{"id":11458,"date":"2022-09-04T01:41:15","date_gmt":"2022-09-04T08:41:15","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=11458"},"modified":"2022-09-04T01:41:15","modified_gmt":"2022-09-04T08:41:15","slug":"mengasihi-atau-membenci-keluarga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=11458","title":{"rendered":"Mengasihi atau Membenci Keluarga"},"content":{"rendered":"\n<p>Minggu Biasa ke-23 [C]<\/p>\n\n\n\n<p>4 September 2022<\/p>\n\n\n\n<p>Lukas 14:25-33<\/p>\n\n\n\n<p>Sekali lagi, kita menjumpai perkataan Yesus yang keras. \u201cJikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnyadan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku [Luk 14:26-27].\u201d Pernyataan ini memang membuat kita bertanya-tanya. Apakah Yesus benar-benar ingin kita membenci orang-orang yang seharusnya kita hormati dan kasihi? Mengapa Yesus meminta untuk membenci orang tua kita, tetapi Dia mengajarkan kita untuk mengasihi bahkan musuh kita? Apakah ini sebuah kontradiksi? Bagaimana kita perlu memahami perkataan Yesus yang keras ini?<\/p>\n\n\n\n<p>Hal pertama adalah mempertimbangkan arti &#8216;benci&#8217; dalam konteks Alkitab. &#8216;Benci&#8217; tidak berarti melakukan hal-hal yang merugikan atau jahat kepada seseorang. &#8216;Benci&#8217; berarti &#8216;mencintai&#8217; seseorang dengan intensitas yang lebih rendah. Sebuah contoh yang baik adalah dalam cerita Yakub, Rahel dan Lea. \u201cMaka Yakub pergi menemui Rahel, dan dia lebih mencintai Rahel daripada Lea\u2026 Ketika Tuhan melihat bahwa Lea dibenci, Dia membuka rahimnya\u2026 (Kej 29:30\u201331)\u201d Yakub &#8216;membenci&#8217; Lea, artinya dia mencintai Rachel lebih dari Leah. Jadi, ketika Yesus berkata bahwa dalam mengikuti Dia, kita perlu membenci keluarga kita, ini berarti kita harus mengasihi Yesus lebih dari keluarga kita. Ini memang tuntutan yang adil. Jika Yesus adalah Tuhan kita, maka kita harus mengasihi Dia di atas segalanya, termasuk orang tua, saudara, atau anak-anak kita sekalipun.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal penting kedua yang perlu kita lihat adalah konteks Injil ini. Yesus sedang dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem, dan di sana, Dia akan menghadapi salib-Nya. Jika para murid benar-benar memutuskan untuk mengikuti jejak sang Guru, mereka harus \u2018membenci\u2019 keluarga, pekerjaan, dan bahkan kehidupan mereka. Jika tidak dan mereka tetap terikat pada keluarga, harta benda dan hubungan duniawi mereka, mereka tidak akan mampu menanggung penderitaan sebagai konsekuensi mengikuti Yesus. Tidak heran dalam bab-bab sebelumnya, Yesus bahkan berkata kepada mereka yang ingin menjadi murid-Nya, \u201cBiarlah orang mati menguburkan orang mati!\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dari dua perspektif ini, ajaran Yesus yang terlihat keras sebenarnya masuk akal. Namun, yang menarik adalah bahwa dalam kehidupan nyata, semakin kita mencintai Yesus, semakin kita mencintai keluarga kita. Sejatinya, tidak ada persaingan antara Yesus dan keluarga kita, karena Yesus dikasihi saat kita mengasihi keluarga kita. Kuncinya adalah bahwa kasih kita kepada keluarga harus berpusat pada Kristus. Para ayah mengasihi Tuhan dengan memimpin keluarga mereka lebih dekat kepada Yesus, dan mendidik anak-anak mereka untuk menghormati Allah dan menghidupi iman yang benar. Para ibu mengasihi Tuhan tidak hanya dengan merawat dan membesarkan anak-anak mereka, tetapi dengan mengajari mereka pengabdian yang tulus kepada Tuhan. Akhirnya, orang tua menguduskan anak-anak mereka sebagai persembahan terbaik mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Memang benar bahwa beberapa dari kita memutuskan untuk mengikuti Kristus dengan cara yang lebih radikal dan total, seperti para imam, biarawan dan biarawati dan bahkan misionaris awam. Hal ini tidak berarti bahwa kita berhenti mencintai keluarga kita. Kita membawa mereka dalam doa dan Misa harian kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengasihi Tuhan dan menempatkan Yesus sebagai pusat kehidupan kita dan keluarga menjadikan segala sesuatu dalam urutan yang benar. Dan, ketika segala sesuatunya sesuai tatanan, kita menemukan kebahagiaan dan pencapaian sejati dalam hidup ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Minggu Biasa ke-23 [C]<br \/>\n4 September 2022<br \/>\nLukas 14:25-33<\/p>\n<p>Sekali lagi, kita menjumpai perkataan Yesus yang keras. \u201cJikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku [Luk 14:26-27].\u201d Pernyataan ini memang membuat kita bertanya-tanya. Apakah Yesus benar-benar ingin kita membenci orang-orang yang seharusnya kita hormati dan kasihi? Mengapa Yesus meminta untuk membenci orang tua kita, tetapi Dia mengajarkan kita untuk mengasihi bahkan musuh kita? Apakah ini sebuah kontradiksi? Bagaimana kita perlu memahami perkataan Yesus yang keras ini?<\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[71,67],"class_list":["post-11458","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan","tag-renungan-minggu","tag-valentinus-bayuhadi-ruseno"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11458","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11458"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11458\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11459,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11458\/revisions\/11459"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11458"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11458"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11458"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}