{"id":11222,"date":"2022-03-21T19:26:04","date_gmt":"2022-03-22T02:26:04","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=11222"},"modified":"2022-03-21T19:26:04","modified_gmt":"2022-03-22T02:26:04","slug":"pengosongan-diri-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=11222","title":{"rendered":"PENGOSONGAN DIRI"},"content":{"rendered":"\n<p>Selasa, 22 Maret 2022<br><br><br>Matius 18:21-35<br><br>Yesus Kristus mengajarkan dan menunjukkan sikap hidup yang harus dilaksanakan yaitu saling mengampuni. Sikap tersebut mengalir dari penghayatan iman dan relasi dekatnya dengan Allah yang berbelas kasih dan murah hati. &#8220;Yesus berkata kepadanya: \u201cBukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.&#8221;(Mat 18:22).<br><br>Mengapa setiap murid Kristus harus saling mengampuni? Sebab Allah yang diimani adalah Allah yang penuh belas kasih, telah terlebih dahulu mengampuni manusia, bahkan pengampunan-Nya untuk manusia tanpa batas. Oleh karena itu siapa saja yang percaya kepada-Nya harus melakukan hal yang sama kepada sesamanya. &#8220;Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?&#8221;(Mat 18:33).<br><br>Alasan kedua, mengapa setiap harus saling mengampuni adalah kerelaan memaafkan atau mengampuni kepada sesama menjadi syarat untuk mendapatkan pengampunan dari Allah Bapa. Tidak bisa seseorang meminta pengampunan dari Allah jika dalam waktu yang sama ia masih membenci dan tidak mau mengampuni mereka yang bersalah kepadanya. &#8220;Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.\u201d(Mat 18: 34-35).<br><br>Dengan demikian, setiap murid Kristus harus mengikuti cara hidup-Nya. Apakah mudah? Persoalan utama adalah keberanian untuk mengosongan diri agar kasih Allah memenuhi hatinya. Allah sendiri yang akan memudahkan seseorang untuk mengampuni sesamanya. &#8220;Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,\u00a0yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,\u00a0\u00a0melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.\u00a0(Filipi 2:5-7).<br><br>Dengan pengosongan diri dan memohon Allah hadir di dalam hati seseorang, maka Roh Allah akan mengubah hati manusia menjadi sama seperti hati Allah sendiri sehingga ia bisa memaafkan atau mengampuni sesamanya. Namun jika manusia tidak mau mengosongan dirinya dari segala bentuk kebencian, ia tidak akan bisa memaafkan sesamanya, dan ia pun juga tidak menerima pengampunan dari Allah. &#8220;Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.\u00a0\u00a0Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.\u201d(Mat 6:15-16)<br><br>Rm. Didik, CM\u00a0<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selasa, 22 Maret 2022 Matius 18:21-35 Yesus Kristus mengajarkan dan menunjukkan sikap hidup yang harus dilaksanakan yaitu saling mengampuni. Sikap tersebut mengalir dari penghayatan iman dan relasi dekatnya dengan Allah yang berbelas kasih dan murah hati. &#8220;Yesus berkata kepadanya: \u201cBukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.&#8221;(Mat 18:22). Mengapa setiap murid Kristus harus saling mengampuni? Sebab Allah yang diimani adalah Allah yang penuh belas kasih, telah terlebih dahulu mengampuni manusia, bahkan pengampunan-Nya untuk&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=11222\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-11222","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11222","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11222"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11222\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11223,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11222\/revisions\/11223"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11222"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11222"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11222"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}