Sabtu Pekan Biasa XXV

Sabtu Pekan Biasa XXV

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
26 September 2026
Pengk 12: 1-8 + Mzm 90 + Luk 9: 43-45

Lectio
Pada suatu kali ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.

Meditatio
‘Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia’. Penegasan Yesus yang amat sulit dipahami orang-orang sejamanNya, tetapi mereka pun tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya. Pada akhirnya memang Yesus menyampaikannya kembali dalam aneka perumpamaan seperti para penggarap kebun anggur.
Program keselamatan, bahwasannya Anak Manusia diserahkan ke dalam tangan manusia di luar pikiran dan kebiasaan manusia pada umumnya. Anak Manusia sendiri melawan arus yang rutin dan mengalir, sehingga dikatakan oleh Pengkotbah, bahwa segala-galanya adalah kesia-siaan. Biasanya manusia diserahkan kepada Allah, sebagaimana dilambangkan dalam aneka kurban persembahan, tetapi tidaklah demikian sekarang ini, Anak Manusia malahan diserahkan ke dalam tangan manusia. Paulus menyebut Anak Manusia menjadi tebusan bagi banyak orang.
Mengikuti Yesus memang bagi seseorang berarti harus berani melawan arus.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau memang menjdi kurban pelunasa dosa bagia setiap orang, umat yang Engkau kasihi. Semoga kami menjadi orang-orang yang mau menikmati karya penyelamatanMu itu, sehingga pada akhirnya kami menikmati keselamatan bersamaMu. Amin.

Contemplatio
‘Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia’.

Mengandalkan Allah

Mengandalkan Allah

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Lukas 9:1-6

Pw St.Pius dr Pietrelcina

Ada ungkapan filosofi Jawa, “Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake” berarti berjuang menghadapi musuh tanpa mengerahkan pasukan besar, meraih kemenangan tanpa mempermalukan pihak lain. Ungkapan tersebut kiranya selaras dengan semangat perutusan yang diberikan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya.

Bekal seorang murid adalah tenaga dan kuasa Allah. Pada jaman kita, tenaga dan kuasa Allah itu adalah rahmat dan martabat Baptisan. Dengan dibaptis, kita diurapi Allah sebagai imam, nabi dan raja; dengan dibaptis kita ambil bagian dalam tri tugas Kristus dalam pengudusan [imam], pewartaan [nabi] dan penggembalaan [raja]. Kita diundang untuk menghidupi, menghayati martabat baptisan tersebut. Larangan membawa tongkat, tas, roti, uang, atau baju ganti lebih mengungkapkan seorang murid hendaknya percaya pada penyelenggaraan ilahi, sebagaimana difirmankan, “seorang pekerja patut mendapat upahnya” [Mat 10:10].

Pesan pokok perutusan para murid dari dahulu sampai sekarang adalah mewartakan damai. Kebenaran ini tampak peristiwa pemberian tenaga dan kuasa kepada para murid adalah untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Damai tercipta ketika manusia bebas dari pengaruh kuasa setan dan sakit penyakit. Sebuah penerimaan utusan mendandakan bahwa damai sudah ada di tempat itu. Sementara penolakan merupakan tanda bahwa damai belum ada di tempat itu. Karenanya mengebaskan debu dari kaki bukan tanda ancaman atau hukuman, melainkan sebagai peringatan tanggung jawab moral bagi pendengar, sekaligus mengajar murid agar tidak membawa beban atau kepahitan masa lalu. Artinya seolah-olah belum pernah sampai ke tempat tersebut, sehingga pada kesempatan lain bisa didatangi lagi. Selain itu, makna mengebaskan debu tidak menimbulkan trauma ketika menuju ke tempat pelayanan baru.

Melalui warta hari ini, Tuhan mengajak kita untuk senantiasa mengandalkan Dia dalam setiap langkah hidup kita, dalam setiap tugas yang dipercayakan kita.  Sikap dan semangat kesederhaan, kerendahan hati, dan cinta kasih akan sangat membantu mengandalkan Tuhan.

Translate »