Yesuslah Gembala yang baik
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
(Yohanes 10:11-18)
Para Saudara yang terkasih, dalam Injil hari ini Yesus berkata dengan sangat jelas: “Akulah gembala yang baik.” Seorang gembala yang baik mengenal domba-dombanya dan rela memberikan nyawanya bagi mereka.
Yesus kemudian membandingkan dirinya dengan seorang upahan. Seorang upahan bekerja hanya demi upah. Ketika bahaya datang, ia akan lari meninggalkan domba-domba itu karena domba-domba itu bukan miliknya. Sebaliknya, seorang gembala sejati tidak meninggalkan kawanan dombanya. Ia menjaga, melindungi, dan bahkan rela mempertaruhkan hidupnya.
Dengan gambaran ini Yesus ingin menunjukkan siapa Dia sebenarnya. Ia bukan pemimpin yang mencari keuntungan atau kehormatan. Ia adalah Gembala yang mencintai umat-Nya dengan kasih yang total. Kasih itu mencapai puncaknya ketika Ia menyerahkan hidup-Nya di salib demi keselamatan manusia.
Yesus juga berkata bahwa Ia mengenal domba-domba-Nya dan domba-domba-Nya mengenal Dia. Dalam bahasa Kitab Suci, “mengenal” bukan sekadar tahu secara intelektual, tetapi relasi yang dekat dan penuh kasih.
Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa iman bukan hanya soal mengikuti aturan, tetapi soal relasi dengan Kristus Sang Gembala Baik. Ia mengenal kita, memperhatikan hidup kita, bahkan rela memberikan diri-Nya demi kita.
Namun pertanyaannya adalah: apakah kita juga mengenal suara-Nya? Apakah kita membiarkan Dia menuntun hidup kita? Di tengah dunia yang penuh dengan banyak suara dan tawaran, kita sering tergoda mengikuti arah yang lain. Tetapi Yesus tetap memanggil kita dengan sabar sebagai Gembala yang tidak pernah meninggalkan domba-domba-Nya.
Pertanyaan refleksi
Doa
Tuhan Yesus,
Engkaulah Gembala yang baik
yang mengenal dan mencintai aku.
Tuntunlah langkah hidupku
agar aku selalu mendengarkan suara-Mu
dan setia mengikuti jalan yang Engkau tunjukkan.
Amin.
RD Yusuf Dimas Caesario
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Minggu Paskah IV
(Kis. 2:14a.36-41; 1Ptr. 2:20b-25; Yoh. 10:1-10)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, perjalanan iman kita pada masa Paskah ini masih diliputi oleh terang kebangkitan. Minggu lalu kita merenungkan bagaimana para murid yang diliputi ketakutan berubah menjadi pribadi yang penuh sukacita setelah berjumpa dengan Yesus yang bangkit. Kehadiran-Nya mengubah hati mereka, memberi arah baru, dan meneguhkan langkah mereka. Hari ini, pada Minggu Paskah IV yang juga dikenal sebagai Minggu Gembala Baik dan Hari Doa Sedunia untuk Panggilan, kita diajak melangkah lebih dalam, bukan hanya mengalami kehadiran Tuhan, tetapi juga mengenali suara-Nya yang memanggil kita.
Dalam bacaan pertama, Rasul Petrus mengingatkan bahwa melalui luka-luka Kristus kita disembuhkan. Kita yang dahulu tersesat seperti domba yang kehilangan arah, kini dikembalikan kepada Sang Gembala dan Penjaga jiwa kita, yaitu Yesus sendiri. Gambaran ini bukan sekadar simbol yang indah, melainkan kenyataan iman dimana Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia mencari, menemukan, dan menuntun kita kembali dengan kasih yang lembut. Seperti air yang tenang yang menyejukkan jiwa, demikianlah hati Tuhan yang selalu menyediakan tempat aman bagi kita.
Dalam Injil hari ini, Yesus berkata, “Akulah pintu.” Ia bukan hanya gembala, tetapi juga jalan masuk menuju kehidupan. Ia bukan sekadar penunjuk arah, tetapi jalan itu sendiri. Siapa yang masuk melalui Dia akan menemukan keselamatan, kedamaian, dan kehidupan yang berlimpah. Namun, Yesus juga dengan jujur mengingatkan adanya “pencuri dan perampok,” yaitu mereka yang tidak datang dari Dia, yang tidak membawa kehidupan, tetapi justru merusak dan memecah-belah. Di sinilah kita diajak untuk memiliki kepekaan rohani, mengenali mana suara Gembala sejati dan mana suara yang menyesatkan.
Sejarah Gereja menunjukkan bahwa Tuhan sungguh mempercayakan kawanan-Nya kepada para gembala manusiawi yakni para uskup dan imam. Mereka dipanggil bukan karena kesempurnaan mereka, tetapi karena kasih dan kehendak Allah. Mereka adalah alat di tangan Tuhan. Dalam pelayanan sakramen, mereka bertindak in persona Christi Capitis (dalam pribadi Kristus Kepala), untuk menghadirkan Kristus sendiri di tengah umat. Maka, iman kita tidak bertumpu pada kelemahan atau kekuatan pribadi seorang imam, tetapi pada kesetiaan Kristus yang berkarya melalui mereka. Di sinilah iman kita diuji sekaligus dimurnikan dengan belajar melihat melampaui manusia, menuju Allah yang bekerja di dalamnya.
Namun, saudara-saudariku terkasih, pesan Hari Doa Panggilan tahun ini mengajak kita melangkah lebih dalam lagi. Paus Paus Leo XIV mengingatkan bahwa panggilan tidak pertama-tama lahir dari luar, tetapi dari “penemuan batiniah akan anugerah Allah.” Panggilan adalah bisikan halus di dalam hati, suara lembut Tuhan yang hanya
dapat didengar oleh mereka yang mau berhenti, diam, dan membuka diri. Dalam dunia yang penuh kebisingan, sering kali kita kehilangan kemampuan untuk mendengarkan. Kita sibuk dengan begitu banyak hal, tetapi lupa masuk ke dalam diri kita sendiri, tempat di mana Tuhan berbicara.
Seperti Santo Agustinus yang menemukan Allah, lebih dalam daripada kedalaman dirinya sendiri, demikian pula kita diajak untuk berani masuk ke dalam keheningan batin. Di sanalah kita mulai mengenal bahwa hidup kita bukan kebetulan, melainkan bagian dari rencana kasih Tuhan. Dan dari pengenalan itu lahirlah kepercayaan. Kita belajar mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, bahkan ketika jalan yang Ia tunjukkan tidak selalu mudah atau sesuai dengan rencana kita.
Saudara-saudariku terkasih, panggilan bukan hanya milik para imam atau biarawan-biarawati. Panggilan adalah milik setiap orang: panggilan untuk mengasihi, untuk melayani, untuk menjadi tanda kehadiran Tuhan di tengah dunia. Ada yang dipanggil dalam hidup perkawinan, ada yang dalam imamat, ada pula dalam hidup bakti. Semua adalah jalan keindahan, jalan di mana hidup menjadi bermakna karena dijalani bersama Tuhan.
Maka pada hari ini, Gereja mengajak kita untuk berdoa bagi para gembala yang sudah ada, agar tetap setia dan rendah hati, dan bagi panggilan-panggilan baru yang baik, agar semakin banyak hati yang berani menjawab “ya” kepada Tuhan. Namun lebih dari itu, kita juga diajak untuk bertanya secara pribadi, apakah aku sudah sungguh mendengarkan suara Tuhan dalam hidupku? Ataukah aku masih sibuk dengan suara-suara lain yang lebih keras tetapi kosong?
Barangkali, panggilan Tuhan hadir tidak dalam hal-hal besar, tetapi dalam kesetiaan kecil setiap hari: dalam doa yang sederhana, dalam kesabaran menghadapi sesama, dalam keberanian untuk berbuat baik di tengah dunia yang sering kali dingin. Di situlah Tuhan bekerja, perlahan-lahan membentuk hati kita menjadi serupa dengan hati-Nya.
Akhirnya, marilah kita belajar dari Sang Gembala Baik. Ia tidak memaksa, tetapi memanggil; Ia tidak menuntut, tetapi mengundang; Ia tidak meninggalkan, tetapi setia berjalan bersama kita. Jika kita berani membuka hati, kita akan menemukan bahwa mengikuti Dia bukanlah beban, melainkan jalan yang indah, jalan yang membawa kita pada sukacita yang sejati. Semoga kita semua semakin peka mendengarkan suara-Nya, semakin berani menjawab panggilan-Nya, dan semakin setia berjalan bersama-Nya. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm