{"id":12306,"date":"2024-10-24T21:48:33","date_gmt":"2024-10-25T04:48:33","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12306"},"modified":"2024-10-24T21:48:33","modified_gmt":"2024-10-25T04:48:33","slug":"membaca-tanda-tanda-zaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12306","title":{"rendered":"MEMBACA TANDA-TANDA ZAMAN"},"content":{"rendered":"\n<p>Fr. Marianus Siriakus Ndolu O.Carm<\/p>\n\n\n\n<p>(Luk 12: 52-59)<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus berkata kepada orang banyak: \u201cApabila&nbsp;&nbsp; kalian&nbsp; melihat awan naik di sebelah barat, segera kalian berkata, \u201cakan datang hujan\u201d.&nbsp; Dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kalian melihat angin selatan bertiup, kalian berkata, \u201chari akan panas terik\u201d. Dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, kalian tahu menilai gelagat bumi dan langit, tetapi mengapa tidak dapat <strong>menilai zaman<\/strong> ini? (Luk 12: 54-56).<\/p>\n\n\n\n<p>Yesus menyampaikan sesuatu yang merupakan pengalaman manusiawi kita yang biasa yaitu melihat alam dan membaca tanda-tandanya. Tanda-tanda alam memberikan kepada kita sebuah pesan tertentu. &nbsp;Dalam cara ini Yesus merujuk kepada apa yang disebut <strong>kontemplasi alam <\/strong>. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Hanya saja orang banyak itu tidak tahu membaca tanda-tanda&nbsp; alam dan menilai situasi zamannya. Padahal melalui alam dan situasi zaman&nbsp; Allah menyampaikan pesan-pesan dan kehendak-Nya. Itulah sebabnya mengapa St Agustinus, umpamanya, mengatakan bahwa alam-ciptaan adalah buku pertama yang Allah tulis. Dan baru kemudian buku kedua-nya adalah Kitab Suci. &nbsp;Melalui alam, Allah berbicara.<\/p>\n\n\n\n<p>St Yohanes XXIII mendapatkan inspirasi dari&nbsp; kata-kata Yesus ini ketika ia mendorong Gereja untuk membaca tanda-tanda zaman dan lebih mampu merasakan panggilan Allah dalam setiap peristiwa kehidupan kita. Namun mengapa kita&nbsp; tidak mampu membaca tanda-tanda&nbsp; zaman?&nbsp; Dosa rupanya&nbsp; telah membingungkan&nbsp; tulisan-tulisan buku alam&nbsp; sehingga kita tidak mampu membaca pesan-pesan Allah yang tertera&nbsp; dalam alam dan dalam kenyataan hidup kita setiap hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Hati yang hening dan tenang, hati yang murni yang tidak dikacaukan oleh dosa, akan mampu menangkap tanda -tanda alam dan tanda-tanda zaman serta realitas kehidupan sehari-hari. Di dalam hati yang demikianlah, alam dan kehidupan ini berbicara lantang tentang kasih Allah dan tentang pesan-pesan ilahi bagi kita.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Baiklah kita belajar untuk&nbsp; membaca tanda-tanda zaman. Ketika kita mendengar atau membaca di Tv atau koran kita dapat merasakan panggilan Allah dalam semua fakta kehidupan ini. Mengikuti Thomas Merton, rahib trappis dan penulis rohani kenamaan, kita dapat selalu bertanya: \u201cTuhan, apa yang ingin Kau katakan kepadaku melalui angin ini, melalui hujan ini, melalui panas terik ini, melalui pengalaman dan peristiwa ini?&nbsp; Dan Tuhan akan membuka misteri kehadiran dan pesan ilahi-Nya kepada hati yang terbuka dan hati yang murni nan hening.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fr. Marianus Siriakus Ndolu O.Carm (Luk 12: 52-59) Yesus berkata kepada orang banyak: \u201cApabila&nbsp;&nbsp; kalian&nbsp; melihat awan naik di sebelah barat, segera kalian berkata, \u201cakan datang hujan\u201d.&nbsp; Dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kalian melihat angin selatan bertiup, kalian berkata, \u201chari akan panas terik\u201d. Dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, kalian tahu menilai gelagat bumi dan langit, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini? (Luk 12: 54-56). Yesus menyampaikan sesuatu yang merupakan pengalaman manusiawi kita yang biasa&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12306\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-12306","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12306","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12306"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12306\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12307,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12306\/revisions\/12307"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12306"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12306"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12306"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}