{"id":10512,"date":"2021-06-09T15:10:17","date_gmt":"2021-06-09T22:10:17","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10512"},"modified":"2021-06-09T15:10:17","modified_gmt":"2021-06-09T22:10:17","slug":"mempersembahkan-kurban-kemarahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10512","title":{"rendered":"Mempersembahkan kurban &#038; kemarahan"},"content":{"rendered":"\n<p>Renungan Kamis 10 Juni 2021<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Jika engkau mempersembahkan kurban di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu&#8221; (Mat 5: 23). <\/p>\n\n\n\n<p>Sebenarnya tidak ada salahnya orang marah karena kemarahan adalah sesuatu yang normal dan wajar. Sejauh orang mengekpresikan kemarahan itu tanpa merusak, tanpa kekerasan dan proporsional, orang lain biasanya masih bisa menerimanya. Kontek kemarahan disini dihubungkan dengan tuduhan sesorang pada orang lain, &#8220;kafir dan jahil.&#8221; Kata kafir dalam bahasa Yunani &#8220;raca&#8221; mengartikan sesuatu yang merendahkan, tidak ada penghargaan pada orang lain, serta penilaian pada orang lain kalau tidak percaya Allah. Bahkan Yesus berkata, kalau seseorang mengatakan pada orang lain &#8220;kafir&#8221;, dia harus dihadapkan pada makamah agama. <\/p>\n\n\n\n<p>Yesus menghubungkan antara tindakan ritual yaitu mempersembahkan kurban dengan tindakan sosial. Kita sudah terbiasa melakukan berbagai ritual sebagai ekpresi dari praktek keagamaan. Ada banyak contoh tindakan ritual itu, seperti membuat tanda salib, berdoa devosi, adorasi, dan berbagai kegiatan keagamaan lain. Ketika seseorang melakukan tindakan ritual, buah dari tindakannya perlu diwujudkan dalam praktek sosial. Artinya, kegiatan keagamaan kita harus punya dampak sosial pada orang lain. Kalau kegiatan keagamaan tidak berdampak, kita akan jatuh pada tindakan ritualisme!  Baik secara keagamaan, tapi tak berfaedah bagi hidup sosial bersama orang lain. <\/p>\n\n\n\n<p>Dalam teks hari in, Yesus menghubungkan tindakan mempersembahkan kurban dengan membuat perdamaian. Jangan sampai hidup ritualnya baik dan sesuai dengan tuntutan, tidak diimbangi dengan kehidupan relasi sosial yang damai. Artinya, seorang yang baik hidup keagamaannya, harus menampakkan buah dari hidup rohani itu dalam relasi yang memberi rasa damai, tidak mudah marah, tidak menuduh orang seenaknya, serta mau berinisiatif memberi maaf dan meminta maaf atas kesalahannya. Itulah ciri orang yang jauh dari ritualisme! <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Renungan Kamis 10 Juni 2021 &#8220;Jika engkau mempersembahkan kurban di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu&#8221; (Mat 5: 23). Sebenarnya tidak ada salahnya orang marah karena kemarahan adalah sesuatu yang normal dan wajar. Sejauh orang mengekpresikan kemarahan itu tanpa merusak, tanpa kekerasan dan proporsional, orang lain biasanya masih bisa menerimanya. Kontek kemarahan disini dihubungkan dengan tuduhan sesorang pada orang lain,&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10512\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-10512","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10512","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10512"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10512\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10513,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10512\/revisions\/10513"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10512"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10512"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10512"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}