{"id":11032,"date":"2021-12-13T13:04:00","date_gmt":"2021-12-13T21:04:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=11032"},"modified":"2021-12-11T17:04:42","modified_gmt":"2021-12-12T01:04:42","slug":"pendosa-yang-bertobat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=11032","title":{"rendered":"Pendosa yang bertobat"},"content":{"rendered":"\n<p>SELASA, 14 Desember<\/p>\n\n\n\n<p>Matius 21: 28 &#8211; 32<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Perumpamaan dua anak laki ini sebenarnya cukup tajam dan menohok langsung ke hati manusia tipe Parisi. Anak pertama pada awal tampil sebagai penjaga moral dan tradisi, orang saleh dan suci penjaga hukum ilahi. Mereka ini hafal mantra agama dan tampil dengan simbol gamis. Tetapi hati mereka berlawanan dengan tampilan luarnya.&nbsp; Maka pilihan dan tindakannya berlawanan dengan tampilan awalnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Anak kedua secara kasat mata digambarkan sebagai pembangkang, tidak santun, kotor dan amoral. Maka kelompok ini dianggap pengganggu dan polusi kehidupan; mereka merusak keberadaban dan agama. Tetapi pada dasarnya mereka ini manusia baik yang rusak karena situasi dan orang lain. Mereka masih memiliki kerinduan batin untuk baik. Mereka mempunyai kerinduan rohani. Maka ketika mereka disapa dan didengarkan, mereka bisa berubah dan hidup lebih bermartabat. Itulah kelompok pelacur, pemungut cukai dan orang berdosa lainnya. Mereka bisa mengenali Yohanes dan Yesus secara lugas dan benar.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak mungkin menilai manusia hanya dari tampilan luar. Manusia itu penuh misteri. Tetapi perubahan kualitatif selalu dilandasi dan dipicu oleh perubahan hati dan kejelasan nilai dalam hidup. Kalau perubahan itu dipicu karena nilai Injil, sering kita sebut sebagai pertobatan. Orang hanya mungkin bertobat, kalau dia menyadari diri sebagai pendosa. Sense of being a sinner. Dosa pada dasarnya menyalahgunakan rahmat. Anugerah Tuhan yang mestinya dibagikan dan diteruskan pada orang lain lewat pelayanan itu berhenti pada diri sendiri dan melayani diri sendiri. Kesadaran diri sebaai pendosa melahirkan kerinduan untuk bertobat, untuk berbagi rahmat; karena hanya dengan demikian rahmat akan tumbuh dan hidupnya akan bermakna. Semakin orang itu dekat dengan Tuhan, semakin dirinya merasa kotor, pendosa dan tidak pantas.<\/p>\n\n\n\n<p>Orang yang merasa dirinya benar dan suci, tidak akan bisa bertobat dan berubah. Tidak ada kesadaran dan kebutuhan untuk berubah karena sudah cukup. Bahkan kesadaran diri sebagai orang yang benar dan lebih suci dari orang lain, bisa menjadi tanda bahwa ia jauh dari Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Yohanes dari salib yang kita rayakan hari ini, menapaki jalan yang sama. Kunci pembaharuan hidup dalam ordo Karmel didasari kesadaran akan banyaknya dosa baik pada sisi personal maupun institusional. Langkah pembaharuannya bertumpu pada pertobatan yang ditarik oleh kasih Tuhan lewat salib. Pertobatan antara lain self-denial, otentisitas dan melepaskan kelekatan duniawi serta kesombongan diri.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SELASA, 14 Desember Matius 21: 28 &#8211; 32 Perumpamaan dua anak laki ini sebenarnya cukup tajam dan menohok langsung ke hati manusia tipe Parisi. Anak pertama pada awal tampil sebagai penjaga moral dan tradisi, orang saleh dan suci penjaga hukum ilahi. Mereka ini hafal mantra agama dan tampil dengan simbol gamis. Tetapi hati mereka berlawanan dengan tampilan luarnya.&nbsp; Maka pilihan dan tindakannya berlawanan dengan tampilan awalnya. Anak kedua secara kasat mata digambarkan sebagai pembangkang, tidak santun, kotor dan amoral. Maka&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=11032\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-11032","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11032","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11032"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11032\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11033,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11032\/revisions\/11033"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11032"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11032"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11032"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}