Janganlah kita mencobaiNya
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
5 September 2026
1Kor 4: 6-15 + Mzm 145 + Luk 6: 1-5
Lectio
Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?” Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”
Meditatio
Memetik bulir gandum dan memakannya pada Sabat adalah pantang. Apakah bila dilanggar mengakibatkan adalah sebuah dosa yang fatal? Daud pun pernah berbuat seperti itu walau bukan pada hari Sabat, yakni dia bersama para pengikutnya yang lapar mengambil roti sajian dan memakannya, padahal roti itu hanya boleh dimakan oleh imam-imam. Itulah sepertinya penegasan Yesus kepada mereka, kaum Farisi, yang mempersoalkannya. Pelanggaran para murid, demikian juga Daud bersama para pengkutnya sebatas pelanggaran kebijakan yang mengkondisikan kesantunan hidup bersama.
Beberapa hal tidak diperkenankan dilakukan pada hari Sabat, tentunya dimaksudkan agar seluruh umat beriman menggunakan hari Sabat sebagai hari yang istimewa yang dipersembahkan kepada Tuhan. Roti sajian dalam bait Allah boleh dinikmati hanya oleh para imam, mengingat tugas mereka yang berkaitan dengan ritual peribadatan dan hanya dalam bait Allah. Inilah kebijakan yang diharapkan ditaati bersama. Bila setiap orang mau menempatkan diri, tentunya akan terasa keindahan dan kenyamanan hidup bersama. Paulus mengingatkan: ‘jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting?’ (1Kor 4). Kerendahan hati akan mampu membuat setiap orang menempatkan diri.
Apakah sebuah dosa pelanggaran terhadap suatu kebijakan? Kalau itu dosa, pasti Yesus akan menegur keras para muridNya. Bukankah ‘Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat’.
Oratio
Yesus Kristus, dalam hidup bersama memang dituntut saling memahami satu sama lain. Egoisme diri dalam hidup bersama tak ubahnya seekor serigala di tengah-tengah kawanan ternak. Kami mohon kepadaMu, semoga Roh PengertianMu selalu mendampingi kami dalam setiap karya pergaulan, sehingga kami mampu hidup bersaudara dan mengikuti tatanan hidup bersama. Amin.
Contemplatio
‘Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat’.
Rm. gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
RP Hugo Susdiyanto O.Carm
Luk 4:38-44
Rabu 2 September 2026
Di mana Allah hadir, ketenangan, keselamatan, dan keberkahan akan menyertai-Nya. Hal ini tampak jelas dalam warta hari ini. Jarak antara rumah ibadah dengan rumah Simon tidak terlalu jauh. Dalam injil ditegaskan kepada kita, setelah Yesus meninggalkan rumah ibadah Kapernaum mampir ke rumah Simon, dan mertuanya sedang sakit. Sesampai di rumah itu, Yesus berdiri di sisi perempuan itu, dan menghadik demamnya, dan sembuhlah perempuan itu. Sebagai tanggapan atas rahmat kesembuhan, perempuan itupun melayani rombongan Yesus. Melayani merupakan tanda terima kasihnya kepada Tuhan, karena telah melakukan karya besar di dalam dirinya dan patut disyukuri.
Selain mertua Simon, Yesus juga menyembuhkan banyak orang sakit. Ia memberi berkat penyembuhan dengan meletakkan tanganNya atas mereka, bahkan setan-setan pun tahkluk dan keluar sambil berteriak: “Engkau adalah Anak Allah”. Kenyataan ini mengajarkan kepada kita, jika kita hanya mengetahui dan berseru kepada Tuhan, tindakan tersebut tidaklah luar biasa. Sebab setanpun melakukan hal itu. Dari kita dituntut percaya kepada-Nya, bukan sekedar mengetahi dan berseru-seru kepada-Nya.
Bila kita perhatikan, warta Injil hari ini dari satu sisi mengisahkan realitas hidup manusia, ada yang mengalami sakit penyakit, ada juga yang dikuasai setan atau kuasa jahat sehingga terjerumus dalam dosa. Di sisi yang lain, kehadiran Yesus mengalahkan segalanya, yang sakit disembuhkan, bahkan setan pun tunduk kepadaNya. Pada hari ini iman kita diteguhkan oleh kehadiran Yesus Tuhan yang menyembuhkan, yang mengalahkan kuasa setan. Tanggapan kita, manusia atas kesembuhan adalah mengakuiNya sebagai satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat. Wujud nyata pengakuan iman kita kepada Yesus adalah melayani Dia. Dengan kata lain, setelah kita diselamatkan, kita diundang untuk menjadi saksi Kristus, sebagaimana terungkap dalam nyanyian dalam Madah Bakti no 455 Jadilah saksi Kristus:
Sesudah dirimu dislamatkan, jadilah saksi Kristus.
Cahaya hatimu jadi terang, jadilah saksi Kristus.
Tujuan hidupmu jadi nyata, jadilah saksi Kristus.