Minggu Biasa XVII A

Minggu Biasa XVII A

(1 Raj. 3:5.7-11; Rom. 8:28-30; Mat. 13:44-52)

Rm. Yohanes Endi, Pr.

Saudara-saudariku terkasih, hidup ini pada dasarnya adalah rangkaian pilihan. Sejak membuka mata di pagi hari hingga menutupnya kembali pada malam hari, kita terus dihadapkan pada pilihan-pilihan. Ada pilihan yang sederhana, seperti memilih makanan atau pakaian yang akan dikenakan. Namun ada pula pilihan yang menentukan arah hidup, seperti memilih pasangan hidup, pekerjaan, kejujuran di tengah godaan, atau tetap setia kepada Tuhan ketika menghadapi kesulitan. Menariknya, tidak semua pilihan yang tampak indah akan membawa kebahagiaan, dan tidak semua pilihan yang menuntut pengorbanan akan berakhir dengan penderitaan. Karena itu, setiap orang membutuhkan hikmat agar mampu memilih apa yang sungguh bernilai bagi hidupnya. Hikmat inilah yang menjadi benang merah Sabda Tuhan pada hari Minggu ini.

Bacaan pertama menghadirkan sosok Raja Salomo yang baru saja menerima tanggung jawab besar memimpin bangsa Israel. Ia masih muda dan merasa dirinya belum berpengalaman. Pada saat itulah Allah memberikan kesempatan yang mungkin menjadi impian setiap orang. “Mintalah apa yang engkau kehendaki, maka Aku akan memberikannya kepadamu.” Bayangkan, jika kita berada di posisi Salomo, apa yang akan kita minta? Mungkin kesehatan, umur panjang, rezeki yang melimpah, usaha yang semakin maju, atau kehidupan yang selalu bebas dari masalah. Namun Salomo justru mengejutkan kita. Ia tidak meminta kekayaan ataupun kejayaan, melainkan hati yang penuh hikmat agar mampu membedakan yang baik dan yang jahat serta memimpin umat dengan adil. Salomo memahami bahwa jika seseorang memiliki hikmat, ia akan mampu menggunakan segala sesuatu yang lain dengan benar. Sebaliknya, tanpa hikmat, kekayaan dapat melahirkan keserakahan, kekuasaan dapat berubah menjadi penindasan, dan kecerdasan pun dapat dipakai untuk menipu sesama. Pilihan Salomo berkenan di hati Tuhan karena ia memilih bukan yang paling menyenangkan, melainkan yang paling bernilai.

Pilihan Salomo menemukan kepenuhannya dalam Injil yang baru saja kita dengarkan. Yesus mengumpamakan Kerajaan Surga seperti harta yang terpendam di ladang dan mutiara yang sangat berharga. Orang yang menemukan harta itu rela menjual seluruh miliknya demi memperoleh harta tersebut. Demikian pula seorang pedagang mutiara, ketika menemukan satu mutiara yang sangat indah, ia dengan sukacita melepaskan semua yang dimilikinya untuk mendapatkan mutiara itu. Sekilas tindakan itu tampak seperti kerugian besar, tetapi sebenarnya bukan. Mereka tidak kehilangan apa pun; mereka justru memperoleh sesuatu yang nilainya jauh melampaui semua yang telah mereka lepaskan. Itulah gambaran seseorang yang menemukan Kristus sebagai harta hidupnya. Mengikuti Kristus memang menuntut pengorbanan. Kadang kita harus melepaskan ego, kesombongan, dendam, kebiasaan yang buruk, bahkan kenyamanan yang membuat kita jauh dari Tuhan. Namun semua itu bukanlah kehilangan. Justru dengan melepaskan yang sementara, kita memperoleh yang kekal.

Sayangnya, dunia sering kali menawarkan “mutiara-mutiara palsu”. Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan terletak pada banyaknya harta, tingginya jabatan, luasnya pengaruh, atau ramainya pujian di media sosial. Semua itu memang dapat memberi kepuasan sesaat, tetapi tidak pernah mampu mengisi kekosongan hati manusia. Bukankah kita sering melihat orang yang memiliki segalanya tetapi tetap merasa gelisah? Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidup sederhana namun wajahnya memancarkan kedamaian karena ia mengenal Tuhan. Santo Agustinus pernah berkata, “Hati kami gelisah sebelum beristirahat di dalam Engkau, ya Tuhan.” Hanya Allah yang mampu memenuhi kerinduan terdalam hati manusia, sebab Dialah harta yang tidak pernah pudar oleh waktu dan tidak dapat dirampas oleh siapa pun.

Mungkin ada di antara kita yang bertanya, “Kalau saya memilih Tuhan, apakah hidup saya pasti menjadi mudah?” Sabda Tuhan hari ini tidak pernah menjanjikan hidup tanpa persoalan. Menjadi murid Kristus bukan berarti bebas dari salib. Namun, bacaan kedua memberikan peneguhan yang sangat indah. Santo Paulus berkata, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Perhatikan baik-baik, Paulus tidak mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah baik. Ada kegagalan yang menyakitkan, ada kehilangan yang membuat air mata jatuh, ada penyakit yang menguras tenaga, bahkan ada pengkhianatan yang melukai hati. Namun pengalaman iman Gereja mengajarkan bahwa Allah sanggup mengubah semuanya menjadi jalan menuju kebaikan. Seperti seorang penenun yang dari belakang hanya melihat benang-benang kusut, sementara dari depan terbentuk sebuah kain yang indah, demikian pula Allah sedang merangkai setiap pengalaman hidup kita menjadi karya keselamatan yang mungkin saat ini belum kita pahami. Karena itu, orang yang memilih Kristus tidak pernah kehilangan harapan, sebab ia percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka yang mengandalkan-Nya.

Pada akhir Injil, Yesus berbicara tentang pukat yang menangkap berbagai jenis ikan. Ketika pukat itu diangkat ke darat, ikan yang baik dikumpulkan, sedangkan yang tidak baik dibuang. Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa pada akhirnya setiap pilihan hidup akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Yang akan ditanyakan bukanlah seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, seberapa tinggi jabatan yang pernah kita raih, atau seberapa terkenal nama kita di dunia, melainkan apakah selama hidup kita sungguh menjadikan Allah sebagai harta yang paling berharga. Selama masih diberi kesempatan hidup, Tuhan terus mengundang kita untuk memperbarui pilihan itu setiap hari.

Saudara-saudariku terkasih, ketika Allah bertanya kepada Salomo, “Mintalah apa yang engkau kehendaki,” sesungguhnya pertanyaan yang sama juga diarahkan kepada kita hari ini. Apakah yang paling kita cari dalam hidup ini? Semoga kita tidak hanya meminta keberhasilan, kesehatan, atau kecukupan materi, tetapi terutama memohon hati yang penuh hikmat agar mampu mengenali Kristus sebagai mutiara yang paling berharga. Sebab ketika Kristus menjadi pusat kehidupan kita, kita akan belajar melihat segala sesuatu dengan cara pandang Allah. Kita mungkin tidak memiliki semua yang kita inginkan, tetapi bersama Kristus kita akan selalu memiliki apa yang sungguh kita perlukan. Dan selama kita tetap setia kepada-Nya, kita dapat melangkah dengan penuh keyakinan karena Allah senantiasa bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Pesta Santo Yakobus

Pesta Santo Yakobus

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
25 Juli 2026
2Kor 4: 7-15 + Mzm 126 + Mat 20: 20-28

Lectio
Pada waktu itu datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Meditatio
Menarik kali pengalaman keluarga Zebedeus. Sang ibu penuh tanggungjawab terhadap kedua anaknya. Mengapa dia tidak memintakan bagi sang suami? Ibu, dan bukan bapa, sepertinya lebih menaruh hari terhadap anak-anaknya.
Kedua anak yang udah dewasa, juga berpikir teguh dan tak mau dimanja, sebab Ketika Yesus menanyakan: ‘dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum’, mereka menyatakan siap. Anak-anak Zebedeus adalah pemberani.
Kehebatan Yakobus dibanding dengan Yohanes adalah dia menerima dengan ikhlas, kalau saudaranya, Yohanes lebih tenar dan hebat daripada dirinya. Akhirnya dia pun menyadari bahwa kelayakan seseorang di hdapan Tuhan Allah, bukan karena jasa atau kemampuan diri, melainkan semata-mata hanya karena kasih Tuhan. Kata-kata Yesus ini: ‘cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya’, amat disadarinya
Kita juga tentunya mempunyai kerinduan untuk duduk di sebelah kanan atau kiri Yesus Tuhan kelak dalam KerajaanNya yang mulia. Minimal kita semakin hari semakin percaya kepada Kristus, dan membawa kematianNya dalam hidup kita, maka kita akan menikmati kemuliaan bersamaNya, sebagaimana diimani oleh Paulus sebagaimana dikatakannya dalam suratnya hari ini (2Kor 4).

Oratio
Yesus Kristus, Engkau telah memilih Yakobus menjadi muridMu yang setia. Semoga kerendahan hati Yakobus juga menjadi kerendahan hati kami dalam mengikuti Engkau.
Santo Yakobus, doakanlah kami. Amin.

Contemplatio
‘Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya’.

Translate »