Janganlah kita bersikap semaunya sendiri
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
RP Hugo Susdiyanto O.Carm
Lukas 7:31-35
Rabu 16 September 2026
Pw St. Kornelius, Paus dan Siprianus, Uskup – Martir
“Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis” [Luk. 7:32]. Ungkapan tersebut menegaskan bahwa kaum Farisi dan ahli Taurat salah menggambar Mesias. Konyolnya mereka hidup dan percaya pada gambaran yang salah itu. Kekerasan hati dan keangkuhan religius telah membutakan hati mereka. Akibatnya mereka menolak kebaikan Allah melalui baptisan Yohanes [Luk. 7:30]. Yohanes telah datang dan hidup seperti seorang pertapa, hidup penuh matiraga, tidak makan dan tidak minum anggur, namun orang banyak – termasuk orang-orang Farisi dan para ahli Taurat – berkata, “Ia kerasukan setan”. Selanjutnya ketika Yesus datang dan hidup seperti orang-orang pada umumnya [makan dan minum], mereka berkata, “Lihatlah, seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” [Luk. 7:33-34]. Di mata mereka, tindakan Yohanes dan Yesus tidak ada yang benar. Sebaik apa pun yang dilakukan Yohanes maupun Yesus, di mata mereka tidak ada yang baik dan benar. Komentar mereka selalu negatif, karena bersumber dari hati yang jahat. Dengan kata lain, mereka bukanlah orang-orang berhikmat [Luk 7: 35]. Mereka benar-benar salah gambar.
Gambaran salah, informasi yang tidak mencukupi, seringkali melahirkan pelbagai keangkuhan religius dalam komunitas, hidup bersama. Tindakan baik yang dilakukan oleh seseorang dipandang dengan sebelah mata dan dikomentari dengan nada sumbang. Kenyataan semacam ini merupakan potret praktek beriman yang sangat dangkal, sekadar identitas dengan pola pikir yang sempit, dalam bahasa St. Paulus, “seperti gong yang berkumandang dan simbal yang gemerincing” [1Kor. 13:1].
Warta hari iniditutup dengan pernyataan, “hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya” [Luk 7:35]. Hikmat tidak lain adalah Tuhan sendiri sebagaima tampak dalam amsal, “Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu…” [Ams 2:10]. Semoga kita ditemukan Allah sebagai orang yang berhikmat. Semoga iman kita sungguh mendalam. Semoga kita memiliki gambar yang benar tentang Mesias.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus Tuhan,
Kita sering memandang salib seperti sebuah logo transaksi. Kalau ikut Yesus, hidup harusnya bebas dari luka, usaha lancar, dan penderitaan menjauh. Begitu penderitaan atau kegagalan datang, kita sibuk bertanya: “Di mana Tuhan? Kenapa salib ini harus saya pikul?” Tanpa sadar, kita memperlakukan Allah seperti berhala—sebuah pemicu keberuntungan yang jalannya harus selalu mulus.
Melihat Salib dengan Kacamata Baru
Injil Yohanes 3:13-17 menawarkan sudut pandang yang sama sekali membalikkan logika dunia. Yesus merujuk pada peristiwa Musa yang meninggikan ular tembaga di padang gurun. Waktu itu, bangsa Israel bukan disembuhkan dengan cara menghilangkan ular-ular berbisa dari perkemahan mereka. Ular-ular itu tetap ada. Namun, siapa pun yang memandang ular tembaga yang ditinggikan, dia selamat.
Pesta Pemuliaan Salib Suci hari ini bukan merayakan alat eksekusi mati yang kejam, melainkan merayakan transformasi makna. Allah tidak menyelamatkan kita dengan cara menghapus semua masalah, sakit hati, atau kegagalan dari dunia. Jika Allah melakukan itu, kita hanya akan menjadi manusia manja yang mencintai fasilitas-Nya, bukan mencintai Pribadi-Nya.
Melalui Salib, Allah melakukan sesuatu yang jauh lebih tajam: Dia turun langsung ke dalam rahang penderitaan manusia. Salib adalah bukti bahwa tidak ada satu pun sudut tergelap dalam hidupmu—entah itu pengkhianatan, rasa kesepian, atau keputusasaan—yang tidak dihadiri oleh Allah. Salib bukan lagi simbol hukuman atau kekalahan, melainkan monumen cinta yang membongkar ketakutan terbesar manusia, yaitu kematian dan kesendirian.
Memuliakan Salib berarti berani mengubah cara pandang. Penderitaan tidak lagi menjadi bukti absennya Tuhan, melainkan ruang paling intim di mana kasih Allah justru sedang bekerja paling keras. Kasih Allah dalam Yohanes 3:16 bukan kasih yang murah, melainkan kasih yang berani terluka agar kita tahu kita tidak pernah sendirian.
Pertanyaan Reflektif
Doa
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau tidak memilih jalur yang mudah untuk mencintai kami. Lewat Salib-Mu, Engkau mengubah alat penderitaan menjadi tanda kemenangan dan kasih yang sejati. Ajari kami untuk tidak lari dari salib-salib kecil kami sehari-hari, melainkan berani memandangnya bersama-Mu, sebab kami tahu di sanalah keselamatan kami berada. Amin.
R.D. Yusuf Dimas Caesario