{"id":10862,"date":"2021-10-14T13:15:00","date_gmt":"2021-10-14T20:15:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10862"},"modified":"2021-10-10T09:16:22","modified_gmt":"2021-10-10T16:16:22","slug":"jumat-15-oktober-2021","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10862","title":{"rendered":"JUMAT, 15 OKTOBER 2021"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Lukas 12 : 1 \u2013 7 &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sudah sejak jaman Yesus rupanya ada banyak virus yang membuat manusia sakit sebagaipribadi. Yesus mesti memperingatkan adanya banyak bahaya virus, termasuk virus &nbsp;kaum Parisi? Bentuk racun virus Parisi malh disebutkan, yaitu kepalsuan, kebohongan, hoax &#8230; Tetapi mengapa Tuhan harus menggarisbawahi bahaya itu? Bukankah semua orang, termasuk kita semua ini, memiliki banyak kepalsuan, hidup tidak otentik dan punya banyak kemunafikan?. Betul. Justru karena kita sudah cukup akrab dengan mentalitas neo-Parisi, selalu ada bahaya kita menjadi abai, kurang peka dan bebal.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita tahu bahwa setan dikenal sebagai \u201cmother of all lies\u201d. Hanya saja kepalsuan biasanya tidak dikemukanan dalam terang. Ini selalu terjadi dalam keremangan, logika yang bengkok dan kemasan yang menarik bagi orang yang disposisi batinnya menjauh dari kebenaran.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam diskresi, ada prinsip dasar yang mesti disadari lewat latihan dan pengalaman. Prinsip itu ialah: kalau suasana batin dan hati kita tengah galau, ragu, marah dan sejenisnya \u2026 kita disarankan jangan mengambil keputusan atau pilihan apapun. Karena dalam disposisi batin demikian, suara yang dominan ialah roh jahat. Tetapi juga kalau hati kita sedang nyaman, tenang dan baik-baik saja, kita diharap siaga. Mengapa? Karena terhadap orang yang baik semacam ini, setan bisa berwajah malaekat dan bersuara surgawi penuh kutipan Kitab Suci dan menyebut nama Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Mencermati gerak roh dalam pengalaman hidup kita dan pengamatan di luar sana, membutuhkan keheningan batin, kecerdasan rohani tertentu. Inilah yang menjadi kerapuhan kita. Kita kurang nyaman, kurang &nbsp;kerasan dan malah agak alergi dengan keheningan batin ini. Di dalam keheningan ini, kita dihadapkan pada berbagai kerapuhan dan sisi gelap diri kita yang sering membuat kita gagap. Tak sedikit orang melihatnya sebagai pekerjaan yang membuang-buang waktu dan tidak berguna. Lebih baik sibuk kerja yang produktif dengan target tertentu. Atau terlibat kegiatan ini itu \u2026 pokoknya jangan dihadapkan pada keheningan. Terlalu pedih \u2026, kata mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Menghindari keheningan dengan lari ke kesibukan (dengan segala pembenarananya), ini sendiri sudah pengalaman bagus untuk diskresi. Tanpa pengalaman pada tingkat personal ini, kita akan selalu rentan dan tak berdaya di hadapan ragi atau racun Parisi di jaman ini. Salah satu yang ditawarkan mentalitas neo-Parisi ialah mendapatkan kegembiraan, kenyamanan hidp, kerohanian dan semacamnya tanpa salib.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lukas 12 : 1 \u2013 7 &nbsp; Sudah sejak jaman Yesus rupanya ada banyak virus yang membuat manusia sakit sebagaipribadi. Yesus mesti memperingatkan adanya banyak bahaya virus, termasuk virus &nbsp;kaum Parisi? Bentuk racun virus Parisi malh disebutkan, yaitu kepalsuan, kebohongan, hoax &#8230; Tetapi mengapa Tuhan harus menggarisbawahi bahaya itu? Bukankah semua orang, termasuk kita semua ini, memiliki banyak kepalsuan, hidup tidak otentik dan punya banyak kemunafikan?. Betul. Justru karena kita sudah cukup akrab dengan mentalitas neo-Parisi, selalu ada bahaya kita&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10862\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-10862","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10862","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10862"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10862\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10863,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10862\/revisions\/10863"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10862"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10862"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10862"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}