Daya Doa

Daya Doa

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Lukas 11:1-4

Pw St. Maria Ratu Rosario

Hari ini 7 Oktober, Gereja merayakan Peringatan Wajib Santa Perawan Maria, Ratu Rosario. Penetapan tanggal ini berlatar belakang kemenangan armada laut Liga Suci Kristen atas pasukan Kesultanan Utsmaniyah (Turki) dalam Pertempuran Lepanto pada tanggal 7 Oktober 1571. Pada waktu itu Paus Pius V mengajak umat Katolik di seluruh dunia berdoa Rosario memohon perlindungan Bunda Maria. Kemenangan yang dipercaya berkat pertolongan perantaraan Bunda Maria, mendorong Paus Pius V mengadakan Pesta Santa Maria dari Kemenangan, kemudian Paus Gregorius XIII mengubahnya Peringatan Santa Maria Ratu Rosario.

Daya atau kekuatan doa sungguh luar biasa, sebagaimana diajarkan St. Yakobus, “Doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia. Jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni” [Yak5:15]. Setelah melihat Yohanes mengajar muridnya berdoa, ada seorang murid Yesus meminta diajari berdoa, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya” [Luk 11:1]. Tampaknya cara berdoa murid-murid Yohanes menggerakkan hati mereka. Atas permintaan tersebut, Yesus pun mengajarkan apa yang kita kenal dengan “Doa Bapa Kami” [bdk. Mat 6:9-13]. Perlu kita sadari bahwa Tradisi Gereja Katolik mempertahankan versi Matius, dengan tujuh permohonan, yang sejak semula tampaknya digunakan dalam liturgi jemaat dengan sapaan “Bapa kami”. Sementara versi Injil Lukas, dengan lima permohonan (11:2-4) lebih sebagai doa pribadi dengan sapaan “Bapa”. Kerangka dasar doa Tuhan sama yakni permohonan untuk memuliakan Allah (permohonan”Mu”): [Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu] dan permohonan untuk kebutuhan kita (permohonan”kami”): [Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya; ampunilah dosa-dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan].

Apakah pada zaman ini masih ada murid-murid Yesus yang rindu untuk belajar berdoa? Mungkin sebagaian orang menyadari betapa sulitnya berdoa itu. Mungkin juga karena tidak tahu bagaimana kita harus berdoa. Barang kali juga karena kuasa dosa begitu menggelapkan pikiran sehingga kita jarang bahkan tidak berdoa. Namun kita harus percaya bahwa hidup tanpa doa, bagaikan berjalan tanpa arah, berjalan dalam kegelapan. Perlu kita sadari dan pahami bahwa doa-berdoa bukan sol kata-kata, melainkan jalinan relasi dengan Tuhan sendiri. Doa yang diajarkan Tuhan Yesus baik versi Matius maupun versi Lukas mengajarkan kepada kita tentang membangun relasi pribadi dengan Allah, maka dimulai dengan sapaan “Bapa” atau “Bapa kami”. Doa Rasario yang meditatif juga mengajak kita dalam kesatuan dengan bunda Maria untuk menjalin relasi dengan Tuhan sendiri. Doa-berdoa tanpa jalinan relasi pribadi dengan Tuhan sendiri hanyalah rangkaian kata yang tanpa daya, tanpa guna.

RENUNGAN: 6 OKTOBER 2026

RENUNGAN: 6 OKTOBER 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Lukas 10:38-42

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Dalam kehidupan sehari-hari, kita semua mempunyai banyak kesibukan. Ada yang sibuk bekerja, mengurus keluarga, mencari nafkah, mengurus rumah tangga, melayani masyarakat, melayani Gereja, dan menyelesaikan berbagai tanggung jawab. Kesibukan itu memang merupakan bagian dari kehidupan. Tetapi Injil hari ini mengajak kita untuk bertanya: di tengah semua kesibukan itu, apakah kita masih mempunyai waktu untuk Tuhan?

Dalam Injil dikisahkan bahwa Yesus datang ke rumah Marta dan Maria. Marta sibuk sekali melayani Yesus. Ia tentu mempunyai maksud yang baik. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi Yesus. Sementara itu, Maria duduk dekat kaki Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya.

Ketika Marta merasa bahwa ia bekerja sendirian, ia berkata kepada Yesus: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudariku membiarkan aku melayani seorang diri?” Marta merasa lelah, mungkin juga merasa tidak dihargai. Ia berharap Maria ikut membantu pekerjaannya. Tetapi Yesus menjawab: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu.” Kita perlu memahami bahwa Yesus tidak sedang menyalahkan Marta karena bekerja atau melayani. Pelayanan Marta adalah sesuatu yang baik. Yang menjadi perhatian Yesus adalah keadaan hati Marta. Ia begitu sibuk, begitu cemas, dan begitu terbebani oleh banyak perkara, sampai-sampai kehadiran Yesus sendiri tidak lagi menjadi pusat perhatiannya. Di sinilah Sabda Tuhan menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita.

Kadang-kadang kita juga seperti Marta. Kita mempunyai begitu banyak hal yang harus dipikirkan. Pekerjaan belum selesai, kebutuhan keluarga harus dipenuhi, anak-anak mempunyai persoalan, pekerjaan dan pelayanan menuntut waktu, belum lagi berbagai persoalan hidup yang datang silih berganti. Akibatnya, pikiran kita penuh. Hati kita gelisah. Kita mudah marah, mudah kecewa, mudah mengeluh. Bahkan ketika kita sedang berdoa, pikiran kita masih memikirkan berbagai persoalan. Kita hadir di hadapan Tuhan, tetapi hati kita masih sibuk dengan banyak perkara. Karena itu, perkataan Yesus kepada Marta juga merupakan sapaan kepada kita: “Engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara.” Yesus seolah-olah berkata kepada kita: “Anakku, berhentilah sejenak. Jangan biarkan semua persoalan menguasai hatimu. Aku ada bersamamu.” Santo Agustinus pernah mengungkapkan pengalaman manusia dengan sangat indah: “Hati kami gelisah sebelum beristirahat di dalam Engkau.” Bukankah ini sering menjadi pengalaman kita? Kita mengejar banyak hal supaya hidup menjadi lebih baik. Kita bekerja keras, mencari keberhasilan, memikirkan masa depan, menyelesaikan berbagai persoalan. Tetapi setelah semuanya dilakukan, hati kita masih bisa tetap gelisah. Sebab yang kita butuhkan bukan hanya penyelesaian berbagai masalah, tetapi juga kedamaian yang berasal dari Tuhan.

Saudara-saudari yang terkasih,

Maria memilih duduk di kaki Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya. Sikap Maria mengajarkan sesuatu yang sangat penting: sebelum kita bekerja untuk Tuhan, kita perlu belajar mendengarkan Tuhan. Sering kali kita berpikir bahwa menjadi orang Katolik yang baik berarti harus banyak melakukan sesuatu: aktif dalam kegiatan Gereja, melayani, membantu sesama, terlibat dalam berbagai kegiatan. Semua itu memang baik. Tetapi kalau semua aktivitas itu tidak lagi bersumber dari hubungan kita dengan Tuhan, kita bisa menjadi lelah, kecewa, bahkan merasa bahwa pelayanan kita tidak dihargai. Kita bisa melakukan banyak hal untuk Tuhan, tetapi hati kita justru semakin jauh dari Tuhan. Karena itu, kita membutuhkan saat-saat seperti Maria: duduk dekat Yesus dan mendengarkan Dia. Duduk dekat Yesus berarti memberi kesempatan kepada Tuhan untuk berbicara kepada kita melalui doa, Sabda Allah, Ekaristi, dan keheningan hati. Marta perlu belajar dari Maria untuk berhenti dan mendengarkan.

Marilah kita membawa pesan penting dari Injil hari ini: jangan sampai kita begitu sibuk mengurus banyak perkara, sehingga melupakan satu perkara yang paling penting, yaitu tinggal dekat dengan Tuhan dan mendengarkan Sabda-Nya. Semoga kita memiliki hati seperti Maria yang selalu mau mendengarkan Tuhan, dan tangan seperti Marta yang siap melayani sesama. Dengan demikian, doa kita menjadi sumber pelayanan dan pelayanan kita menjadi ungkapan kasih kepada Tuhan.

Translate »