Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

MINGGU PALMA A

Posted by admin on March 28, 2026
Posted in renungan  | No Comments yet, please leave one


(Yes. 50:4-7; Flp. 2:8-9; Mat. 26:14-27:66.)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, hari ini Gereja mengundang kita memasuki misteri yang sangat dalam. Dalam satu perayaan liturgi, kita melihat dua peristiwa kehidupan Yesus yang begitu dekat, namun sekaligus sangat kontras: Yesus masuk ke Yerusalem dengan sorak-sorai dan daun palma, tetapi beberapa hari kemudian Ia berjalan menuju sengsara dan salib. Suasana gembira berubah menjadi penderitaan, sorak-sorai berubah menjadi teriakan penyaliban. Liturgi hari ini seakan mengingatkan kita bahwa kemuliaan manusia sering kali rapuh dan tidak dapat diandalkan. Apa yang dipuji hari ini, bisa ditolak esok hari. Karena itu, hidup manusia tidak boleh disandarkan pada pujian, keberhasilan, atau kekuatan manusia, tetapi harus diletakkan dalam tangan Tuhan yang setia.
Bacaan pertama dari Yesaya 50:4–7 menampilkan sosok Hamba Tuhan yang setia. Ia tidak memberontak, tidak lari dari penderitaan, tetapi menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan. Ia berkata, “Aku memberikan punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabuti janggutku.” Ini adalah gambaran seorang hamba yang taat, yang tetap setia meskipun harus menderita. Hamba Tuhan ini tidak bersandar pada kekuatannya sendiri, tetapi pada keyakinan bahwa Tuhan menolongnya. Karena itu ia berkata, “Tuhan Allah menolong aku, sebab itu aku tidak mendapat noda.” Dalam terang iman Kristiani, kita melihat bahwa nubuat ini menemukan kepenuhannya dalam diri Yesus sendiri. Ia adalah Hamba Tuhan yang sejati, yang tidak melawan, tidak membalas, tetapi tetap berjalan menuju salib dengan hati yang taat.
Kemudian bacaan kedua dari Filipi 2:8–9 membawa kita lebih dalam lagi. Santo Paulus mengatakan bahwa Yesus “merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia.” Di sini kita melihat misteri yang luar biasa: jalan menuju kemuliaan bukanlah kekuasaan, melainkan kerendahan hati; bukan kemenangan duniawi, melainkan ketaatan sampai mati. Yesus tidak mempertahankan diri-Nya, tetapi menyerahkan diri-Nya sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Ketaatan-Nya bukan tanda kelemahan, tetapi justru tanda kasih yang paling besar. Dan karena kasih itulah, Allah meninggikan Dia dan memberikan kepada-Nya nama di atas segala nama.
Injil Matius 26:14–27:66 yang kita dengarkan hari ini membawa kita masuk ke dalam kisah sengsara Yesus secara mendalam dan menggugah hati. Kita mendengar bagaimana Yesus dikhianati oleh Yudas, ditinggalkan oleh murid-murid-Nya, diadili secara tidak adil, dihina, disiksa, dan akhirnya disalibkan. Semua itu menimbulkan pertanyaan besar dalam hati kita: mengapa Yesus tidak menghindari penderitaan itu? Mengapa Ia tidak melarikan diri? Mengapa Ia tetap berjalan menuju salib, padahal Ia tahu apa yang akan terjadi?
Jawabannya hanya satu: kasih. Salib adalah tanda kasih Allah yang tak terbatas kepada manusia. Yesus memilih untuk tetap tinggal, tetap berjalan, tetap memikul salib, karena Ia mengasihi manusia. Kasih sejati memang selalu menuntut pengorbanan. Kasih tidak pernah nyaman sepenuhnya, karena kasih selalu berarti memberi diri, bahkan menyerahkan diri. Tanpa pengorbanan, kasih akan berubah menjadi egoisme. Tetapi karena manusia begitu berharga di hadapan Allah, maka Allah sendiri rela menjadi manusia dan menderita bersama manusia.
Kita melihat tanda kasih yang konkret itu dalam doa Yesus di Taman Getsemani. Dalam ketakutan-Nya sebagai manusia, Yesus berdoa: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.” Ini adalah doa yang sangat manusiawi. Yesus merasakan ketakutan, kesedihan, dan pergulatan batin. Ia tahu penderitaan yang akan Ia hadapi. Namun setelah itu Ia berkata: “Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Inilah puncak ketaatan dan penyerahan diri. Yesus tidak memilih jalan yang mudah, tetapi memilih kehendak Bapa. Dalam kalimat ini kita menemukan kekuatan iman yang luar biasa: tetap percaya kepada Tuhan bahkan ketika jalan hidup terasa gelap.
Tanda kasih yang lain terlihat di kayu salib ketika Yesus berseru: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Seruan ini sering disalahpahami sebagai tanda keputusasaan. Padahal Yesus sedang mengutip Mazmur 21, yang dimulai dengan jeritan penderitaan tetapi berakhir dengan kepercayaan penuh kepada Allah. Mazmur itu menggambarkan penderitaan yang sangat mirip dengan apa yang dialami Yesus: dihina, dipermalukan, tangan dan kaki tertusuk, pakaian dibagi-bagi. Namun pada akhirnya Mazmur itu menyatakan bahwa Tuhan tidak meninggalkan orang yang menderita, tetapi menyelamatkannya. Artinya, di tengah kegelapan salib, Yesus tetap percaya bahwa Bapa tidak meninggalkan-Nya.
Di sinilah kita melihat cahaya harapan. Dalam kegelapan kematian, sudah tampak terang kebangkitan. Ketika Yesus berkata bahwa Ia hidup bagi Bapa, di sana sudah tersirat kemenangan kehidupan atas kematian. Salib bukan akhir, tetapi jalan menuju kebangkitan. Penderitaan bukan kegagalan, tetapi bagian dari rencana keselamatan Allah.
Saudara-saudariku terkasih, melalui perayaan Minggu Palma, Tuhan mengundang kita untuk melihat hidup kita sendiri. Kadang kita juga seperti orang banyak di Yerusalem: mudah memuji, tetapi juga mudah meninggalkan. Kadang kita ingin mengikuti Yesus ketika hidup terasa baik, tetapi ragu ketika harus memikul salib. Padahal Yesus mengajarkan bahwa mengikuti Dia berarti belajar berkata seperti Dia: “Terjadilah kehendak-Mu.”
Dalam keluarga, dalam pelayanan, dalam tugas sebagai imam, pendidik, atau umat beriman, kita sering menghadapi kesulitan, kekecewaan, dan penderitaan. Namun hari ini Yesus menunjukkan bahwa jalan kasih selalu melewati salib, dan salib selalu membawa kehidupan baru. Yesus tidak meninggalkan kita dalam penderitaan, tetapi berjalan bersama kita.
Maka marilah kita memasuki Pekan Suci ini dengan hati yang tenang dan penuh iman. Kita membawa daun palma bukan hanya sebagai simbol kemenangan, tetapi sebagai tanda bahwa kita siap mengikuti Yesus sampai ke salib. Kita percaya bahwa di balik setiap penderitaan, Tuhan sedang mempersiapkan kebangkitan. Di balik setiap air mata, Tuhan sedang menumbuhkan harapan. Dan di balik setiap salib, Tuhan sedang menghadirkan keselamatan.
Semoga dalam keheningan Pekan Suci ini, kita semakin berani berkata seperti Yesus, “Ya Bapa, bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mu yang terjadi.” Karena kita percaya, dalam kegelapan salib pun, cahaya kebangkitan sudah mulai bersinar. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Sabtu Pekan Prapaskah V

Posted by admin on March 27, 2026
Posted in renungan  | No Comments yet, please leave one

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
28 Maret 2026
Yeh 37: 21-28 + Mzm + Yoh 11: 45-56

Lectio
Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.” Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.” Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya.
Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: “Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?”

Meditatio
Nubuat yang benar selalu berasal dari Tuhan Allah, yang disampaikan nabi oleh umat Allah lainnya. ‘Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa’. Bernubuat tentunya berdasarkan pengalaman akan Allah, dan bukan karena diri sedang menyenangi atau pun membenci seseorang, dan bukan pula untuk mencari nama. Bernubuat tentunya selalu sesuai dengan kehendak Allah. Kayafas bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Semuanya itu dikatakannya, bukan karena ada simpati atau antipati, perasaan senang atau tidak senang, dan tidak dibuat-buat. Kayafas sebagai imam agung tentunya membaca kitab suci dan mencoba mempelajari segala yang diucapkan Yesus Orang Nazaret, yang perilaku dan ajaranNya menjadi bahan pembicaraan banyak orang.
Banyak orang mencari Yesus, bukan karena kerinduan kepadaNya, melainkan karena nubuat atau fatwa imam agung yang menyatakan tentang kematianNya. ‘Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?’. Mereka saling bertanya, tetapi bukan ungkapan kepedulian mereka akan hidup Yesus.
Cara Tuhan Allah mengumpulkan, menyatukan dan menyelamatkan orang-orang yang dikasihiNya, sebagaimana dinubuatkan oleh Yeremia (bab 31), ternyata tidaklah sama dengan gambaran kita tentunya; tentunya Yeremia secara pribadi sama dengan kita. Mereka semua orang dikumpulkan, bukannya dengan paksaan dan kewajiban, tetapi dengan panggilanNya yang kudus, bahkan dengan karya penebusan di kayu salib.
Kalau pun untuk sementara Yesus Bersama para muridNya pergi ke Efraim, bukanlah karena Dia takut akan ancaman itu, melainkan semata-mata karena waktuNya belum tiba. Saat Paskah Perjanjian Lama dirayakan itulah Dia akan memperbaharuinya dengan kurban tebusan, yakni diriNya sendiri, demi keselamatan umat manusia. Yesus tidak mau mati secara sia-sia, tetapi Dia akan menyerahkan nyawaNya menjadi tebusan bagi seluruh umat manusia.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau menyerahlan nyawa demi keselamatan kami. Engkau tidak mau mati secara sia-sia, melainkan dengan kematian yang penuh makna. KematianMu juga menyatukan semua manusia dalam pelukan kasihMu. Semoga kami semakin mendengarkan karya penyelamatanMu dalam sabda kehidupan. Amin.

Contemplatio
Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

Translate »