FirmanNya adalah kebenaran
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
RP Hugo Susdiyanto O.Carm
Yohanes 17:11b-19
Rabu, 20 Mei 2026
Bang haji Rhoma Irama pernah memperkenalkan lagu dengan judul Perjuangan dan Doa. Sepenggal liriknya sebagai berikut, “Berjuang (berjuang), Berjuang sekuat tenaga, Tetapi jangan lupa, Perjuangan harus pula disertai doa”.
Lagu Bang haji Rhoma Irama mengingatkan kita akan apa yang dilakukan Yesus 2000 tahun yang lalu, yakni berdoa bagi para murid-Nya. Dalam doa-Nya sebagai manusia, Yesus berseru kepada bapa-Nya, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat” [Yoh 17;15]. Dalam cara pandang Yohanes, dunia adalah wilayang yang telah dikuasai kekuatan-kekuatan jahat. Hal yang sama juga disadari oleh Petrus, sebagaimana tampak dalam pesannya, “Waspadalah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama” [1 Ptr 5:8-9]. Kekuatan jahat juga disadari oleh Paulus ketika di Efesus. Ia berpesan kepada para penatua jemaat, “jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pengawas untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri. Aku tahu bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu” [Kis 20:28-29]. Karenanya sungguh diperlukan kekuatan ilahi untuk melindungi mereka dari kekuatan jahat.
Doa Yesus ini semestinya menjadi doa kita juga. Dari satu sisi, kita punya kewajiban mewujudkan doa Yesus itu dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, kita juga perlu ikut mendoakan orang-orang disekitar kita agar tetap setia pada Yesus dan Injil-Nya. Semoga Roh Kudus yang diminta Yesus dari Bapa-Nya menolong kita agar mampu membedakan ajaran yang benar dari yang salah, yang asli dari yang palsu. Semoga kita selalu dikuduskan dalam kebenaran.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Ignasius Joko Purnomo
Yohanes 17:1-11a
Ketika kita mendengar kata “kemuliaan,” sering kali yang langsung terbayang adalah keberhasilan, kekuasaan, pujian, jabatan tinggi, atau kemenangan besar. Memang dunia mengajarkan bahwa orang mulia adalah orang yang dihormati, kaya, terkenal, dan berpengaruh. Tetapi dalam Injil hari ini, Yesus justru menunjukkan sesuatu yang berbeda. Kemuliaan sejati ternyata tampak melalui kasih, pengorbanan, dan ketaatan kepada kehendak Allah.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur dalam hati: apakah hidupku juga memuliakan Tuhan? Kadang-kadang kita hidup terlalu sibuk mengejar kemuliaan diri sendiri. Kita ingin dihargai, dipuji, diakui. Bahkan dalam pelayanan Gereja pun, godaan itu bisa muncul. Kita kecewa ketika tidak diperhatikan. Kita tersinggung ketika usaha kita tidak dipuji. Kita mudah marah ketika pendapat kita tidak diterima. Padahal Yesus mengajarkan bahwa hidup seorang murid bukanlah tentang meninggikan diri sendiri, melainkan menghadirkan kasih Allah melalui hidup sehari-hari. Yesus juga mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah sering kali menuntut pengorbanan. Dan kita tahu bahwa pengorbanan itu tidak selalu nyaman. Ada kalanya kita harus mengalah demi damai. Ada saatnya kita harus menahan ego demi menjaga keluarga tetap utuh. Ada waktunya kita harus memikul salib kehidupan: sakit penyakit, persoalan ekonomi, konflik keluarga, atau kekecewaan. Namun Injil hari ini mengingatkan kita bahwa salib yang dijalani dengan kasih tidak pernah sia-sia. Dunia mungkin melihat pengorbanan sebagai kelemahan, tetapi Tuhan melihatnya sebagai kemuliaan.
Hari ini Yesus mengundang kita untuk mengubah cara pandang kita tentang kemuliaan. Jangan hanya mencari kemuliaan menurut ukuran dunia. Sebab pujian manusia cepat berlalu. Jabatan bisa hilang. Kekayaan bisa habis. Popularitas bisa pudar. Tetapi kasih yang dilakukan dengan tulus akan tinggal di hadapan Allah. Karena itu, marilah kita belajar dari Yesus: taat kepada kehendak Bapa, setia dalam tugas sehari-hari, rela berkorban demi kasih, dan hidup bukan untuk meninggikan diri sendiri, tetapi untuk memuliakan Tuhan. Mungkin hidup kita sederhana dan tidak dikenal banyak orang. Tetapi bila hidup kita dipenuhi kasih, kejujuran, kesetiaan, dan pengorbanan, maka di mata Tuhan hidup itu sungguh mulia.
Semoga Sabda Tuhan hari ini meneguhkan kita semua untuk mengikuti teladan Kristus: memuliakan Bapa melalui kasih dan ketaatan dalam hidup sehari-hari. Semoga Tuhan memberkati kita semua.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm