi sejati bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan perjumpaan hati. Seseorang bisa memiliki ribuan kontak, tetapi tetap merasa sendiri. Seseorang bisa sangat aktif di dunia maya, tetapi diam dan dingin di rumahnya sendiri. Di sinilah Sabda Tuhan mengundang
kita untuk kembali kepada komunikasi yang lahir dari hati, komunikasi yang membawa kehidupan, bukan sekadar kebisingan.
Yesus dalam Injil berkata bahwa hidup kekal adalah mengenal Allah, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Dia yang diutus-Nya. Mengenal di sini bukan sekadar tahu, melainkan mengalami, berjumpa, dan hidup dalam relasi yang mendalam dengan Allah. Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita sebenarnya sedang diajak bertemu muka dengan Allah. Allah hadir dalam Sabda yang kita dengarkan. Allah hadir dalam Tubuh dan Darah Kristus yang kita sambut. Allah hadir dalam pelayan Gereja yang memimpin liturgi. Dan Allah juga hadir dalam wajah-wajah umat yang berdoa bersama kita. Artinya, wajah Allah sering kali hadir bukan dalam sesuatu yang spektakuler, tetapi dalam orang-orang sederhana yang kita jumpai setiap hari.
Bacaan kedua mengingatkan kita bahwa menjadi pengikut Kristus juga berarti siap menanggung penderitaan demi nama-Nya. Namun penderitaan itu bukan tanda Allah meninggalkan kita, melainkan kesempatan untuk semakin serupa dengan Kristus. Dalam hidup sehari-hari, kesaksian itu bisa sangat sederhana, dengan tetap sabar ketika disalahpahami, tetap jujur ketika orang lain memilih jalan pintas, tetap mengampuni ketika hati terluka, tetap menjaga kata-kata ketika banyak orang memilih menyebarkan kebencian. Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi dunia sangat membutuhkan orang yang mampu menghadirkan kelembutan, kejujuran, dan damai Kristus.
Sebagai teladan, kita dapat belajar dari Ibu Teresa. Ia tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi melihat wajah Kristus dalam diri orang miskin, orang sakit, dan mereka yang berada di ambang kematian. Di tengah tubuh yang lemah, luka yang berbau, dan air mata penderitaan, ia menemukan wajah Allah. Ia mengusap mereka, memandikan mereka, menyuapi mereka, dan menemani mereka dengan doa. Itulah komunikasi yang paling dalam, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui kehadiran dan kasih yang nyata.
Saudara-saudariku terkasih, di tengah dunia yang semakin penuh dengan suara, komentar, gambar, dan informasi, Kristus hari ini mengundang kita untuk menjaga wajah kita tetap memancarkan kasih, dan suara kita tetap membawa kebenaran. Jangan sampai teknologi membuat hati kita menjadi dingin. Jangan sampai kesibukan membuat kita kehilangan kemampuan untuk hadir bagi orang-orang terdekat. Semoga melalui Roh Kudus yang sedang kita nantikan, kita semakin dimampukan menjadi murid-murid Kristus yang mampu mengenali wajah Allah dalam setiap peristiwa hidup, dan menghadirkan wajah Kristus bagi siapa pun yang kita jumpai. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
16 Mei 2026
Kis 18: 23-28 + Mzm 47 + Yoh 16: 23-28
Lectio
Pada waktu itu bersabdalah Yesus: ‘sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa’.
Meditatio
‘Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa’, tegas Yesus. KenaikanNya ke surge membuktikan dan membenarkan segala yang pernah disampaikanNya. Dia yang datang dari atas, kembali ke atas. Yesus telah datang ke dunia, tetapi Dia tidak mau menjadi dunia. Dia mengikatkan diri pada dunia, tetapi tidak mau terikat oleh dunia.
Kenaikan Yesus ke surge juga tidak membuat para murid berdukacita. Ada keheranan dan kekaguman. Ada kebanggaan, ada ketakutan. Itu wajar. Semuanya membuktikan, bahwa ‘kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah’. Kepercayaan membuat setiap orang mampu menikmati segala peristiwa ilahi yang dijumpainya.
Oratio
Yesus Tuhan, kami bersyukur kepadaMu karena boleh percaya kepadaMu. Kami bersyukur kepadaMu, karena banyak hal indah yang Engkau tunjukkan kepada kami. Semoga kami menikmatinya dengan penuh syukur dan membuat kami semkin rendu akan belaskasihMu. Amin.
Contemplatio
‘Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa’.
(Kis. 1:1-11; Ef. 1:17-23; Mat. 28:16-20)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, hari ini kita merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan. Ia telah datang ke dunia dan telah melaksanakan tugas perutusan-Nya, yakni tugas menyelamatkan manusia. Setelah menunaikan segalanya, Ia kembali ke surga, tinggal bersama Bapa-Nya. Kenaikan-Nya ke surga adalah tanda, materai bahwa tugas-Nya di dunia ini telah selesai. Namun sebelum naik ke surga Ia secara resmi mengutus murid-murid-Nya, juga para pengganti mereka untuk meneruskan pewartaan karya penyelamatan Allah yang sudah Ia laksanakan di dunia. Yesus menyadari bahwa tugas para murid-Nya itu tidak ringan dan tidak mustahil akan berhadapan dengan banyak kesukaran. Karena itu, agar mereka tidak takut menghadapi kesulitan-kesulitan itu, Ia berjanji untuk selalu menyertai mereka dan menguatkan mereka, “Aku menyertai kami senantiasa sampai pada akhir jaman”. Inilah janji yang menghibur dan meneguhkan para murid termasuk kita semua yang ada di sini.
Saudara-saudariku terkasih, sebagai teman kita saat berziarah di dunia ini Yesus menyediakan sarana-sarana keselamatan yang dapat kita perolah, sarana yang mengantar kita kelak ke tempat yang Ia janjikan. Pertama, iman yang kita miliki. Iman yang membuat kita selalu sadar dan tahu apa artinya hidup dan kematian kita. Kita tahu dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi. Sarana kedua, Sakramen Pembaptisan. Sakramen ini telah menjadikan kita sebagai anak-anak Allah dan karena itu berhak mengalami persaudaraan dengan-Nya. Inilah jaminan keselamatan kita. Kita tidak mengembara tanpa arah, ada Tuhan yang penjadi penuntun kita. Belum cukup dengan jaminan ini, Ia masih memberi kita bekal dalam pengembaraan dan dalam menunaikan tugas perutusan kita sebagi rasul-rasul-Nya. Bekal itu pertama-tama
adalah Ekaristi Kudus. Di dalam Ekaristi Kudus kita bersatu dengan Kristus. Itulah satu bukti nyata bahwa Ia beserta kita.
Yesus berkata kepada kita, “pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarilah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku-perintahkan kepadamu”. Sekarang, bagaimana jawaban kita terhadap rahmat yang Ia tawarkan sekalgus mengandung sebuah perutusan itu? Tentu tidak ada jawaban lain selain bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya. Terima kasih karena Tuhan telah mengerjakan dan menyiapkan segala sesuatu bagi kita. Terima kasih karena apa yang Ia siapkan di hari mendatang yakni kebahagiaan kekal bagi kita. Syukur karena di depan kita terbentang satu masa depan yang menggembirakan.
Namun, saudara-saudariku terkasih, kalau kita jujur, ternyata kita merasa terlalu sibuk dengan tugas keseharian kita, seolah-olah tidak lagi punya waktu untuk mengucapkan kata: “Terima kasih Tuhan”. Padahal cinta-Nya terus mengalir dalam hidup kita. Karena itu mari kita menyadari begitu besar kasih Allah yang kita alami setiap hari, setelah itu barulah kita mampu mengucap syukur. Setiap apa yang kita kerjakan juga bisa menjadi ucapan syukur asalkan kita mengingat nama-Nya. Mengingat nama-Nya hendak mengatakan bahwa kita selalu berada pada jalan yang Ia tetapkan, dalam ajaran dan perintah-Nya.
Tentu saja, kita tidak lagi dituntut seperti halnya para misionaris jaman dulu di mana mereka pergi ke pelosok pedalaman, ke negara-negara yang belum mengenal Yesus, untuk membaptis mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus, tetapi kita bisa merasul di tengah keluarga kita, komunitas kita, lingkungan kita, paroki kita. Singkatnya, pada mereka yang kita jumpai setiap hari, kita bisa menjadi rasul ulung dengan menjadi saksi kasih-Nya yang nyata, dalam kata, dalam sikap, dalam teladan
kebaikan, pengampunan, kerendahan hati, keadilan, kejujuran dan seterusnya. Inilah perutusan kita sesungguhnya, sehingga orang yang melihat kita meskipun tidak dibaptis bisa meniru kita dalam berbuat kebaikan sehingga mereka pun sampai kepada Allah dan beroleh keselamatan. Tuhan memberkati kita semua. Amin.