Iman tidak membebaskan kita dari aneka tantangan
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
(Renungan Injil Yohanes 16:29-33)
Para Saudara yang terkasih dalam Kristus Tuhan.
Bayangkan, seorang mahasiswa merasa dirinya sudah sangat siap menghadapi ujian akhir. Semua materi sudah dibaca, catatan lengkap, bahkan ia sempat berkata kepada temannya, “Tenang saja, kali ini pasti aman.”
Namun saat ujian dimulai, ternyata soal-soalnya berbeda dari yang ia bayangkan. Panik mulai datang. Beberapa jawaban yang sebelumnya terasa mudah mendadak hilang dari ingatan. Keluar dari ruang ujian, ia berkata pelan, “Ternyata saya belum sekuat yang saya kira.”
Kadang manusia memang baru mengenal dirinya dengan jujur ketika berada dalam tekanan.
Dalam Injil hari ini, para murid berkata kepada Yesus bahwa sekarang mereka percaya kepada-Nya. Mereka merasa sudah mengerti siapa Yesus. Mereka merasa iman mereka sudah kuat.
Tetapi Yesus justru mengatakan sesuatu yang mengejutkan: akan datang saatnya mereka tercerai-berai dan meninggalkan-Nya sendirian.
Kata-kata Yesus ini bukan untuk mempermalukan para murid, melainkan untuk menyadarkan mereka bahwa iman tidak diuji saat semuanya nyaman, tetapi justru saat ketakutan, tekanan, dan penderitaan datang.
Sering kali kita juga seperti para murid. Saat hidup tenang, kita merasa iman kita kuat. Kita merasa setia kepada Tuhan. Tetapi ketika masalah datang — sakit, konflik keluarga, ekonomi sulit, kekecewaan dalam pelayanan, atau doa yang terasa tidak dijawab — barulah terlihat seberapa dalam iman kita sebenarnya.
Menariknya, Yesus tidak marah kepada para murid meskipun tahu mereka akan meninggalkan-Nya. Yesus tetap mengasihi mereka. Bahkan sebelum semuanya terjadi, Yesus sudah menyiapkan penghiburan: “Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”
Artinya, kemenangan bukan berasal dari kekuatan para murid, tetapi dari Yesus sendiri.
Inilah kabar baik bagi kita. Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna baru mengasihi kita. Ia tahu kita kadang rapuh, takut, mudah jatuh, bahkan lari dari salib kehidupan. Tetapi Tuhan tetap berjalan bersama kita dan mengangkat kita kembali.
Iman sejati bukan tentang merasa paling kuat. Iman sejati adalah tetap kembali kepada Tuhan meskipun kita sadar diri lemah.
Poin Reflektif
Doa Penutup
Tuhan Yesus, sering kali kami merasa kuat padahal hati kami rapuh. Ajarlah kami untuk tidak mengandalkan diri sendiri, tetapi percaya kepada-Mu yang telah mengalahkan dunia. Teguhkan iman kami agar tetap setia berjalan bersama-Mu. Amin.
RD Yusuf Dimas Caesario
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
(Kis.1:12-14; 1Ptr.4:13-16; Yoh. 17:1-11a)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, beberapa hari yang lalu Gereja merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan. Dalam peristiwa itu, Yesus tidak meninggalkan murid-murid-Nya sebagai anak-anak yatim, tetapi memberikan janji yang begitu meneguhkan. Ia akan tetap menyertai para murid-Nya sampai akhir zaman. Namun penyertaan itu tidak membuat para murid menjadi pasif. Sebaliknya, mereka diutus untuk menjadi saksi, menjadi tanda kehadiran Allah di tengah dunia. Karena itulah pada Minggu Paskah ketujuh ini, di tengah Novena Pentakosta dan bertepatan dengan Hari Komunikasi Sosial Sedunia, Sabda Tuhan mengajak kita merenungkan kembali bagaimana menjadi murid Kristus yang mampu menghadirkan kasih Allah melalui hidup, kata-kata, dan relasi yang kita bangun dengan sesama.
Dalam Injil hari ini, kita mendengar doa Yesus kepada Bapa-Nya. Ini bukan sekadar doa biasa, melainkan doa hati seorang Guru bagi murid-murid yang dikasihi-Nya. Yesus tahu bahwa perjalanan para murid tidak akan mudah. Mereka akan menghadapi penolakan, kesalahpahaman, bahkan penderitaan. Karena itu Yesus berdoa bagi mereka. Betapa menghibur kenyataan ini, sebelum kita berjuang bagi Tuhan, Tuhan terlebih dahulu berdoa bagi kita. Sebelum kita berbicara tentang Dia, Dia terlebih dahulu menyebut nama kita di hadapan Bapa. Di sinilah sumber kekuatan seorang murid Kristus yakni kita tidak pernah berjalan sendirian.
Bacaan pertama menggambarkan para rasul yang berkumpul bersama Bunda Maria dalam doa, menantikan pencurahan Roh Kudus. Mereka tidak langsung berlari ke sana kemari, tidak sibuk menciptakan strategi, tetapi terlebih dahulu tinggal dalam keheningan, dalam kebersamaan, dan dalam doa. Mereka belajar bahwa sebelum mewartakan Injil kepada dunia, hati mereka sendiri harus terlebih dahulu dipenuhi oleh kehadiran Allah. Sikap inilah yang sangat relevan dengan pesan Paus Leo XIV yang mengingatkan bahwa di tengah dunia digital, manusia jangan kehilangan wajah dan suaranya. Jangan sampai manusia terlalu sibuk berbicara, tetapi lupa mendengarkan. Jangan sampai manusia begitu cepat memberi komentar, tetapi tidak lagi punya waktu untuk merenung, berdoa, dan sungguh hadir bagi sesama.
Hari ini teknologi membuat komunikasi terasa begitu mudah. Dalam hitungan detik pesan sampai, berita menyebar, dan informasi datang tanpa batas. Bahkan kecerdasan buatan dapat membantu manusia menyelesaikan banyak pekerjaan. Namun Paus Leo XIV mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada manusianya. Apakah teknologi membantu kita semakin manusiawi, atau justru membuat kita kehilangan kehangatan relasi? Sebab komunikasi sejati bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan perjumpaan hati. Seseorang bisa memiliki ribuan kontak, tetapi tetap merasa sendiri. Seseorang bisa sangat aktif di dunia maya, tetapi diam dan dingin di rumahnya sendiri. Di sinilah Sabda Tuhan mengundang
kita untuk kembali kepada komunikasi yang lahir dari hati, komunikasi yang membawa kehidupan, bukan sekadar kebisingan.
Yesus dalam Injil berkata bahwa hidup kekal adalah mengenal Allah, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Dia yang diutus-Nya. Mengenal di sini bukan sekadar tahu, melainkan mengalami, berjumpa, dan hidup dalam relasi yang mendalam dengan Allah. Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita sebenarnya sedang diajak bertemu muka dengan Allah. Allah hadir dalam Sabda yang kita dengarkan. Allah hadir dalam Tubuh dan Darah Kristus yang kita sambut. Allah hadir dalam pelayan Gereja yang memimpin liturgi. Dan Allah juga hadir dalam wajah-wajah umat yang berdoa bersama kita. Artinya, wajah Allah sering kali hadir bukan dalam sesuatu yang spektakuler, tetapi dalam orang-orang sederhana yang kita jumpai setiap hari.
Bacaan kedua mengingatkan kita bahwa menjadi pengikut Kristus juga berarti siap menanggung penderitaan demi nama-Nya. Namun penderitaan itu bukan tanda Allah meninggalkan kita, melainkan kesempatan untuk semakin serupa dengan Kristus. Dalam hidup sehari-hari, kesaksian itu bisa sangat sederhana, dengan tetap sabar ketika disalahpahami, tetap jujur ketika orang lain memilih jalan pintas, tetap mengampuni ketika hati terluka, tetap menjaga kata-kata ketika banyak orang memilih menyebarkan kebencian. Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi dunia sangat membutuhkan orang yang mampu menghadirkan kelembutan, kejujuran, dan damai Kristus.
Sebagai teladan, kita dapat belajar dari Ibu Teresa. Ia tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi melihat wajah Kristus dalam diri orang miskin, orang sakit, dan mereka yang berada di ambang kematian. Di tengah tubuh yang lemah, luka yang berbau, dan air mata penderitaan, ia menemukan wajah Allah. Ia mengusap mereka, memandikan mereka, menyuapi mereka, dan menemani mereka dengan doa. Itulah komunikasi yang paling dalam, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui kehadiran dan kasih yang nyata.
Saudara-saudariku terkasih, di tengah dunia yang semakin penuh dengan suara, komentar, gambar, dan informasi, Kristus hari ini mengundang kita untuk menjaga wajah kita tetap memancarkan kasih, dan suara kita tetap membawa kebenaran. Jangan sampai teknologi membuat hati kita menjadi dingin. Jangan sampai kesibukan membuat kita kehilangan kemampuan untuk hadir bagi orang-orang terdekat. Semoga melalui Roh Kudus yang sedang kita nantikan, kita semakin dimampukan menjadi murid-murid Kristus yang mampu mengenali wajah Allah dalam setiap peristiwa hidup, dan menghadirkan wajah Kristus bagi siapa pun yang kita jumpai. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm