Menyelamatkan, bukan menghakimi

Menyelamatkan, bukan menghakimi

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Yohanes 12:44-50

Rabu, 29 April 2026

PW St. Katarina dari Siena

Hari ini Gereja memperingati St. Katarina dari Siena, seorang yang jujur dan saleh di hadapan Allah. Situasi Gereja pada masa itu kacau-balau. Imam-imam dan pimpinan Gereja tidak menampilkan diri secara baik. Peperangan antar negara dan juga antar raja-raja terjadi di mana-mana. Keberadaan Paus di Avignon, Perancis yang berusia 70 tahun menimbulkan percekcokan di kalangan pemimpin-pemimpin Gereja. Dalam suatu penglihatan, Kristus menganjurkan kepada Katarina untuk menyurati Paus, raja-raja dan uskup serta para panglima guna memperbaiki keadaan masyarakat dan Gereja. Katarina berhasil meyakinkan Paus untuk kembali ke Roma sebagai kota abadi dan pusat Gereja.

Apa yang terjadi melalui St. Katarina semakin menegaskan kekuatan sabda Tuhan, “Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya” [Yoh 12:47]. Melalui Putra-Nya, Allah datang ke dunia yang berada dalam kegelapan -perang dan kekacauan lainnya-, sebagaimana difirmankan, “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan” [Yoh 12:46]. Dalam sabda ini tampak kepada kita Yesus menampilkan diri-Nya sebagai Terang. Sebab misi atau tugas-Nya hadir di dunia adalah untuk menerangi, sebagaimana difirmankan, “Akulah terang dunia” [Yoh 8:12]. Mengenai hal ini Nabi Yesaya pun telah menubuatkan, “Orang-orang yang berjalan dalam kegelapan melihat terang yang besar” [Mat 4:16 dan bdk. Yes 9: 1].

Namun kehadiran Yesus, Sang Terang Dunia tidak sepenuhnya diterima, bahkan ditolak sebagaimana difirmankan, “Ia datang ke rumah-Nya sendiri dan umatnya tidak menerimanya. Mereka lebih menyukai kegelapan daripada terang” [bdk. Yoh 1: 9-11]. Siapa saja yang terbiasa dengan kegelapan, hidup dalam kegelapan, maka tidak bisa menerima terang, sebagaimana difirmankan, “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat” [Yoh 3:19].

Kita bersyukur pada saat Gereja berada dalam kegelapan, para memimpin mampu melihat terang Kristus dalam diri St. Katarina dari Siena, sehingga Gereja terbebas dari kehancuran. Mari dalam hidup dan kehidupan ini, kita selalu berupaya untuk mengandalkan terang Kristus melalui siapapun, dalam peristiwa apapun. Mari kita belajar percaya, berserah kepada Allah dalam setiap peristiwa hidup, sebagaimana difirmankan, “Siapa saja percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku. Siapa yang melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku” [Yoh 12:44].

RENUNGAN 28 APRIL 2026

RENUNGAN 28 APRIL 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Yohanes 10:22-30

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa perlu untuk “diakui” dan “dimengerti.” Betapa bahagianya ketika ada seseorang yang sungguh mengenal kita, bukan hanya di permukaan, tetapi sampai ke dalam hati kita. Sebaliknya, kita juga bisa merasa kesepian, bahkan di tengah banyak orang, ketika tidak ada yang benar-benar memahami siapa diri kita. Pengalaman ini menunjukkan bahwa setiap manusia merindukan relasi yang mendalam, relasi yang tulus, relasi yang penuh pengenalan.

Hari ini melalui Injil, kita diajak untuk menyadari bahwa kerinduan terdalam itu sebenarnya telah dijawab oleh Tuhan sendiri. Yesus hadir bukan sekadar sebagai Guru atau Tokoh yang jauh, tetapi sebagai Pribadi yang mengenal kita secara utuh dan mencintai kita sepenuhnya.  Yesus mengatakan sesuatu yang sangat dalam dan menghibur: “Aku mengenal mereka.” Kalimat ini sederhana, tetapi jika kita renungkan sungguh-sungguh, ia menyentuh inti relasi kita dengan Tuhan. Yesus tidak berkata: “Aku tahu tentang mereka,” tetapi “Aku mengenal mereka.” Ada perbedaan besar antara tahu tentang dan mengenal. Kita mungkin tahu banyak hal tentang seseorang: namanya, pekerjaannya, bahkan kebiasaannya. Tetapi mengenal berarti masuk dalam relasi yang hidup: mengetahui isi hati, pergumulan, harapan, bahkan luka-luka yang tersembunyi.

Yesus mengenal kita: Ia tahu nama kita, Ia tahu sejarah hidup kita, Ia tahu air mata yang tidak pernah kita ceritakan kepada siapa pun, Ia tahu doa-doa yang bahkan tidak mampu kita ucapkan dengan kata-kata. Tidak ada bagian hidup kita yang tersembunyi bagi-Nya. Bahkan, seperti dikatakan oleh Santo Agustinus: “Engkau lebih dekat kepadaku daripada diriku sendiri.” Artinya, Tuhan mengenal kita bukan dari jauh, tetapi dari dalam hati kita sendiri. Saudara-saudari, ini adalah kabar baik bagi kita: Yesus mengenal semuanya, dan tetap mengasihi kita.Saudara-saudari, ini adalah kabar baik bagi kita, Yesus mengenal semuanya, dan tetap mengasihi kita. Inilah keindahan iman kita: Tuhan tidak mencintai kita karena kita sempurna, tetapi Ia mencintai kita meskipun Ia tahu kita tidak sempurna. Sering kali kita berpikir: “Kalau aku lebih baik, Tuhan akan lebih mengasihiku. Kalau aku tidak jatuh dalam dosa, baru aku layak di hadapan-Nya.”  Tetapi Injil berkata sebaliknya. Yesus mengenal kita apa adanya; bahkan bagian diri kita yang paling gelap, dan tetap berkata: “Engkau milik-Ku.” Ini mengingatkan kita bahwa kasih Tuhan bukan hasil usaha kita, melainkan anugerah.

Saduara- saudari terkasih. Jika Yesus mengenal kita, maka kita juga dipanggil untuk mengenal Dia. Iman kita bukan sekadar: mengikuti aturan, datang ke gereja, dan menjalankan kewajiban. Iman adalah relasi pribadi. Pertanyaannya: “Apakah kita mengenal Yesus, atau hanya tahu tentang Dia? Apakah kita berbicara dengan-Nya dalam doa, atau hanya mengucapkan kata-kata? Apakah kita mendengarkan suara-Nya, atau hanya sibuk dengan suara dunia?” Mengenal Tuhan berarti: meluangkan waktu untuk doa pribadi, membaca dan merenungkan Kitab Suci, dan membuka hati dalam keheningan Di situlah kita mulai mengenal suara Sang Gembala.

Saudara-saudari terkasih, Hari ini Yesus mengundang kita semua untuk: percaya bahwa kita dikasihi, berani membuka hati, untuk membangun relasi yang lebih dalam dengan-Nya. Semoga kita tidak hanya menjadi orang yang “tahu tentang Tuhan,” tetapi sungguh  menjadi domba yang dikenal, dikasihi, dan hidup dalam relasi dengan Sang Gembala.

Semoga Tuhan memberkati kita semua.

“Gembala yang Memberikan Nyawa”

“Gembala yang Memberikan Nyawa”

(Yohanes 10:11-18)

Para Saudara yang terkasih, dalam Injil hari ini Yesus berkata dengan sangat jelas: “Akulah gembala yang baik.” Seorang gembala yang baik mengenal domba-dombanya dan rela memberikan nyawanya bagi mereka.

Yesus kemudian membandingkan dirinya dengan seorang upahan. Seorang upahan bekerja hanya demi upah. Ketika bahaya datang, ia akan lari meninggalkan domba-domba itu karena domba-domba itu bukan miliknya. Sebaliknya, seorang gembala sejati tidak meninggalkan kawanan dombanya. Ia menjaga, melindungi, dan bahkan rela mempertaruhkan hidupnya.

Dengan gambaran ini Yesus ingin menunjukkan siapa Dia sebenarnya. Ia bukan pemimpin yang mencari keuntungan atau kehormatan. Ia adalah Gembala yang mencintai umat-Nya dengan kasih yang total. Kasih itu mencapai puncaknya ketika Ia menyerahkan hidup-Nya di salib demi keselamatan manusia.

Yesus juga berkata bahwa Ia mengenal domba-domba-Nya dan domba-domba-Nya mengenal Dia. Dalam bahasa Kitab Suci, “mengenal” bukan sekadar tahu secara intelektual, tetapi relasi yang dekat dan penuh kasih.

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa iman bukan hanya soal mengikuti aturan, tetapi soal relasi dengan Kristus Sang Gembala Baik. Ia mengenal kita, memperhatikan hidup kita, bahkan rela memberikan diri-Nya demi kita.

Namun pertanyaannya adalah: apakah kita juga mengenal suara-Nya? Apakah kita membiarkan Dia menuntun hidup kita? Di tengah dunia yang penuh dengan banyak suara dan tawaran, kita sering tergoda mengikuti arah yang lain. Tetapi Yesus tetap memanggil kita dengan sabar sebagai Gembala yang tidak pernah meninggalkan domba-domba-Nya.

Pertanyaan refleksi

  1. Apakah saya sungguh percaya bahwa Yesus adalah Gembala yang selalu menjaga dan menuntun hidup saya?
  2. Apakah saya berusaha mengenal suara Tuhan melalui doa, Sabda Tuhan, dan kehidupan Gereja?
  3. Ketika menghadapi pilihan hidup, apakah saya membiarkan Kristus menuntun langkah saya?

Doa

Tuhan Yesus,
Engkaulah Gembala yang baik
yang mengenal dan mencintai aku.

Tuntunlah langkah hidupku
agar aku selalu mendengarkan suara-Mu
dan setia mengikuti jalan yang Engkau tunjukkan.

Amin.

RD Yusuf Dimas Caesario

Translate »