{"id":10856,"date":"2021-10-11T13:12:00","date_gmt":"2021-10-11T20:12:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10856"},"modified":"2021-10-10T09:13:39","modified_gmt":"2021-10-10T16:13:39","slug":"selasa-12-oktober-2021","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10856","title":{"rendered":"SELASA 12 OKTOBER 2021"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Lukas 11: 37 \u2013 41 &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Di kalangan Yahudi, kaum Parisi adalah kelompok awam yang memiliki militansi dalam beragama. Mereka ini selalu mencari tafsiran yang baru dari hukum Taurat yang sangat mereka cintai dan taati sebagai jalan menuju keselamatan firdausi. Itulah sebabnya mereka dikenal sebagai penjaga hukum Taurat yang sangat jeli dan kadang berlebihan, terutama untuk memastikan bahwa orang lain menaatinya. Itulah yang mereka lakukan terhadap Yesus dan kelompoknya. Kaum Parisi akan menilai siapapun dari sudut taat tidaknya pada hukum Taurat. Bisa dimengerti kadangkala terjadi konflik dengan Yesus dan para muridNya. Sumber konflik bisa datang dari kebiasaan memelihara kebersihan dan kerapian berbagai perabot sesuai dengan Taurat, aturan kapan dan dimana berdoa, kapan dan kapan harus bekerja dan setersunya.<\/p>\n\n\n\n<p>Hanya saja beberapa orang mengatakan bahwa kritik Yesus kali ini \u201cterasa kurang pada tempatnya\u201d karena disampaikan ketika Yesus diundang makan di rumah orang Parisi itu\u2026 Tapi inilah poinnya, yaitu kebenaran yang bisa berakibat pada jiwa dan keselamatan manusia, mesti menjadi prioritas dan mengatasi semuanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sudah agak lama ada kritik agak tajam mengenai kualitas hidp manusia yang perlu kita simak. Banyak ahli mengatakan bahwa tahun-tahun belakangan ini terjadi proses pendangkalan hidup manusia: baik sebagai pribadi manusia maupun sebagai pribadi beriman. Kritik ini tidak mengingkari adanya berbagai kemajuan luar biasa dalam semua aspek peradaban manusia. Tetaapi berbagai kemajuan ini harus dibedakan dengan kualitas hidup manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Pendangkalan hidup manusia antara lain terungkap ketika manusia sibuk dengan tampilan luar yang melahirkan hidup palsu, kenyamanan duniawi, miskinnya nilai universal yang berakibat tipisnya solidaritas, lumpuhnya pendidiplinan diri demi kesejahteraan bersama, makin tersisihnya keunikan pribadi dan kultural karena desakan globalisasi &nbsp;\u2026dst.<\/p>\n\n\n\n<p>Pendangkalan juga terjadi dalam hidup rohani dan cara beriman. Semakin banyak manusia menemukan diri dan orang lain bahwa dimensi spiritual dan transendental hidup mereka makin tipis. Kita sendiri merasakan semakin mengeringnya religiositas hidup manusia sehingga kita alergi dan gagap dengan apapun yang terkait dengan nilai Injil dan Salib. &nbsp;Kita akui bahwa kita lebih sibuk dengan selera kedagingan sehingga stamina rohani dan batinnya rapuh di hadapan tuntutan nilai Yesus \u2026<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus dengan amat lugas mau mengembalikan martabat manusia sebagai citra Allah di dunia ini. Di tengah keterlibatan di dunia ini, manusia masih bisa mengembangkan martabatnya sebagai citra Allah dengan memperhatikan alam batin dan harta rohani di dalam dirinya. Beriman jauh lebih kaya dan lebih mendalam daripada sekedar sibuk mengikuti Ekaristi, retret, baca Kitab Suci. Membangun relasi dengan Tuhan jelas tidak cukup hanya dengan berpakaian gamis, hafal Kitab Suci atau menaati aturan agama.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita mesti berani menjawab: mengapa praktek keagamaan kita selama ini \u00a0kurang mengubah kualitas hidup kita seperti kita harapkan \u2026<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lukas 11: 37 \u2013 41 &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp; Di kalangan Yahudi, kaum Parisi adalah kelompok awam yang memiliki militansi dalam beragama. Mereka ini selalu mencari tafsiran yang baru dari hukum Taurat yang sangat mereka cintai dan taati sebagai jalan menuju keselamatan firdausi. Itulah sebabnya mereka dikenal sebagai penjaga hukum Taurat yang sangat jeli dan kadang berlebihan, terutama untuk memastikan bahwa orang lain menaatinya. Itulah yang mereka lakukan terhadap Yesus dan kelompoknya. Kaum Parisi akan menilai siapapun dari sudut taat tidaknya pada&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10856\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-10856","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10856","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10856"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10856\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10857,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10856\/revisions\/10857"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10856"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10856"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10856"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}