{"id":12337,"date":"2024-10-29T19:15:35","date_gmt":"2024-10-30T02:15:35","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12337"},"modified":"2024-10-29T19:15:35","modified_gmt":"2024-10-30T02:15:35","slug":"kepemimpinan-yang-menyelamatkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12337","title":{"rendered":"Kepemimpinan yang Menyelamatkan"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Fr Daniel Aji Kurniawan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Rabu, 30 Oktober 2024<\/p>\n\n\n\n<p>Bacaan I: Efesus 6:1-9<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bukan sekali dua kali kita mendengar ungkapan secara langsung atau pun mendapat kesan bahwa ternyata tidak mudah mengatur orang lain, karyawan, anak-anak, atau kelompok. Ada banyak orang merasakan putus asa, menyerah, dan kebingungan untuk menghadapi berbagai macam kemauan dan keinginan yang muncul dalam hidup bersama di komunitas, kelompok, atau keluarga kita. Hal ini lantas menyadarkan satu aspek medasar dalam hidup manusia ialah setiap manusia pada dasarnya punya potensi dan kecenderungan untuk merasa diri bebas dan tidak suka dikontrol atau diatur oleh orang lain. Semakin diatur dan semakin banyak peraturan yang harus diikuti dan ditaati, bisa saja seseorang semakin merasakan tidak bebas dalam hidupnya. Lalu bagaimana seseorang belajar untuk menyeimbangkan antara harapan dan tuntutan dalam keseharian hidup ini?<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus memberikan satu pesan indah kepada para pemimpin, pendidik, dan mereka yang diberi kepercayaan untuk mendampingi sesamanya dalam penziarahan hidup dan iman. Jikalau disadari bahwa pada dasarnya seseorang tidak suka untuk diatur, maka peran seorang pemimpin, pendidik, dan pendamping ialah memberikan arahan, petunjuk, dan wawasan yang berisikan nilai-nilai atau keutamaan iman, pengharapan, dan kasih, bukan sebaliknya mengatur dan mengontrol hidup orang lain seturut kehendaknya sendiri. Ingatlah setiap orang memiliki kerinduan dan keterbatasan yang patut diperhatikan. Rasul Paulus memberikan nasihat: \u201c<em>jangan bangkitkan amarah dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka dalam ajaran nasihat Tuhan\u2026. Jangan hanya taat di hadapan mereka untuk menyenangkan hati orang, tetapi taatlah sebagai hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah\u2026. Laksanakanlah pelayananmu dengan rela seperti orang-orang yang melayani Tuhan, dan bukan manusia.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Kutipan nasihat rohani tersebut memberikan satu pelajaran kecil untuk umat beriman di mana pun kita berada yaitu seseorang hanya dapat melakukan, memilih, dan menjalani tugas perutusan, panggilan, tanggung jawab dalam hidupnya dengan kesungguhan hati ketika motivasi, niat, dan kehendak itu keluar dari dalam dirinya sendiri karena relasi yang mendalam dengan Allahnya dan rasa syukurnya, bukan semata karena aturan, kewajiban, dan ketakutan diri yang menghantuinya. Marilah kita bersama memohon kepada Allah Tritunggal Mahakudus agar senantiasa menjadi pemimpin, pembimbing, dan penuntun arah hidup kita selalu selarasa dengan sabda-Nya dan kehendak-Nya. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fr Daniel Aji Kurniawan Rabu, 30 Oktober 2024 Bacaan I: Efesus 6:1-9 &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bukan sekali dua kali kita mendengar ungkapan secara langsung atau pun mendapat kesan bahwa ternyata tidak mudah mengatur orang lain, karyawan, anak-anak, atau kelompok. Ada banyak orang merasakan putus asa, menyerah, dan kebingungan untuk menghadapi berbagai macam kemauan dan keinginan yang muncul dalam hidup bersama di komunitas, kelompok, atau keluarga kita. Hal ini lantas menyadarkan satu aspek medasar dalam hidup manusia ialah setiap manusia pada dasarnya punya&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12337\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-12337","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12337","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12337"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12337\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12338,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12337\/revisions\/12338"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12337"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12337"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12337"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}