Kita sesuaikan kemauan kita dengan kehendakNya
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
(Yer. 20:7-9; Rom. 12:1-2; Mat. 16:21-27)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita mendengar pengakuan iman Petrus yang begitu indah: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Karena pengakuan itu, Yesus menyebut Petrus sebagai batu karang dan mempercayakan kepadanya kunci Kerajaan Surga. Tetapi Injil hari ini memperlihatkan kepada kita bahwa orang yang sama, beberapa saat kemudian, justru harus ditegur dengan keras oleh Yesus. Mengapa? Karena Petrus memang sudah mengenal siapa Yesus, tetapi ia belum sungguh memahami jalan yang harus ditempuh oleh Yesus sebagai Mesias. Petrus menginginkan Mesias yang kuat, menang, berjaya, dan terhindar dari penderitaan. Ketika Yesus mengatakan bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menderita, dibunuh dan dibangkitkan, Petrus merasa hal itu tidak mungkin terjadi. Ia berkata, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Bagi Petrus, penderitaan adalah sesuatu yang harus dihindari. Tetapi bagi Yesus, penderitaan yang diterima dalam kasih dapat menjadi jalan menuju keselamatan. Karena itu Yesus berkata dengan tegas, “Engkau memikirkan bukan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
Saudara-saudariku terkasih, teguran Yesus kepada Petrus sebenarnya bukan hanya ditujukan kepada Petrus. Ini juga merupakan teguran yang lembut tetapi tegas kepada kita. Betapa sering kita pun mempunyai gambaran sendiri tentang bagaimana seharusnya Allah bekerja dalam hidup kita. Kita ingin Tuhan memberikan jalan yang mudah, kesehatan yang baik, keluarga yang selalu rukun, pekerjaan yang lancar, usaha yang berhasil, dan kehidupan yang jauh dari masalah. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kita bertanya, “Tuhan, mengapa ini terjadi pada saya?” Kadangkadang kita bahkan berpikir bahwa kalau Tuhan sungguh mencintai kita, seharusnya hidup kita tidak perlu mengalami penderitaan. Padahal Injil hari ini mengingatkan bahwa mengikuti Kristus bukan berarti hidup tanpa salib, melainkan belajar menemukan Tuhan bahkan di tengah salib kehidupan. Salib bukan tanda bahwa Allah meninggalkan kita. Justru di dalam salib, kita belajar bahwa kasih yang sejati sering kali menuntut kesetiaan, pengorbanan, dan ketekunan.
Hal yang sama kita temukan dalam diri Nabi Yeremia pada bacaan pertama. Yeremia adalah seorang nabi yang sungguh-sungguh menjalankan panggilannya, tetapi panggilan itu tidak membuat hidupnya menjadi mudah. Ia mengalami penolakan, penderitaan, kesepian, bahkan pergulatan batin yang berat. Ia sampai berkata kepada Tuhan, “Engkau telah membujuk aku, ya Tuhan, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk.” Yeremia merasa lelah dan ingin berhenti. Namun kemudian ia menyadari sesuatu yang sangat dalam: “Apabila aku berpikir: Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelahlelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.” Yeremia menemukan bahwa meskipun panggilannya berat, ia tidak dapat meninggalkan Tuhan. Ada api kasih dan panggilan Allah yang tetap menyala di dalam dirinya.
Di sinilah kita dapat melihat hubungan yang indah antara Yeremia dan Injil hari ini. Petrus harus belajar bahwa mengikuti Yesus berarti bersedia memikul salib; Yeremia menunjukkan kepada kita bagaimana seseorang tetap setia kepada panggilannya meskipun harus melewati penderitaan. Keduanya mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang menerima berkat Tuhan ketika semuanya berjalan baik. Iman justru semakin nyata ketika kita tetap berkata, “Ya Tuhan, saya tetap percaya,” ketika jalan hidup terasa berat. Kesetiaan bukan berarti kita tidak pernah lelah, tidak pernah takut, atau tidak pernah menangis. Yeremia lelah. Petrus pernah salah. Para murid juga pernah takut. Tetapi Tuhan tidak meninggalkan mereka. Karena itu, kalau hari ini ada di antara kita yang sedang lelah menghadapi kehidupan, jangan cepat berpikir bahwa Tuhan sedang jauh. Bisa jadi, justru dalam kesunyian dan pergulatan itu Tuhan sedang membentuk hati kita menjadi lebih kuat dan lebih matang.
Saudara-saudariku terkasih, bacaan kedua dari Surat Paulus kepada jemaat di Roma memberikan kepada kita jalan konkret untuk menjalani semuanya itu. Paulus berkata, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan yang sempurna.” Inilah yang sesungguhnya perlu dilakukan Petrus dan juga kita, mengubah cara berpikir kita agar semakin menyerupai cara berpikir Kristus. Dunia sering berkata, “Carilah yang paling nyaman.” Kristus berkata, “Berikan dirimu.” Dunia berkata, “Hindarilah penderitaan sebisa mungkin.” Kristus berkata, “Pikul salibmu dan ikutlah Aku.” Dunia berkata, “Utamakan dirimu sendiri.” Kristus berkata, “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Pembaruan budi berarti belajar melihat kehidupan bukan hanya menurut ukuran keuntungan dan kenyamanan manusiawi, tetapi dengan kacamata iman.
Dalam tradisi spiritualitas Kristiani kita mengenal istilah Imitatio Christi, yaitu mengikuti atau meneladan Kristus. Maka dalam menghadapi setiap persoalan, kita dapat bertanya kepada diri sendiri: “Kalau Yesus berada dalam situasi seperti yang saya alami sekarang, bagaimana Ia akan berpikir? Bagaimana Ia akan berbicara? Bagaimana Ia akan bertindak?” Pertanyaan sederhana ini dapat membantu kita mengambil keputusan yang lebih baik. Ketika disakiti, apakah saya membalas atau mengampuni? Ketika mengalami kegagalan, apakah saya menyerah atau kembali bangkit? Ketika mempunyai kesempatan untuk membantu, apakah saya hanya memikirkan diri sendiri atau bersedia berbagi? Ketika menghadapi penderitaan, apakah saya hanya mengeluh atau mencoba menemukan apa yang Tuhan sedang ajarkan kepada saya? Inilah pembaruan budi yang dimaksud Paulus: bukan sekadar menjadi lebih pintar, tetapi menjadi semakin mampu melihat kehidupan dengan hati dan pikiran Kristus.
Saudara-saudariku terkasih, ada sebuah ungkapan sederhana, “Kita tidak selalu dapat memilih salib yang datang kepada kita, tetapi kita dapat memilih bagaimana kita memikulnya.” Ada salib dalam keluarga, ada salib dalam pekerjaan, ada salib dalam kesehatan, ada salib dalam relasi dengan sesama, bahkan ada salib dalam perjuangan iman kita sendiri. Kita tidak perlu mencari-cari penderitaan, apalagi menganggap bahwa orang beriman harus selalu menderita. Tetapi ketika salib itu datang, janganlah kita memikulnya sendirian. Bawalah salib itu kepada Kristus. Sebab Ia sendiri telah lebih dahulu memikul salib demi kita. Ia tahu rasanya ditolak, dikhianati, ditinggalkan, disalahpahami, dan menderita. Karena itu, ketika kita berkata, “Tuhan, saya sudah tidak kuat,” Ia tidak menjawab dari kejauhan. Ia hadir sebagai Dia yang juga pernah berjalan melalui jalan salib.
Maka hari ini Tuhan mengajak kita untuk tidak takut menjadi murid-Nya secara sungguh-sungguh. Jangan takut kalau kesetiaan kita kadang menuntut pengorbanan. Jangan takut ketika berbuat baik ternyata tidak selalu dihargai. Jangan takut ketika jalan kehidupan terasa lebih panjang daripada yang kita bayangkan. Tuhan tidak menjanjikan bahwa jalan mengikuti-Nya selalu mudah, tetapi Ia menjanjikan bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian. Seperti Yeremia, kita boleh merasa lelah, tetapi jangan berhenti. Seperti Petrus, kita boleh pernah salah memahami kehendak Tuhan, tetapi jangan berhenti belajar. Dan seperti yang dinasihatkan Paulus, marilah kita terus membarui budi, supaya kita semakin mampu mengenali kehendak Allah.
Akhirnya, marilah kita memohon rahmat agar kita tidak hanya menjadi orang yang mengenal Kristus dengan pikiran, tetapi sungguh-sungguh mengikuti-Nya dengan seluruh hidup. Semoga dalam setiap keputusan kita, kita semakin mampu memilih apa yang baik; dalam setiap penderitaan, kita tetap memiliki harapan; dalam setiap pengorbanan, kita menemukan kasih; dan dalam setiap salib, kita tetap percaya bahwa di balik jalan salib selalu ada kehidupan. Sebab salib bukanlah akhir perjalanan. Di dalam Kristus, salib selalu menuju kebangkitan. Semoga Tuhan memberikan kepada kita hati yang setia, budi yang terus diperbarui, dan keberanian untuk berkata setiap hari: “Tuhan, bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
29 Agustus 2026
Yer 1: 17-19 + Mzm 71 + Mrk 6: 17-29
Lectio
Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. Karena Yohanes pernah menegor Herodes: “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: “Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya: “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya: “Kepala Yohanes Pembaptis!” Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.
Meditatio
Kenapa Herodes tertarik kepada Herodias? Apakah karena namanya hampir sama? Namun karena ketertarikannya inilah, Herodes ditegur oleh Yohanes Pembaptis, tetapi Herodiaslah yang malahan marah terhadap Yohanes, dan bukannya Herodes.
Yohanes Pembaptis tentunya tidak mengetahui cara ataupun proses kematiannya. Dia bukan Orang yang dinanti-nantikan, maka tidak tahu akan apa yang terjadi pada dirinya. Namun sepertinya Yohanes sadar sungguh akan tugas perutusan yang diembannya. ‘Dan engkau, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka! Mengenai Aku, sesungguhnya pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imamnya dan rakyat negeri ini. Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau’ (Yer 1). Sabda Tuhan Allah melalui Yeremia inilah yang kiranya menyemangati dirinya. Yohanes Pembaptis sepertinya menyadari sungguh, bahwa dirinya adalah seseorang nabi Allah Yang Mahatinggi, dan akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya’ (Luk 1). Dirinya bukanlah orang yang dinanti-natikan banyak orang, tetapi sesudah aku, akan datang Dia yang lebih besar daripadaku. Membukan tali sandalNya pun aku tak layak, tegas Yohanes.
Kalau pun Yohanes harus membuka jalan, dia tidak meminta jaminan keamanan daripadaNya. Kalaupun para muridnya mempersoalkan, bahwa ‘Orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya’, dengan rendah hati Yohanes malah mengingatkan: ‘aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil’ (Yoh 3). Yohanes tahu menempatkan diri.
Peringatan wafatnya santo Yohanes Pembaptis mengingatkan, bahwa setiap orang diminta menghayati panggilannya dengan segenap hati. Kalau pun panggilan dan tugas yang diembannya, dianggap banyak orang kurang menguntungkan lagi berat penuh tantangan, hendaknya tetap setia. Tuhan Yesus akan memberikan mahkota kemartiran kepadanya.
Oratio
Yesus Kristus, ada banyak kesempatan dan peluang dalam hidup bersama, terlebih dalam mencari kenyamanan diri. Semoga kami tetap setia akan panggilan kami, dan siap mempertanggungjawabkan sebagaimana yang Engkau kehendaki.
Santo Yohanes Pembaptis, doakanlah kami. Amin.
Contemplatio
‘Engkau, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu’.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm