{"id":10973,"date":"2021-11-21T13:31:00","date_gmt":"2021-11-21T21:31:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10973"},"modified":"2021-11-21T07:32:33","modified_gmt":"2021-11-21T15:32:33","slug":"persembahan-hidup-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10973","title":{"rendered":"\u201cPersembahan hidup\u201d"},"content":{"rendered":"\n<p>Senin Pekan Biasa XXXIV, 22 November 2021 \u2013 Peringatan St. Cecilia&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Bacaan: Daniel 1:1-6, 8-20; Lukas 21&nbsp;:1-4<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Kisah Injil yang kita dengarkan pada hari ini sudah sangat terkenal, yakni persembahan janda miskin. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita arti sebuah persembahan, yang ternyata tidak hanya sekadar materi, melainkan menyangkut hidup dan kehidupan. Dengan mengatakan persembahan, maka makna yang dikandungnya lebih mendalam dari pada pemberian atau derma. Persembahan berarti memberikan kepada yang disembah, yakni kepada yang Ilahi, Tuhan sendiri. Maka tujuannya jelas, yakni memberikan kepada Tuhan yang kita miliki dan itupun sesuai dengan seberapa yang ingin kita berikan atau persembahkan. Persembahan ini diberikan dengan kebebasan dan bukan paksaan, yang menunjukkan ketulusan hati yang memberi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus melihat tindakan sang janda ini bukan berdasarkan besarnya yang diberikan, namun totalitas sang janda yang memberikan dengan tulus bahkan ia mempersembahkan dari kekurangannya. Ada sikap lepas bebas tanpa terikat pada materi walaupaun jelas tetap dibutuhkan. Ia sadar memberikan kepada Tuhan menunjukkan sebuah kepercayaan dan hanya terikat pada Tuhan, yang telah memberikan rejeki kehidupan dan yang terus menjaga dan merawatnya. Hal ini sama dengan St. Cecilia yang kita peringati hari ini, ia memberikan diri dan hidupnya kepada Tuhan hingga akhir. Inilah persembahan hidup yang tulus dan penuh kepercayaan akan kehidupan kekal yang telah Tuhan sediakan bagi semua manusia, termasuk kita semua.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimanakah selama ini kita memberikan persembahan atau kolekte? Apakah kita melihatnya sebagi derma atau memang mempersembahkan kepada Tuhan bagi kepentingan seluruh Gereja kita? Terkadang kita terlalu banyak perhitungan sehingga pemberian kita tidak menjadi persembahan, karena diberikan kurang dengan tulus hati. Kita perlu belajar dari sang janda miskin, yang mempunyai sikap hanya terikat pada Tuhan. Semuanya telah kita terima secara cuma-cuma dari Tuhan, maka kita juga ingin memberikan dan mempersembahkannya secara cuma-cuma. Melalui persembahan ini, kita juga menunjukkan siapa diri kita di hadapan Tuhan. Marilah kita memulainya dari sekarang. &nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senin Pekan Biasa XXXIV, 22 November 2021 \u2013 Peringatan St. Cecilia&nbsp; Bacaan: Daniel 1:1-6, 8-20; Lukas 21&nbsp;:1-4 Kisah Injil yang kita dengarkan pada hari ini sudah sangat terkenal, yakni persembahan janda miskin. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita arti sebuah persembahan, yang ternyata tidak hanya sekadar materi, melainkan menyangkut hidup dan kehidupan. Dengan mengatakan persembahan, maka makna yang dikandungnya lebih mendalam dari pada pemberian atau derma. Persembahan berarti memberikan kepada yang disembah, yakni kepada yang Ilahi, Tuhan sendiri. Maka tujuannya jelas,&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=10973\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-10973","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10973","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=10973"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10973\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10974,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/10973\/revisions\/10974"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=10973"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=10973"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=10973"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}