Kasih Allah mengalahkan kejahatan

Kasih Allah mengalahkan kejahatan

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Yohanes 3:16-21

Rabu 15 April 2026

Ada ungkapan dalam Bahasa Batak Toba, Hansit mulak mangido, hum hansit mulak mangalehon”, artinya Sakit rasanya jika permintaan ditolak, akan lebih sakit jika pemeberian yang ditolak. Tetapi inilah yang dialami oleh Allah. Memperoleh hidup yang kekal bukan hanya kerinduan jiwa setiap manusia, melainkan juga merupakan kehendak Allah sendiri atas manusia ciptaan-Nya, sebagaimana difirmankan, “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Kehendak Allah untuk menyelamatkan manusia  membuat Allah rela mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya” (Yoh. 3:17). Syarat satu-satunya untuk memperoleh hidup kekal adalah beriman. Perlu kita sadari bahwa yang dimaksud dengan “beriman” di sini bukanlah percaya pada ajaran yang abstrak, persetujuan intelektual terhadap doktrin, melainkan penyerahan diri secara total, terbuka terhadap Yesus dan karya-karya-Nya.

Hidup kekal bukanlah hidup setelah kehidupan di dunia ini, melainkan hidup pengenalan akan Allah, sebagaimana difirmankan, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh17:3 ). Dengan sabda tersebut jelas bagi kita bahwa yang bisa mengenal Allah yang benar, dan Yesus Kristus utusan-Nya adalah orang hidup. Dengan kata lain jika selama hidupnya tidak mengenal Allah yang benar, maka akan mati dalam keadaan tidak mengenal Allah. Persolannya mahkluk yang namanya manusia tampaknya lebih memilih yang bukan Allah dari pada Allah, lebih memilih kegelapan dari pada terang, lebih memilih hukuman dari pada kemerdekaan.

3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Mengapa demikian? Sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Siapa saja yang berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak. akan tetapi siapa saja melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah. Mari kita berupaya hidup di dalam terang kasih-Nya agar kita selalu melakukan yang benar.

RENUNGAN: 14 APRIL 2026

RENUNGAN: 14 APRIL 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Yohanes 3:7-15

Saudara-saudari terkasih.

Di zaman sekarang kita terbiasa berpikir secara rasional: mempertimbangkan data, logika, dan bukti sebelum mengambil keputusan. Sikap ini tentu baik dan membantu dalam banyak hal, tetapi tanpa kita sadari, cara berpikir ini juga meresap ke dalam hidup beriman kita. Kita ingin memahami segalanya tentang Tuhan terlebih dahulu, baru kemudian mau percaya. Injil hari ini mengajak kita untuk melihat kembali: apakah iman kita masih memberi ruang bagi misteri Allah yang melampaui logika manusia?

Dalam Injil hari ini, kita berjumpa dengan seorang tokoh yang sangat menarik, yaitu Nikodemus. Ia bukan orang sembarangan. Ia seorang Farisi, seorang pemimpin agama, orang yang terpelajar, terbiasa berpikir logis dan sistematis. Namun justru di sinilah letak pergumulannya. Ketika Yesus Kristus berbicara tentang “dilahirkan kembali”, Nikodemus kebingungan. Ia mencoba memahami dengan logikanya: Bagaimana mungkin seseorang masuk kembali ke rahim ibunya? Pertanyaan itu sebenarnya jujur. Tapi juga menunjukkan keterbatasan cara berpikir manusia.

Saudara-saudari terkasih, Nikodemus mewakili kita semua. Sering kali kita juga seperti dia: kita ingin semuanya jelas dulu, kita ingin semua masuk akal dulu, kita ingin semua bisa dijelaskan dulu… baru setelah itu kita mau percaya. Padahal, dalam hidup iman, jalannya sering justru sebaliknya: percaya dulu, baru perlahan mengerti. Mengapa? Karena Allah adalah misteri. Dan misteri tidak bisa sepenuhnya diperas masuk ke dalam logika manusia yang terbatas.

Di sinilah kita diingatkan oleh Santo Agustinus dengan kata-katanya yang terkenal: “Crede ut intelligas” – “Percayalah supaya engkau mengerti.” Artinya, iman bukanlah hasil akhir dari pemahaman, tetapi justru pintu masuk menuju pengertian. Ini sangat sejalan dengan pengalaman Nikodemus: ia ingin mengerti dulu, padahal Yesus mengajak untuk percaya terlebih dahulu. Iman membuka mata hati yang tidak bisa dijangkau oleh logika semata.

Coba kita refleksikan sejenak: Ketika kita mengalami penderitaan, kita sering bertanya: “Kenapa Tuhan izinkan ini terjadi?” Ketika doa kita belum dikabulkan, kita bertanya: “Apakah Tuhan benar mendengarkan?” Ketika jalan hidup terasa gelap, kita ingin kepastian: “Ke mana arah hidupku?” Dalam situasi seperti itu, kita sering menuntut: “Tuhan, jelaskan dulu… baru saya percaya.” Tetapi Yesus hari ini seakan berkata: “Percayalah dulu… maka engkau akan melihat.”

Saudara-saudari terkasih.

Iman bukan berarti kita berhenti berpikir. Gereja tidak pernah menolak akal budi. Tetapi iman mengajak kita melangkah lebih jauh: bukan hanya memahami, tetapi juga mempercayakan diri. Seperti seorang anak kecil yang percaya pada orang tuanya. Seorang anak tidak selalu mengerti: mengapa ia harus pergi ke sekolah, mengapa ia tidak boleh melakukan ini atau itu. Namun ia percaya, karena ia tahu orang tuanya mengasihi dia. Demikian juga dengan kita di hadapan Tuhan.

Saudara-saudari terkasih,

Nikodemus datang kepada Yesus pada malam hari – dalam kegelapan, dalam kebingungan. Namun itu bukan akhir ceritanya. Perlahan-lahan, imannya bertumbuh. Ia akhirnya berani tampil dan menunjukkan imannya kepada Yesus. Demikian juga kita. Kita mungkin datang kepada Tuhan dengan banyak pertanyaan. Itu tidak apa-apa. Tetapi jangan berhenti pada pertanyaan. Melangkahlah dalam iman. Karena dalam hidup kristiani, kita tidak dipanggil untuk mengerti segalanya, tetapi untuk percaya kepada Dia yang mengerti segalanya.

Translate »