{"id":12461,"date":"2024-11-20T19:00:00","date_gmt":"2024-11-21T03:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12461"},"modified":"2024-11-20T10:04:39","modified_gmt":"2024-11-20T18:04:39","slug":"air-mata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12461","title":{"rendered":"AIR MATA"},"content":{"rendered":"\n<p>Kamis, 21 November 2024<\/p>\n\n\n\n<p>Lukas 19:41-44<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh: Agustinus Suyadi O.Carm<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Dengan perumpamaan Uang Mina, Yesus menyindir sekaligus memeringatkan tentang konsekuensi akibat menolak Dia. Namun demikian, hati mereka tetap keras. Mereka tak mengerti maksud baik Allah. Untuk itulah Yesus menangisi Yerusalem. Apa yang mesti kita maknai dengan ini?<\/p>\n\n\n\n<p><strong>(1) RATAPAN TANGIS<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tuhan melawat umat-Nya, agar hidup damai sejahtera. Namun, suara Allah tidak didengarkan, tindakan Tuhan disepelakan, pembersihan bait Allah dari sarang penyamun tidak dimengerti. Yesus menangisi Yerusalem bukan karena Ia akan mati di sana, sebab hal tersebut dilakukan dalam ketaatan kepada Bapa dan cinta-Nya kepada manusia. Akan tetapi, sebegitu luar biasa Tuhan mencintai, ternyata umat-Nya tetap tidak paham. Mereka malah menolak belas kasih dan cinta Allah. Makin pilu tangisan Yesus, sebab umat yang dicintai-Nya akhirnya diporak-porandakan dalam keadaan tidak siap.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>(2)&nbsp; KEHANCURAN YERUSALEM<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Nubuat tentang kehancuran Bait Allah Yerusalem yang menjadi pusat peribadatan orang Yahudi terjadi di tahun 70 M. Bangunan megah nan indah itu diluluh-lantakkan sampai rata tanah oleh tentara Romawi. Fakta ini menunjukkan tentang kefanaan dunia. Kemegahan bangunan Bait Allah tidak berarti, manakala hati tidak dibangun atas pondasi hidup rohani yang matang.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>(3) MENANGISI DOSA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Yesus dilanda ratap tangis yang memilukan hati. Air mata Yesus mengalir deras untuk membasahi hati sanubari kita. Tuhan tidak rela manusia binasa akibat kedegilan hati dan terlambat mengantisipasinya. Maka, tangisan Yesus kiranya menyentuh kepekaan hati kita akan dosa. Saatnya kita memandang salib Tuhan seraya menyesali kedosaan diri. Kita diajak menangisi dosa-dasa kita dan beranjak untuk mendengarkan dan mengikuti kehendak-Nya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis, 21 November 2024 Lukas 19:41-44 Oleh: Agustinus Suyadi O.Carm Dengan perumpamaan Uang Mina, Yesus menyindir sekaligus memeringatkan tentang konsekuensi akibat menolak Dia. Namun demikian, hati mereka tetap keras. Mereka tak mengerti maksud baik Allah. Untuk itulah Yesus menangisi Yerusalem. Apa yang mesti kita maknai dengan ini? (1) RATAPAN TANGIS Tuhan melawat umat-Nya, agar hidup damai sejahtera. Namun, suara Allah tidak didengarkan, tindakan Tuhan disepelakan, pembersihan bait Allah dari sarang penyamun tidak dimengerti. Yesus menangisi Yerusalem bukan karena Ia akan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12461\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-12461","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12461","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12461"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12461\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12462,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12461\/revisions\/12462"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12461"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12461"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12461"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}