{"id":12408,"date":"2024-11-09T07:32:39","date_gmt":"2024-11-09T15:32:39","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12408"},"modified":"2024-11-09T07:32:39","modified_gmt":"2024-11-09T15:32:39","slug":"memberi-dengan-tulus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12408","title":{"rendered":"Memberi dengan tulus"},"content":{"rendered":"\n<p><br>(1Raj. 17:10-16; Ibr. 9:24-28; Mrk. 12:38-44)<br>Rm. Yohanes Endi, Pr.<br>Saudara-saudariku terkasih, bacaan Injil minggu ini membawa kita ke dalam suasana<br>Bait Allah di Yerusalem, sebuah bangunan megah dengan serangkaian pelataran yang<br>semakin eksklusif. Pelataran pertama terbuka untuk semua, termasuk orang-orang<br>non-Yahudi; pelataran kedua untuk pria dan wanita Israel; pelataran ketiga hanya<br>untuk laki-laki Israel; dan pelataran keempat, yang mengelilingi tempat suci di pusat<br>Bait Allah, hanya diperuntukkan bagi para imam. Di pelataran kedua, yang dikenal<br>sebagai pelataran wanita, terdapat tembok dengan tempat-tempat persembahan di<br>mana orang bisa memasukkan koin. Setiap koin yang dijatuhkan mengeluarkan suara<br>yang menandakan nilainya, semakin nyaring suaranya, semakin tinggi nilai koin itu.<br>Dalam suasana inilah, Yesus duduk mengamati orang-orang yang memberi<br>persembahan. Banyak orang kaya datang dan memasukkan koin dalam jumlah besar,<br>namun kemudian datanglah seorang janda miskin. Ia hanya memasukkan dua keping<br>uang kecil, hampir tanpa suara. Yesus memperhatikan ini dan berkata, &#8220;Sungguh, janda<br>miskin ini memberi lebih dari semua orang lain. Sebab mereka semua memberi dari<br>kelimpahannya, tetapi dia memberikan seluruh yang dimilikinya, seluruh hidupnya.\u201d<br>Tentu, kisah janda ini adalah contoh yang luar biasa. Yesus tidak mengajak semua<br>murid-Nya untuk memberikan seluruh harta bendanya; panggilan seperti itu adalah<br>panggilan khusus\u2014untuk para rasul, para pertapa, misionaris, biarawan, dan biarawati.<br>Bagi umat beriman, Yesus mengajarkan agar kita menggunakan berkat materi yang kita<br>miliki \u201cmenurut kehendak Allah,\u201d dengan mengingat bahwa kita hanyalah pengelola,<br>bukan pemilik mutlak. Suatu saat, kita akan diminta pertanggungjawaban atas<br>bagaimana kita mengelola harta yang dipercayakan pada kita. Namun, contoh janda ini<br>tetap relevan bagi kita semua: kita diajak untuk tidak menaruh harapan utama pada<br>harta duniawi, melainkan pada Tuhan, dengan setia mengikuti kehendak-Nya dan<br>percaya pada penyelenggaraan-Nya.<br>Hari ini, kita mengenang tiga contoh iman dan kemurahan hati yang mendalam.<br>Pertama, adalah Santo Martinus dari Tours, yang pada 11 November diperingati bukan<br>hanya karena berbagai kebajikannya, tetapi juga karena kebaikannya yang terkenal\u2014<br>ketika ia membagi jubahnya menjadi dua untuk diberikan kepada seorang pengemis<br>yang hampir telanjang.<br>Kedua, contoh dari bacaan pertama (1 Raja-raja 17:10-16). Nabi Elia meminta air dan<br>makanan dari seorang janda miskin di masa kelaparan. Wanita itu menjawab, &#8220;Tidak<br>ada lagi makanan, hanya segenggam tepung dan sedikit minyak. Aku sedang<br>mengumpulkan kayu bakar untuk membuat makanan terakhir bagi aku dan anakku,<br>dan setelah itu kami akan mati.\u201d Namun, Elia mendorongnya untuk percaya:<br>&#8220;Buatkanlah roti bagiku terlebih dahulu, dan lihatlah, tepungmu tak akan habis dan<br>minyakmu tak akan berkurang hingga Tuhan mengirimkan hujan.&#8221; Dan benar, mukjizat<br>itu terjadi; tepung dan minyak janda itu tidak pernah habis selama masa kelaparan.<br>Janda ini, dengan imannya yang teguh, mengingatkan kita pada janda di dalam Injil hari<br>ini. Keduanya mencontohkan bahwa dalam ketidakberdayaan sekalipun, ketika kita<br>berbagi dengan keyakinan kepada Allah, maka kasih karunia-Nya akan cukup bagi<br>semua orang.<br>Dan akhirnya, contoh yang paling besar dan mendalam dari penyerahan diri<br>sepenuhnya kepada Allah ada pada Yesus Kristus, seperti diceritakan dalam bacaan<br>kedua (Ibrani 9:24-28). Yesus menyerahkan seluruh hidup-Nya, bahkan hingga wafat di<br>kayu salib. &#8220;Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu, Kuserahkan nyawa-Ku,&#8221; demikian doa-Nya<br>sebelum wafat, dan Bapa membalas kasih dan penyerahan-Nya dengan kebangkitan.<br>Dari kematian dan kebangkitan Yesus, kita semua memperoleh keselamatan.<br>Saudara-saudariku terkasih, kita semua dipanggi untuk memberi dengan tulus. Melalui<br>permenungan hari ini, dan melalui teladan dari janda miskin, Santo Martinus, dan<br>Yesus Kristus sendiri, menggerakkan hati kita untuk hidup dengan penuh pengabdian<br>dan penyerahan diri kepada Tuhan. Dalam setiap hal kecil yang kita berikan dengan<br>tulus, ada kuasa dan berkat yang luar biasa, yang tidak hanya menguatkan kita, tetapi<br>juga menjadi sumber penghiburan dan kekuatan bagi sesama. Mari kita selalu ingat,<br>betapa Tuhan memandang bukan pada besar kecilnya pemberian kita, melainkan pada<br>kasih dan iman yang menyertainya. Tuhan memberkati kita semua. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(1Raj. 17:10-16; Ibr. 9:24-28; Mrk. 12:38-44)Rm. Yohanes Endi, Pr.Saudara-saudariku terkasih, bacaan Injil minggu ini membawa kita ke dalam suasanaBait Allah di Yerusalem, sebuah bangunan megah dengan serangkaian pelataran yangsemakin eksklusif. Pelataran pertama terbuka untuk semua, termasuk orang-orangnon-Yahudi; pelataran kedua untuk pria dan wanita Israel; pelataran ketiga hanyauntuk laki-laki Israel; dan pelataran keempat, yang mengelilingi tempat suci di pusatBait Allah, hanya diperuntukkan bagi para imam. Di pelataran kedua, yang dikenalsebagai pelataran wanita, terdapat tembok dengan tempat-tempat persembahan dimana orang bisa memasukkan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12408\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-12408","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12408","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12408"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12408\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12409,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12408\/revisions\/12409"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12408"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12408"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12408"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}