{"id":12390,"date":"2024-11-06T19:00:00","date_gmt":"2024-11-07T03:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12390"},"modified":"2024-11-06T10:29:18","modified_gmt":"2024-11-06T18:29:18","slug":"pesan-untuk-para-aktivis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12390","title":{"rendered":"PESAN UNTUK PARA AKTIVIS"},"content":{"rendered":"\n<p>Kamis, 07 November 2024<\/p>\n\n\n\n<p>Lukas 15:1-10<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh: Rm. Agustinus Suyadi, O.Carm<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Kepada para murid-Nya, Yesus berkata, \u201c<em>Hendaklah terangmu bercahaya di depan orang, sehingga mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu di surga\u201d<\/em> (Mat 5:16). Di sini perbuatan baik memiliki arti ganda: a) perbuatan baik akan memberi terang sehingga sekelilingnya bercahaya, b) dengan berlaku demikian, seseorang menjadi sarana keselamatan bagi orang lain untuk bisa melihat Bapa di surga. Namun, acapkali seseorang berhenti pada dirinya. Perbuatan yang baik dipakai sebagai alasan untuk memuliakan dirinya sendiri. Maka, ia menjadi marah ketika Allah seakan tidak melihat perbuatannya, dan malah lebih mengganjar orang yang dianggap lebih berdosa. Kenapa hal itu bisa terjadi?<\/p>\n\n\n\n<p><strong>(1) IRI HATI<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu dari tujuh dosa pokok: irihati. Perasaan tak suka melihat orang lain bahagia. Apalagi orang tersebut secara kasat mata, tidak lebih baik darinya. Hal ini terjadi akibat tidak tulus dalam melakukan tugas. Pusat hidupnya bukan pada Allah, tetapi pada dirinya sendiri. Akibatnya, hidup semata-mata hanya untuk mendapatkan pahala.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>(2) BELAS KASIH ALLAH<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sabda hari ini memerlihatkan kasih Allah yang begitu agung. Semua orang berharga di mata Allah, tanpa kecuali. Hati Allah tergores pedih, saat manusia tersesat dan hilang. Meskipun hanya satu orang saja, namun bagi Allah sangat berharga. Untuk itu, tangan Allah tak pernah tertutup dan siap untuk selalu menyelamatkan. Ia tidak melihat masa lampau, tetapi sekarang dan di masa mendatang. Selama masih bisa diselamatkan, maka Allah akan turun tangan langsung untuk membawa makhluk ciptaan yang paling sempurna kembali kepada-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>(3) ARTI KESELAMATAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dengan ini, keselamatan tidak didasarkan pada perbuatan baik, tetapi semata-mata belas kasih Allah. Mata Allah melihat sampai di dasar lubuk hati. Manakala para murid-Nya berlaku tidak tulus dan tidak memercayakan hidup hanya pada Allah, perbuatan baik itu hanya sebatas kebanggaan diri yang memupuk dan menyuburkan ego. Akibatnya, fungsi sebagai alat keselamatan terlewatkan. Ia justru menjadi penghalang bagi orang lain mengalami keselamatan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis, 07 November 2024 Lukas 15:1-10 Oleh: Rm. Agustinus Suyadi, O.Carm Kepada para murid-Nya, Yesus berkata, \u201cHendaklah terangmu bercahaya di depan orang, sehingga mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu di surga\u201d (Mat 5:16). Di sini perbuatan baik memiliki arti ganda: a) perbuatan baik akan memberi terang sehingga sekelilingnya bercahaya, b) dengan berlaku demikian, seseorang menjadi sarana keselamatan bagi orang lain untuk bisa melihat Bapa di surga. Namun, acapkali seseorang berhenti pada dirinya. Perbuatan yang baik dipakai sebagai alasan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12390\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-12390","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12390","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12390"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12390\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12391,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12390\/revisions\/12391"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12390"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12390"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12390"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}