{"id":10929,"date":"2021-11-05T15:00:00","date_gmt":"2021-11-05T22:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10929"},"modified":"2021-11-01T15:45:37","modified_gmt":"2021-11-01T22:45:37","slug":"santo-didakus-dari-alcala","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10929","title":{"rendered":"Santo Didakus dari Alcal\u00e1"},"content":{"rendered":"\n<p>Sabtu, 6 November 2021<\/p>\n\n\n\n<p>Hari Raya Peringatan Santo Didakus (untuk wilayah Keuskupan San Diego)<\/p>\n\n\n\n<p>Roma 16:3-9, 16, 22-27<br>Mazmur 145<br>Lukas 16:9-15<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"512\" height=\"685\" src=\"https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/512px-Francisco_de_Zurbaran_1651-1653_San_Diego_de_Alcala.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-10930\" srcset=\"https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/512px-Francisco_de_Zurbaran_1651-1653_San_Diego_de_Alcala.png 512w, https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/512px-Francisco_de_Zurbaran_1651-1653_San_Diego_de_Alcala-224x300.png 224w, https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2021\/11\/512px-Francisco_de_Zurbaran_1651-1653_San_Diego_de_Alcala-202x270.png 202w\" sizes=\"auto, (max-width: 512px) 100vw, 512px\" \/><figcaption>Santo Didacus dari Alcal\u00e1 karya Francisco de Zurbar\u00e1n, Public domain, via Wikimedia Commons<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Saya tinggal di wilayah Keuskupan San Diego di California. Karena hari raya St. Didacus (nama Latin dari Diego) jatuh pada hari Minggu, 7 November, Uskup kami memindahkan hari raya ini ke tanggal 6 November. Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk mengenalkan anda lebih jauh sosok santo Fransiskan ini, apalagi saya dengar ada tempat pemakaman San Diego di luar Jakarta yang sekarang makin terkenal.<\/p>\n\n\n\n<p>Diego lahir tahun 1400 di Andalusia, Spanyol dari keluarga yang miskin tetapi taat beriman. Dia masuk ke biara Fransiskan ketika masih sangat muda untuk menjadi saudara awam. Pada saat itu, saudara awam adalah orang-orang yang dianggap tidak punya kemampuan untuk belajar menjadi imam. Tugas mereka hanyalah untuk memasak dan membersihkan biara dan melayani para imam. Walaupun demikian, hidup doa dan komunitas Diego membuat kagum banyak saudara-saudara dalam biaranya.<\/p>\n\n\n\n<p>Suatu hari, saat dikirim ke Roma untuk menghadiri acara kanonisasi St. Bernardinus dari Siena, wabah penyakit menjangkiti para saudara di biara induk Fransiskan di sana. Diego dengan tak kenal lelah melayani para saudara yang sakit. Diceritakan bahwa banyak yang sembuh hanya dengan tanda salib yang dibuat Diego pada mereka. <\/p>\n\n\n\n<p>Pada saat menjelang ajalnya, Diego meminta untuk dipakaikan jubah yang tua dan compang camping, seperti anak sejati dari Santo Fransiskus. Dia wafat pada 12 November 1463 di biara Fransiskan di  Alcal\u00e1, dengan mendekap sebuah salib di dadanya dan mengucapkan kata-kata dari perayaan Jumat Agung:  \u201cDulce lignum, dulce ferrum, dulce pondus sustinet\u201d (Betapa manisnya kayu ini, betapa manisnya paku-paku ini, betapa manisnya beban yang mereka tanggung.)<\/p>\n\n\n\n<p>Jenazah Diego tidak dikuburkan selama beberapa bulan karena banyaknya orang yang mau melihatnya. Ajaibnya, tubuhnya tetap utuh dan mengeluarkan semerbak yang wangi. Setelah dikuburkan di gereja Fransiskan di  Alcal\u00e1, mujizat-mujizat terus terjadi di kuburnya. Paus Sixtus V, seorang Fransiskan, mengkanonisasi Diego pada tahun 1588.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabtu, 6 November 2021 Hari Raya Peringatan Santo Didakus (untuk wilayah Keuskupan San Diego) Roma 16:3-9, 16, 22-27Mazmur 145Lukas 16:9-15 Saya tinggal di wilayah Keuskupan San Diego di California. Karena hari raya St. Didacus (nama Latin dari Diego) jatuh pada hari Minggu, 7 November, Uskup kami memindahkan hari raya ini ke tanggal 6 November. Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk mengenalkan anda lebih jauh sosok santo Fransiskan ini, apalagi saya dengar ada tempat pemakaman San Diego di luar Jakarta yang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10929\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-10929","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10929","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10929"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10929\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10931,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10929\/revisions\/10931"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10929"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10929"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10929"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}