{"id":10105,"date":"2021-01-15T16:41:31","date_gmt":"2021-01-16T00:41:31","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=10105"},"modified":"2021-01-15T16:41:31","modified_gmt":"2021-01-16T00:41:31","slug":"persaudaraan-sejati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10105","title":{"rendered":"PERSAUDARAAN SEJATI"},"content":{"rendered":"\n<p>Mrk 2:13-17<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Injil kemarin (Mrk 2:1-12), kita telah melihat konflik pertama antara Yesus dan ahli-hali Taurat mengenai pengampunan dosa. Dalam Injil hari ini kita menyaksikan konflik kedua yang muncul ketika Yesus makan bersama dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa (Mrk 2:13-17). Sikap dan tindakan Yesus ini menyebabkan otoritas agama menjadi sangat marah. Alih-alih berbicara langsung dengan Yesus, Ahli Taurat dari orang Farisi berbicara kepada para murid: Bagaimana gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa? Yesus menjawab, \u201cBukan orang sehat yang membutuhkan dokter, tetapi orang sakit. Saya datang untuk memanggil bukan orang yang jujur, tapi orang berdosa!&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sikap Ahli Taurat dari orang Farisi dalam injil hari ini bisa mewakili sikap dan karakter kita sebagai manusia.  Kita memiliki kecenderungan meremehkan mereka yang mungkin tidak memenuhi harapan kita atau berperilaku seperti yang tidak kita inginkan. Kita mungkin juga sering menilai orang lain berdasarkan apa yang kita lihat dan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Tantangan bagi kita masing-masing adalah untuk menyadari bahwa cara pandang kita mungkin merupakan cara pandang stereotip serta mungkin kita melihat orang lain dengan berprasangka buruk.&nbsp;Rupanya hal yang sama pernah juga terjadi pada para pendengar Injil Markus. Pada tahun 70-an, saat Markus menulis injilnya, di komunitas pengikut Kristus terjadi konflik antara orang Kristen yang telah bertobat dari Paganisme dan mereka yang berasal dari Yudaisme. Mereka yang dari Yudaisme merasa sangat sulit untuk masuk ke dalam rumah orang-orang kafir yang telah bertobat dan duduk bersama dengan mereka di dalam perjamuan (lih. Kis 10:28; 11:3).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Saudara-saudariku terkasih, sabda&nbsp;Yesus kepada Lewi  yang berbunyi \u2018Ikutlah Aku\u2019 juga berlaku untuk kita sekarang. Kita diajak Yesus untuk mengikuti, mendengarkan dan melaksanakan apa yang Yesus ajarkan dan lakukan. Hari ini&nbsp;Yesus mengajak kita untuk&nbsp;membangun persaudaraan sejati. Yesus memanggil orang berdosa, pemungut cukai, orang yang dibenci oleh komunitasnya, untuk menjadi murid-Nya. Dengan demikian, persaudaraan sejati tampak dalam relasi manusia yang didasarkan pada sikap menjunjung tinggi keluhuran martabat manusia.&nbsp;&nbsp;Persaudaraan sejati berarti sikap dan tindakan seseorang kepada sesamanya yang dilandasi cinta kasih.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Paus Fransiskus, dengan dilandasi semangat yang sama, melalui Ensiklik Fratelli Tutti (\u2018Semua Saudara\u2019, ditanda tangani oleh Paus di&nbsp;&nbsp;Assisi pada 3 Oktober 2020)&nbsp;menekankan bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga manusia, anak dari satu Pencipta, berada dalam perahu yang sama, dan karenanya kita perlu menyadari bahwa dunia yang terglobalisasi dan saling berhubungan ini hanya bisa diselamatkan oleh kerja sama kita semua.&nbsp;Paus tidak bermaksud menjadikan dokumen itu sebagai \u201cajaran lengkap tentang cinta persaudaraan\u201d melainkan untuk membantu \u201cvisi baru persaudaraan dan persahabatan sosial yang tidak akan tinggal pada tingkat kata-kata.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Maka, pertanyaannya: apa yang dapat kita doakan, pikirkan, rencanakan dan lakukan (baik sendiri maupun bersama-sama) untuk membangun persaudaraan yang sejati?&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mrk 2:13-17 Dalam Injil kemarin (Mrk 2:1-12), kita telah melihat konflik pertama antara Yesus dan ahli-hali Taurat mengenai pengampunan dosa. Dalam Injil hari ini kita menyaksikan konflik kedua yang muncul ketika Yesus makan bersama dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa (Mrk 2:13-17). Sikap dan tindakan Yesus ini menyebabkan otoritas agama menjadi sangat marah. Alih-alih berbicara langsung dengan Yesus, Ahli Taurat dari orang Farisi berbicara kepada para murid: Bagaimana gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa? Yesus menjawab, \u201cBukan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10105\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-10105","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10105","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10105"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10105\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10110,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10105\/revisions\/10110"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10105"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10105"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10105"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}