Memberi Lebih dari yang Diminta
(Matius 5:38-42)
Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,
Suatu hari seorang tukang ojek mengantar penumpang yang cukup merepotkan. Sepanjang perjalanan penumpang itu banyak mengeluh: jalan terlalu macet, motor terlalu pelan, bahkan sempat menyalahkan si pengemudi karena terlambat. Sesampainya di tujuan, penumpang itu turun tanpa mengucapkan terima kasih.
Teman-teman pengemudi yang melihat kejadian itu berkata, “Kalau aku jadi kamu, sudah kubalas dengan kata-kata yang pedas.”
Namun pengemudi itu hanya tersenyum dan menjawab, “Kalau saya ikut marah, berarti dia menentukan siapa saya hari ini. Saya tidak mau hidup saya dikendalikan oleh kemarahan orang lain.”
Jawaban sederhana itu menyimpan kebijaksanaan yang dalam. Ternyata kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil membalas, melainkan ketika kita tetap menjadi diri yang baik meskipun diperlakukan tidak baik.
Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus menyampaikan ajaran yang sering kali terdengar tidak masuk akal: jika ditampar pipi kanan, berikan juga pipi kirimu; jika seseorang memaksa berjalan satu mil, berjalanlah dua mil; jika diminta sesuatu, berilah.
Banyak orang mengira Yesus sedang mengajarkan sikap pasif, lemah, atau membiarkan diri diinjak-injak. Padahal bukan itu maksud-Nya.
Yang menarik, Yesus tidak sedang berbicara tentang kalah atau menang. Ia sedang berbicara tentang kebebasan batin.
Biasanya ketika seseorang menyakiti kita, ia sebenarnya sedang berusaha mengendalikan reaksi kita. Ia ingin kita marah, membenci, dendam, atau membalas. Ketika kita bereaksi persis seperti yang ia harapkan, sesungguhnya kita telah kehilangan kebebasan. Hidup kita dikendalikan oleh tindakan orang lain.
Di sinilah letak kebaruan ajaran Yesus. Yesus tidak hanya meminta murid-Nya menjadi baik. Ia mengajak murid-Nya menjadi pribadi yang tidak diperbudak oleh perilaku orang lain.
Orang yang membalas kejahatan dengan kejahatan masih bergerak dalam logika yang sama dengan pelaku kejahatan. Sebaliknya, orang yang tetap memilih kasih sedang menciptakan logika baru. Ia memutus rantai kebencian yang biasanya terus berputar dari satu orang ke orang lain.
Ada hal lain yang jarang disadari. Yesus tidak berkata, “Berjalanlah satu mil saja.” Ia justru berkata, “Berjalanlah dua mil.” Artinya, murid Kristus tidak hidup berdasarkan ukuran minimum. Kasih Kristen selalu melampaui kewajiban.
Banyak orang bertanya, “Apa kewajiban saya?” Sedangkan Yesus mengajak kita bertanya, “Apa lagi yang dapat saya lakukan demi kebaikan?”
Karena itu kekudusan bukan sekadar memenuhi aturan. Kekudusan adalah kemampuan memberi lebih daripada yang dituntut. Allah sendiri mengasihi manusia dengan cara demikian. Ia tidak memberi kita sekadar apa yang pantas kita terima, melainkan jauh lebih banyak daripada yang kita butuhkan.
Di salib, Yesus tidak hanya mengampuni mereka yang layak diampuni. Ia mengampuni bahkan mereka yang sedang menyalibkan-Nya.
Kasih yang seperti itulah yang diminta dari para murid-Nya.
Poin Refleksi
- Apakah saya masih membiarkan sikap buruk orang lain menentukan suasana hati dan tindakan saya?
- Dalam keluarga, komunitas, atau tempat kerja, apakah saya hanya melakukan yang wajib atau bersedia memberi lebih demi kebaikan bersama?
- Adakah seseorang yang saat ini sulit saya ampuni, sehingga saya masih terikat oleh luka dan kemarahan terhadapnya?
Doa Singkat
Tuhan Yesus, ajarlah kami memiliki hati yang bebas, sehingga tidak dikuasai oleh kemarahan, dendam, atau keinginan membalas. Berilah kami keberanian untuk mengasihi lebih dari yang diwajibkan dan menghadirkan damai di tengah dunia yang sering dipenuhi permusuhan. Amin.
RD. Yusuf Dimas Caesario