{"id":12485,"date":"2024-11-25T19:15:00","date_gmt":"2024-11-26T03:15:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12485"},"modified":"2024-11-24T20:17:07","modified_gmt":"2024-11-25T04:17:07","slug":"teguh-di-tengah-goncangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12485","title":{"rendered":"&#8220;Teguh di Tengah Goncangan&#8221;"},"content":{"rendered":"\n<p>Fr. Yusuf Dimas Caesario<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika Yesus berada di Bait Allah, beberapa orang terkesima melihat keindahannya: batu-batu yang besar, hiasan indah, dan persembahan yang megah. Namun, Yesus berkata, &#8220;Semua ini akan runtuh, tidak ada satu batu pun yang akan tinggal terletak di atas batu yang lain.&#8221; Kata-kata ini mungkin mengejutkan para pendengar-Nya. Siapa yang tidak terkejut mendengar bahwa sesuatu yang tampak begitu kokoh bisa hancur?<\/p>\n\n\n\n<p>Pernahkah kita merasa seperti Bait Allah itu? Hidup kita tampak kokoh, berjalan lancar, semua rencana sesuai harapan, tetapi tiba-tiba sesuatu menghantam kita: pekerjaan hilang, kesehatan terganggu, relasi rusak, atau krisis lainnya. Apa respons kita? Panik, putus asa, atau mencari Yesus yang memberi ketenangan?<\/p>\n\n\n\n<p>Alkisah, suatu hari seorang petani tua sedang duduk santai di depan rumahnya ketika tetangganya datang dengan panik, &#8220;Pak Tani, cepat! Rumahmu di ujung ladang hampir roboh karena angin kencang!&#8221; Dengan tenang, si petani menjawab, &#8220;Tidak apa-apa, rumah itu sudah saya ikhlaskan sejak tahu kayunya mulai keropos.&#8221; Tetangganya heran, &#8220;Kalau begitu, bagaimana dengan ladangmu yang hampir banjir?&#8221; Si petani tetap tenang, &#8220;Oh, air itu mau numpang lewat saja.&#8221; Tetangga bertanya lagi, &#8220;Lalu apa yang membuatmu khawatir?&#8221; Si petani tersenyum, &#8220;Yang saya khawatirkan hanya iman saya, kalau-kalau ikut roboh saat badai hidup datang.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah itu mengajarkan kepada &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; kita bahwa kekhawatiran dunia sering membuat kita lupa memegang erat yang paling penting: iman kepada Tuhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Lukas 21:5-11, Yesus mengingatkan tentang tanda-tanda akhir zaman: perang, gempa bumi, kelaparan, dan wabah. Namun, pesan utama-Nya bukanlah ketakutan, melainkan pengharapan. \u201cJangan terkejut,\u201d kata Yesus. Seolah-olah Dia berkata, &#8220;Tetaplah setia, meski dunia di sekitar berguncang.&#8221; Yesus mengajak kita untuk tidak terlalu terpaku pada apa yang terlihat indah di luar\u2014kekayaan, karier, atau prestasi\u2014karena semua itu bisa runtuh. Fokus kita adalah hubungan dengan Tuhan, yang memberi damai di tengah badai. Saat goncangan datang, bukannya bertanya, &#8220;Mengapa ini terjadi pada saya?&#8221; namun kita bisa bertanya, &#8220;Apa yang Tuhan kehendaki saya bisa lakukan dari peringatan akan akhir zaman ini?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p><em>Refleksi:<br><\/em>Apakah kita sudah membangun hidup kita di atas fondasi iman kepada Tuhan? Ataukah kita masih bergantung pada hal-hal duniawi yang sifatnya sementara?<\/p>\n\n\n\n<p><em>Doa Singkat:<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Tuhan Yesus, di tengah goncangan hidup, ajarilah aku untuk tetap setia kepada-Mu. Berilah aku iman yang teguh, hati yang tenang, dan pengharapan yang tak tergoyahkan. Pimpinlah aku agar selalu melihat kasih-Mu, meskipun badai hidup datang. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fr. Yusuf Dimas Caesario Ketika Yesus berada di Bait Allah, beberapa orang terkesima melihat keindahannya: batu-batu yang besar, hiasan indah, dan persembahan yang megah. Namun, Yesus berkata, &#8220;Semua ini akan runtuh, tidak ada satu batu pun yang akan tinggal terletak di atas batu yang lain.&#8221; Kata-kata ini mungkin mengejutkan para pendengar-Nya. Siapa yang tidak terkejut mendengar bahwa sesuatu yang tampak begitu kokoh bisa hancur? Pernahkah kita merasa seperti Bait Allah itu? Hidup kita tampak kokoh, berjalan lancar, semua rencana sesuai&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=12485\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-12485","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12485","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=12485"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12485\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12486,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/12485\/revisions\/12486"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=12485"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=12485"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=12485"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}