{"id":10864,"date":"2021-10-15T13:16:00","date_gmt":"2021-10-15T20:16:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10864"},"modified":"2021-10-10T09:17:17","modified_gmt":"2021-10-10T16:17:17","slug":"sabtu-16-oktober-2021","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10864","title":{"rendered":"SABTU, 16 OKTOBER 2021"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Lukas 12: 8 \u2013 12<\/p>\n\n\n\n<p>Kadangkala saya heran dan tak habis pikir: mengapa ada pemuka agama yang berpakaian gamis lengkap, kelihatan anggun, hafal Kitab Suci \u2026 tetapi narasinya di depan umat penuh bullying dan kebencian pada siapapun yang berbeda dengannya. Bagaimana mungkin ada orang yang rajin melakukan kuwajiban agama tetapi terasa cenderung menebar perpecahan, intoleran dan tak peduli dengan penderitaan sesitarnya \u2026<\/p>\n\n\n\n<p>Ternyata agama tidak serta merta mengubah kualitas manusia menjadi pembawa damai dan kebenaran. Kalaupun ada kaum beragama yang sungguh menjadi pelita kehidupan (dan banyak), mereka ini biasanya melewati proses lama dan jatuh bangun. Demikian pula dalam arti yang buruk bisa dikatakan bahwa teroris, preman dan koruptor itu tidak terjadi dengan tiba-tiba. Ada proses panjang dan mulai dengan yang kecil, sederhana dan basic.<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus memperingatkan para muridNya bahwa melawan Tuhan bisa diampuni, tetapi melawan Roh Kudus tak terampuni. Sebagai murid Yesus, seringkali kita menemukan diri berseberangan dengan Tuhan. Dalam kurun waktu lama kita merasa jauh dari Tuhan, tidak setia pada ajaranNya dan memanjakan nafsu pribadi. Dia yang seolah berada jauh di luar diri kita. Dalam banyak hal sikap kontra ini tidak kita sadari. Berbagai niat, upaya dan latihan kita untuk mendekati Tuhan terasa sia-sia dan kandas. Akhirnya kita merasa bahwa kita rapuh di hadapanNya. Kalaupun akhirnya kita bisa mendekati Tuhan dan berdamai denganNya, ini terjadi karena daya Roh Kudus dalam diri kita; dan bukan prestasi kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak ada orang yang mengenal dan mengakui Yesus sebagai Tuhan tanpa Roh Kudus. Tidak seorangpun bisa berbuat baik dan benar tanpa Roh Kudus. Tidak seorangpun bisa bersyukur tanpa Roh Kudus. Dan seterusnya \u2026<\/p>\n\n\n\n<p>Roh dianugerahkan sejak manusia menghela nafas di dunia ini. Roh ada dan berkarya dalam kedalaman diri manusia. Roh selalu berbisik dalam kesadaran dan nuraninya. Roh lah yang mengarahkan manusia pada terang, kehidupan, kebenaran \u2026<\/p>\n\n\n\n<p>Hanya saja, sebagai pribadi, manusia tetap memiliki kebebasan untuk memilih. Manusia bebas memilih mendengarkan dan menaati bisikan dan arahan Roh Kudus atau bisikan nafsunya. Bisa terjadi bahwa dengan seluruh informasi yang ia punya, dalam kebebasan yang ada dan dalam konteks hisupnya, manusia dengan sadar tidak mengikuti bimbingan Roh Kudus; dan yang ia pilih dan lakukan berlawanan dengan Roh Kudus; semua hanya dilandasi nafsu kegelapan yang membawa derita, perpecahan dan kematian. Orang ini bisa dikatakan melawan Roh Kudus. Mungkin lebih tepatnya bisa dikatakan bahwa disposisi diri orang ini sedemikian rupa sehingga Roh Kudus tidak mungkin lagi berkarya dalam dirinya. Yesus itu wajah Allah dalam rupa manusia. Yesus menghayati kesatuan dengan Bpa dengan cara menjadi manusia sepenuhnya. Kalau kita mau menjadi sahabat Yesus dan pendengar Roh Kudus, kita mesti menjadi manusia sepenuhnya seperti Yesus. Caranya sama, yaitu mencari dan menemukan kehendak Bapa &nbsp;di dunia ini lalu<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lukas 12: 8 \u2013 12 Kadangkala saya heran dan tak habis pikir: mengapa ada pemuka agama yang berpakaian gamis lengkap, kelihatan anggun, hafal Kitab Suci \u2026 tetapi narasinya di depan umat penuh bullying dan kebencian pada siapapun yang berbeda dengannya. Bagaimana mungkin ada orang yang rajin melakukan kuwajiban agama tetapi terasa cenderung menebar perpecahan, intoleran dan tak peduli dengan penderitaan sesitarnya \u2026 Ternyata agama tidak serta merta mengubah kualitas manusia menjadi pembawa damai dan kebenaran. Kalaupun ada kaum beragama yang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10864\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-10864","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10864","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10864"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10864\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10865,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10864\/revisions\/10865"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10864"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10864"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10864"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}