Jadilah saksi Kristus
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
(Injil Yohanes 15:26-16:4a)
Seorang bapak pernah bercerita tentang anak kecilnya yang takut tidur sendiri saat listrik padam. Setiap malam anak itu selalu berkata, “Ayah jangan pergi.”
Maka sang ayah duduk di dekat pintu kamar. Ia tidak banyak bicara. Kadang malah hanya diam sambil membaca buku. Tetapi anehnya, si anak bisa tidur nyenyak.
Suatu hari bapaknya bertanya, “Mengapa kamu bisa tenang padahal lampu mati?”
Anaknya menjawab sederhana, “Karena aku tahu Ayah ada di sini.”
Bukan suara ayahnya yang membuat tenang. Bukan juga penjelasan panjang. Kehadiran ayahnya itulah yang memberi keberanian.
Dalam Injil hari ini, Yesus tahu bahwa para murid akan menghadapi penolakan, kebencian, bahkan penganiayaan. Ia tidak menjanjikan hidup yang mudah. Yesus malah berkata terus terang bahwa akan ada orang-orang yang memusuhi mereka karena tidak mengenal Allah.
Tetapi menariknya, Yesus tidak meninggalkan murid-murid sendirian. Ia menjanjikan “Penolong”, yaitu Roh Kudus, yang akan menyertai dan menguatkan mereka.
Sering kali kita berharap Tuhan menyelesaikan semua masalah kita secara instan. Kita ingin badai langsung berhenti. Kita ingin orang yang membenci kita langsung berubah. Kita ingin hidup mulus tanpa luka. Tetapi Roh Kudus sering bekerja bukan dengan menghilangkan kesulitan, melainkan memberi kekuatan agar kita mampu bertahan di tengah kesulitan itu.
Kadang kita merasa Tuhan diam. Doa terasa biasa saja. Hidup tetap berat. Pelayanan melelahkan. Ada fitnah, ada kecewa, ada rasa tidak dihargai. Namun seperti anak kecil tadi, sebenarnya kita tidak berjalan sendirian. Roh Kudus hadir dengan cara yang tenang tetapi nyata.
Ia hadir dalam hati yang tetap mampu sabar meski disakiti.
Ia hadir dalam mulut yang masih bisa berkata baik saat emosi.
Ia hadir dalam langkah kecil untuk tetap setia datang misa, tetap melayani, tetap berdoa, walau hati sedang lelah.
Roh Kudus tidak selalu bekerja dengan hal-hal spektakuler. Kadang Ia hanya memberi satu hal sederhana: kekuatan untuk tetap bertahan dan tidak meninggalkan Tuhan.
Dan itu sudah mukjizat besar.
Pertanyaan Reflektif
Doa Penutup
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau tidak membiarkan kami berjalan sendiri. Utuslah Roh Kudus-Mu agar kami tetap kuat, setia, dan berani menjadi saksi-Mu di tengah dunia. Amin.
RD. Yusuf Dimas Caesario
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
(Kis. 8:5-8.14-17; 1Ptr. 3:15-18; Yoh. 14:15-21)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, di dalam kehidupan ini ada saat-saat ketika kita merasa kuat, tetapi ada juga saat-saat ketika hati kita rapuh, pikiran kita lelah, dan langkah iman kita terasa berat. Ada hari-hari ketika doa terasa hidup, tetapi ada pula waktu ketika kita berdoa namun rasanya seperti berbicara dalam keheningan. Dalam situasi seperti itulah sabda Tuhan hari ini hadir sebagai penghiburan, “Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain.” Yesus mengetahui bahwa mengikut Dia bukanlah jalan yang selalu mudah. Karena itu, Ia tidak membiarkan murid-murid-Nya berjalan sendirian. Ia menjanjikan Roh Kudus, Sang Penolong, yang akan tinggal bersama mereka.
Dalam Injil hari ini, Yesus memulai dengan kalimat yang sederhana namun sangat menantang, “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Menarik bahwa Yesus tidak berkata, “Jika kamu mengasihi Aku, bicaralah tentang Aku,” atau “Tunjukkan perasaanmu kepada-Ku.” Sebaliknya, kasih kepada Tuhan diukur melalui ketaatan. Sebab kasih yang sejati tidak berhenti pada kata-kata, melainkan menjadi keputusan hidup. Seperti seorang anak yang sungguh mengasihi orangtuanya, bukan karena ia sering berkata “aku sayang”, tetapi karena ia menjaga hati mereka melalui sikap dan perbuatannya. Demikian pula kasih kita kepada Tuhan diuji bukan ketika suasana hati sedang baik, melainkan ketika kehendak Tuhan menuntut pengorbanan.
Kadang-kadang kita mudah merasa sudah dekat dengan Tuhan karena kita rajin datang ke gereja, tersentuh oleh lagu liturgi, atau meneteskan air mata saat mendengar homili pastor. Tentu semua itu baik. Tetapi Yesus mengingatkan bahwa iman tidak boleh berhenti pada rasa haru. Iman harus turun ke dalam tindakan nyata, yang mengampuni ketika terluka, tetap jujur ketika ada kesempatan untuk curang, tetap sabar ketika diperlakukan tidak adil, dan tetap setia berbuat baik meskipun tidak dihargai. Sebab mengasihi Tuhan bukan pertama-tama soal perasaan, tetapi soal kesetiaan.
Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul memberi gambaran konkret tentang hal itu. Ketika Filipus pergi ke Samaria dan mewartakan Kristus, banyak orang mengalami sukacita, penyembuhan, dan pembaruan hidup. Kehadiran Allah tidak hanya didengar melalui kata-kata Filipus, tetapi dirasakan melalui buah dari pewartaannya. Bahkan ketika para rasul datang dan meletakkan tangan atas mereka, Roh Kudus dicurahkan. Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang sungguh hidup dalam Roh Allah, kehadirannya dapat membawa damai, harapan, dan kehidupan baru bagi orang lain. Pertanyaannya bagi kita, apakah kehadiran kita di rumah, di komunitas, di tempat kerja, juga membawa sukacita seperti itu? Ataukah justru membawa ketegangan, keluhan, dan luka?
Bacaan kedua memperdalam panggilan itu. Rasul Petrus berkata: “Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan, dan siap sedialah memberi pertanggungjawaban tentang pengharapan yang ada padamu.” Dunia hari ini tidak selalu membutuhkan banyak teori tentang iman. Dunia lebih membutuhkan orang-orang yang hidupnya memancarkan harapan. Ketika orang lain melihat kita tetap tenang di tengah masalah, tetap lembut di tengah konflik, tetap jujur di tengah godaan, di situlah mereka mulai bertanya, “Apa yang membuat dia tetap kuat?” Dan pada saat itulah iman menjadi kesaksian.
Saudara-saudariku terkasih, menjadi murid Kristus bukan berarti kita tidak pernah jatuh. Menjadi murid Kristus berarti setiap kali jatuh, kita membiarkan Roh Kudus mengangkat kita kembali. Roh Kudus adalah Penolong, Penghibur, sekaligus Pembela kita. Ia bekerja secara halus, seperti angin yang tidak terlihat tetapi dapat dirasakan. Ia meneguhkan hati yang lemah, menerangi pikiran yang bingung, dan memberi keberanian kepada mereka yang ingin tetap setia.
Maka hari ini Tuhan mengundang kita untuk bertanya dalam hati, apakah aku sungguh mengasihi Tuhan, atau aku hanya menikmati hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan? Jika kita sungguh mengasihi-Nya, maka kasih itu akan tampak dalam hidup yang taat, rendah hati, dan membawa harapan bagi sesama. Dan ketika kita memilih jalan itu, Roh Kudus tidak akan pernah membiarkan kita berjalan sendirian. Semoga hidup kita terus diterangi oleh Roh Kudus sehingga kasih kita kepada Allah dan sesama sungguh menjadi nyata dan menghasilkan buah. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm