Pertobatan itu mendekatkan diri kita kepada Kristus
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
RP Hugo Susdiyanto O.Carm
Lukas 14:25-33
PW St. Karolus Borromeus, Uskup
Rabu 4 November 2026
Hari ini Gereja memperingati St. Karolus Borromeus, seorang Uskup. Ia berasal dari keluarga bangsawan, yang mendapat karunia kecerdasan. Pada usia 21 tahun ia lulus cum laude untuk studinya di bidang hukum Gereja dan Sipil. Bertentangan dengan keinginan keluarganya, yang menginginkannya menggantikan kakaknya menjadi ksatria, Karolus justru memilih menjadi imam, dan ditabiskan pada tahun 1563. Beberapa bulan kemudian ia ditahbiskan menjadi uskup dan diangkat menjadi uskup agung Milano. Karolus memperoleh tempat dalam jajaran para pembaharu Gereja berkat ketekunannya melaksanakan keputusan pembaharuan dari Konsili Trente. Karolus terkenal bukan hanya karena kecerdasannya, melainkan juga karena sikap hidupnya yang tidak lekat pada hal-hal duniawi, pertobatannya yang radikal serta penyangkalan dirinya yang kuat. Pada tahun 1576, wabah pes yang melanda keuskupannya menelan korban ribuan jiwa. Karolus dicatat dalam sejarah sebagai gembala yang melayani para penderita pes dan yang rela mengorbankan harta kekayaannya untuk meringankan penderitaan orang sakit dan miskin. Pada malam hari tanggal 3 November tahun 1584, Karolus wafat pada usia 46 tahun. Ia dimakamkan di Katedral Milano.
Melihat sekilas kisah hidup St. Karolus, kiranya kita dapat menyimpulkan bahwa hidupnya dijawai oleh sabda Tuhan, “tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku” [Luk14:33]. Dengan kata lain, syarat mengikuti Yesus adalah keluar dari ego, dan menyerahkan diri seutuhnya dalam tuntunan-Nya. St. Paulus menegaskan “pengharapan pada Tuhan tidak mengecewakan” [Rm 5:5]. Namun untuk percaya dan mengikuti Kristus seseorang perlu mempertimbangkan dengan matang. Mengapa? Telah difirmankan, “Sebab TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu” [Ul 4:24]. Melalui Sabda ini Musa mengingatkan agar bangsa Israel tidak melupakan perjanjian dengan Allah, dengan menjadi tidak setia [Ul 4:21-23]. Kitab Suci menggambarkan hubungan Allah dengan umat-Nya bagaikan suami dan istri. Allah menghendaki agar bangsa pilihan-Nya hanya menyembah-Nya sebagai Allah yang satu-satunya. Sayangnya, bangsa Israel berkali-kali tidak setia kepada Allah, mereka berpaling kepada para dewa/ berhala, bangsa Israel dan Yehuda ‘bersundal’ [Yer 3:6-10]. Sebaliknya, Allah adalah Allah yang tetap setia.
Kasih itu tunggal dengan dua dimensi, yakni kepada Allah dan sesama. Mari dalam hidup dan kehidupan ini, kita berupaya untuk fokus mengasihi Allah dan sesama serta berusaha menghindarkan diri dari mengasihi yang bukan Allah. Kasih kepada Allah dan sesama membebaskan, memerdekakan.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
RD. Yusuf Dimas Caesario
Salam Damai dalam Kristus Tuhan
Saudara-saudari yang terkasih,
Suatu kali saya mengamati pedagang beras di pasar tradisional yang menimbang beras untuk pembeli. Ketika pembeli meminta satu kilogram, dia tidak menimbangnya dengan pas-pasan atau kaku. Dia seringkali mengambil sekop penuh, memasukkannya ke dalam kantong plastik sambil sedikit digoncang-goncang agar padat, lalu menambah lagi di atasnya hingga beras itu meluber tumpah ke luar timbangan. Orang Jawa bilang “sekilo anget” Baginya, memberi sedikit lebih banyak adalah bentuk kejujuran dan kemurahan hati agar pembeli merasa puas dan tidak dirugikan.
Pengalaman tadi sangat pas dengan apa yang diajarkan Yesus dalam Injil Lukas 6:37-40. Hari ini, bertepatan dengan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, kita diingatkan bahwa Allah memiliki “takaran” kasih yang jauh melampaui perhitungan manusia. Allah tidak pernah pelit atau kaku dalam mengampuni. Ia memberikan belas kasih-Nya secara berlimpah—dipadatkan, digoncang, dan tumpah ke luar—bukan hanya kepada kita yang masih hidup, tetapi juga merangkul saudara-saudari kita yang telah berpulang dan sedang disucikan di Purgatori. Kasih Allah menembus batas kematian, memastikan bahwa takaran rahmat-Nya cukup untuk menyelamatkan siapa saja yang membuka hati.
Namun, pesan ini sekaligus menjadi cermin dan motivasi yang tajam bagi kita yang masih hidup. Sering kali, kita sangat perhitungan dalam mengampuni sesama. Kita menakar kesalahan orang lain dengan teliti, menyimpan dendam, dan pelit memberikan maaf. Padahal, Yesus menegaskan bahwa ukuran yang kita pakai untuk mengukur orang lain akan diukurkan kembali kepada kita.
Kematian orang-orang terkasih yang kita kenang hari ini menyadarkan kita bahwa waktu kita di dunia sangat terbatas. Mengapa kita harus menghabiskan sisa hidup dengan menghakimi dan menyimpan kepahitan? Motivasi terbesarnya: belajarlah bermurah hati dan lekas mengampuni sekarang, selagi kita masih bernapas. Jadikan pengampunan kita kepada sesama sebagai cerminan dari takaran kasih Allah yang melimpah, sehingga hidup kita menjadi persiapan yang indah menuju kekekalan.
Pertanyaan Reflektif
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk mengasihi dan mengampuni sesama dengan takaran yang murah hati—seperti teladan kasih-Mu yang melimpah. Semoga ziarah hidup kami di dunia ini menyiapkan kami menjadi pribadi yang penuh belas kasih, bagi yang masih hidup maupun bagi arwah saudara-saudari kami yang telah berpulang. Amin.