{"id":11002,"date":"2021-12-02T17:58:17","date_gmt":"2021-12-03T01:58:17","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=11002"},"modified":"2021-12-02T17:58:17","modified_gmt":"2021-12-03T01:58:17","slug":"pergilah-ke-seluruh-dunia-dan-beritakanlah-injil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=11002","title":{"rendered":"Pergilah Ke seluruh Dunia dan Beritakanlah Injil!"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Jumat, Pesta St. Fransiskus Xaverius<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>1Kor. 9:16-19,22-23; Mrk. 16:15-20.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Hari ini Gereja merayakan Pesta St. Fransiskus Xaverius.&nbsp;Fransiskus Xaverius adalah salah satu misionaris paling terkenal di Gereja, berasal dari keluarga bangsawan Basque di Spanyol. Ia belajar di Universitas Paris, di mana ia mengajar filsafat setelah memperoleh gelar master. Di sana dia bertemu Ignatius dari Loyola dan menjadi salah satu dari tujuh Yesuit pertama. Mereka memutuskan untuk pergi ke Tanah Suci, tetapi perang antara orang-orang Turki dan Venesia menghalangi maksud mereka, jadi untuk sementara Fransiskus bekerja di Padua, Bologna, dan Roma.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Pada tahun 1540 Ignatius mengutusnya sebagai misionaris pertama di koloni Portugis di Hindia Timur. Fransiskus berlayar dari Lisbon dengan berbekal empat surat Paus yang memberinya wewenang penuh sebagai <em>Nuncio<\/em> dan merekomendasikannya kepada para pangeran di wilayah Timur. Dia mendarat di Goa di India dan memulai kerasulan di sana lebih dari sepuluh tahun. Di sini dia mengajar orang dewasa, mengumpulkan anak-anak dengan membunyikan lonceng di jalan, mengajar mereka, dan juga mengunjungi rumah sakit dan penjara. Seorang sejarawan menulis tentangnya bahwa St. Fransiskus merupakan \u2018Misionaris Perintis Agama Salib\u2019 di Asia dan misionaris terbesar semenjak Santo Paulus.<\/p>\n\n\n\n<p>Saudari-saudaraku yang terkasih, pada&nbsp;Pesta St. Fransiskus Xaverius dan pada Bacaan Selasa lalu, kita diingatkan bahwa iman berasal dari apa yang didengar. Bahkan dalam Roma 10:9-18, St Paulus&nbsp;&nbsp;mengatakan bahwa orang tidak akan beriman kepada Yesus kecuali mereka telah mendengar tentang Dia dan mereka tidak akan mendengar tentang Dia kecuali mereka mendapatkan seorang pengkhotbah.&nbsp;Dan, dalam Bacaan Pertama hari ini, St Paulus menegaskan betapa pentingnya mewartakan Injil dengan mengatakan,&nbsp;<em>\u201cCelakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.\u201d<\/em> Saya yakin, itulah semangat yang mendasari&nbsp;St. Fransiskus Xaverius untuk pergi ke Asia&nbsp;&nbsp;dan mewartakan Sabda Allah dengan semangat heroiknya.<em>&nbsp;<\/em>Baik Rasul Paulus maupun&nbsp;St. Fransiskus Xaverius melalui hidup mereka telah&nbsp;mengingatkan Gereja, kita semua, akan panggilan untuk mewartakan Sabda Allah kepada semua bangsa. Mari di Masa Adven ini kita menggaungkan kembali sambil mengontekstualkan panggilan mewartakan Sabda Allah  itu dalam hidup kita masing-masing  dengan penuh sukacita karena itu pun merupakan perintah Yesus sebagaimana  dalam Injil hari ini,&nbsp;&#8220;Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Tuhan memberkati!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumat, Pesta St. Fransiskus Xaverius 1Kor. 9:16-19,22-23; Mrk. 16:15-20. Hari ini Gereja merayakan Pesta St. Fransiskus Xaverius.&nbsp;Fransiskus Xaverius adalah salah satu misionaris paling terkenal di Gereja, berasal dari keluarga bangsawan Basque di Spanyol. Ia belajar di Universitas Paris, di mana ia mengajar filsafat setelah memperoleh gelar master. Di sana dia bertemu Ignatius dari Loyola dan menjadi salah satu dari tujuh Yesuit pertama. Mereka memutuskan untuk pergi ke Tanah Suci, tetapi perang antara orang-orang Turki dan Venesia menghalangi maksud mereka, jadi&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=11002\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-11002","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11002","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11002"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11002\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11004,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11002\/revisions\/11004"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11002"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11002"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11002"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}