Header image alt text

indonesian catholic online evangelization

Minggu Prapaskah III A

Posted by admin on March 7, 2026
Posted in renungan  | No Comments yet, please leave one


(Kel. 17:3-7; Rom. 5:1-2,5-8; Yoh. 4:5-42)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, perjalanan masa Prapaskah mengundang kita untuk semakin masuk ke dalam misteri karya keselamatan Allah. Minggu lalu kita merenungkan peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Di sana para murid melihat kemuliaan-Nya dan mendengar suara Bapa yang menegaskan bahwa Yesus adalah Putra yang dikasihi. Peristiwa itu mempersiapkan para murid untuk memahami misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Bersamaan dengan itu kita juga merenungkan panggilan Abraham yang diminta meninggalkan tanah asalnya untuk mengikuti kehendak Allah. Ketaatan Abraham membuatnya menjadi bapa umat beriman dan sumber berkat bagi banyak orang.
Pada hari Minggu ini Tuhan mengundang kita melihat bagaimana Dia hadir dan bekerja dalam kehidupan yang sangat sederhana. Injil Yohanes mengisahkan perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan Samaria di dekat sumur Yakub. Dalam perjalanan menuju Galilea, Yesus singgah di daerah Samaria. Ia duduk di tepi sumur karena merasa letih setelah berjalan jauh. Pada saat itu datanglah seorang perempuan Samaria untuk menimba air. Di tempat itulah terjadi percakapan yang pada awalnya tampak sangat sederhana. Yesus berkata kepadanya, “Berilah Aku minum.” Dari percakapan yang sederhana itu perlahan-lahan perempuan tersebut mulai mengenal siapa Yesus sebenarnya. Pada akhirnya ia menyadari bahwa Yesus bukan sekadar seorang Yahudi yang lewat, melainkan seorang nabi bahkan Mesias yang dijanjikan. Perjumpaan itu begitu menyentuh hatinya sehingga ia pergi ke kota dan mengajak orang-orang lain untuk datang menemui Yesus. Banyak orang akhirnya percaya kepada-Nya.
Agar kita dapat menangkap kedalaman makna kisah ini, ada beberapa situasi budaya yang penting untuk kita pahami. Pada masa itu wilayah Israel terbagi menjadi tiga bagian: di selatan terdapat Yudea dengan pusatnya di Yerusalem, di utara terdapat Galilea tempat Yesus dibesarkan, dan di antara keduanya terdapat wilayah Samaria. Hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria tidaklah baik. Orang Yahudi memandang orang Samaria sebagai kelompok yang tidak murni secara agama dan bangsa. Orang Samaria hanya menerima lima kitab Musa sebagai Kitab Suci dan mereka dianggap telah bercampur dengan bangsa-bangsa lain sejak masa penjajahan Asyur. Karena itu orang Yahudi biasanya menghindari berhubungan dengan orang Samaria. Dalam konteks inilah kita bisa memahami keheranan perempuan itu ketika Yesus, seorang Yahudi, meminta minum darinya. Permintaan itu sebenarnya sudah melampaui batas-batas sosial dan religius yang biasa berlaku pada masa itu.
Di balik kisah sederhana ini terdapat pesan yang sangat dalam tentang cara Allah menjumpai manusia. Pertama-tama kita melihat bahwa Yesus memulai percakapan dengan sebuah permintaan, “Berilah Aku minum.” Sekilas tampak bahwa Yesuslah yang membutuhkan air dari perempuan itu. Namun dalam percakapan selanjutnya Yesus justru berbicara tentang air hidup yang dapat memuaskan dahaga manusia untuk selama-lamanya. Di sini kita bisa melihat hubungan yang indah dengan bacaan pertama dari Kitab Keluaran. Dalam perjalanan di padang gurun bangsa Israel mengalami kehausan dan mulai bersungut-sungut kepada Musa. Mereka meragukan penyertaan Allah dan bertanya, “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” Atas perintah Tuhan, Musa memukul batu di gunung Horeb dan dari batu itu keluarlah air yang menyegarkan umat. Kisah ini mengingatkan kita bahwa Allah mengetahui kehausan manusia dan menyediakan air kehidupan bagi umat-Nya.
Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak hanya haus akan air jasmani. Di dalam hati manusia ada kehausan yang jauh lebih dalam yakni kehausan akan kasih, penerimaan, pengampunan, dan makna hidup. Sering kali manusia berusaha memuaskan kehausan itu dengan berbagai hal seperti harta, keberhasilan, kesenangan, atau pengakuan dari orang lain. Akan tetapi semua itu hanya memberi kepuasan sementara. Hati manusia tetap merasa kosong. Yesus menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia berbicara tentang “air hidup”, yaitu rahmat Allah yang dapat memenuhi kerinduan terdalam manusia. Air hidup itu adalah kehidupan baru yang berasal dari Allah sendiri.
Perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria juga menunjukkan bahwa Tuhan tidak menjauh dari manusia yang memiliki masa lalu yang rumit. Dalam percakapan itu Yesus mengungkapkan bahwa perempuan tersebut telah mempunyai lima suami dan orang yang sekarang bersamanya bukanlah suaminya. Situasi itu tentu membuat perempuan tersebut berada dalam posisi sosial yang sulit. Namun Yesus tidak mempermalukannya. Ia tidak menghakimi atau menolak perempuan itu. Sebaliknya, Yesus tetap membuka ruang dialog dan justru menuntunnya untuk mengenal kebenaran. Sikap Yesus ini mengingatkan kita bahwa kasih Allah selalu mendahului pertobatan manusia. Tuhan tidak menunggu manusia menjadi sempurna terlebih dahulu baru mendekatinya. Ia datang kepada manusia apa adanya, bahkan ketika hidup manusia masih penuh luka dan kerapuhan.
Hal ini sejalan dengan pesan yang disampaikan Rasul Paulus dalam bacaan kedua. Paulus mengatakan bahwa kita dibenarkan karena iman dan memperoleh damai sejahtera dengan Allah melalui Yesus Kristus. Lebih jauh lagi ia menegaskan bahwa kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus. Artinya, dasar hidup iman kita adalah pengalaman dicintai oleh Allah. Kristus wafat bagi kita justru ketika kita masih berdosa. Inilah kabar gembira yang meneguhkan: Tuhan tidak mencintai kita karena kita sudah baik, melainkan kasih-Nya justru membaharui dan mengubah kita menjadi lebih baik.
Perempuan Samaria mengalami perubahan batin yang mendalam melalui perjumpaan dengan Yesus. Pada awalnya ia memandang Yesus hanya sebagai seorang Yahudi. Kemudian ia menyebut-Nya sebagai nabi. Akhirnya ia mulai menyadari bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan. Perubahan itu terjadi karena ia membuka diri dalam percakapan dengan Tuhan. Bahkan Injil mencatat bahwa setelah perjumpaan itu ia meninggalkan tempayannya dan pergi ke kota untuk memberitakan kepada orang-orang tentang Yesus. Tempayan yang ditinggalkannya seakan menjadi simbol bahwa ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada air yang hendak diambilnya. Ia datang untuk menimba air, tetapi pulang dengan membawa sumber air hidup.
Pengalaman perempuan Samaria ini mengajak kita menyadari bahwa keadaan hidup yang tidak sempurna tidak pernah menjadi penghalang untuk bertemu dengan Tuhan. Justru sering kali dalam situasi-situasi yang sederhana dan bahkan rapuh, Tuhan menyapa kita. Perempuan itu bertemu Yesus ketika sedang melakukan pekerjaan yang sangat biasa: menimba air. Ia tidak sedang melakukan sesuatu yang besar atau luar biasa. Namun dalam kegiatan sederhana itulah Tuhan hadir dan mengubah hidupnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa Tuhan juga sering menyapa kita dalam rutinitas hidup sehari-hari: saat bekerja, saat belajar, saat bercengkerama dengan keluarga, saat melakukan pekerjaan rumah, atau bahkan dalam keheningan sebelum kita beristirahat.
Masa Prapaskah menjadi kesempatan yang baik bagi kita untuk kembali menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Mungkin ada kalanya hati kita menjadi kering karena berbagai kesibukan, kekhawatiran, atau bahkan karena pengalaman kegagalan. Tuhan hari ini mengundang kita untuk datang kembali kepada-Nya sebagai Sumber Air Hidup. Ia tidak menolak kita karena kelemahan kita. Sebaliknya, Ia ingin mengisi hati kita dengan kasih dan harapan yang baru. Seperti perempuan Samaria yang akhirnya berani bersaksi kepada orang-orang di kotanya, kita pun dipanggil untuk membawa sukacita iman kepada orang-orang di sekitar kita. Dengan demikian kehidupan kita tidak hanya dipenuhi oleh air yang memuaskan untuk sesaat, tetapi oleh air hidup yang memberi kehidupan untuk selama-lamanya. Semoga Sabda Tuhan hari ini meneguhkan kita untuk terus membuka hati kepada Yesus, sehingga hidup kita diperkaya oleh rahmat-Nya dan menjadi berkat bagi sesama. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Kita harus berani bertobat

Posted by admin on March 6, 2026
Posted in Podcast  | No Comments yet, please leave one

Rm Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

Rm Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

BERBAGI DENGAN KERELAAN HATI

Posted by admin on March 4, 2026
Posted in renungan  | No Comments yet, please leave one

RENUNGAN LUBUK HATI
Homili Hari Biasa Pekan Prapaskah II
Lukas 16:19–31

Dalam Injil hari ini kita mendengar kisah yang sangat kuat: tentang seorang kaya yang hidup berlimpah dan seorang pengemis bernama Lazarus yang menderita di depan pintu rumahnya. Orang kaya itu berpakaian indah dan setiap hari berpesta pora, sementara Lazarus penuh luka dan berharap mendapat sisa makanan dari meja orang kaya itu. Yang menarik, dalam kisah ini Yesus menyebut nama Lazarus, tetapi orang kaya itu tidak disebutkan namanya. Ini mengingatkan kita bahwa di hadapan Allah, yang penting bukanlah status, kekayaan, atau kehormatan duniawi, tetapi hati yang peka terhadap sesama.

Masalah utama orang kaya itu bukan semata-mata karena ia kaya. Kekayaannya bukan dosa. Dosanya adalah ketidakpedulian. Ia melihat Lazarus setiap hari di depan pintunya, tetapi ia tidak melakukan apa pun. Pintu rumahnya mungkin terbuka, tetapi pintu hatinya tertutup.

Masa Prapaskah adalah waktu rahmat untuk membuka mata dan hati kita. Sering kali Lazarus juga hadir di sekitar kita: orang miskin yang membutuhkan bantuan, orang sakit yang menantikan kunjungan, orang yang kesepian yang membutuhkan perhatian, bahkan anggota keluarga kita sendiri yang membutuhkan kasih dan pengertian. Kadang-kadang kita tidak jahat, tetapi kita terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga tidak melihat penderitaan orang lain. Tanpa sadar kita menjadi seperti orang kaya dalam Injil: hidup nyaman tetapi tidak peduli.

Yesus juga menegaskan sesuatu yang penting di akhir kisah. Ketika orang kaya itu meminta agar Lazarus diutus untuk memperingatkan keluarganya, Abraham berkata: “Mereka mempunyai Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.” Artinya, sabda Allah sudah cukup untuk menuntun kita bertobat. Kita tidak perlu menunggu tanda luar biasa untuk berubah. Karena itu, Prapaskah mengundang kita melakukan tiga hal:
a. Membuka mata untuk melihat Lazarus di sekitar kita.
b. Membuka hati agar tergerak oleh belas kasih.
c. Membuka tangan untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan.

Saudara-saudari, kisah ini juga mengingatkan bahwa hidup di dunia ini tidak selamanya. Pada saatnya ketika keadaan dibalikkan: yang terakhir menjadi yang pertama, dan yang pertama menjadi yang terakhir. Maka kesempatan untuk berbuat baik adalah sekarang, selama kita masih hidup.

Semoga masa Prapaskah ini membantu kita menjadi pribadi yang lebih peka, lebih peduli, dan lebih murah hati, sehingga ketika kita berjumpa dengan Tuhan, kita boleh mendengar Dia berkata: “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling kecil ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Tuhan memberkati.

RD. Ignasius Adam Suncoko
Imam Diosesan Keuskupan Malang

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm

Audio Podcast Link

Translate »