{"id":11260,"date":"2022-04-06T21:52:33","date_gmt":"2022-04-07T04:52:33","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=11260"},"modified":"2022-04-06T21:52:33","modified_gmt":"2022-04-07T04:52:33","slug":"memperoleh-jiwa-yang-tenang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=11260","title":{"rendered":"MEMPEROLEH JIWA YANG TENANG"},"content":{"rendered":"\n<p>Kamis, 7 April 2022<br><br><br>Yohanes 8:51-59<br><br>Iman adalah anugerah dari Allah sekaligus jawaban dari setiap orang dalam menanggapi anugerah dan kasih Allah. Ketika seseorang menjawab maka dibutuhkan keberanian untuk menjawab. Jawaban tersebut diletakan pada kepercayaan bahwa Allah adalah sumber hidup yang telah turun ke dunia dalam diri Yesus Kristus, Putera-Nya seperti sudah dikatakan oleh para nabi dan di tulis di dalam Kitab Suci. Namun pada saat Yesus datang munculah pertentangan dan penolakan dari sebagian kelompok orang karena mereka tidak percaya bahwa Yesus Kristus datang dari Allah yang lahir dari Roh Kudus untuk menyelamatkan umat manusia. &#8220;Orang-orang Yahudi menjawab Yesus: \u201cBukankah benar kalau kami katakan bahwa Engkau orang Samaria dan kerasukan setan?\u201d\u00a0Jawab Yesus: \u201cAku tidak kerasukan setan, tetapi Aku menghormati Bapa-Ku dan kamu tidak menghormati Aku.&#8221;(Yoh 8:48-49). Mereka yang menolak dan tidak percaya kepada Yesus sampai hati mengatakan Yesus kerasukan setan, apalagi sikap mereka terhadap semua pengikut-Nya? Hal tersebut membuktikan bahwa hati dan pikiraan manusia bisa menjadi buta dalam melihat kasih dan kebaikan Allah jika mereka berkeras hati dan dipenuhi dengan kesembongan.<br><br>Dengan demikian, siapakah orang siap untuk menerima Tuhan? Mereka tentu bukan orang merasa lebih baik dari orang lain dan lebih bijak dari Kristus, namun orang yang siap menerima Yesus adalah mereka yang memiliki hati yang sederhana, yang membuatnya percaya bahwa Kasih Allah telah dinyatakan kepada manusia melalui Kristus Sang Penebus. Gambaran orang yang hatinya tidak sederhana ada di dalam diri orang Farisi. &#8220;Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini, aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.\u00a0(Luk 18:11-12). Dihadapan Allah orang yang demikian tidak mendapatkan apa-apa dari-Nya. &#8220;Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.\u201d(Luk 18:14b).<br><br>Oleh karena itu guna menjaga iman agar tidak goyah (kuat) dan semakin dalam, maka diperlukan sikap hati yang selaras dengan hati yang dimiliki oleh Yesus Kristus.\u00a0 Dengan demikian mereka tidak lagi mengandalkan hal-hal lain selain Dia yang telah terbukti nyata mengasihi manusia hingga di berani menyerahkan nyawa untuk penebusan umat manusia. &#8220;Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.&#8221;(Mat 11:29).<br><br>Didik, CM\u00a0<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis, 7 April 2022 Yohanes 8:51-59 Iman adalah anugerah dari Allah sekaligus jawaban dari setiap orang dalam menanggapi anugerah dan kasih Allah. Ketika seseorang menjawab maka dibutuhkan keberanian untuk menjawab. Jawaban tersebut diletakan pada kepercayaan bahwa Allah adalah sumber hidup yang telah turun ke dunia dalam diri Yesus Kristus, Putera-Nya seperti sudah dikatakan oleh para nabi dan di tulis di dalam Kitab Suci. Namun pada saat Yesus datang munculah pertentangan dan penolakan dari sebagian kelompok orang karena mereka tidak percaya&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=11260\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-11260","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11260","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11260"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11260\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11261,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11260\/revisions\/11261"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11260"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11260"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11260"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}