{"id":10858,"date":"2021-10-12T13:13:00","date_gmt":"2021-10-12T20:13:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10858"},"modified":"2021-10-10T09:14:34","modified_gmt":"2021-10-10T16:14:34","slug":"rabu-13-oktober-2021","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10858","title":{"rendered":"RABU, 13 OKTOBER 2021"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Lukas 11: 42 \u2013 46<\/p>\n\n\n\n<p>Kaum Parisi itu bukan dari kalangan imam, tetapi kaum awam yang secara tradisi menjadi \u201cpenjaga gawang\u201d agar hukum Taurat tidak kebobolan. Bagi kaum Yahudi, Taurat memuat semua kehendak Allah dalam bentuk hukum dan aturan. Ketaatan pada Taurat menjadi tanda kesalehan, kesucian manusia dan itu berarti keselamatan bagi mereka. Maka tidak heran kalau kaum Parisi sangat memperhatikan pelaksanaan Taurat sampai hal-hal yang kecil dan detail. Salah satu akibat kerohanian model Parisi ini ialah tumpulnya hati nurani, rapuhnya stamina rohani dan tiadanya olah rasa dalam diri manusia. Yesus bisa sangat keras kalau nurani manusia tumbuh membatu dan memfosil. Mengapa? Karena di dalam hati manusia inilah Allah akan menuliskan hukum kasihNya yang menumbuhkan manusia sebagai citraNya, hukum yang akan mendekatkan manusia pada Allah dan menyelamatkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Agama memang memiliki seperangkat hukum dan aturan. Dan untuk itu dibutuhkan ahli untuk menafsirkan agar manusia dipermudah mengikuti Allah. Bahayanya ialah hidup beriman dan beragama bisa menjadi sekedar ketaatan lahir pada hukum dan aturan. Ini akan melahirkan pendangkalan hidup pribadi manusia. Selain itu, hal ini akan melahirkan kelas kesalehan dalam masyarakat. Mereka yang ahli dan menaatinya dengan setia, akan merasa lebih suci dan merasa berhak mendapatkan keistimeawaan. Privelege itu bisa berupa kehormatan di ruang publik, tempat terhormat di pertamuan-pertemuan, dikecualikan dari tanggungjawab yang menuntut kerja keras atau rendah. Inilah yang oleh sementara orang diistilahkan dengan kesombongan rohani. Sikap rohani demikian akan menjadi sumber tumbuhnya berbagai perilaku yang menjauhkan manusia dari Tuhan. Maka Yesus cukup tegas melawan kecenderungan demikian.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita semua ingin dekat dengan Tuhan. Great. Caranya bisa bermacam-macam. Tidak ada satu cara yang cocok, diterima dan diakui oleh semua manusia. Allah selalu jauh lebih agung daripada seperangkat aturan agama manapun juga. Apapun itu, kalau betul pribadi itu dekat dengan Allah, maka salah satu tandanya ialah adanya rasa dan kesadaran bahwa dirinya tidak pantas. Ia merasa berdosa di dekat Yang Maha Kudus. Maka dia akan rendah hati pada sesama dan tidak pongah menyombongkan diri.&nbsp; Jadi, kalau orang merasa suci, lebih baik dan lebih bersih dari orang lain \u2026 inilah tanda paling jelas bahwa ia masih jauh dari Allah. Ia masih jauh dari kedamaian dan keselamatan. Inilah orang celaka itu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lukas 11: 42 \u2013 46 Kaum Parisi itu bukan dari kalangan imam, tetapi kaum awam yang secara tradisi menjadi \u201cpenjaga gawang\u201d agar hukum Taurat tidak kebobolan. Bagi kaum Yahudi, Taurat memuat semua kehendak Allah dalam bentuk hukum dan aturan. Ketaatan pada Taurat menjadi tanda kesalehan, kesucian manusia dan itu berarti keselamatan bagi mereka. Maka tidak heran kalau kaum Parisi sangat memperhatikan pelaksanaan Taurat sampai hal-hal yang kecil dan detail. Salah satu akibat kerohanian model Parisi ini ialah tumpulnya hati nurani,&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10858\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-10858","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10858","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10858"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10858\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10859,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10858\/revisions\/10859"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10858"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10858"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10858"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}