{"id":12380,"date":"2024-11-03T21:04:43","date_gmt":"2024-11-04T05:04:43","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12380"},"modified":"2024-11-03T21:04:43","modified_gmt":"2024-11-04T05:04:43","slug":"sepikir-dan-seperasaan-dengan-kristus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12380","title":{"rendered":"Sepikir dan Seperasaan dengan Kristus"},"content":{"rendered":"\n<p>RP Hugo Yakobus Susdiyanto O.Carm<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Senin, 4 November 2024<\/p>\n\n\n\n<p>Pw St. Karolus Boromeus<\/p>\n\n\n\n<p>Flp 2:1-4; Luk 14:12-14<\/p>\n\n\n\n<p>Hari ini Gereja memperingati St. Karolus Boromeus. Sejak kecil Karolus sudah bercita-cita untuk menjadi seorang biarawan. Karena itu pada usia yang sangat muda ia sudah masuk seminari. Awalnya Karolus terkesan sebagai murid yang lamban karena ia tidak dapat berbicara dengan lancar, tetapi berkat ketekunannya, ia memperoleh kemajuan yang menggembirakan. Kelak sebagai Kardinal Karolus menjadi suri teladan bagi umatnya. Ia menyumbangkan sejumlah besar uang kepada kaum miskin. Ia sendiri hanya memiliki sehelai jubah lusuh berwarna hitam. Tetapi, di hadapan umum, ia berpakaian seperti layaknya seorang kardinal. Dalam melaksanakan tugas pengembalaannya yang penuh kesibukan, Kardinal Karolus&nbsp; senantiasa cemas kalau-kalau ia semakin jauh dari Tuhan karena banyaknya godaan di sekelilingnya. Oleh sebab itulah, setiap memiliki waktu luang ia selalu berlatih menyangkal diri terhadap segala kesenangan dan senantiasa berusaha untuk rendah hati serta sabar.<\/p>\n\n\n\n<p>Apa yang dilakukan, dihidupi St. Karolus berlandaskan sabda Allah, \u201cjanganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga\u201d [Flp 2:4]. Orang lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah mereka yang tidak memiliki kekuatan [kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel]. Pelayanan ini merupakan gerak inkarnatoris, yakni Ia yang adalah Allah berkenan merendahkan diri-Nya, turun menjadi manusia seperti kita. Bahkan Ia mengambil rupa hamba, menderita sengsara, dan disalibkan. Tetapi, Allah Bapa-Nya menerima tindakan merendahkan diri serendah-rendahnya itu dengan membangkitkan-Nya dari mati dan memberi-Nya kemuliaan. Semangat pengosong diri Yesus ini seharusnya menginspirasi, melandasi siapapan dalam hidup dan kehidupan di dunia ini. Semangat pengosongan diri dalam injil tampak dalam ungkapan orang Semit &#8220;Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya\u201d [Luk 14:12]. Pesan inti yang ingin disampaikan adalah kerjaan Allah untuk semua orang [universal], dan keramahan kita hendaknya merangkul semua orang, &nbsp;terutama mereka yang kurang mendapatkan perhatian dari orang-orang yang memiliki motif kepentingan diri sendiri. Mari kita belajar untuk melaksanakan pekerjaan baik kita dengan bebas, tanpa mempedulikan keuntungan. Biarlah&nbsp; pembalasan datang dari Allah, seperti Yesus mengosongkon diri bagi keselamatan orang lain, tanpa memperhitungkan kerugian diri sendiri. Beranikah kita? Semoga!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RP Hugo Yakobus Susdiyanto O.Carm Senin, 4 November 2024 Pw St. Karolus Boromeus Flp 2:1-4; Luk 14:12-14 Hari ini Gereja memperingati St. Karolus Boromeus. Sejak kecil Karolus sudah bercita-cita untuk menjadi seorang biarawan. Karena itu pada usia yang sangat muda ia sudah masuk seminari. Awalnya Karolus terkesan sebagai murid yang lamban karena ia tidak dapat berbicara dengan lancar, tetapi berkat ketekunannya, ia memperoleh kemajuan yang menggembirakan. Kelak sebagai Kardinal Karolus menjadi suri teladan bagi umatnya. Ia menyumbangkan sejumlah besar uang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12380\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-12380","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12380","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12380"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12380\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12381,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12380\/revisions\/12381"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12380"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12380"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12380"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}