Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Posted by admin on January 15, 2026
Posted in Podcast | No Comments yet, please leave one
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Posted by admin on January 15, 2026
Posted in renungan | No Comments yet, please leave one
Jumat, 16 Januari 2026
Markus 2:1-12
Saudara dan Saudari yang mengasihi dan dikasihi oleh Kristus. Iman memang ada perkara yang sangat personal, amat privasi, dan relasi intim setiap pribadi dengan Allah yang diyakininya. Namun, iman yang personal ini tidak dapat dilepaskan dan dipisahkan dengan kehadiran setiap diri di tengah keluarga, komunitas, lingkungan, kelompok, atau masyarakat secara umum. Setiap orang yang mengaku beriman akan selalu ada dan bersama dengan yang lainnya. Maka menjadi satu kebenaran dan kenyataan dalam hidup ini bahwa iman yang sangat personal ini akan tumbuh berkembang, semakin dewasa, dan terus dimurnikan dalam lingkup yang komunal di tengah keluarga, komunitas, dan kelompok di mana setiap harinya kita menjalankan rutinitas hidup.
Kisah dalam Injil hari ini sungguh menarik untuk menjadi permenungan dalam hidup kita hari ini. Perhatian kita bukan hanya pada iman dan keyakinan si penderita, tetapi juga iman dan keyakinan rekan-rekannya yang membawa si sakit kepada Yesus. Cara dan upaya yang dilakukan sungguh luar baisa. Mereka tidak menyerah saat melihat kesulitan dan tantangan, tetapi justru menggunakan daya anugerah akal budi dan nurani menemukan cara atau solusi yang menyelamatkan.
Pengalaman yang tersurat dan tersirat dalam Injil hari ini memberikan satu peneguhan iman bahwa iman yang hidup akan menuntun setiap pribadi menemukan jalan kreatif mengatasi dan mengantisipasi aneka hambatan yang ada. Iman melahirkan keberanian untuk membongkar bukan hanya atap rumah, tetapi membongkar atap keraguan dan ketakutan kita. Keraguan dan ketakutan untuk mengupayakan alternatif solusi daripada sekadar bersikap pasrah, menyerah, dan berdiam diri.
Pengalaman iman personal yang dihadirkan dalam konteks komunal (bersama) akan melahirkan kekuatan solidaritas persaudaraan dan rasa kekeluargaan. Kita perlu berani untuk menyadari dan mengakui bahwa kita butuh sesama, butuh orang lain, butuh lingkungan dan alam ini agar bisa merasakan Allah yang hadir menyertai hidup kita. Inilah gambaran Gereja yang hadir dalam peziarahan manusia. Keselamatan diupayakan secara bersama-sama agar sukacita boleh dirasakan oleh semakin banyak orang. Menjadi suatu pertanyaan reflektif kecil bagi saya dan Anda sekalian “Apakah selama ini kehadiran orang-orang terdekat dalam keluarga menjadi penghambat atau pendukung untuk kita bisa semakin mengenal dan merasakan Allah yang hadir dan menyelematkan?”
(RD Daniel Aji Kurniawan – Imam Diosesan Keuskupan Malang)
Posted by admin on January 14, 2026
Posted in renungan | No Comments yet, please leave one
Kamis 15 Januari 2026
Hari Biasa, Pekan Biasa I
ISam4:1-11; Mrk 1:40-45
Membuat pilihan adalah sesuatu yang kita lakukan setiap hari. Kita mencoba untuk membuat pilihan yang terbaik, harapannya pilihan tersebut juga sesuai dengan kehendak Tuhan. Kadang-kadang kita tidak selalu berhasil dalam memilih yang terbaik; bahkan bisa jadi pilihan itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
Dalam bacaan Injil hari ini, seorang penderita kusta datang kepada Yesus dan berkata: “Kalau Engkau mau – Engkau dapat mentahirkan aku”. Seorang penderita kusta tidak dapat menduga bahwa Yesus akan memilih untuk menyembuhkannya, karena penderita kusta tidak boleh mendekati orang lain; orang kusta itu najis; orang harus menyingkir, karena takut orang kusta akan mencemari orang lain. Namun, sebagai jawaban, Yesus berkata kepadanya: “Aku mau jadilah engkau tahir”. Yesus memilih untuk melakukan apa yang tidak akan dilakukan orang lain; ia mengulurkan tangan dan menjamah orang penderita kusta itu, dan orang itupun sembuh.
Dalam Injil, Yesus secara konsisten digambarkan selalu memilih untuk melakukan kontak dengan mereka yang hancur dalam tubuh, pikiran atau jiwa, atau singkatnya orang yang sedang menderita apa saja. Tuhan yang bangkit terus membuat pilihan yang sama. Dia memilih dekat dengan kita masing-masing yang sedang dalam kehancuran hidup, apapun yang terjadi. Yesus akan selalu menjadi penyembuh dan pemberi kehidupan dalam hidup kita. Yesus meminta kita pun akhirnya untuk menjadi sama satu sama lain, yakni membuat pilihan yang membawa kesembuhan dan kehidupan baru bagi orang lain. Semoga! Tuhan memberkati.
Kadang hatiku menjadi beku
Apapun hidupku terasa sekarat
Tuhan Yesus sembuhkanlah aku
Biarkanlah hidupku menjadi berkat.
RD. Ignasius Adam Suncoko
Posted by admin on January 14, 2026
Posted in Podcast | No Comments yet, please leave one
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Posted by admin on January 13, 2026
Posted in renungan | No Comments yet, please leave one
RP Hugo Susdiyanto O.Carm
Markus 1:29-39
Rabu, 14 Januari 2026
Dalam hidup dan kehidupan ini, orang lebih mudah melihat hal-hal yang spektakuler. Banyak hal yang dilakukan Yesus dipandang sebagai hal yang spektakuler. Salah satu contoh tampak dalam warta hari ini, yakni penyembuhan ibu mertua Simon dan juga banyak orang lain. Satu hal penting di balik tindakan penyembuhan Yesus yang kurang dilihat orang adalah relasi Yesus dengan Bapa-Nya sebagaimana difirmankan, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana” [Mark 1:35]. Relasi Yesus dengan Bapa-Nya inilah yang membuahkan, menjadikan hal-hal yang secara manusiawi tampak spektakuler, bukan hanya hasilnya yang luar biasa, tetapi juga keberaniannya “menentang” adat kebiasaan saat itu.
Apa yang dilakukan Yesus terhadap mertua Petrus pada waktu itu pasti tidak mungkin dilakukan orang lain. Mengapa? Karena tindakan itu dianggap bertentangan dengan adat atau kebiasaan saati itu. Tetapi Yesus bukan hanya menyembuhkan seorang perempuan dengan memegang tangannya, melainkan juga menginjinkan perempuan itu melayani meja. Tindakan semacam ini telah berulang kali Yesus lakukan. Tindakan Yesus benar-benar mendobrak jaman.
Pada jaman itu sakit penyakit kadang dikaitkan dengan dosa. Oleh karena itu, tindakan penyembuhan yang dilakukan Yesus kiranya bukan hanya penyakit fisik atau jasmani melainkan juga penyakit rohani, yakni dosa. Terkait dengan penyembuhan penyakit rohani, St. Hironimus dalam salah satu homilinya menegaskan, “Oh, semoga Ia sudi datang di rumah kita, masuk dan menyembuhkan demam dosa-dosa kita dengan perintah-perintah-Nya. Sebab kita semua menderita demam. Bila aku marah, kuderita demam. Begitu banyak dosa, begitu banyak demam. Marilah kita mohon para rasul agar mereka mohon supaya Yesus datang kepada kita untuk menyentuh tangan kita. Sebab bila Ia meraba tangan kita, demam kita segera lenyap”.
Hal spektakuler lain yang dilakukan Yesus adalah sikapnya yang lepas bebas. Ia selalu sadar akan misi dari Bapa-Nya, yakni menyelamatkan semua orang, bukan sekelompok orang. Sikap tersebut tampak Ketika Simon dan kawan-kawan mengatakan, “Semua orang mencari Engkau.” Akan tetapi Yesus mereaksi mereka, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” [Mark 1:37-38]. Sebagai orang yang telah dibaptis, kita punya kewajiban untuk ambil bagian dalam tugas Kristus dalam karya penyelamatan yakni sebegai imam dalam pengudusan, nabi dalam pewartaan, pengajaran dan sebagai raja dalam penggembalaan, pendampingan.