Rm Ignasius Joko Purnomo
Markus 8:14-21
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Beberapa waktu lalu, ada seorang ibu yang datang berkonsultasi dengan seorang pastor. Ia bercerita bahwa hidupnya penuh kecemasan. Ia takut masa depan anak-anaknya, takut tidak cukup uang, takut suaminya kehilangan pekerjaan. Pastor itu kemudian bertanya dengan lembut: “Ibu, apakah Tuhan pernah mengecewakan ibu?” Ibu itu terdiam sejenak, lalu menjawab: “Tidak, Romo. Justru saya sudah sering mengalami bahwa Tuhan selalu menolong pada waktunya.” Pastor itu tersenyum dan berkata: “Kalau begitu, mengapa sekarang ibu seolah-olah lupa pada Dia yang setia itu?”
Saudara-saudari, kisah sederhana ini sangat dekat dengan Injil hari ini. Para murid Yesus juga sedang “lupa.” Mereka lupa membawa roti, dan ketika Yesus memperingatkan tentang “ragi orang Farisi dan ragi Herodes,” mereka malah berpikir bahwa Yesus menegur karena mereka tidak punya roti. Yesus lalu menegur mereka dengan tegas: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum juga kamu mengerti dan tidak paham? Masihkah hatimu degil?” Yesus menegur bukan karena soal roti, tetapi karena kurangnya kepekaan iman. Para murid telah melihat sendiri bagaimana Yesus menggandakan lima roti untuk lima ribu orang, dan tujuh roti untuk empat ribu orang. Tetapi ketika mereka dihadapkan pada situasi kekurangan, mereka langsung panik, seolah-olah mukjizat itu tidak pernah terjadi. Sering kali kita pun seperti itu, bukan? Kita sudah sering mengalami campur tangan Tuhan, diselamatkan dari kesulitan, diberi rezeki saat tak disangka, diberi kekuatan saat nyaris putus asa; tetapi ketika masalah baru muncul, kita mudah gelisah lagi, takut lagi, seolah-olah Tuhan tidak lagi hadir. Hati yang tidak peka membuat kita gagal melihat karya Allah. Kita sibuk menghitung kekurangan, bukan mengingat kasih-Nya. Kita lebih fokus pada “tidak ada roti,” bukan pada “Tuhan yang duduk di perahu.”
Saudara-saudari, Yesus mengingatkan para murid tentang mukjizat penggandaan roti bukan sekadar agar mereka kagum, tetapi agar mereka ingat. Mengingat adalah cara iman untuk hidup kembali. Dalam setiap perayaan Ekaristi, Gereja juga mengajarkan hal yang sama: kita mengenang karya penyelamatan Kristus. Dan dalam mengenang, kita tidak sekadar memutar memori, melainkan menghadirkan kembali kasih Allah yang hidup di tengah kita. Sering kali sumber kecemasan kita adalah karena kita lupa. Lupa bahwa Tuhan telah setia. Lupa bahwa doa kita pernah dijawab. Lupa bahwa dalam masa sulit, ada kekuatan yang tiba-tiba muncul; itulah rahmat Tuhan. Maka Yesus berkata seolah kepada kita hari ini: “Apakah kamu belum juga mengerti?” Ia ingin agar kita mengingat dan percaya bahwa Allah yang dulu mencukupkan, sekarang pun bekerja dengan cara yang sama.
Saudara-saudari terkasih,
mata jasmani hanya melihat roti yang kurang, mata iman melihat Tuhan yang mampu mencukupkan segala sesuatu. Mata jasmani melihat masalah besar, mata iman melihat peluang bagi Allah untuk menunjukkan kasih dan kuasa-Nya. Iman mengubah cara kita memandang hidup. Bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi karena kita tahu siapa yang berjalan bersama kita. Yesus yang ada di perahu bersama para murid juga ada dalam “perahu” kehidupan kita di tengah badai, di tengah kekurangan, di tengah rasa takut. Kita sering sibuk menghitung berapa roti yang kita punya, tetapi lupa bahwa Roti Hidup itu sendiri ada bersama kita.
Saudara-saudari,
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk belajar mengingat dan melihat dengan iman. Setiap kali kita mengingat karya Tuhan, iman kita diperbarui. Setiap kali kita mengenang kesetiaan-Nya, hati kita menjadi damai. Dan setiap kali kita memandang dengan mata iman, kita menemukan kekuatan untuk melangkah dalam situasi apa pun. Mari kita mohon rahmat Tuhan, agar hati kita tidak menjadi keras oleh kekhawatiran dunia, tetapi menjadi lembut dan peka akan tanda-tanda kasih Allah. Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk selalu mengingat bahwa Tuhan yang telah setia di masa lalu, adalah Tuhan yang tetap bekerja hari ini dan selamanya.