{"id":10963,"date":"2021-11-17T14:55:00","date_gmt":"2021-11-17T22:55:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10963"},"modified":"2021-11-17T06:55:35","modified_gmt":"2021-11-17T14:55:35","slug":"ratapan-yesus-simbol-cinta-dan-belaskasih-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10963","title":{"rendered":"Ratapan Yesus simbol cinta dan belaskasih Allah"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><u>Kamis, 18 November 2021<\/u><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Luk 19:41-44<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tak jarang orang akan mengalami pertobatan dan hidup berdamai dengan Allah dan sesama setelah mengalami penderitaan, kesulitan dan kegagalan. Hanya kerendahan hati dan iman yang teguh mampu mengantar pada pertobatan itu. Bacaan Injil hari ini mengisahkan ketika Yesus mendekati Yerusalem dan ia menangisinya. Tangisan Yesus bukanlah sama dengan tangisan biasa yang disebabkan oleh kesedihan, perpisahan atau hilangnya suatu harapan. Tangisan Yesus menggambarkan kedalaman kasih dan cintaNya kepada umat manusia, yang dalam hal ini diwakili oleh kota Yerusalem. Allah Bapa di surga telah mengutus PuteraNya yang terkasih, Yesus Kristus untuk mendamaikan manusia dengan Allah serta menyatukan umat manusia dalam kedamaian dan relasi yang saling mengasihi. Seperti kita ketahui bahwa Yesus memasuki kota Yerusalem dan di sanalah Yesus mengalami penderitaan di atas kayu salib yang membawa keselamatan dan pendamaian. Yerusalem berasal dari kata \u2018<em>salem<\/em>\u2019 yang berarti damai. Kota Yerusalem menjadi lambang kehadiran Raja Damai, yaitu Yesus Kristus.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Yesus meratapi dan menangisi Yerusalem karena penduduknya menolak untuk percaya kepada Allah. Mereka tidak mengerti apa yang perlu untuk damai sejahtera (Luk 19:42). Yesus mencurahkan cinta dan ketaatan kepada BapaNya dan Yesus sungguh menyadari bahwa Ia pun akan menyerahkan hidupNya untuk umat manusia. Kesedihan dan ratapan Yesus disebabkan karena kesombongan dan ketidakpercayaan umat manusia, yang menolak Mesias. Hati yang dingin dan sikap tegar tengkuk, berkeras hati menjadi halanagan untuk pertobatan. Yesus adalah harapan bagi dunia karena Dialah yang mendamaikan kita dengan Allah. Melalui kematian dan kebangkitanNya, dosa dan maut telah dikalahkan. Ia memberikan Roh Kudus untuk memurnikan kita dan menjadikan diri kita baitNya yang&nbsp; kudus, yaitu bait Roh Kudus (1 Kor 6:19). Yesuslah yang memulihkan dan menyembuhkan serta membangun kembali hidup kita. Mengertikah kita betapa besar cinta dan kasih Allah kepada kita? Apakah kita tetap berhati dingin dan berkeras hati dalam menanggapi cintaNya?<\/p>\n\n\n\n<p><em>\u201cTuhan Yesus, Engkau telah mengunjungi dan menebus umat kesayanganMu. Semoga kami semua tidak bersikap dingin dan acuh terhadap cinta dan belaskasihMu. Murnikanlah hati dan pikiran kami dan memampukan kami melakukan kehendakMu\u201d<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis, 18 November 2021 Luk 19:41-44 &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tak jarang orang akan mengalami pertobatan dan hidup berdamai dengan Allah dan sesama setelah mengalami penderitaan, kesulitan dan kegagalan. Hanya kerendahan hati dan iman yang teguh mampu mengantar pada pertobatan itu. Bacaan Injil hari ini mengisahkan ketika Yesus mendekati Yerusalem dan ia menangisinya. Tangisan Yesus bukanlah sama dengan tangisan biasa yang disebabkan oleh kesedihan, perpisahan atau hilangnya suatu harapan. Tangisan Yesus menggambarkan kedalaman kasih dan cintaNya kepada umat manusia, yang dalam hal ini&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10963\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-10963","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10963","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10963"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10963\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10964,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10963\/revisions\/10964"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10963"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10963"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10963"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}