{"id":10721,"date":"2021-08-21T08:55:20","date_gmt":"2021-08-21T15:55:20","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10721"},"modified":"2021-08-21T08:55:20","modified_gmt":"2021-08-21T15:55:20","slug":"semua-akan-diuji-hati-dan-batinnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10721","title":{"rendered":"SEMUA AKAN DIUJI HATI DAN BATINNYA"},"content":{"rendered":"\n<p>Sabtu, 21 Agustus 2021<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Matius 23: 1-12<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pekerjaan yang sering dianggap remeh dan rendah dalam sebagian besar masyarakat salah satunya adalah menjadi pelayan, entah di dalam rumah tangga, ataupun di lembaga dan perusahaan. Dibalik pandangan umum tersebut, ada sesuatu yang menjadi alasan dasarnya, yaitu seseorang melihat menjadi pelayan atau sikap melayani itu sebagai sesuatu yang hina dan memalukan. &nbsp;Bagaimana dengan pandangan Tuhan Yesus tetap sikap melayani?&nbsp; Dia justru mengajarkan, dan memberikan teladan untuk hidup saling melayani. Sikap melayani bisa muncul jika seseorang memiliki kerendahan hati. \u201cBarangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.\u201d(Mat 23:12).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Yesus sendiri telah menjadi yang pribadi yang mau merendahkan hati-Nya dan menjadi pelayan bagi semua, agar manusia diselamatkan. \u201cKarena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.\u201d(Mrk 10 :45). Seseorang akan bisa melayani jika ia berani untuk menanggalkan dan menyangkal keinginan untuk dihormati oleh sesamanya. Sebab ketika seseorang melayani ia harus menjadi orang yang dibawah untuk bisa melakukan sesuatu penuh pengorbanan untuk memberikan kebaikan bagi mereka yang dilayaninya. Oleh karena itu sikap melayani tidak bisa dimiliki dan dilakukan oleh mereka yang masih berpusat pada diri sendiri. Sikap menyangkal diri bisa disebut pengosongan diri. Hal tersebut telah dilakukan oleh Yesus Kristus sendiri. \u201cHendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.\u201d(Felipi 2:6-8).<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sikap pengosongan diri adalah sikap yang utama sebelum seseorang bisa memiliki sikap rendah hati dan siap untuk melayani. Sebelum seseorang mampu mengosongkan diri, maka ia harus bertempur dengan dirinya sendiri dengan segala kecenderungan untuk dihormati, dihargai, dan menjadi yang utama. Jika seseorang berani menyangkal diri\/mengosongkan maka akan hadir dihatinya sukacita dan damai dari Allah. \u201cDamai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.\u201d(Yoh 14:27). Oleh karena itu, peziarahan yang utama yang menghantar seseorang pada kehidupan kekal adalah berziarahan batin, yaitu perjalanan bersama dengan Kristus Yesus, agar hatinya tetap terjaga sebagai hamba, yang selalu siap untuk melayani kehendak Bapa di sorga. Semua akan diuji dari dalam hati dan batin seseorang sejauh mana masing-masing orang setia atau tidak dan rendah hati dihadapan-Nya. \u201cDan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.\u201d(Wahyu 2:23).<\/p>\n\n\n\n<p><em>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Serawai, Rm. Didik, CM<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabtu, 21 Agustus 2021 Matius 23: 1-12 &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pekerjaan yang sering dianggap remeh dan rendah dalam sebagian besar masyarakat salah satunya adalah menjadi pelayan, entah di dalam rumah tangga, ataupun di lembaga dan perusahaan. Dibalik pandangan umum tersebut, ada sesuatu yang menjadi alasan dasarnya, yaitu seseorang melihat menjadi pelayan atau sikap melayani itu sebagai sesuatu yang hina dan memalukan. &nbsp;Bagaimana dengan pandangan Tuhan Yesus tetap sikap melayani?&nbsp; Dia justru mengajarkan, dan memberikan teladan untuk hidup saling melayani. Sikap melayani bisa&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10721\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-10721","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10721","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10721"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10721\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10722,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10721\/revisions\/10722"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10721"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10721"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10721"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}