{"id":10005,"date":"2020-11-24T13:12:52","date_gmt":"2020-11-24T21:12:52","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=10005"},"modified":"2020-11-23T20:14:01","modified_gmt":"2020-11-24T04:14:01","slug":"beriman-sebagai-jalan-kebenaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10005","title":{"rendered":"Beriman sebagai Jalan Kebenaran"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Rabu, 25 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Hari Biasa XXXIV<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bacaan I&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Why 15: 1-4<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bacaan Injil&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Luk 21: 12-19<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Membaca Injil hari ini, kesan yang bisa kita petik adalah kita diteguhkan oleh Yesus sendiri. Yesus memberi peneguhan agar kita tetap memiliki kesetiaan iman kendati berada dalam situasi yang tidak menguntungkan. <em>\u201cTetap teguhlah di dalam hatimu\u2026 Kalau kalian bertahan, kalian akan memeroleh hidupmu.\u201d<\/em> Hidup yang sejati akan kita peroleh jika kita sudah teruji dalam kesetiaan di tengah penderitaan, aniaya dan dukacita. Yesus menunjukkannya melalui peristiwa penyaliban. Dia tetap setia pada rencana Allah Bapa sehingga Dia mengalami kematian. Namun, dengan kesetiaan-Nya, Allah Bapa membangkitkan-Nya dari alam maut. Tantangan hidup yang dijumpai, bukan menjadi alasan untuk menghindar dan lari menjauh, tetapi sebagai kesempatan untuk mengalami perkembangan dalam kesetiaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Berbagai pengalaman kesetiaan telah banyak terjadi dan kita alami. Ambil saja contoh bahwa sebagai pengikut Yesus, kita banyak mengalami penindasan, intoleransi, kasus SARA, pelecehan yang secara manusiawi membawa dampak buruk. Kita tersakiti. Namun, justru dengan derita dan aniaya itu, rasa-rasanya iman kita semakin diteguhkan. Tindakan mengasihi dan mengampuni menemukan kesempurnaannya. Kita selalu mau mengampuni mereka yang menyakiti kita sebagai cara kita mewujudkan ajaran cinta kasih. Ini adalah tindakan nyata sebagai pengikut Yesus. Ketika usaha manusiawi kita sudah <em>mentog<\/em>, maka kuasa Allah akan menaungi kita asalkan kita memiliki iman yang kuat pada-Nya. Dalam keadaan menderita dan tersakiti, kita melibatkan Allah sehingga yang keluar dari diri kita adalah pengampunan dan usaha mengasihi.<\/p>\n\n\n\n<p>Keteguhan hati dan kemantapan iman demikianlah yang diinginkan Yesus dalam diri kita. Relasi yang akrab dengan Yesus tidaklah sia-sia karena selalu membuat kita bisa menghadapi berbagai macam tantangan. Membiarkan Yesus bekerja bagi kita merupakan cara hidup beriman ketika kita menghadapi kesulitan. Maka, mari tetap menjaga persaudaraan dan kedamaian dengan tetap menekuni iman kita. Iman yang benar akan selalu menunjukkan pada jalan keselamatan yang sejati. &nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rabu, 25 November 2020 Hari Biasa XXXIV Bacaan I&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Why 15: 1-4 Bacaan Injil&nbsp;&nbsp;&nbsp; Luk 21: 12-19 Membaca Injil hari ini, kesan yang bisa kita petik adalah kita diteguhkan oleh Yesus sendiri. Yesus memberi peneguhan agar kita tetap memiliki kesetiaan iman kendati berada dalam situasi yang tidak menguntungkan. \u201cTetap teguhlah di dalam hatimu\u2026 Kalau kalian bertahan, kalian akan memeroleh hidupmu.\u201d Hidup yang sejati akan kita peroleh jika kita sudah teruji dalam kesetiaan di tengah penderitaan, aniaya dan dukacita. Yesus menunjukkannya&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10005\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-10005","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10005","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10005"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10005\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10006,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10005\/revisions\/10006"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10005"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10005"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10005"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}