Yesus, Sang Roti Hidup

Yesus, Sang Roti Hidup

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Yohanes 6:35-40

Rabu, 22 April 2026

Kita mengenal kebutuhan primer manusia adalah pangan, sandang dan papan. Bagi orang Yahudi, roti adalah makanan pokok, kebutuhan primer. Tanpa makanan pokok tersebut, orang kesulitan untuk bertahan hidup. Dalam warta hari ini Yesus bersabda, “Akulah roti kehidupan. Siapa saja datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi” [Yoh 6:35]. Dengan sabda tersebut, Yesus merujuk pada sesuatu yang lebih dari sekadar kehidupan jasmaniah, melainkan mengarah kepada kehidupan yang terhubung dengan Allah, Sang Pencipta kehidupan. Di dalam Yesus, Sang Roti Kehidupan, jiwa yang gelisah mendapat ketenangan, dan hati yang lapar dipuaskan. Yesus memberikan makna baru dalam hidup kita yang jauh melampaui keberadaan hidup duniawi, yakni hidup abadi bersama Allah.

Dalam hidup dan kehidupan di dunia ini, kebanyakan memuaskan rasa lapar mereka dengan uang, materi, makanan atau minuman.  Namun, sebagai mahluk rohani, rasa lapar yang terdalam yakni lapar akan Allah kiranya belum terpenuhi, sebagaimana difirmankan,  “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya [Mark 8:36]. Tuhan Yesus menawarkan tiga hal: Pertama, Dia menawarkan diri-Nya sebagai makanan rohani, jaminan hidup dalam persatuan dengan Tuhan, “Akulah Roti Hidup!” [Yoh. 6:35]. Kedua, Dia menjanjikan persahabatan abadi dengan-Nya, “….barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” [Yoh. 6:37]. Ketiga, Ia menawarkan kepada kita harapan ambil bagian dalam dunia kebangkitan, “…setiap orang yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman” [Yoh. 6:40]. 

Ketiga tawaran tersebut di dalam iman katolik terangkum dalam Sakramen Ekaristi yang dipahami dan dihidupi, dan mensyaratkan satu hal, yakni percaya, beriman. Percaya atau beriman tentu bukan sebatas pada kata-kata, melainkan harus sampai kepada tindakan hidup, sebagaimana ditegaskan St. Yakobus, “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, iman itu pada hakekatnya adalah mati, kosong” [Yak 2:17.20]. Mari kita percaya kepada Yesus, datang kepada-Nya supaya selamat di dunia ini dan kelak beroleh kesempurnaan hidup kekal. Mari kita datang kepada Yesus, Sang Roti Hidup, supaya kita dapat merasakan dan membagikan-nya kepada orang lain.

RENUNGAN: 21 APRIL 2026

RENUNGAN: 21 APRIL 2026

Rm Ignasius Joko Purnomo

Yohanes 6:30-35

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Injil hari ini membawa kita masuk ke dalam sebuah percakapan yang sangat dalam  antara Yesus dan orang banyak. Mereka mencari roti, mereka menginginkan sesuatu  yang bisa mengenyangkan. Tetapi Yesus mengarahkan mereka kepada sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu hidup sejati. Yesus berkata: “Roti Allah ialah roti yang turun dari surga dan yang memberi hidup  kepada dunia.”

Di sini kita diajak merenungkan satu pertanyaan penting “apa yang selama ini kita  anggap sebagai sumber hidup kita?” Sering kali kita berpikir bahwa hidup kita “ditopang” oleh hal-hal tertentu, seperti: pekerjaan, uang, keluarga, pencapaian. Semua itu memang penting. Tetapi Yesus  mengingatkan bahwa ada perbedaan antara “menopang hidup” dan “memberi hidup.” Banyak hal bisa menopang hidup kita secara lahiriah, tetapi tidak semuanya  memberi hidup secara batiniah. Kita bisa memiliki segalanya, tetapi tetap merasa  kosong. Kita bisa sibuk, tetapi kehilangan makna. Kita bisa tertawa, tetapi hati kita  lelah. Yesus mengatakan bahwa hanya Dia yang memberi hidup; hidup yang penuh,  hidup yang menyentuh hati, hidup yang tidak habis oleh waktu. Menjadi pertanyaan bagi kita “Apakah aku sungguh hidup, atau hanya sekadar menjalani hidup?”

Kemudian orang banyak berkata kepada Yesus, “Tuhan, berikanlah kami roti itu  senantiasa.” Permintaan ini sangat indah. Ini adalah ungkapan kerinduan. Mereka mungkin  belum sepenuhnya mengerti, tetapi hati mereka mulai terbuka. Di sini kita masuk ke dalam permenungan kedua, yaitu kerinduan akan Tuhan. Setiap manusia memiliki kerinduan terdalam dalam hatinya: kerinduan akan cinta,  akan damai, akan makna. Tetapi sering kali kita salah arah. Kita mencoba mengisi  kerinduan itu dengan hal-hal duniawi. Kita berpikir: “Kalau aku punya ini, aku akan bahagia.” “Kalau aku mencapai itu, aku akan puas.” Namun kenyataannya, setelah mendapatkannya, kita sering masih merasa kurang. Mengapa? Karena kerinduan terdalam manusia bukanlah akan sesuatu, tetapi akan “Seseorang”, yaitu Tuhan sendiri. Pertanyaan bagi kita “bukan apakah kita punya kerinduan”, tetapi “ke mana kerinduan itu kita arahkan?”Orang banyak dalam Injil berkata: “Berikanlah kami roti itu senantiasa.” Bagaimana dengan kita? Apakah kita sungguh merindukan Tuhan setiap hari? Ataukah kita hanya datang kepada-Nya ketika kita butuh? Kerinduan sejati akan Tuhan terlihat dari kesetiaan kecil: dalam doa, dalam mencari Dia, dalam menyediakan waktu bagi-Nya.

Dan akhirnya, Yesus menyatakan sesuatu yang sangat mengejutkan: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi.” Inilah puncak dari semuanya. Yesus tidak hanya memberi roti, Dia sendiri adalah  roti itu. Ini adalah undangan yang sangat  konkret: datang kepada Yesus.Perhatikan kata yang dipakai: “datang.” Bukan hanya tahu, bukan hanya percaya secara teori, tetapi datang. Datang berarti membangun relasi. Datang berarti membuka hati. Datang berarti  menjadikan Yesus pusat hidup kita. Dan secara istimewa, kita datang kepada Yesus dalam Ekaristi. Di sana, Dia  sungguh hadir sebagai Roti Hidup. Tetapi mari kita jujur: Berapa kali kita hadir dalam Ekaristi, tetapi hati kita jauh? Berapa kali kita menerima Komuni, tetapi tanpa kesadaran bahwa kita sedang  menerima Sang Sumber Hidup? Yesus berkata: “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi.” Artinya, kalau kita masih merasa “lapar” secara rohani—kosong, gelisah, tidak  damai—mungkin kita belum sungguh datang kepada-Nya dengan sepenuh hati. Bukan karena Yesus kurang memberi, tetapi karena kita belum sepenuhnya  membuka diri.

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini Sabda Tuhan mengajak kita masuk lebih dalam: menyadari bahwa hanya Kristus yang memberi hidup sejati, membangkitkan kembali kerinduan akan Tuhan dalam hati kita, datang kepada Yesus dan hidup dalam relasi dengan-Nya. Semoga hari ini kita tidak hanya mendengar Sabda Tuhan, tetapi juga membiarkannya mengubah hati kita. Dan ketika kita datang kepada Yesus, Sang Roti Hidup, semoga kita menemukan apa yang selama ini kita cari: hidup yang sejati, damai yang mendalam, dan kasih yang tidak pernah habis.

Translate »