{"id":10699,"date":"2021-08-12T15:05:00","date_gmt":"2021-08-12T22:05:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10699"},"modified":"2021-08-10T00:09:31","modified_gmt":"2021-08-10T07:09:31","slug":"syukur-kepada-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10699","title":{"rendered":"Syukur Kepada Allah"},"content":{"rendered":"\n<p>Jumat, 13 Agustus 2021<\/p>\n\n\n\n<p>Yosua 24:1-13<br>Mazmur 136<br>Matius 19:3-12<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam liturgi Gereja, umat mengucapkan &#8220;Syukur kepada Allah&#8221; beberapa kali: setelah dua bacaan pertama dan pada akhir misa. Ungkapan ini adalah terjemahan dari bahasa Latin <em>Deo gratias<\/em>, yang secara harafiah berarti &#8220;terima kasih kepada Allah&#8221;. &#8220;Syukur&#8221; sendiri diambil langsung dari bahasa Arab yang berarti terima kasih. <\/p>\n\n\n\n<p>Bacaan pertama hari ini diambil dari akhir Kitab Yosua. Bangsa Israel, setelah 40 tahun berjalan di padang gurun, akhirnya sampai di Tanah Terjanji. Semua musuh sudah mereka taklukkan. Masa depan nampak cerah. <\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi Yosua mengingatkan mereka akan perjanjian yang sudah mereka buat dengan Allah. Ia mengingatkan mereka bahwa Allah lah yang mengambil inisiatif membuat perjanjian. Allah lah yang mengantar Abraham ke tanah perjanjian dan memberinya keturunan yang banyak. Allah lah yang membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir. Allah lah yang membuat mereka dapat mengalahkan lawan-lawan mereka. Allah lah yang memberi mereka tanah yang sudah subur, kota-kota yang sudah berdiri, dan kebun anggur dan ara yang sudah matang. Ini semua pemberian Allah kepada bangsa pilihanNya.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu pokok dalam spiritualitas Fransiskan adalah kesadaran bahwa SEMUA adalah anugerah Allah. Inilah yang membuat Santo Fransiskus selalu bersuka cita karena dia mengalami begitu berlimpahnya anugerah Allah dalam hidupnya. Inilah juga yang membuatnya tetap bersuka cita walaupun tidak memiliki apa-apa, karena dia percaya Allah selalu memberi apapun yang dibutuhkannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Di masa kini, seiring dengan semakin majunya teknologi dan ilmu pengetahuan, manusia seringkali terbuai dengan kehebatan sendiri. Kita merasa bahwa hal-hal baik dalam hidup kita adalah hasil kerja keras kita sendiri. Dari sini timbul ketimpangan sosial, karena kita merasa berhak meraih keuntungan finansial yang sebesar mungkin. Padahal, bisa jadi penghasilan berlimpah itu terjadi karena banyak pekerja di bawah kita yang membanting tulang dengan gaji minim dan lingkungan kerja yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kepercayaan akan kehebatan sendiri juga berdampak pada lingkungan. Kita merasa berhak menggunakan segala macam sumber daya alam tanpa peduli akan kerusakan yang ditinggalkan. Berapa banyak hutan dan terumbu karang yang rusak karena kita mencari keuntungan yang sebesar-besarnya?<\/p>\n\n\n\n<p>Jika kita melihat segala sesuatu yang baik dalam hidup kita sebagai anugerah Allah, kita tidak akan mudah tergoda untuk merusaknya, menyalahgunakannya, atau menumpuknya hanya untuk kepentingan kita. Untuk setiap anugerah yang kita terima: Syukur kepada Allah!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumat, 13 Agustus 2021 Yosua 24:1-13Mazmur 136Matius 19:3-12 Dalam liturgi Gereja, umat mengucapkan &#8220;Syukur kepada Allah&#8221; beberapa kali: setelah dua bacaan pertama dan pada akhir misa. Ungkapan ini adalah terjemahan dari bahasa Latin Deo gratias, yang secara harafiah berarti &#8220;terima kasih kepada Allah&#8221;. &#8220;Syukur&#8221; sendiri diambil langsung dari bahasa Arab yang berarti terima kasih. Bacaan pertama hari ini diambil dari akhir Kitab Yosua. Bangsa Israel, setelah 40 tahun berjalan di padang gurun, akhirnya sampai di Tanah Terjanji. Semua musuh sudah&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10699\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-10699","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10699","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10699"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10699\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10700,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10699\/revisions\/10700"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10699"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10699"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10699"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}