{"id":11304,"date":"2022-05-07T18:43:01","date_gmt":"2022-05-08T01:43:01","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=11304"},"modified":"2022-05-07T18:43:01","modified_gmt":"2022-05-08T01:43:01","slug":"panggilan-di-dalam-gereja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=11304","title":{"rendered":"Panggilan di dalam Gereja"},"content":{"rendered":"\n<p>Minggu Paskah ke-4 [C]<\/p>\n\n\n\n<p>8 Mei 2022<\/p>\n\n\n\n<p>Yohanes 10:27-30<\/p>\n\n\n\n<p>Minggu keempat Paskah terkenal sebagai &#8216;Minggu Gembala yang Baik&#8217;. Alasan ini adalah bahwa bacaan Injil selalu diambil dari Yohanes bab 10, dan bab ini berbicara tentang Yesus yang memanggil diri-Nya sebagai Gembala yang Baik. Minggu ini juga didedikasikan sebagai &#8216;Minggu Panggilan&#8217;. Tradisi ini dimulai sejak tahun 1964 ketika Paus Paulus VI menetapkan Minggu Paskah keempat sebagai &#8216;Hari Doa Panggilan Sedunia&#8217;. Ini karena dalam Injil hari ini, terdapat ayat yang berbunyi, \u201cDomba-domba-Ku mendengar suara-Ku, dan Aku mengenal mereka, dan mereka ikuti Aku [Yoh 10:27].\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Di Gereja Katolik, kita memahami panggilan sebagai panggilan Sang Gembala yang Baik kepada kita untuk mengikuti Dia. Jadi, panggilan utama dan paling mendasar adalah mengikuti Yesus, tinggal bersama-Nya dan hidup di dalam Dia. Inilah panggilan universal kita semua, yakni kekudusan.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, Gereja juga mengakui ada beberapa manifestasi otentik dari panggilan mendasar ini. Dua kategori terbesar adalah kaum awam dan para klerus (atau ulama). Cara termudah untuk membedakan dua kelompok besar ini adalah sakramen tahbisan. Setelah penahbisan, seorang pria bukan lagi seorang awam, tetapi menjadi anggota klerus. Ada tiga tahapan tahbisan: diakon, imam, dan uskup. Gereja mengajarkan bahwa \u201c[Sakramen imamat] adalah salah satu sarana, yang olehnya Kristus secara berkesinambungan membangun dan membimbing Gereja-Nya [KGK 1547].\u201d Mereka yang ditahbiskan dipanggil untuk menguduskan umat Allah dengan mempersembahkan sakramen-sakramen dan mengajarkan kebenaran iman.<\/p>\n\n\n\n<p>Kelompok kedua adalah kaum awam, dan ini adalah mayoritas anggota Gereja. Umat \u200b\u200bawam dipanggil untuk menguduskan hidup, keluarga, dan masyarakat. Sebagian besar dari kaum awam adalah panggilan untuk menikah dan berkeluarga. Dalam pernikahan, suami dan istri menjadi kudus ketika mereka saling mengasihi secara total di dalam Kristus. Seperti Kristus yang mempersembahkan diri-Nya bagi Gereja, suami-istri dipanggil untuk menyerahkan diri sepenuhnya bagi satu sama lain. Sementara itu, panggilan orang tua adalah menguduskan anak-anaknya. Mereka tidak hanya memberi anak-anak mereka makanan bergizi, pakaian yang layak, rumah yang kokoh, dan pendidikan yang berkualitas, tetapi juga iman dan moral yang benar. Mungkin, tidak semua orang tua mampu menjelaskan iman Katolik dengan baik, tetapi kita selalu dapat memimpin melalui teladan \u200b\u200bdan kesaksian yang tulus.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain dua kategori besar ini, Gereja juga memiliki panggilan khusus. Ini adalah orang-orang yang berkaul. Secara tradisional, ada tiga kaul: ketaatan, kesucian, dan kemiskinan. Ketika pria dan wanita mengucapkan kaul, mereka akan disebut sebagai \u2018kaum berkaul\u2019 atau \u2018religius\u2019 dan biasanya mereka tinggal bersama dalam sebuah komunitas Lembaga hidup bakti (seperti Ordo Dominikan, Ordo Fransiskan, dll). Jika seorang imam memiliki kaul, ia akan menjadi imam berkaul atau imam biarawan. Sedangkan imam tanpa kaul disebut imam diosesan atau keuskupan karena ia mengikatkan diri pada sebuah keuskupan (seperti imam keuskupan Surabaya). Ketika seorang wanita mengucapkan kaul, dia menjadi seorang wanita berkaul, seorang biarawati, atau \u2018suster\u2019. Ketika seorang pria yang bukan imam memiliki kaul, ia menjadi seorang pria berkaul, biarawan atau &#8216;bruder&#8217;. Dengan kaul mereka, mereka mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan untuk urusan Tuhan [lihat 1 Kor 7:32]<\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimana kita tahu bahwa kita dipanggil menjadi imam atau awam, sebagai suster atau sebagai ibu keluarga? Saya menawarkan tiga langkah sederhana<\/p>\n\n\n\n<p>Yang pertama adalah mengenali hasrat kita. Hasrat dan rasa ketertarikan pada kehidupan imamat atau kehidupan membiara sudah menjadi benih yang ditanamkan Tuhan di dalam diri kita. Jangan sia-siakan!<\/p>\n\n\n\n<p>Langkah kedua adalah mengetahui lebih dalam dan mempertimbangkan berbagai pilihan in dalam doa. Kita bisa mencari informasi lebih lanjut dan bertanya kepada orang-orang yang telah menjalani kehidupan. Kita mungkin menemukan beberapa pilihan yang berbeda namun menarik. Kita juga membawa pilihan-pilihan ini dalam doa, dan meminta Tuhan untuk membimbing keputusan kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Tahap ketiga dan terakhir adalah mengambil keputusan dan berkomitmen penuh. Semua panggilan adalah baik dan jalan menuju kekudusan. Jadi, tidak ada panggilan yang salah, namun kita dapat merusaknya ketika kita tidak memberikan yang terbaik untuk panggilan ini. Panggilan hanya menghasilkan buah yang berlimpah ketika kita dengan setia memelihara dan mencintai panggilan pilihan kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Minggu Paskah ke-4 [C]<br \/>\n8 Mei 2022<br \/>\nYohanes 10:27-30<\/p>\n<p>Minggu keempat Paskah terkenal sebagai &#8216;Minggu Gembala yang Baik&#8217;. Alasan ini adalah bahwa bacaan Injil selalu diambil dari Yohanes bab 10, dan bab ini berbicara tentang Yesus yang memanggil diri-Nya sebagai Gembala yang Baik. Minggu ini juga didedikasikan sebagai &#8216;Minggu Panggilan&#8217;. Tradisi ini dimulai sejak tahun 1964 ketika Paus Paulus VI menetapkan Minggu Paskah keempat sebagai &#8216;Hari Doa Panggilan Sedunia&#8217;. Ini karena dalam Injil hari ini, terdapat ayat yang berbunyi, \u201cDomba-domba-Ku mendengar suara-Ku, dan Aku mengenal mereka, dan mereka ikuti Aku [Yoh 10:27].\u201d<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[71,67],"class_list":["post-11304","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan","tag-renungan-minggu","tag-valentinus-bayuhadi-ruseno"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11304","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11304"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11304\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11305,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11304\/revisions\/11305"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11304"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11304"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11304"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}