Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Rm Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

Hati yang murni

Posted by admin on February 10, 2026
Posted in renungan  | No Comments yet, please leave one

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Markus 7:14-23

Rabu, 11 Februari 2026

Ada sebuah peribahasa, “Pikir itu pelita hati” artinya ‘menggunakan akal budi dan mempertimbangkan segala sesuatu dengan baik menjadikan seseorang lebih bijaksana’. Dalam hidup dan kehidupan ini sering kita jumpai kemasan makanan bertuliskan halal. Semua orang tahu bahwa produk yang memuat tulisan tersebut layak dan boleh dikonsumsi. Sebaliknya jika suatu produk tidak memuat tulisan tersebut berkonotasi sebagai makanan haram. Semua ketentuan tersebut tentu dilandasi dengan maksud dan tujuan yang baik. Namun jika kita refleksikan lebih mendalam hal tersebut tidak menyentuh bagian terpenting dalam diri manusia yaitu hati.

Dalam warta injil hari ini Tuhan Yesus menegaskan, “Tidak ada sesuatu pun dari luar seseorang yang masuk ke dalam dirinya dapat menajiskannya, melainkan hal-hal yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya.” [Mark 7:15]. Dengan sabda tersebut Ia mengajak kita untuk memahami makna sejati dari kata “najis”. Bagi Yesus najis tidak terletak pada makanan atau minuman yang masuk ke dalam mulut, melainkan pada sesuatu yang keluar dari hati, “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, dan kebebalan” [Mark 7:21-22]. Dengan kata lain, Tuhan Yesus mengajak kita untuk masuk lebih dalam ke lubuk terdalam dari hati kita. Ia mengajak kita untuk mengolah hati kita, sehingga hati kita menjadi hati yang bersih, suci, murni. Hati yang bersih adalah hati yang bebas dari iri hati, dendam, cemburu dan hal-hal negatif lainnya.

Yesus melalui karya keselamatan-Nya, menyediakan solusi bagi kenajisan hati manusia. Ia menguduskan kita melalui pencurahan darah-Nya di kayu salib. Sebagai seorang pengikut Kristus, telah dibaptis, kita perlu melihat hati kita dan bertanya  sudahkah kita menanggapi kasih Kristus dan menyucikan hati kita dengan bertobat? Pertobatan sejati menjadikan hati kita murni. Tobat sejati lahir dari iman, harapan dan kasih, bukan dari rasa takut akan hukuman.

Perintah Allah dan perintah manusia

Posted by admin on February 9, 2026
Posted in Podcast  | No Comments yet, please leave one

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

RENUNGAN: 10 FEBRUARI 2026

Posted by admin on February 9, 2026
Posted in renungan  | No Comments yet, please leave one

Rm Ignasius Joko Purnomo

Markus 7:1-13

Saudara-saudari terkasih,

Ada seorang ibu yang dikenal sangat rajin ke gereja. Setiap hari Minggu, ia datang paling awal, selalu duduk di bangku depan, berdoa dengan rosario di tangan. Semua orang menghormatinya sebagai contoh umat yang saleh. Namun suatu hari, setelah misa, ada anak kecil tanpa sengaja menumpahkan air di dekat bangkunya. Ibu itu langsung marah besar, memarahi anak itu dan ibunya di hadapan banyak orang. Anak itu menangis ketakutan. Beberapa orang di sekitar hanya bisa diam, tetapi dalam hati mereka berkata: “Sayang sekali, ia begitu rajin ke gereja, tapi hatinya masih mudah marah.”

Kisah sederhana ini menggambarkan apa yang Yesus maksud dalam Injil hari ini: iman sejati tidak diukur dari apa yang tampak di luar, tetapi dari hati yang tulus di hadapan Allah. Yesus menegur orang Farisi dan ahli Taurat yang sibuk dengan kebersihan tangan, dengan cuci wadah, kendi, dan peralatan; tetapi lupa membersihkan hatinya. Mereka mengira bahwa kesucian diukur dari kepatuhan pada aturan lahiriah. Yesus mengingatkan: “Bukan apa yang masuk ke dalam tubuh yang menajiskan, tetapi apa yang keluar dari hati.”

Saudara-saudari, kita pun bisa terjebak dalam hal yang sama. Kita bisa rajin mengikuti misa, berdoa panjang, bahkan aktif dalam pelayanan, tetapi kalau hati kita masih dipenuhi iri, benci, atau kesombongan; kita belum sungguh bersih di hadapan Allah. Tuhan tidak hanya melihat tangan yang bersih, tetapi hati yang jernih. Tidak cukup berdoa dengan bibir, tetapi harus juga dengan hati yang mengasihi.

Orang Farisi dalam Injil itu tampak sangat taat dan saleh, tetapi Yesus tahu isi hati mereka. Mereka lebih peduli pada bagaimana orang lain melihat mereka daripada bagaimana Allah melihat hati mereka. Yesus menyebut orang seperti itu sebagai “munafik.” Ia berkata: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari Aku.” Kemunafikan rohani adalah ketika kita tampak religius, tetapi kehilangan kasih. Kita rajin doa, tetapi sulit mengampuni. Kita ikut misa, tapi mudah menghakimi. Kita menyebut nama Tuhan, tapi enggan berbelas kasih pada yang menderita. Tuhan tidak mencari umat yang sempurna secara lahiriah, melainkan hati yang rendah dan jujur di hadapan-Nya. Ia lebih senang mendengar doa dari hati yang remuk karena cinta, daripada doa panjang dari hati yang sombong.

Saudara-saudari terkasih.

Yesus tidak menolak tradisi atau aturan. Ia tidak melarang orang mencuci tangan atau mengikuti adat. Tetapi Ia menegaskan: semua itu harus menjadi jalan menuju perjumpaan dengan Allah, bukan pengganti perjumpaan itu. Doa, misa, dan devosi adalah sarana, bukan tujuan. Tujuannya adalah relasi kasih dengan Allah. Iman sejati bukan pertunjukan di depan manusia, melainkan relasi pribadi dengan Tuhan.  

Hari ini Yesus mengajak kita memperbarui batin: agar doa menjadi perjumpaan, bukan rutinitas; agar pelayanan menjadi ungkapan cinta, bukan kewajiban; agar ibadah menjadi pengalaman kasih, bukan pertunjukan kesalehan. Marilah hari ini kita mohon rahmat agar setiap doa, setiap misa, setiap pelayanan, sungguh menjadi jalan untuk menyucikan hati dan memperdalam cinta kita kepada Tuhan. Semoga kita menjadi murid-murid Kristus yang tidak hanya “terlihat baik”, tetapi sungguh baik dari hati, sebab dari hati yang murni, kasih Allah terpancar bagi dunia.

Rm Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

Translate »