Minggu Biasa XVI A
(Keb. 12:13.16-19; Rom. 8:26-27; Mat.13:24-43)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih Minggu lalu kita diajak merenungkan perumpamaan tentang penabur. Benih yang jatuh di tanah yang baik akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlipat ganda. Hari ini Yesus masih berbicara tentang benih, tetapi kali ini Ia menambahkan satu kenyataan yang sangat dekat dengan kehidupan kita yakni di tengah gandum yang baik selalu ada ilalang. Gambaran itu sangat nyata. Tidak ada keluarga yang seluruhnya sempurna. Tidak ada lingkungan kerja yang seluruhnya baik. Tidak ada komunitas yang seluruh anggotanya selalu hidup kudus. Bahkan di dalam hati kita sendiri, sering kali bertumbuh bersama-sama keinginan untuk berbuat baik dan kecenderungan untuk jatuh dalam kelemahan. Itulah sebabnya perumpamaan ini begitu relevan bagi kehidupan kita.
Bayangkan seorang petani yang setiap pagi mengunjungi ladangnya dengan penuh harapan. Ketika tanaman mulai tumbuh, ia mendapati bukan hanya gandum, tetapi juga ilalang. Hatinya tentu kecewa. Namun ketika para pekerja menawarkan diri untuk segera mencabut ilalang itu, sang pemilik justru berkata, “Jangan dulu. Biarkan keduanya tumbuh bersama sampai musim panen.” Bagi kita, keputusan itu mungkin terasa aneh. Mengapa kejahatan dibiarkan hidup berdampingan dengan kebaikan? Mengapa Allah tidak segera menghukum orang yang berbuat jahat? Mengapa orang yang jujur justru sering mengalami penderitaan, sementara mereka yang berbuat curang tampak hidup nyaman? Jawaban atas pertanyaan itu telah disampaikan dalam Bacaan Pertama. Kitab Kebijaksanaan melukiskan Allah sebagai Hakim yang Mahakuasa, tetapi kuasa-Nya justru tampak dalam belas kasih dan kesabaran-Nya. Allah tidak tergesa-gesa menghukum. Ia memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertobat. Kesabaran Allah bukanlah tanda bahwa Ia membiarkan dosa, melainkan tanda bahwa Ia selalu membuka pintu pertobatan. Betapa banyak di antara kita masih hidup hari ini bukan karena kita tidak pernah berdosa, tetapi karena Tuhan tidak pernah lelah memberi kesempatan kedua, ketiga, bahkan berkali-kali untuk bangkit kembali.
Sayangnya, kita sering kali tidak memiliki kesabaran seperti Allah. Di zaman media sosial sekarang ini, orang begitu mudah memberi cap kepada sesamanya. Sekali seseorang melakukan kesalahan, namanya langsung dihujat, disebarkan, bahkan dihakimi seolah-olah tidak lagi memiliki kesempatan untuk berubah. Dalam keluarga pun demikian. Kesalahan pasangan diungkit terus-menerus. Anak yang pernah gagal diberi label “nakal” atau “tidak akan berhasil”. Di tempat kerja, seseorang yang pernah melakukan kekeliruan sering kali kehilangan kepercayaan selamanya. Kita begitu cepat mencabut “ilalang”, tanpa menyadari bahwa mungkin kita sedang melukai “gandum” yang masih bertumbuh.
Padahal, jika kita jujur, setiap orang pernah menjadi ilalang dalam hidup orang lain. Kita pernah mengecewakan orang tua, melukai pasangan, mengabaikan sahabat, tidak menjalankan tanggung jawab dengan baik, atau kurang setia kepada Tuhan. Namun Tuhan tidak membuang kita. Ia tetap memelihara kita dengan kasih-Nya. Ia melihat bukan hanya siapa kita hari ini, tetapi juga siapa kita dapat menjadi apabila kita sungguh membuka hati terhadap rahmat-Nya.
Karena itu Yesus menutup perumpamaan-Nya dengan kalimat, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan.” Mendengar di sini bukan sekadar menggunakan telinga, melainkan membuka hati untuk memahami cara Allah memandang manusia. Kita sering hanya mendengar kesalahan orang lain, tetapi tidak mendengar bisikan kasih Allah yang mengajak kita menjadi pribadi yang penuh belas kasih. Kita lebih cepat menghakimi daripada memahami. Kita lebih mudah menyalahkan daripada mendoakan. Padahal seorang murid Kristus dipanggil bukan menjadi hakim atas sesamanya, melainkan menjadi saksi belas kasih Allah.
Namun, kesabaran Allah tidak berarti kita boleh hidup sembarangan. Perumpamaan ini juga berbicara tentang saat panen, yaitu saat penghakiman. Akan tiba waktunya Allah memisahkan gandum dari ilalang. Kesempatan untuk bertobat tidak berlangsung selamanya. Karena itu, selama masih ada waktu, kita diajak membersihkan “ilalang” yang ada dalam hati kita sendiri, yakni kesombongan, iri hati, dendam, kebiasaan menggosip, ketidakjujuran, kemalasan, dan segala bentuk dosa yang perlahan-lahan dapat mematikan kehidupan rohani kita. Jangan terlalu sibuk mencari ilalang di ladang orang lain, sementara ladang hati kita sendiri dipenuhi rumput liar yang tidak pernah kita cabut.
Lalu bagaimana kita mampu melakukannya? Di sinilah Bacaan Kedua memberikan jawaban yang sangat menghibur. Santo Paulus mengatakan bahwa Roh Kudus membantu kita dalam kelemahan kita. Sering kali kita ingin berubah, tetapi merasa tidak mampu. Kita ingin mengampuni, tetapi hati masih terluka. Kita ingin menjadi sabar, tetapi emosi lebih dahulu menguasai. Kita ingin berdoa, tetapi tidak tahu harus berkata apa. Dalam keadaan seperti itu, Roh Kudus sendiri berdoa di dalam diri kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Artinya, kita tidak pernah berjuang sendirian. Allah sendiri bekerja di dalam hati orang yang mau membuka diri kepada-Nya.
Saudara-saudariku terkasih, dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai menghakimi. Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang mampu menumbuhkan harapan. Keluarga tidak akan menjadi damai jika setiap anggota sibuk mencari kesalahan satu sama lain. Komunitas tidak akan berkembang jika setiap orang hanya melihat kelemahan saudaranya. Gereja pun akan kehilangan wajah Kristus apabila umatnya lebih suka menghukum daripada merangkul. Sebaliknya, ketika kita belajar memandang sesama dengan kesabaran seperti Allah, kita sedang menghadirkan Kerajaan Allah yang mulai bertumbuh di tengah dunia.
Maka marilah kita pulang hari ini dengan tiga tekad sederhana. Pertama, jangan cepat menghakimi orang lain karena Allah sendiri masih memberi mereka
kesempatan untuk berubah. Kedua, jangan putus asa terhadap kelemahan diri sendiri, sebab Roh Kudus selalu siap menolong kita bertumbuh menjadi lebih baik. Ketiga, setiap hari marilah kita menjadi “gandum” yang menghasilkan buah kasih, kesabaran, pengampunan, dan kebaikan bagi siapa pun yang kita jumpai.
Kiranya melalui Ekaristi yang kita rayakan ini, Tuhan menumbuhkan dalam hati kita kesabaran-Nya sendiri, sehingga di mana pun kita berada, di dalam keluarga, komunitas, tempat kerja, maupun masyarakat, orang dapat merasakan kehadiran kasih Allah melalui hidup kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.