Minggu Biasa XVIIIA

Minggu Biasa XVIIIA

(Yes 55:1-3; Rom 8:35.37-39; Mat 14: 13:21)

Rm. Yohanes Endi, Pr.

Saudara-saudariku terkasih, setiap manusia pasti pernah merasakan lapar. Lapar bukan hanya karena perut belum terisi makanan, tetapi juga lapar akan perhatian, lapar akan kasih sayang, lapar akan penghiburan, lapar akan harapan, bahkan lapar akan makna hidup. Tidak sedikit orang yang hidup berkecukupan secara materi, tetapi batinnya tetap merasa kosong. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, namun wajahnya selalu memancarkan damai karena hatinya dipenuhi oleh kasih Tuhan. Itulah sebabnya, melalui bacaan pertama hari ini, Nabi Yesaya menyampaikan undangan Allah yang begitu indah, “Hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah; dan kamu yang tidak mempunyai uang, marilah!” Allah mengundang setiap orang datang kepada-Nya tanpa syarat. Ia tidak menawarkan sesuatu yang semu, melainkan diri-Nya sendiri sebagai sumber kehidupan yang mampu memuaskan dahaga terdalam hati manusia.

Undangan Allah itu menemukan kepenuhannya dalam diri Yesus sebagaimana kita dengarkan dalam Injil hari ini. Setelah mendengar kabar wafatnya Yohanes Pembaptis, Yesus sebenarnya mencari tempat yang sunyi. Sebagai manusia, Ia pun membutuhkan waktu untuk berdiam diri dan berdoa. Namun ketika melihat orang banyak mengikuti-Nya, Injil mengatakan bahwa hati Yesus tergerak oleh belas kasih. Ia tidak menolak mereka. Ia menyembuhkan yang sakit, mengajar mereka, dan ketika hari mulai malam, Ia tidak tega membiarkan mereka pulang dalam keadaan lapar. Di sinilah kita melihat wajah Allah yang sesungguhnya. Allah bukan hanya mengajar dari kejauhan, tetapi hadir, melihat penderitaan manusia, dan mengambil bagian di dalamnya. Mukjizat penggandaan lima roti dan dua ikan lahir bukan pertama-tama karena banyaknya makanan yang tersedia, melainkan karena besarnya belas kasih Allah kepada umat-Nya.

Menariknya, ketika para murid melihat kenyataan bahwa makanan yang ada sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah orang yang harus diberi makan, mereka segera mengambil kesimpulan yang menurut ukuran manusia sangat masuk akal: “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka dapat membeli makanan sendiri.” Bukankah sikap seperti ini juga sering muncul dalam diri kita? Ketika melihat persoalan yang terlalu besar, kita mudah berkata, “Itu bukan urusanku.” Ketika melihat orang lain mengalami kesulitan, kita merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Ketika menghadapi tantangan hidup, kita lebih dahulu menghitung kekurangan daripada mempercayai penyelenggaraan Tuhan. Namun Yesus justru memberikan jawaban yang mengejutkan, “Kamu harus memberi mereka makan.” Kalimat ini bukan sekadar perintah kepada para rasul, tetapi juga panggilan bagi setiap orang beriman untuk tidak menutup mata terhadap kebutuhan sesama.

Ada sebuah cerita sederhana. Seorang anak kecil sedang berjalan di tepi pantai yang dipenuhi ribuan bintang laut yang terdampar setelah ombak besar. Ia memunguti satu demi satu lalu melemparkannya kembali ke laut. Seorang dewasa yang melihatnya berkata, “Untuk apa? Jumlahnya begitu banyak. Apa bedanya satu atau dua ekor?” Anak itu tersenyum sambil melempar seekor bintang laut ke laut dan berkata, “Bagi yang satu ini, perbedaannya sangat besar.” Kisah sederhana ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah meminta kita menyelesaikan semua persoalan dunia. Tuhan hanya meminta kita setia melakukan bagian kecil yang mampu kita lakukan. Lima roti dan dua ikan memang tampak sangat sedikit, tetapi ketika diserahkan ke dalam tangan Yesus, semuanya berubah menjadi berkat bagi ribuan orang. Demikian pula hidup kita. Mungkin kemampuan kita terbatas, waktu kita sedikit, rezeki kita tidak berlebihan, tetapi bila semuanya dipersembahkan kepada Tuhan dengan hati yang tulus, Ia sanggup menjadikannya berkat bagi banyak orang.

Mukjizat itu juga mengingatkan kita bahwa kelimpahan tidak selalu dimulai dari banyaknya harta, melainkan dari hati yang mau berbagi. Dunia sering mengajarkan bahwa semakin banyak kita menyimpan, semakin aman hidup kita. Sebaliknya, Yesus mengajarkan bahwa hidup justru menjadi bermakna ketika kita berani berbagi. Anehnya, orang yang murah hati hampir selalu merasa cukup, sedangkan orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri sering kali merasa kurang. Kelimpahan yang sejati bukan terletak pada apa yang kita miliki, tetapi pada kasih yang mampu kita bagikan kepada sesama.

Di sinilah bacaan kedua menjadi peneguhan yang sangat indah. Santo Paulus berkata, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?” Pertanyaan itu segera dijawabnya sendiri: tidak ada apa pun. Bukan penderitaan, bukan kesesakan, bukan penganiayaan, bukan kelaparan, bahkan bukan maut sekalipun. Mengapa Paulus begitu yakin? Karena ia sendiri telah mengalami bahwa kasih Kristus tidak pernah meninggalkannya. Kasih itulah yang memberi keberanian untuk tetap berharap ketika hidup terasa berat dan memberi kekuatan untuk tetap berbagi meskipun diri sendiri sedang mengalami kekurangan. Orang yang percaya bahwa dirinya dikasihi Tuhan tidak akan hidup dalam ketakutan, sebab ia yakin bahwa Allah tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya berjalan sendirian.

Saudara-saudariku terkasih, setiap kali kita merayakan Ekaristi, sesungguhnya kita kembali mengalami mukjizat yang sama. Kita datang membawa “lima roti dan dua ikan” kita masing-masing: kelelahan karena bekerja, kegelisahan akan masa depan, sakit yang belum sembuh, persoalan keluarga, doa-doa yang belum terjawab, dan harapan yang masih kita simpan dalam hati. Semua itu kita letakkan di altar bersama roti dan anggur. Di dalam tangan Kristus, semuanya diubah menjadi rahmat yang menguatkan hidup kita. Karena itu, jangan pernah merasa bahwa hidup kita terlalu kecil untuk dipakai Tuhan. Jangan pernah berpikir bahwa kebaikan yang kita lakukan tidak berarti. Di tangan Tuhan, kasih yang sederhana mampu menjadi mukjizat yang mengubah kehidupan banyak orang.

Maka, sepulang dari gereja hari ini, marilah kita membawa satu keyakinan dalam hati: Allah tidak pernah membiarkan kita lapar akan kasih-Nya. Ia selalu menyediakan apa yang kita perlukan pada waktu yang tepat. Tugas kita hanyalah datang kepadaNya dengan hati yang percaya, menyerahkan apa yang kita miliki, dan membiarkan Tuhan berkarya melalui hidup kita. Selama kita tetap tinggal dalam kasih Kristus, seperti yang ditegaskan Santo Paulus, tidak ada kekuatan apa pun yang mampu memisahkan kita dari Dia. Dan bila Kristus selalu bersama kita, kita tidak akan pernah kekurangan alasan untuk berharap, tidak akan pernah kehabisan kekuatan untuk berbagi, dan tidak akan pernah kehilangan sukacita untuk melayani. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa XVII

Sabtu Pekan Biasa XVII

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
1 Agustus 2026
Yer 26: 11-16 + Mzm 69 + Mat 14: 1-12

Lectio
Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: “Tidak halal engkau mengambil Herodias!” Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala Yohanes itu pun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.

Meditatio
‘Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam’. Suara inilah yang bergema dipikiran anak remaja. Suara itu adalah suara ibu, yang telah banyak berjasa padanya. Suara itu jahat, tetapi mengingat begitu keras dan menggema dalam pikirannya, apalagi sang ibu sendiri yang berkata-kata. Bolehkah anak remaja ini menentukan pilihan? Pilihan mana yang seharusnya diambil?
‘Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama TUHAN, Allah kita’ (Yer 26). Suara keras inilah yang didengar oleh orang-orang Israel, dan membuat mereka tidak jadi membunuh Yeremia. Itu suara baik. Memang tak dapat disangkal, kemarahan melatarbelakangi usaha pembunuhan Yohanes Pembaptis dan nabi Yeremia. Kemarahan yang ditumbuhkembangkan akan mengakibatkan dosa yang lebih besar lagi. Kemarahan bibit usaha pembunuhan terhadap sesame.
Semua suara berasal dari luar, dan tidak membuat najis. Pikiran jahat untuk membunuh Yohanes Pembaptis itulah yang menajiskan. Keputusan pribadi seseorang mampu membuat dirinya memilih yang terbaik atau jahat. Kiranya seperti dikatakan Yesus sendiri: mana yang kita lakukan membinasakan atau menyelamatkan?
Kematian pun bukanlah hal yang menakutkan bagi setiap orang yang beriman. Bukankah mati atau hidup kita milik Tuhan? Kematian sungguh semakin berharga memang, kalau kita persembahkan untuk Tuhan Yesus, sebagaimana dikatakan santo Alfonsus Ligori.

Oratio
Yesus Kristus, mengikuti Engkau memang menantang setiap orang untuk berani menanggung resiko. Namun semuanya itu tidak menakutkan, bila kami sungguh-sungguh mengandalkan Engkau. Semoga Engkau menguatkan jiwa raga kami dalam mengikuti Engkau.
Santo Alfonsus Ligouri, doakanlah kami. Amin.

Contemplatio
‘Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama TUHAN, Allah kita’.

Translate »